Anjangsana Mencari Ilmu ke Solo

0
142
Pemateri Seminar

Bagian ke-3

 

Urusan desa memang terlalu berat jika hanya dilakukan oleh salah satu pihak saja. Persoalan desa bukan hanya soal mengurusi bangunan fisik infrastruktur, bukan cuma mengurusi masalah dokumen RPJMDes semata, Musdes, dan bukan pula soal peningkatan kesejahteraan saja. Urusan desa begitu kompleks. Soal asas rekognisi dan subsidiaritas yang menjadi semangat kewenangan desa dalam mengelola potensi yang ada dengan manajemen tradisional yang sudah turun temurun. Oleh karenanya, menggandeng semua elemen guna memberdayakan masyarakat desa, sudah semestinya di lakukan.

Menggandeng pihak kampus untuk bersama-sama membangun desa merupakan hal baik. Kampus yang di huni oleh para intelektual memang sebaiknya mau berbagi ilmu kepada masyarakat. Hasil-hasil penelitian yang sudah dilakukan baik oleh para mahasiswa maupun dosen, akan lebih baik jika diberikan kepada masyarakat dan tidak hanya menambah koleksi perpustakaan saja.

Maka tema yang diusung, yakni: “Merumuskan Peran Perguruan Tinggi dalam Memperkuat Pembangunan Pedesaan dan Kawasan melalui Teknologi SIDeKa”, menjadi tepat.

Prof. Ravik Karsidi, MS dalam memaparkan materi menjelaskan bahwa Indeks Kedalaman Kemiskinan antara kota dengan desa begitu mencolok, yakni: 1,25 berbanding 2,25. Sedang Indeks Keparahan Kemiskinan untuk kota 0,31 dan 0,57 untuk desa. Ketimpangan indeks ini begitu mengkhawatirkan. Oleh karenanya pemberdayaan desa menjadi penting dan perlu diprioritaskan.

Paparan materi dari Mba Dina menekankan perlunya negara hadir dalam pemberdayaan desa, dan bagaimana membangun kesadaran ruang untuk memikirkan desa. Pak Purwoko menjelaskan bagan UU Desa berdasarkan urutan pasal. Tak ketinggalan menjelaskan dua asas yang tak ada dalam perundang-undangan lain, yakni: Rekognisi dan Subsidiaritas. Ini yang membedakan UU Desa dengan yang lain. Sedang Pak Warsito Elwein, staf khusus Gubernur Jateng, menyampaikan tentang program desa berdikari yang sedang digalakkan oleh Pemprov Jateng.

Peserta Seminar
Peserta Seminar

Aku tak tahu apa yang ada di benak para peserta seminar. Satu per satu mereka meninggalkan ruangan sebelum acara usai. Undangan sejumlah 150 orang yang disebar dari pihak LPPM saja tidak semua hadir, eh malah terkurangi karena mereka tak mengikuti acara hingga usai.

Apakah karena sudah bosan dengan berbagai paparan yang bersifat teori dari para pemateri, atau isu desa tidak seksi, atau sebab lain, aku tak tahu.

Kebiasaan dari kebanyakan kampus yang lebih sering menjalin kerjasama dengan pihak swasta atau perusahaan mungkin lebih menjanjikan daripada desa. Yah, isu desa mungkin hanya mengemuka pada masa KKN.

Tapi raut muka peserta menjadi antusias tatkala Mba Kunthi memaparkan apa-apa yang dia lakukan di desa. Mba Kunthi adalah Pandu Desa di kabupaten Kulonprogo. Dia menyampaikan kegiatannya selama menjadi pandu di sana. Menurutnya dia bekerja dengan dibantu oleh 7 orang tim IT. Sedang desa-desa yang ia dampingi sebanyak 47 desa. Foto-foto kegiatan membuat peserta tertegun. Kegiatan itu nyata.

Yah, apa yang dilakukan oleh Mba Kunthi seharusnya dilakukan oleh kita yang peduli dengan bangsa ini. Salah satu wujud nasionalisme, ya mengabdi untuk desa.

Andai peserta juga disuguhi foto dan video pendampingan serupa di tempat-tempat lain, aku yakin mereka akan semakin takjub. Kegiatan pendampingan yang dilakukan teman-teman GDM di Madiun, di mana Kang Yosep seperti single fighter dengan dana swadaya, drone desa di Ciamis, Dedemit Lampung, Cilacap dengan Kang Fadli-nya, Banyumas dengan dua bukti: Melung dan Dermaji, dan tempat-tempat lain yang patut diacungi jempol.

Semangat masyarakat desa dalam belajar TIK, justru membuat Mba Kunthi lebih bersemangat lagi dalam melakukan pendampingan. Pada kesempatan itu, Mba Kunthi mengajak para mahasiswa untuk turun ke desa, karena dia pun masih tercatat sebagai mahasiswa UGM semester tujuh.

Pemateri Seminar
Pemateri Seminar

Sesi berikutnya berupa tanya jawab, ada 4 orang peserta yang bertanya. Dari keempat penanya, aku tertarik dari pernyataan dan pertanyaan Bu Muhifah. Dosen UNS yang aktif di LPPM Pusdemtanas (Pusat Studi Demokrasi dan Ketahanan Nasional) ini menyampaikan kepada rektor untuk ikut turun membantu desa. Beliau mengatakan bahwa kampus mempunyai banyak mahasiswa yang bisa dijadikan pasukan untuk orang-orang desa. Malu rasanya jika kampus hanya berdiam diri saat masyarakat membutuhkan. Beliau pun bertanya kepada Pak Rektor terkait strategi apa yang bisa dilakukan untuk itu.

Wuih. Keren. Semoga niat baik itu terealisasi dan di tiru kampus-kampus lain ya, Bu.

Bu Muhifah merasa ikut bertanggung jawab untuk memajukan masyarakat khususnya orang desa, justru karena latar belakang keluarganya. Beliau mengaku dulu ayahnya seorang tentara. Mereka bahu membahu dengan rakyat khususnya orang desa, telah banyak membantu negara.

Sepakat, Bu. Negara ini merdeka atas kontribusi masyarakat desa yang tak sedikit. Sudah saatnya ada balasan baik untuk masyarakat desa. Kemerdekaan ini harusnya bisa dinikmati oleh seluruh anak negeri.

Sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Bu Muhifah, Pak Darmono dari Karanganyar pun menyampaikan hal yang tak jauh berbeda. Dia mengatakan bahwa sedang mengupayakan agar para mahasiswa dari Karanganyar mau mengabdikan diri ke desa. Dia prihatin dengan kondisi mahasiswa sekarang, yang merasa sudah gugur kewajibannya tatkala sudah belajar di kampus.

Begitu lah. Kawan-kawan mahasiswa memang terlalu disibukkan dengan urusan kampus. Andai mereka yang masih sempat berorganisasi, pun hanya di kalangan mereka saja. Mereka seakan lupa asal usul. Eh, tapi bukan para mahasiswanya saja kok. Para dosen pun kayaknya setali tiga uang.

Pak Darmono mohon difasilitasi oleh pihak kampus untuk bertemu dengan para mahasiswa UNS yang berasal dari Karanganyar. Dia ingin mengajak mereka kembali ke desa dan membangun desa.

“Bali Ndeso Mbangun Deso”. Ahihi….

Perwakilan Bapeda Kab. Karanganyar yang tak menyebutkan nama menyampaikan bahwa sering data yang disajikan oleh BPS kurang mewakili kondisi desa yang sebenarnya. Banyak program bantuan pemerintah yang tidak tepat sasaran. Beliau pun meminta kepada pihak kampus untuk memberikan bekal program SIDeKa kepada para mahasiswa agar saat KKN bisa diintegrasikan.

Pertanyaan lain dari Pak Imam, dosen yang memimpin doa dan menyanyikan tiga tembang bertemakan desa, ini bertanya kemanfaatan SIDeKa bagi masyarakat di daerahnya. Menurut beliau sering jika terjadi hujan, lahan sawah banjir, tak bisa ditanami padi. Saat kemarau kering, padi pun tak tumbuh. Andai bisa menanam, terserang hama, akhirnya gagal panen, dan jika bisa panen, harga gabah murah. Dilema memang.
Satu per satu pertanyaan dan pernyataan ditanggapi.

Mba Dina menyampaikan memang banyak data dari BPS yang eror. Sayangnya otoritas penyajian data hanya dimiliki oleh BPS. Oleh karenanya perlu kerjasama untuk menentukan berbagai criteria data partisipatif untuk memperkaya data, bukan mempertentangkannya. Kenyataan banyak data eror ini sangat disayangkan. Padahal data-data yang tersaji, menjadi salah satu pertimbangan keputusan kebijakan oleh pemerintah, begitu imbuh Pak Ronggo.

Pendekatan pendataan harus di ubah, begitu tanggapan Pak Warsito. Menurut beliau, perlunya partisipasi masyarakat dalam hal pendataan. Bukan hanya menyadarkan mereka tentang kejujuran saat pendataan, tapi petugas pendataan pun sebaiknya dari masyarakat lokal atau desa setempat. Pak Warsito menyampaikan bahwa sebenarnya potensi untuk menjawab semua permasalahan desa sudah tersedia melalui sistem informasi. Tinggal dikerjasamakan dengan pihak lain dengan memanfaatkan jejaring yang ada.

Pak Warsito memaparkan bahwa urusan pemberdayaan masyarakat yang didasarkan pada beragam teori menjadi tidak pas jika diterapkan di sini. Pasalnya teori-teori yang dijadikan dasar pijakan semuanya produk impor. Maka tak heran jika tak mengakar di masyarakat. Beliau berharap munculnya teori baru hasil menggali dari masyarakat desa.

Tanggapan terakhir yang disampaikan oleh Pak Rektor membuat lega. Beliau sepakat bahwa mahasiswa seharusnya mencintai desa dan mengabdi padanya agar tak tercabut dari akar budayanya. Beliau mengatakan akan mengintegrasikan antara KKN Tematik dengan berbagai program dari pemerintah agar bisa saling mendukung dan tidak berjalan sendiri-sendiri. Selain itu, beliau kembali menyatakan akan memprovokasi para rektor di Jateng khususnya agar menggerakan para mahasiswa nya untuk membantu program ini.

Pak Rektor juga mengusulkan kepada Pak Gubernur melalui Pak Warsito, agar Jawa Tengah menjadi proyek percontohan sinerginya Pandu dan mahasiswa. Kemudian beliau berharap agar program Desa Berdikari maupun SIDeKa akan tetap ada meski ganti rezim pemerintahan.

Mungkin masih ada pertanyaan-pertanyaan lain jika sesi tanya jawab di buka lagi. Sayangnya waktu sudah tak memungkinkan.

Semoga seminar ini membuka mata hati para intelektual bangsa ini untuk ikut membangun desa.

Membangun desa berarti membangun Indonesia.

BAGIKAN
Berita sebelumyaAnjangsana Mencari Ilmu ke Solo
Berita berikutnyaAnjangsana Mencari Ilmu ke Solo
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here