Anjangsana Mencari Ilmu ke Solo

0
229
Mampir di Setnas JRKI

Aku sempat berseloroh ke Mba Dina. “Mestinya cari pandu yang perempuan yang cantik”, sambil menunjuk Mba Kunthi. “Biar pada Kades yang mengiyakan kalau ditawari mau bikin web. Kalau Pandu nya laki-laki kayak saya, belum apa-apa sudah di tolak”. Hihi….

Kami berkumpul di ruang makan paska seminar. Acara yang memang dijadwalkan hanya setengah hari ini sepertinya membawa pandangan baru bagi kampus. Kenyataan bahwa masyarakat membutuhkan bantuan untuk peningkatan kapasitas menjadi tanggung jawab kampus juga. Dimana mereka harus bisa mengimplementasikan Tri Darma Perguruan Tinggi sesuai kebutuhan masyarakat.

Akhirnya aku bergabung dengan Mba Dina dan teman-teman Pandu. Sempat tadi dikenalkan sama Pak Rektor oleh Pak Ronggo. Yang akhirnya Pak Rektor mempersilakan kalau suatu saat bisa bekerjasama. Beliau punya dosen yang fokus di pembangunan kawasan, namanya Pak Didik, kapan-kapan bisa dikenalkan. Aku diberi kartu nama beliau. Bahkan saat kami berpamitan nanti, Pak Rektor mengulangi kalimatnya, “saya tunggu kerjasamanya”.

Perbincangan awal antara Pak Ronggo, Pak Rektor, dan aku hanya berkutat soal pemberdayaan masyarakat desa. Kemudian satu persatu peserta bergabung bersama kami. Saling berkenalan dan membicarakan praktik-praktik pemberdayaan di lapangan juga. Akan tetapi tatkala topik berubah menjadi perbincangan tentang Solo dan tokoh-tokoh yang melingkari Pak Jokowi, aku undur diri. Aku nggak ngeh. Emoh jadi kambing congek, aku bergabung bersama teman-teman Pandu.

Pose bareng Pak Rektor
Pose bareng Pak Rektor

Kesempatan ini dimanfaatkan benar untuk saling koordinasi. Mba Dina bilang, bahasa tulis kadang tidak pas dengan maksud dari apa yang tersirat. Oleh karenanya, dia mengaku jarang berkomunikasi dalam pembahasan serius via tulisan. Soal perbedaan pendapat antara teman-teman Pandu yang berasal dari GDM misalnya. Itu dia singgung sebagai klarifikasi saja.

Mba Dina mengaku nggak tahu apa yang sebenarnya diinginkan oleh teman-teman Pandu dari teman-teman GDM. Soal diskusi di grup FB Pandu, dia ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi.

Ah, Mba Dina nggak tahu atau lupa. Kalau aku juga orang GDM… hehe….

Teman-teman Pandu lain agak nggak nyambung dengan topik yang dibicarakan. Mereka ternyata nggak mengikuti. Bahkan ada yang nggak bergabung di grup itu. Wah, Jaka Sembung bawa golok nih… ahihi….

“Aku orang GDM lho, Mba”, ujarku. Lantas satu persatu aku katakan ke dia soal diskusi di grup itu. Itu pun sejauh yang aku tahu.

Pertama soal surat yang di email. Surat itu dimaknai instruksi. Teman-teman menjadi tidak cocok. Sebab keberagaman yang selama ini terbangun di GDM tidak mengenal atasan maupun bawahan. Soal aplikasi pun beragam yang dipakai. Maka jika diharuskan memakai aplikasi yang diberikan oleh BP2DK, kami menjadi tidak sreg. Aku katakan juga bahwa semestinya BP2DK itu mengakomodir semua aplikasi-aplikasi sistem informasi yang sudah berkembang, bukan mengganti dengan SIDeKa. Apalagi jika basis aplikasi SIDeKa ini mesti pakai jendela. Teman-teman menjadi tidak respek. Pasalnya kesepakatan ketika workshop di Inkopdit, sudah disepakati pakai open source.

“Yah, aku paham”, begitu jawaban Mba Dina. Tapi menurutnya, surat itu bukan seperti itu maksudnya. Maksudnya adalah seperti yang aku sampaikan. Bahwa semua aplikasi yang sudah berkembang akan diakomodir. Dia mengakui surat itu memang fatal. Dia pun sempat kaget tatkala membaca surat itu. Sayangnya saat itu Mba Dina sedang berada di USA. Untuk urusan serius seperti itu, dia memang menghindari bahasa tulis. Bisa salah persepsi, begitu.

Aku tambahkan bahwa kedaulatan sistem itu hanya bisa dicapai saat kita pakai open source. Jika masih menggunakan jendela, maka pemiliknya pasti akan melakukan sweeping. Akhirnya Desa mau tidak mau harus membeli yang orisinil. Open source itu juga lebih tahan virus.

Jika aku berada di posisi Erik dengan tanggung jawab mengejar deadline akan di-lauching di Belitung Timur pada acara Destika, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama. Apalagi pertimbangan bahwa desa-desa lebih bisa mengoperasikan sistem jendela ketimbang open source. Tapi bagi teman-teman GDM itu tidak bisa diterima. Ini soal kedaulatan, bukan semata aplikasi. Meski aku masih dual boot, aku sepakat dengan teman-teman GDM. Aku masih menggunakan jendela untuk mengerjakan pekerjaan berbasis excel dan game. Sedang yang lain, aku sudah mulai belajar di open source.

Mba Dina mengatakan, itu bisa di ubah nanti paska launching. Aku katakan mungkin saja saat Kang Irman bisa menjaminkan itu saat bertemu di Purwokerto. Sayangnya, saat itu pembahasan belum selesai, Kang Irman mesti harus balik ke Jakarta. Tapi mungkin juga tidak. Patokannya kesepakatan di Inkopdit. Pertanyaannya adalah kenapa tidak melibatkan teman-teman yang sudah lama berkutat di open source saja.

Selain itu, soal penambahan Pandu. Teman-teman GDM minta diberitahu soal itu, sekedar informasi saja. Termasuk ketika BP2DK mengirimkan para mahasiswa di beberapa kabupaten itu. Semestinya sebelum itu ada sosialisasi. Ya,itu memang hak BP2DK. Tapi tatkala kita diberitahu, kita merasa dilibatkan. Itu saja.

Soal domain desa.id juga aku sampaikan. Peraturan Menkominfo nomor 5, yang tidak mencantumkan UU Desa sebagai pertimbangannya, berakibat kewenangan desa kembali terancam untuk diambil. Kades atau Sekdes tidak berwenang mendaftarkan website, karena harus ditandatangani oleh Sekda. Coba, sekedar tanda tangan saja nggak boleh. Padahal website itu kan milik desa. Ada semacam kebanggaan bagi orang-orang desa saat pimpinan mereka lah yang mendaftarkannya.

Bagiku, melakukan klarifikasi soal ini, penting. Tidak ada maksud apa-apa selain konfirmasi. Andai kebersamaan ini akan berlanjut, aku ikut senang. Tapi jika memang harus berjalan sendiri-sendiri, aku ingat sebuah syair lagunya Lisa A. Riyanto:

Bagaimana seharusnya
Kuputuskan satu sikap bijaksana
Agar tiada rasa benci
Bila semua harus berakhir di sini

#Klontank

Dadi kemutan jaman semana… ahay.

Saat aku katakan mau ke kantor Setnas JRKI, tempatnya Mas Sinam, Mba Dina menawarkan bareng dia saja. Mau dong. Lagi pula kan aku nggak ngerti arah di sini. Kebetulan pula Mba Dina katakan kalau istrinya Mas Sinam, teman kuliahnya. Lama nggak jumpa temannya itu.

Sepanjang perjalanan kami ngobrol lagi. Topiknya tidak hanya soal materi diskusi di grup fesbuk. Saat ke USA, dia menyayangkan Mas Budiman tidak ikut. Pasalnya di sana ada pemilihan pengurus sebuah lembaga. Lembaga apa, aku tak tahu. Mungkin lembaga pemberdayaan masyarakat juga.Yang pasti ketidakhadiran Mas Budiman di sana membuatnya tidak dipilih menjadi pengurus. Padahal jika Mas Budiman bisa terpilih, akan lebih mempermudah urusan.

Kami juga sedikit menyinggung soal pendamping desa. Persaingan soal pendampingan desa tetap terasa. Masing-masing pihak ingin agar orang-orang mereka yang nantinya menjadi pendamping desa. Entah lah. Toh aku sudah menjadi pendamping desa sebelum lowongan itu ada… hehe….

Mba Dina hanya keluar dan bersalaman sebentar dengan Mas Sinam sesampainya kami di kantor Setnas JRKI. Senang rasanya bisa main ke sini. Aku juga mau pamer sama Rifky, Ibe, dan Kang Fadli. Hihi….

Mampir di Setnas JRKI
Mampir di Setnas JRKI

Ya, namanya sesama pegiat desa, diskusi berbagi pengalaman sepertinya menjadi agenda utama. Apalagi kopi yang disajikan dibuatkan oleh Mas Sinam. Aye….

Topik yang kami bicarakan tak jauh-jauh dari program Prakarsa Desa. Tapi baik Mas Sinam maupun Mas Iman yang menemaniku diskusi, mereka mencoba mengambil titik tengah. Tidak berpihak kemana pun. Aku sepakat saat Mas Sinam bilang bahwa kita sebagai pejuang desa terkadang lupa dengan nilai-nilai yang ada di desa. Gotong royong, menghargai orang lain, saling bahu membahu, seolah tidak mewarnai apa yang kita lakukan. Kita sering terjebak pada pembahasan-pembahasan yang kadang ego sendiri keluar.

“Kita terpaku pada alat, bukan tujuan”, begitu imbuh Mas Iman. Cocok.

Bukan kah yang namanya website, sistem aplikasi, radio, dan media lain itu hanya salah satu tools untuk memberdayakan masyarakat saja. Pernah kah kita berpikir apakah semua tools yang kita pakai benar-benar bermanfaat untuk masyarakat.

Soal informasi dan komunikasi saja. Apakah benar masyarakat bisa mengakses website, misalnya. Apakah dengan berbagai tools tadi, informasi sudah tersebar benar.

Benar, Mas. Saat di hotel Inkopdit pun pernah aku sampaikan. Soal mengkomunikasikan hal-hal yang perlu diketahui oleh masyarakat, seorang pegiat desa harus mencari budaya komunikasi yang berkembang di sebuah daerah. Apakah mereka merasa nyaman dengan radio, kelompok-kelompok tahlilan, atau via pos-pos ronda. Budaya komunikasi yang mana yang pas, itu yang semestinya dioptimalkan. Tidak harus memakai ini itu yang tidak familier dengan mereka. Sekedar mengenalkan saja, silakan.

Perbedaan bukan alasan untuk tidak bersinergi, kecuali mereka yang berorientasi keproyekan.

Salam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here