Anak-anak Perlu Sedikit Ketegasan

0
264
Bermain dan menemani Haidar

Beberapa waktu lalu, Syamil lah satu-satunya anak di kelas TK B yang masih ditunggui. Teman-teman lain, seperti Isa dan Qois sudah mandiri. Saat masih sama-sama di kelas TK A, ketiga nya terkenal kolokan. Kalau di hitung, Syamil pernah bolos lebih dari 60 hari. Masih dimaafkan.

Syamil enggan mengikuti kegiatan kelas. Saat teman-teman berbaris, senam, dan atau mengerjakan sesuatu di kelas, dia tak mau ikut. Kata istri ku, dia lebih senang menghabiskan jajan. Sering pula, dia tetap asyik bermain meski bel tanda masuk sudah dibunyikan. Antara mau dan tidak. Api ora.

Kebiasaan ini berlanjut saat masuk ke kelas B. Dia hanya mau sekolah kalau ada yang menunggui. Padahal istri ku baru melahirkan Haidar, anak ku yang ketiga. Sedang aku harus tetap berangkat kerja. Alhasil, Syamil mogok sekolah.

Kembali merepotkan Ibu

Kepulangan Ibu dari Bali, berniat membantu urusan mencuci dan memasak saja. Tak terpikirkan untuk menemani Syamil sekolah. Tapi apa lacur, akhirnya dia harus mengalah. Selesai mencuci baju, dia ikut ke sekolah.

Berkali-kali ibu mengingatkan aku. Aku harus sedikit tegas. Berpura-pura marah atau dengan sedikit ancaman pada Syamil agar tak manja. Tapi, belum bisa aku lakukan. Aku mencoba merasakan, bagaimana perasaan Syamil sekarang. Dia masih kaget. Dulu dia dimanjakan. Sekarang muncul Haidar yang tentu akan jadi pesaing.

Untung kelahiran Haidar, begitu dia nantikan. Syamil sangat sayang pada adiknya. Tak bosan-bosan dia menciumi adiknya.

Saat masih dalam kandungan, istri ku telaten mempersiapkannya. Saat di tanya, Syamil minta yang cowok apa cewek, dia jawab: cowok. Alhamdulillah dikabulkan.

Sepertinya kembali merepotkan orang tua, sudah lazim. Dulu saat masih kecil, tentu mereka repot mereka mengurus kita. Utama nya seorang ibu. Kini hadir nya cucu, pun sama. Maka saat ibu masih ada, nikmat yang mana lagi yang akan kau dustakan?

Belajar tegas

Tak hanya ibu, istri ku pun agak menyalahkan aku. Terbiasa memanjakan Syamil, membuatnya tak mandiri. Apa pun yang Syamil inginkan, memang sering aku turuti. Aku hanya berpikir, kemanjaan dari seorang ayah, tak pernah aku rasakan. Apakah salah saat aku memanjakan mereka.

Berulang kali aku mencoba tegas pada nya. Tapi saat dia sudah merengek, dan bahkan menangis, aku kembali tak tega. Sering aku berangkat terlambat kerja. Syamil hanya mau di tinggal saat bel sekolah berbunyi, yakni sekitar jam 8 pagi. Padahal di rumah aku masih harus membantu istri, menyiapkan air untuk mandi Haidar. Kemudian aku sarapan, mandi, dan persiapan berangkat kerja.

Keadaan ini aku ceritakan ke beberapa orang. Apa yang mereka katakan pun sama, aku harus tegas.

Bermain dan menemani Haidar

Lebih mandiri

Sekarang Syamil lebih mandiri. Aku diijinkan pulang saat jajan yang dia inginkan sudah dipenuhi. Cukup salaman, cium pipi, dan berpelukan, dia mau aku tinggalkan sembari melambaikan tangan. Syamil asyik dengan jajannya.

Sebelum itu, aku harus kucing-kucingan saat pulang. Aku tahu dia mencari ku. Tapi, entah apa yang ibu ku katakan. Syamil tak keluar mengejar ku pulang. Yang seperti ini sering aku lakukan. Kadang harus pulang lewat pintu belakang sekolah dan mladak kebon.

Pertama kali dia mau di tinggal dengan berpamitan, dia menangis keras. Meski aku sudah mencoba tatag untuk tegas, dia tetap menangis. Aku bergegas pergi. Lalu terdengar ibu ku memanggil. Syamil minta salaman. Nggrentes mendengarnya menangis keras. Tapi aku harus kuat.

Beberapa kali Syamil menguji ku. Dia masih merengek. Tapi aku sudah kuat. Aku sedikit mendelik. Gertak sambal untuk tak mengajaknya bepergian saat libur, cukup ampuh. Terkadang masih harus memenuhi syaratnya. Minta ini dan itu yang sebenarnya tak diijinkan istri ku.

Kata istri ku, biasanya Syamil mau mengikuti kelas setelah beberapa hari masuk. Tapi penyakit mogok sekolah akan kambuh saat berselang libur, meski hanya sehari.

Kini Syamil lebih mandiri. Dia sudah mau mengikuti kegiatan. Meski beberapa waktu, ibu ku masih harus menemeni, perlahan tidak lagi. Sepertinya dia sudah menemukan dunia nya: bermain dan belajar bersama teman-teman.

Rabbana hab lana min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a’yunin waj-’alna lil-muttaqîna imama”.

“Ya Tuhan kami, anugerahkan kepada kami, pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami, dan jadikan kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa”.

Salam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here