Aku Bangga Jadi Sekretaris RT

0
295
Gendhu-gendhu rasa

Andai aku tak keceplosan bahwa nanti malam jam 02.00 WIB aku akan pergi ke Jogja, mungkin mereka belum bubar. Para bapak masih asyik duduk-duduk di depan rumahku. Malam ini rumahku kena giliran kumpulan rutin bulanan RT. Karena bulan kemarin, aku mendapat arisan. Sudah menjadi kesepakatan bahwa bulan berikutnya, siapa saja yang mendapat arisan harus mau menjadi tuan rumah. Semua sepakat.

Asyik dopokan
Asyik dopokan

Diskusi-diskusi panjang nan santai selalu mengiringi paska kumpulan RT berakhir. Biasanya segala unek-unek akan mereka sampaikan pada sesi ini. Pada acara inti, lebih banyak diam dan enggan berkomentar atau mengajukan usul dan keberatan. Ketidakbiasaan menyampaikan segala sesuatu di forum-forum resmi kendalanya. Maka ajang diskusi atau gendhu-gendhu rasa ini lah saat yang tepat.

Malam ini diskusi mengenai rencana pentas wayang kulit yang akan dilaksanakan oleh panitia kegiatan 1 Muharram. Isu rencana pentas wayang kulit sudah berhembus kurang lebih 2 bulan yang lalu. Maka pada acara rapat pengurus RT, BPD, dan tokoh masyarakat lain di Balai Desa, disepakati. Termasuk besaran RAPB dan iuran yang harus diemban oleh warga.

Dengan asumsi sekitar 700 rumah yang mau iuran dari 800-an, maka dipukul rata bahwa per rumah harus iuran sebesar Rp 25.000,00. Nominal yang kecil bagi mereka yang berkantong tebal. Tapi bagi kebanyakan warga itu sama saja kerja setengah hari. Itu pun kalau lagi ada kerjaan. Nah, kalau pas lagi menganggur?

Gendhu-gendhu rasa
Gendhu-gendhu rasa

Oleh karenanya, pada kumpulan RT malam ini, salah satu materi pembahasannya adalah soal iuran itu. Meski kesepakatan per rumah adalah iuran sebesar 25 ribu, ini perlu disikapi di tataran RT. Sebab banyak warga terkategori RTM. Maka berdasarkan kesepakatan diskusi paska kumpulan RT tersebut, penarikan akan dilakukan berjenjang, bahasa Banyumas-nya unda usuk. Yang mampu akan memberi iuran lebih dari 25 ribu dan yang tak mampu minimal 10 ribu. Terjadi lah subsidi silang.

Kerelaan warga yang memiliki pendapatan lebih untuk menopang iuran patut diacungi jempol. Terlebih lagi bagi mereka yang tetap iuran meski tak suka atau tak mungkin menonton pentas wayang itu juga perlu diapresiasi. Tak ada yang mengedepankan ego masing-masing. Semua merasa harus saling menghargai dan tolong menolong.

Ada 38 rumah di wilayah RT 01/01 Desa Mandirancan Kec. Kebasen, dimana aku dan keluarga tinggal. Untuk jumlah secara keseluruhan Kepala Keluarga (KK) aku tak tahu persis. Data kependudukan RT ada di rumah Pak Yatin, selaku Ketua RT. Seharusnya data ini aku simpan, karena disini aku menjadi sekretaris RT. Akan tetapi sejak awal aku diminta menjadi pengurus RT, aku minta keringanan tugas. Aku tak mau menyimpan arsip kependudukan RT, surat pengantar, arsip surat menyurat, dan administrasi ke-RT-an lainnya. Bukan karena enggan dibebani, tapi memang aku tak mau merasa terbebani dengan hal-hal itu semua. Kesibukanku di luar membuat aku tak ingin merasa berdosa tatkala tak mampu melaksanakan tugas sebagai sekretaris RT.

Egois memang. Tapi perlu kamu ketahui di sini, umumnya di Desa Mandirancan, kepengurusan RT biasanya pada rebutan. Rebutan menolak. Maka berterima kasih lah kepada mereka yang mau menjadi pengurus RT. Pengurus RT lebih banyak menerima komplein pertama dari warga, sedang urusan operasional sering mengeluarkan dana pribadi. Ini  perjuangan pemberdayaan masyarakat khususnya di tingkat RT. Yang sebenarnya tak hanya berlaku di Desa Mandirancan. Namun di banyak tempat lainnya, pun berlaku demikian.

Posisi RT ku berada di grumbul Tambangan. Dulu di sini ada tambatan perahu guna penyeberangan. Perahu diseberangkan dengan cara pengemudinya memegang tali (tambang). Ini terjadi sebelum jembatan kereta api yang berada di hulu sungai Serayu, tak jauh dari situ, dialihfungsikan menjadi jembatan kendaraan biasa.

Grumbul Tambangan terbagi menjadi dua RT, yakni RT 01 dan RT 02 masih RW 01. Jika kamu datang dari arah Purwokerto, sesampainya di pasar Patikraja, ambil jurusan ke Kebasen. Kamu akan temui jembatan sempit, bekas jembatan kereta api, seperti yang aku sampaikan diatas. Saat kamu berpapasan dengan mobil atau kamu naik mobil dan berpapasan dengan sepeda motor, kamu harus berhati-hati. Memperlambat laju kendaraan adalah saranku. Karena dulu sering terjadi kecelakaan yang mengakibatkan salah satu akan jatuh dan tercebur di Sungai Serayu. Mengerikan kan?

Bagi kamu yang terbiasa melewati jalan itu, mungkin akan lihat mengendalikan kemudi. Tapi kalau baru pertama atau jarang, mesti hati-hati sekali. Kejadian mengerikan soal tercebur ke sungai sampai kejadian tak mau mengalah untuk mengundurkan kendaraan karena berpapasan di tengah-tengah jembatan, khususnya mobil atau yang lebih besar lagi, sudah sering. Saling marah dan memaki adalah hal biasa. Soal jembatan yang dulu berwarna merah, sehingga diberi nama Jembatan Merah ini mungkin bisa aku ceritakan terpisah, kalau tidak lupa… hehe….

Setelah jembatan merah itu, di sebelah kanan jalan hingga bundaran pertigaan Mandirancan itu lah grumbul Tambangan. Sedangkan wilayah RT 01/01 terletak di sebelah kanan jembatan hingga perempatan “ngalteh”, yakni sebelum bundaran pertigaan. Baik RT 01 maupun RT 02, berbatasan langsung dengan Sungai Serayu.

Rumahku sebenarnya tak sempit-sempit banget. Karena berukuran 90 m2. Namun, kebiasaan yang sudah berjalan, khususnya para bapak lebih suka duduk-duduk di teras atau halaman tuan rumah kumpulan RT. Demikian pula malam ini. Halaman rumah lebih disukai daripada ruang dalam. Lebih isis. Kursi-kursi dan meja dari meminjam ke tetangga pun aku dan Mas Sono tata di sana. Mas Sono ini suami dari anak Uwa (Bu Dhe) yang tinggal persis di sebelah barat rumahku.

Rumah ku menghadap ke utara. Ruang tamu di tengah dengan kanan kiri kamar tidur. Di belakang ruang tamu ada ruang serba guna. Kemudian dapur dan kamar mandi. Sebelah timur dapur ada kamar tidur untuk ibu. Tidak pas sebenarnya mengatakan ini rumahku. Kakak perempuan ku sekarang tinggal di Srandakan Bantul Jogjakarta mengikuti suaminya. Sedang adikku tinggal di Tamanwinangun Kebumen. Tapi anggap saja rumahku. Karena ibu sudah berujar kepada kakak dan adikku untuk bersabar hingga aku bisa membantu mereka. Toh yang memperbaiki rumah ini ya aku juga. Alhamdulillah.

Mungkin karena aku rajin ikut kumpulan RT, maka pesertanya pun hampir komplit. Hanya 2 orang saja yang tak bisa hadir. Itu pun karena mereka kerja dinas malam. Keduanya polisi.

Bagiku berkumpul, berdiskusi, dan bercanda ria bagi mereka adalah kebahagiaan tersendiri. Karena terlalu seringnya aku bepergian sehingga momen seperti ini lah aku bisa membangun basis kekuatan sosial di lingkungan terkecil. Aku tak mau jika ada kawan-kawan yang sempat melakukan kroscek ke lingkungan, aku dikenal warga yang angkuh dan tidak bisa hidup bertetangga dengan baik.

BAGIKAN
Berita sebelumyaDemo Cerdas dan Tepat Sasaran
Berita berikutnyaAngkringan yang Ini Bukan Warung Makan
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here