Aktifitas Seru Hari Ini

0
23
Para ketua kelompok Dana Bergulir Desa Cindaga

Seingatku aku tidak mimpi apa-apa semalam. Saat terlelap sekitar jam 12 malam di kamar belakang, aku dibangunkan istri. Pasalnya si kecil, Haidar, enggan ditinggal. Panas tubuh sejak Senin, sebenarnya sudah reda paska diurut. Namun masih kolokan. Tangisnya yang hampir tak terdengar, karena terus menangis hari-hari sebelumnya, ia lakukan saat hendak dilepas dari gendongan. Kami bergantian menjaga Haidar untuk keperluan pribadi pagi ini. Alhamdulillah dia sudah mau aku ajak. Selama 3 hari sejak Senin, dia enggan. Hanya istriku yang dia maui untuk menjaganya.

Tiga kali ke sekolah anak-anak

Sebelum mandi, Ata bilang kalau dia kehilangan buku tulis Matematika. Padahal PR-nya belum dikerjakan. Seperti biasa, hampir mewek. Aku suruh dia segera berbenah. Berangkat lebih awal, cari buku di kelas, dan kerjakan di sekolah. Manut.

Andai saja Syamil mau mandi lebih awal, mestinya bisa aku antarkan berbarengan. Namun beberapa hari ini dia sangat malas. Kemarin bahkan dia terlambat. Saat teman-temannya sedang shalat dhuha, dia baru sampai. Untung saja Bu Gita, guru kelasnya, sabar membimbingnya. Syamil baru aku antar setelahnya. Dia mau mandi setelah dirayu oleh istriku. Keinginannya minum susu dan mandi pakai air hangat diiyakan. Dua kebiasaan buruk, yakni pelupa dan kadang malas memang faktor T (turunan) dari bapaknya.

Saat mengantar Syamil, aku sempatkan menengok kelas Ata. Aku tanyakan soal PR Matematikanya. Dia jawab nggak bisa mengerjakan. Terpaksa aku sarankan mencontek PR temannya. Untuk mata pelajaran ini, dia memang lemah, beberapa kali ujian, Matematika sering remidi. Saat itu dia minta dibawakan gunting dan pensil warna. Ada tugas membuat poster. Aku bilang akan dibawakan sekalian berangkat kerja.

Ternyata air minum buat bekal mereka berdua pun ketinggalan. Aku antarkan sekalian. Ini yang kesekian kalinya aku mampir ke sekolah demi mengantar sesuatu buat mereka. Tak jarang bekal makan buat keduanya aku antar bareng keberangkatanku kerja. Kerepotan di pagi hari sering membuat istriku tak kuasa menyelesaikan tepat waktu. Masakan baru siap saat mereka sudah berangkat.

Hampir kena tilang

Ini hari kelima jadwal keliling desa. Rapat pembahasan pemanfaatan dana sosial dari surplus di masing-masing desa sudah dijadwalkan. Penentuan jenis kegiatan dari dana tersebut dimusyawarahkan antara para ketua kelompok pemanfaat dengan Pemerintah Desa (Kades) dengan difasilitasi oleh BKAD. Keputusan yang dihasilkan akan dilaksanakan dan dilaporkan penggunaannya oleh para ketua kelompok untuk Pemerintah Desa dan BKAD.

Setelah tercapai kata sepakat di Desa Kalisalak, aku segera meluncur. Para ibu ketua kelompok di Desa Cindaga sudah menunggu. Untuk menghemat waktu, aku putuskan melewati jalur selatan melalui Sampang. Kerusakan jalan kabupaten di Desa Sawangan lebih pendek daripada jalur utara.

Demi melihat ada beberapa sepeda motor yang putar balik, aku sudah menebak. Ada operasi di depan. Tepatnya dekat Pos Polisi Sampang. Aku merasa tenang karena semua lengkap. Hanya lampu depan yang segera aku nyalakan. Namun beberapa detik kemudian aku terhenyak. Aku lupa menaruh dompet di tas. Semalam dompet aku taruh di tas badminton saat main ke Rejasari. Tanpa pikir panjang, aku balik kanan. Untung saja dari arah berlawanan tak ada kendaraan. Posisiku saat itu sudah mendekati jembatan irigasi.

Maka sembari melihat ke spion, aku tarik gas motor agak kencang. Khawatir ada motor Polisi yang mengejar. Meski aku yakin, andai di kejar pasti aku kena. Tentunya tarikan motor bebek keluaran 2002 yang aku tunggangi, tak sekencang motor sekarang. Alhamdulillah aman. Tarikan aku kurangi setelah melewati bulak sawah di daerah Pesemutan.

Dibuat jengkel

Paska pertemuan di Desa Cindaga, aku merasa jengkel. Pasalnya ada seorang ketua kelompok di satu desa yang menciderai kesepakatan. Padahal kesepakatan itu baru dibuat tidak lama. Sempat pula berkata-kata yang tidak enak di dengar saat di kantor. Untung koordinasi dan komunikasi dengan pihak kecamatan berjalan baik. Untuk sementara, masalah ini bisa tertangani.

Dia masih memiliki tanggung jawab kemacetan pinjaman atas nama pribadi. Sudah lama tidak ada progres angsuran dan komunikasi pun agak lama terhenti. Namun tiba-tiba dia mengurus surat pindah domisili. Kesepakatan yang dibuat adalah menunda proses pengurusan berkas itu sampai ada pertemuan dengan mantan suaminya di kantor. Kepala Desa dimana dia bertempat tinggal pun sudah membantu dengan tidak menandatanganinya.

Namun apa lacur, entah dengan bahasa apa, dia bisa mendapatkan tanda tangan Sekdes dan stempelnya, lantas meluncur ke kecamatan. Aku tidak menyalahkan Sekdes dan bagian pelayanan, karena belum sempat Kades berkoordinasi, beliau sudah pergi dengan tamu yang memang sudah menunggu lama.

Masih beruntung proses itu tidak lancar. Beberapa dokumen kelengkapan tercecer di balai desa tempatnya mengurus dan justru aku yang menemukan. Aku bersama Om Slamet segera ke kantor kecamatan dan Polsek. Selain untuk minta ditangguhkan prosesnya, juga lapor ke pihak berwajib bahwa aku menemukannya, dan menceritakan kronologis kejadiannya.

Akhirnya dia datang ke kantor, meminta untuk dikembalikan. Saat itu lah aku emosi. Karena kesepakatan yang dibuat belum lebih dari hitungan jam. Meski dia memohon agar mengerti kesulitannya, maka aku katakan, aku sudah telanjur berprasangka buruk. Si Ibu sudah menciderai kesepakatan. Untung waktu itu sudah makan siang. Kalau belum, bisa-bisa hilang selera makan.

Apa ceritamu hari ini?

Para ketua kelompok Dana Bergulir Desa Cindaga
BAGIKAN
Berita sebelumyaIdul Fitri yang Adem
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here