Angkringan yang Ini Bukan Warung Makan

0
260
Penegasan eksistensi... hihi....

Mata ini sudah pedih rasanya. Rasa mengantuk sudah aku tahan-tahan soalnya. Padahal semalam aku sudah tidur 2,5 jam ditambah saat mobil berjalan dari Purworejo hingga Wates Jogjakarta. Mobil terus melaju menyusuri jalan Paris. Rombongan kami menuju Desa Timbulharjo Kec. Sewon Kab. Bantul. Yossy bilang kita mau studi banding. Studi banding apa, tak jelas. Kok malam-malam pula. Tadinya aku rasa agenda ini dibatalkan. Diskusi dengan Kang Farid di rumahnya di wilayah Kaliurang sampai Isya.

Tepos sedang berbagi
Tepos sedang berbagi

Desa Timbulharjo ini dihuni lebih dari 25.000 jiwa. Karena berdasarkan informasi, untuk TPS saat Pilpres, Pilkada, dan Pilkades mencapai 47 titik. Besar banget ya. Desa yang pernah mengalami gempa akibat tsunami di Parangtritis ini memiliki komunitas pemberdaya masyarakat melalui media informasi.

Menyimak
Menyimak

Tahun 2000 an mereka bersepakat untuk mengeluarkan buletin guna menyebarkan informasi. Buletin warga ini diberi nama Angkringan. Terinspirasi dari nama warung-warung tempat lesehan masyarakat kelas bawah yang terkenal dengan sebutan angkringan. Sedangkan organisasi mereka bernama Forum Komunikasi Warga Timbulharjo (Fukowati). Ide pembuatan buletin ini dimaksudkan untuk ikut berkontribusi terhadap perubahan karena arus reformasi.

Ruang siaran radio
Ruang siaran radio

Malam itu kami ditemui oleh Tepos. Nama aslinya aku nggak tahu. Lancar dan penuh percaya diri dia mempresentasikan komunitasnya. Takjub aku mendengarnya. Ingat pada komunitas di desa yang kurang lebih aku gagas di desa. Nasibnya sama seperti kebanyakan. Mati suri. Padahal tujuan gagasan komunitas yang aku beri nama Warta Mandirancan (WM) itu pun kurang lebih sama.

Menang lomba
Menang lomba

Kegigihan mereka mempertahankan eksistensi komunitas dengan dana swadaya sangat mengesankan. Tak terlukis wajah kesedihan mereka. Penampilan sangat sederhana, khas orang desa, tak menandakan mereka menyesal menekuninya. Padahal jelas dari sisi pendapatan tak ada. Rogoh kocek sendiri lha iya. Hebat!

Narsis tak pernah habis
Narsis tak pernah habis

Tak disebutkan kapan nama Fukowati berubah menjadi Media Komunitas Angkringan. Buletin Angkringan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga. Bahkan sekarang, pengelola Angkringan kewalahan dalam menyeleksi tulisan-tulisan warga yang di kirim ke redaksi. Tak sedikit mereka yang minta dibacakan buletin kepada cucu-cucu mereka saat mereka ingin tahu informasi tentang desanya.Namun demikian, Tepos menjelaskan bahwa efektifitas buletin menjadi berkurang tatkala ditemui banyak penduduk yang masih buta huruf. Khususnya kaum tua.

Penegasan eksistensi... hihi....
Penegasan eksistensi… hihi….

Oleh karenanya, strategi penyebaran informasi di rubah. Yakni dengan mendirikan radio lokal pada pertengahan Agustus 2000. Semangat gotong royong mendirikan stasiun radio tersebut. Beruntung Buletin Angkringan memenangi lomba Pers Alternatif yang diadakan oleh Institut Studi Arus Informasi (ISAI) Jakarta. Buletin Angkringan mendapat penghargaan khusus dengan kategori “Pers Desa” serta mendapat hadiah uang sebesar Rp. 2,5 Juta. Dana ini digunakan untuk perbaikan dan penambahan peralatan radio, sehingga jangkauannya lebih luas.

Jamuan wedang teh
Jamuan wedang teh

Mata yang tadinya perih jadi sembuh sendiri. Semangat mereka membantu masyarakat melalui media informasi membuat rasa kantuk itu hilang. Aku semakin kagum tatkala dipraktekkan sms gateway yang mereka terapkan.

Tampilan web angkringan
Tampilan web angkringan

Setiap warga bisa melaporkan semua kejadian di wilayah melalui SMS. Yang kemudian akan disebarkan ulang kepada seluruh warga yang berkaitan dengan informasi tersebut. Misalnya ada warga yang membutuhkan transfusi darah, maka operator akan mengirim ulang SMS tersebut kepada seluruh warga yang memiliki jenis golongan darah yang lain. Demikian pula jika terjadi pencurian, SMS akan segera disebarkan kepada penduduk dukuh setempat atau yang berdekatan, termasuk ke polsek setempat.

SMS center angkringan
SMS center angkringan

Seiring berkembangnya waktu, mereka pun membuka layanan informasi melalui media sosial facebook, twitter, dan yang lainnya. Website pun tak ketinggalan. Media ini lebih ditujukan kepada masyarakat Desa Timbulharjo yang berdomisili di luar desa.

Keren!

BAGIKAN
Berita sebelumyaAku Bangga Jadi Sekretaris RT
Berita berikutnyaJembatan Serayu Penuh Kenangan dan Misteri
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here