Anjangsana Mencari Ilmu ke Solo

0
320
Gerbang UNS

Bagian ke-1

 

Selalu saja ada hal-hal menarik yang aku temui saat bepergian. Seperti saat naik bis tadi malam. Yah, aku memilih naik bis ke Solo, setelah mencari informasi kendaraan ke terminal dan stasiun. Jadwal keberangkatan kereta kelas ekonomi yang memungkinkan aku sampai di Solo pada pagi hari hanya kereta Kahuripan. Selain harus menunggu di stasiun Kroya, karena tak melewati stasiun Purwokerto, jam keberangkatan tercatat jam 01.52 WIB pun jadi masalah tersendiri. Akhirnya aku putuskan naik bis saja.

Sebelum ke stasiun, aku mencari informasi keberangkatan bis. Dari agen bis Aladin, katanya ada 2 bis yang bisa aku tumpangi. Bis Mandala jurusan Surabaya atau bis Aladin sendiri. Bis Mandala berangkat sekitar pukul 10.00 WIB, sedang Aladin pukul 11.00 WIB. Aku minta ikut bis Aladin saja. Sebab perkiraan tiba di terminal Tirtonadi agak lebih siang. Tapi akhirnya aku naik bis Mandala. Bis Aladin belum ada kabar. Ada kecelakaan di daerah Lumbir yang menyebabkan keterlambatan, kata agennya.

Saat bis memasuki daerah Karangnanas, ternyata cewek yang duduk di depan jok ku adalah pengamen. Tadi aku sempat ikut menjajari duduknya, tapi aku urungkan. Sebab jok belakangnya masih kosong. Oh ya, jok tempat aku duduk ada di barisan ketiga dari belakang. Dekat pintu belakang bis.

Aku tak tahu dua lagu yang dia bawakan. Entah lagunya yang tak popular atau aku yang memang nggak gaul. Tak terlalu aku hiraukan, lagi pula suaranya sumbang kok… hehehe….

Yang menarik bagiku adalah keberanian dan rasa percaya dirinya itu. Cewek agak subur dengan tato di lengan kiri itu membiayai perjalanannya dengan mengamen. Terdengar perbincangannya dengan kenek bis setelah dia mengamen. Dia beralasan karena perjalanan jauh dan tipis modal.

Rupanya dia penumpang yang mengamen. Soal dia darimana atau mau kemana, aku tak tahu. Setelah itu tidak lagi terdengar perbincangan. Lagi pula, meski aku tak terlalu nyenyak, aku tidur. Andai aku duduk bersamanya, mungkin aku ajak ngobrol dia.

Undangan untuk mengikuti seminar di gedung rektorat UNS ini aku terima Selasa siang. Saat itu aku di telpon dari pihak LPPM untuk mengikuti seminar. Aku tahu, ini pasti pesanannya Pak Purwoko. Kebetulan aku juga ingin ketemu Pak Dwi Purnomo.

Rencana mengikuti acara Festival JarIT di ST3 Telkom Purwokerto, aku batalkan. Tapi rencana mengirimkan peserta dan mengisi stan pameran tetap harus jalan. Makanya pada Rabu kemarin (29/4/2015), aku berkeliling mengkondisikan itu. Berkoordinasi dengan UPK, Ketua Paguyuban Srikandi, Pak Camat, dan kelompok Batik MD, agar tetap berpartisipasi mensukseskan acara Festival JarIT.

Setelah menerima telpon dari LPPM UNS, aku sengaja meluncur ke kantor Gedhe Foundation. Aku berkoordinasi dengan Yossy soal ini. Yossy menyarankan aku ikut saja seminar di UNS. Toh acara di ST3 Telkom aku hanya sebagai peserta dan tidak ada hal yang bersifat pengambilan keputusan.

Oke. Syukurlah. Matur Tengkiu ya, Bro.

Perjalanan kali ini agak enteng. Ata, Syamil, dan istri ku sepertinya ridha. Hanya Ata yang sempat merajuk.

“Bapa ampun kerja sing tebih. Sok bohong. Jere ping dua, sokan ping tiga,” manjanya sambil menggelayut memelukku.

“Nek Bapa mboten kerja mangke mboten angsal arto”, jawabku sambil menciuminya.

“Ampun kesuwen lho”.

“Nggih. Insya Allah”.

Syamil yang terkadang emoh di ajak bersalaman saat pamitan, kali ini mau. Sudah aku ciumi dia sebelumnya. Jangan tanya soal istri… ahihi….

Aku diantar oleh Yatno, adik sepupuku. Pengalaman harus membayar Rp 40.000,- untuk uang titip motor selama 2 malam di stasiun membuatku sedikit kapok. Lebih baik uang aku berikan ke saudara sendiri. Lagi pula istri ku butuh motor untuk antar jemput Ata selama aku pergi. Maka daripada dititipkan di stasiun atau terminal, mending di bawa pulang lagi sama Yatno.

Kami sampai di terminal sekitar jam 9 malam. Bis Mandala masih di menunggu penumpang. Aku tahu kalau agen bis Aladin menaikkan harga tiket. Itu sudah biasa di terminal. Karena aku pernah hidup di terminal. Tapi aku yakin dia menaikkannya tak seberapa, paling-paling hanya sepuluh ribuan. Biar saja, toh dia memang begitu cara kerjanya. Aku tetap bersyukur, masih lebih mudah cara mencari rejeki ketimbang dia.

Bis Mandala masih agak lama lagi jalannya. Aku manfaatkan menyalakan android yang kebetulan baterainya masih cukup banyak. Iri. Saat Mba Karni mengkoordinir dan memastikan kedatangan teman-teman di Festival JarIT. Apalagi di grup WA, teman-teman dari Jabar pun mau datang. Weh. Kok aku malah pergi?

Kemudian saat Mas Sinam mengunggah status dia ada di Solo, aku bertanya sampai kapan. Alhamdulillah, dia masih lama di sana. Bahkan ditawari mampir ke Setnas JRKI. Asyik. Aku harus naris, unggah dengan nge-tag Rifky, Ibe, sama Kang Fadli nanti… aye… aye….

Aku terbangun saat kenek berteriak, “Jogja habis!”. Oh, sudah sampai terminal Jogja rupanya.

Berusaha aku pejamkan mata yang masih mengantuk ini. Meski sampai di daerah Prambanan masih mendengar deru kendaraan, tak lama kemudian aku terlelap lagi hingga. Sesekali menggeser pantat karena panasnya. Alhamdulillah aku mendengar kenek berteriak lagi,” Solo habis!”.

Tak enak rasanya menolak ajakan tukang ojek yang mengikuti aku sejak turun dari bis. Dia menunjukkan dan menunggui saat aku ke toilet. Padahal aku berencana menunggu siang di terminal Tirtonadi saja. Jarum jam menunjukkan pukul 02.30 WIB. Masih sangat pagi. Akhirnya aku pun memboncengnya sampai ke pintu gerbang UNS. Dia meyakinkan aku untuk bisa beristirahat di masjid kampus nantinya. Bahkan mungkin saking baiknya (cieh), uang kembalian yang semestinya aku terima, aku ikhlaskan saja, saat dia bilang nggak ada kembalian.

Gerbang UNS
Gerbang UNS

Kembali lagi, aku hanya mensyukuri bagaimana kemudahanku mencari rejeki. Aku tak perlu bermalam-malam mangkal di terminal menjadi tukang ojek. Atau seperti agen bis Aladin tadi. Dia terus menunggu penumpang dari pagi mungkin, hingga malam. Soal berapa besarannya, aku tak tahu. Yang pasti aku merasa lebih dimudahkan soal mencari rejeki. Maka aku hanya berharap, uang yang aku berikan kepada mereka akan bermanfaat untuk keluarganya. Aamiin….

Mumpung ada angkringan, ngopi dulu. Sambil ngopi itu lah aku tahu kalau Kang Aboer dan kawan-kawan dari Jawa Barat mau ikut acara Festival JarIT. Walah jan. Maaf, Kang Aboer.

Meski pedagang angkringan itu ramah dan bertanya-tanya, aku malah lebih asyik melihat-lihat fesbuk, twitter, dan WA. Percakapan dan informasi di sana mengalihkanku dari keramahan pedagang angkringan. Bahkan aku nggak sadar kalau beberapa saat aku di tinggal sendiri.

Aku berusaha membayar kesalahanku dengan bertanya tentang rumah makan Padang di depan kampus. Apa buka 24 jam penuh. Dia bilang tergantung persediaan. Kalau sudah habis yang tutup lebih awal. Sedang dia mengatakan harus pulang sekitar jam setengah empat. Sebentar lagi penjual koran mangkal di situ. Jadi kalau pagi sampai sore tempat itu untuk mangkal penjual koran, malam hingga dini hari, angkringan.

Sempat ingin mengambil gorengan atau apa. Tapi kayaknya sudah pada dingin. Nggak enak. Mau pesan mie rebus sudah telanjur. Sebentar lagi dia mau tutup. Yah, jadinya cuma kopi. Tiga ribu. Murah.

Saat melihat ada ATM BRI di depan rumah makan Padang, iseng aku cek rekening. Wah, jadi ingat Dedi. Masih hutang nih. Maaf banget, Mas Bro. Data-data ku benar-benar hilang. Aku ingin susun laporan sesuai kenyataan. Kalau sekedar lapbul, laporan ngibul, sih bisa. Insya Allah besok-besok aku email deh.

Melihat pedagang angkringan sudah mulai berkemas, aku masuk ke dalam kampus. Satpam di pintu masuk sedang tertidur. Aku mendekati sekuriti yang sedang berjaga di depan bookstore. Dia menunjukkan arah jalan menuju gedung rektorat tanpa menanyakan maksud tujuanku. Ramah. Usianya pun sepertinya lebih muda dariku. Biar anak sudah dua, tukang ojek tadi sempat bertanya,” mau ujian lagi atau mau legalisir ijazah, Mas?”

Ahay… masih dianggap mahasiswa.

Aku bingung mau kemana. Gedung rektorat masih tutup. Aku lihat di dalam ada orang tidur, sekuriti mungkin. Daripada bingung, aku keluarkan laptop. Sengaja mulai aku tulis perjalanan kali ini. Kalau ditunda suka lupa. Sampai tulisan ini, aku sedang menulis di masjid kampus.

Jadi geli pas ingat cari-cari masjid ini. Muter-muter nggak jelas.

Setelah agak lama duduk di depan rektorat sambil mengetik, terdengar adzan subuh. Segera aku berkemas. Aku tanya ke petugas kebersihan yang sedang menyapu di halaman rektorat. Dia menunjukkan arah ke masjid. Katanya agak jauh ke belakang. Ikuti jalan di sebelah kanan gedung rektorat terus, sampai keluar nanti belok kiri. Masjid ada di kanan jalan, begitu katanya.
Dasar orang ndesa kali ya. Sekedar mencari masjid saja bingung. Sampai di pertigaan dengan tulisan “exit”, aku belok kiri. Jalan ke komplek Fakultas Ekonomi, terus sampai ke Fakultas Hukum. Sebenarnya aku merasa salah arah. Cuma demi mendengar suara adzan, ternyata itu arahnya dari luar tembok kampus. Begitu jawaban dari tukang sapu di komplek Fakultas Hukum. Ah, aku balik kanan mencari jalan lagi. Alhamdulillah, setelah cermat mengikuti arah panah, akhirnya sampai juga di masjid.

Jika orang desa kebingungan masuk kampus, kira-kira kalau orang kampus masuk ke desa nggak ya?

Atau malah bikin bingung?

Semoga tidak.

Aku terlambat berjama’ah. Mereka sudah sampai tahiyat akhir. Tak apa lah. Yang penting ada tempat shalat dan nunut istirahat juga.

Kalau ada istilah lingkunganmu mempengaruhi perilakumu, mungkin benar. Sebab di sini, setelah shalat subuh, aku enteng saja bertadarus. Bertadarus di rumah tidak begitu mudah. Kalau Syamil sekedar minta di pangku nggak apa-apa. Tapi biasanya, dia malah cari perhatian dengan minta ini itu. Ata sih sudah ngerti. Bahkan dia kadang ikut menirukan apa yang aku baca, meski masih salah-salah.

Eh, tapi mungkin karena aku sendiri ding. Kalau memang berniat kenapa harus kalah sama permintaannya Syamil. Dia kan belum tahu apa-apa.

Ingin rasanya ngobrol sama para mahasiswa yang berkumpul di sini. Aku ingin katakan pada mereka, ayo kalau mau mengabdi ke masyarakat. Bagikan ilmu kamu ke masyarakat. Terlalu asyik dengan duniamu sendiri, malah kurang baik. Bukankah sebaik-baik orang adalah mereka yang bermanfaat untuk orang lain.

Tapi bingung mulai darimana. Selepas mereka mengaji bersama, seperti ada rapat panitia, terus bubar masuk ke ruangan bertuliskan “Islamic Center”.

Semoga tulisan ini di baca oleh mereka. Para mahasiswa aktifis kampus yang masih asyik berkutat di dunianya.

Hai teman, dunia luar lebih membutuhkan sentuhanmu.

Ayo…!

BAGIKAN
Berita sebelumyaNguri-uri Kesenian Tradisional
Berita berikutnyaAnjangsana Mencari Ilmu ke Solo
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here