Anjangsana Mencari Ilmu ke Solo

0
133
Rektor UNS, Prof. Ravik Karsidi MS

Bagian ke-2

 

Setelah di rasa cukup istirahat di masjid kampus, aku bergegas keluar. Aku cari warung makan di depan pintu utama. Tempat mangkal angkringan semalam sudah diganti dengan pedagang koran. Sedang di sebelahnya, dekat tempat pangkalan ojek kampus, ada warung makan biasa. Aku sarapan di situ saja.

Warung kecil berukuran 1×4 m ini di kelola oleh Ibu Waryati (40 th), istri dari Pak Warseno (43 th). Sedang Pak Warseno menjadi salah satu tukang ojek kampus di situ. Dia membuka warung di sana karena kebaikan saudaranya. Warung kecil yang mereka tempati tadinya kosong. Sebelumnya dia bersama suami usaha siomay di kaki lima dekat kampus juga. Setelah ada razia PKL, mereka banting stir. Sebelum berjualan siomay, Pak Warseno bekerja di sebuah toko meubel. Dia terpaksa berjualan siomay karena toko tempatnya bekerja bangkrut.

Sembari menikmati nasi pecel yang aku pesan, kami berbincang-bincang. Mereka menanyakan dari mana asal dan tujuanku ke kampus. Semula mereka juga mengira aku kuliah di sana. Aku bilang hendak mengikuti acara seminar soal pemberdayaan teknologi informasi untuk orang-orang desa.

Aku tertarik melihat para tukang ojek yang berseragam batik itu. Kata Pak Warseno agar mudah dikenali sebagai anggota tukang ojek yang mangkal di sana, sedang anggotanya berjumlah 18 orang.

Pak Warseno mengatakan dalam satu hari bisa sampai 10 kali putaran tiap tukang ojeknya. Tergantung jarak yang diminta oleh pelanggan. Memang target utama mereka adalah para mahasiswa yang hendak masuk ke kampus, tapi tetap melayani jika ada yang meminta ke tempat lain. Sedang tarif yang berlaku sekali antar untuk mahasiswa yang masuk ke kampus sebanyak empat ribu rupiah. Katanya seiring kenaikan BBM, tarif terus bertambah dari yang semula dua ribu.

Meski berjumlah banyak, mereka teratur menunggu giliran. Mereka yang datang terlambat akan parkir paling belakang. Saat pelanggan datang harus mau membonceng tukang ojek yang bersiap paling depan. Kemudian yang di belakangnya otomatis maju, begitu seterusnya.

Berkali-kali Pak Warseno yang sedang sarapan, keluar demi menuntun motornya untuk maju mengantri. Kasihan dia. Baru satu dua kali suap, eh harus keluar. Masuk, menyuap makanan, keluar lagi.

Saat aku bertanya apakah paguyuban tukang ojek ini sudah berkoperasi, di jawab belum. Tapi kalau soal tabungan wajib, ada. Memang masih sedikit, ujar Pak Warseno. Tabungan itu digunakan untuk sekedar membantu anggota yang kena musibah.

Wah, sayang ya.

“Kalau di buat koperasi, kemudian minta bantuan pihak kampus untuk membina, kayaknya lebih baik, Pak”, ujarku. “Kalau sudah berbadan hokum, kemudian mengembangkan usaha lain, bengkel motor misalnya. Nanti kan SHU nya kembali ke anggota. Semua tukang ojek pasti butuh servis, ganti onderdil, oli, dan lainnya kan, Pak?” sambungku. Sok banget ya… hehe….

Manggut-manggut Pak Warseno dan istri mendengar omonganku.

“Lagi pula, kita nggak akan pernah tahu apa yang terjadi di masa depan. Saya sih tidak sedang menakut-nakuti, tapi berjaga-jaga tentu lebih baik. Dengan koperasi, bisa bekerja sama dengan pihak kampus untuk melakukan pelatihan-pelatihan. Jika bapak-bapak yang mengojek tak sempat, pelatihan bisa ditujukan buat para istri atau anak-anak. Agar mereka bisa membantu mencari penghasilan. Jadi saat harus istirahat karena sakit, ada yang tetap mencari penghasilan di rumah”, khotbahku panjang lebar.

Sepertinya mereka antusias mendengar ocehanku.

“Iya yah, Mas”, jawab Pak Warseno. “Tapi tidak mudah”.

Pak Warseno beralasan, dia anggota baru yang masih muda usia di sini. Memang, kebanyakan tukang ojek yang ada rata-rata sudah ubanan. Agak sulit memahamkan hal seperti itu kepada anggota yang lain, begitu kata Pak Warseno.

Dia sebenarnya juga berharap pihak kampus mempunyai program untuk masyarakat sekitar. Memang sih, ada kegiatan Sunday Market. Sayangnya program itu belum terlalu mengena di masyarakat. Andai pihak kampus bisa menularkan ilmu yang mereka miliki kepada masyarakat sekitar, tentu lebih bermanfaat.

Benar atau tidaknya aku nggak tahu. Selain hanya mendengar dari salah satu pihak, aku juga belum melakukan konfirmasi.

Setelah membayar semuanya, aku berjalan menuju gedung rektorat. Tapi kelihatannya suasana masih sepi. Aku ingin duduk di taman samping kiri gedung rektorat. Ternyata di sana ada salah seorang pejabat dari dinas pendidikan. Dia sedang asyik menghisap rokok. Katanya dia di undang untuk urusan penerimaan mahasiswa baru. Ada rapat katanya.

Sembari menunggu waktu, kami berbincang-bincang. Dia bertanya tentang kegiatan seminar kali ini. Saat aku katakan maksud dari seminar ini, dia langsung antusias menanggapi.

“Memang, Mas. Masyarakat harus transparan dalam mengelola dana. Apalagi dana yang dikucurkan nanti sangat besar. Jangan sampai disalahgunakan”.

Hihi… jadi geli.

Kalau soal kapasitas, memang SDM di desa masih rendah. Tapi soal korupsi, kayaknya para pejabat lebih parah deh. Santai saja, Pak. Kan ada saya… ahihi…. Tentu ucapan ini hanya tersimpan di hati.

Rupanya kekhawatiran dan ketakutan khalayak terhadap dana desa yang akan dikucurkan begitu besar. Pemberitaan negatif di media massa disamaratakan dengan praktik-praktik di desa nantinya. Padahal setahuku setiap ada temuan dari hasil audit, disebabkan karena ketidaktahuan pelaku di desa dalam hal pelaporan. Indikasi penyelewangan sangat kecil. Andai ada pun hanya beberapa orang saja. Di sini lah peran kita untuk memberdayakan mereka. Di samping membangun kesadaran masyarakat untuk aktif memantau kegiatan di desa masing-masing.

Sebagai pegiat desa, aku mencoba meyakinkannya. Aku katakan bahwa ada sebuah desa di Banyumas yang secara aktif menyampaikan informasi kepada masyarakat melalui website. Saat itu yang aku bayangkan adalah Desa Dermaji. Desa ini mampu mengelola dana lebih dari 4 milyar sebelum ada UU Desa. Jadi, dana desa sebesar 1 milyar itu bukan apa-apanya. Toh, tak ada masalah di Dermaji. Ah, sayangnya aku tak pamer kalau Dermaji menjadi juara pertama Si Kompak Award Provinsi Jateng. Selain itu, Mas Bayu jadi pemenang The Young Inspiring Leader.

Tapi keteranganku soal kemampuan desa mengelola dana dalam jumlah banyak dan fine-fine saja, membuatnya manggut-manggut. Tak tahu apakah dia berubah pandangannya atau tak percaya dengan keteranganku. Karena setelah itu dia menerima telpon dan kami berpisah.

Aku naik ke lantai dua dan masuk ke ruang II dimana acara itu diselenggarakan. Peserta masih belum banyak. Aku duduk di baris kedua dari depan. Pandangan aku edarkan ke seluruh ruangan yang kira-kira bisa menampung 200 an peserta. Setiap baris terpisah dengan 5 kursi dan dua meja panjang di depannya. Tiap 5 kursi itu terdapat mikrofon untuk bertanya atau berdialog nantinya. Empuk dan nyaman.

Ah, akhirnya ada wajah-wajah yang aku kenali. Kami bertemu pada acara coffe break sebelum acara di mulai. Saling sapa, bertanya kabar, dan perkembangan desa-desa dampingan menjadi topik perbincangan. Ada yang merasa kesulitan karena kurangnya support dana, ada pula yang kesulitan dalam melakukan lobi ke Pemkab, dan ada pula yang kesulitan dalam meyakinkan masyarakat desa.

Hehe… sama dong.

Aku kira Pak Ronggo dan Mba Dina sudah menyadari keberadaanku. Sebelum acara di mulai, mereka sempat melambaikan tangan kepada teman-teman Pandu dari Sragen, Karanganyar, dan Klaten. Pandangannya pun sudah menyapu seluruh ruangan. Apa aku kurang mencolok? Hihi….

Pak Ronggo dan Mba Dina baru tahu setelah aku SMS bahwa Pak Dwi Purnomo, Ketum Assosiasi UPK NKRI tidak mendapat undangan.

Pak Profesor Ravik Karsidi, selaku rektor UNS, yang menjadi keynote speaker memaparkan materi dari hasilnya meraba di internet. Tapi menurutku, beliau sudah agak paham dengan konsep UU Desa. Ya iya lah, sekelas professor gitu lho.

Rektor UNS, Prof. Ravik Karsidi MS
Rektor UNS, Prof. Ravik Karsidi MS

Ajakan kerjasama untuk memberdayakan masyarakat desa melalui sistem informasi beliau sambut baik. Beliau yang sekarang ini menjabat sebagai Pembina organisasi para rektor, berjanji akan mengajak teman-teman rektor untuk mendukung program ini. Bagaimana pun juga teknologi akan banyak membantu masyarakat khususnya di desa.

Andai aku berada di posisi Pak Ronggo dan Mba Dina, tentu aku pun akan sangat bangga. Sebagai alumni UNS, mereka kembali ke almamater untuk bekerjasama dan meningkatkan nilai lebih kampus bagi masyarakat. Meski Mba Dina sudah menyelesaikan Master-nya di Brazil dan sering berkeliling ke luar negeri, kenangan semasa kuliah pasti terbayang. Begitu pula Pak Ronggo. Sumringah mereka berdua mengatakan, “saya juga alumni UNS”.

Apa jangan-jangan sambil membayangkan “si dia” yang pernah di hati. Cieh….

Hanya mereka yang tahu. Ahihi….

Seminar yang diadakan hasil kerjasama antara LPPM UNS dan BP2DK ini bertujuan untuk mengajak kalangan akademisi untuk lebih peduli dengan desa. Kegiatan serupa sebelumnya sudah diadakan di kampus Undip Semarang.

Ah, andai saja tidak ada agenda pembahasan lain antara aku dengan Pak Ronggo, mungkin aku nggak ke sini. Sebab Pak Ronggo ada agenda ke Cilacap pada Sabtu besoknya. Tak apa lah, kan jadi bisa main ke Setnas JRKI nantinya.

Pokoknya: “tak ada pekerjaan baik yang sia-sia”.

BAGIKAN
Berita sebelumyaAnjangsana Mencari Ilmu ke Solo
Berita berikutnyaAnjangsana Mencari Ilmu ke Solo
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here