Antara Menjadi Ibu, Istri, dan Wanita Karir

0
734
Ibu tetap menyayangiku dan cucu nya

Cerita Rita dan Anjali

Anjali masih menangis. Dia merengek minta dibuatkan susu. Namun Rita, sang Ibu, harus bergegas berangkat kerja. Jarum jam sudah menunjukkan jam 08.30 WIB. Artinya Rita sudah terlambat. Sambil memoles bedak dia menggerutu. Kenapa Bi Inah tidak jua datang. Padahal semestinya tetangga yang juga pembantunya tahu kalau jam segini dia sudah harus di kantor. Apalagi akhir tahun begini. Rita harus segera menyelesaikan pekerjaan, jika tidak maka bonus akhir tahun akan di potong. Itu sudah peraturan kantor.

Rita masih uring-uringan. Sambil mengoleskan lipstik dia coba telpon Bi Inah. Nada sambung terdengar. Tapi tak jua diangkat. Rita semakin sewot.

“Kalau tak kasihan sama tetangga, sudah aku berhentikan dia”.

Dia juga tak habis pikir kenapa suaminya tidak pulang-pulang. Seharusnya jadwal jaga malamnya sudah habis. Kalau perjalanan dari Purwokerto ke rumah butuh waktu 30 menit, seharusnya dia sudah di rumah jam 07.30 tadi. Sementara itu, Anjali terus saja menangis. Tak peduli kebingungan ibunya.

“Diammmm…!” bentak Rita.

Bukannya reda, Anjali yang ketakutan justru malah meraung keras. Pada tetangga yang mendengar tangisan Anjali tak berani mendekat, Rita terkenal galak. Mereka hanya menatap iba pada Anjali. Mau menolong takut di semprot.

Cerita Sinta dan Raihan

Sinta masih bisa mengurus Raihan di rumah sebelum berangkat kerja. Biar pun di rumah ada kakek dan nenek serta pembantu, kadang Raihan bermanja padanya. Sinta tak kuasa menolak. Rayuan dari kakek, nenek, atau pembantunya sering tak mempan. Ayahnya yang bisa membujuk Raihan, sudah berangkat kerja lebih dulu. Terpaksa Sinta berangkat agak siang.

Awalnya Sinta tak enak hati dengan para teman di kantor. Bayangkan saja, jarak dari rumah ke kantor sebenarnya hanya sekitar 10 menit naik motor. Tapi dia baru bisa masuk kantor sekitar jam 09.00 WIB. Padahal aturan masuk jelas, jam 08.00 tepat. Mau bagaimana lagi Raihan tak mau ditinggal begitu saja.

Kebiasaan Sinta berangkat jam 09.00 menjadi hal yang lumrah. Rasa tak enak hati sudah tak di rasa, karena sudah terbiasa. Lagipula teman-teman kantor sepertinya sudah maklum. Meski sekarang Raihan sudah bisa bermain sendiri, Sinta merasa nyaman saja berangkat siang. Apalagi dia bukan karyawan bawahan. Dia masih punya anak buah yang bisa diandalkan. Tinggal telpon atau SMS, maka pekerjaan beres.

Apa yang Sinta anggap ternyata salah. Teman-teman kantor sebenarnya iri. Mengapa si Bos membiarkan Sinta begitu saja. Sudah berangkat siang, gaji gedhe, pekerjaan tinggal lempar, eh tiba di kantor cuma ngerumpi sama karyawati lainnya. Enak benar. Entah Sinta tak tahu atau memang dia yang kurang peka.

Rasa iri teman-teman mengakibatkan kinerja kantor menurun. Meski masih dalam batas kewajaran, tapi ini perlu diantisipasi.

Ada kah si Bos tahu kondisi ini?

Cerita Rudi, Anita, dan Faris

Kisah lain dialami oleh Rudi, Anita, dan Faris. Rudi dan Anita memutuskan untuk fokus pada masing-masing tugas. Rudi bekerja, sedang Anita tetap di rumah mengurus Faris. Meski Faris sudah kelas TK, Rudi tetap ingin Anita menemaninya di rumah. Berulangkali Anita meminta ijin pada suaminya untuk bekerja. Sayang, jika gelar kesarjanaannya tidak digunakan untuk bekerja. Toh, teman-teman yang lain bisa bekerja. Soal Faris bisa dititipkan pada Eyangnya. Bila perlu cari pembantu, begitu alasan Anita.

Dengan lembut Rudi menasihati Anita. Dia katakan tak ingin Faris merasa ditinggalkan orang tua meski demi pekerjaan. Anak-anak hanya bisa di didik sepenuh hati oleh ibunya. Bukan yang lain. Soal rejeki, semua sudah diatur oleh Tuhan.

“Mama, jangan khawatir soal rejeki. Meski Mama tak bekerja, rejeki kita tetap tiga. Rejeki Papa, Mama, dan Faris. Mungkin sementara ini semuanya lewat Papa,” ujar Rudi tersenyum.

Rudi berkeyakinan bahwa meski Anita tidak bekerja, rejeki yang diberikan tetap buat tiga orang. Andai Anita bekerja pun tetap sama. Biar nominalnya berbeda, tapi keberkahannya tetap untuk mereka. Jadi, tak menjadi masalah kalau istrinya tak bekerja.

Setelah 2 tahun berlalu.

Anjali sudah beranjak besar. Sekarang dia sudah duduk di bangku TK. Tapi sifat manjanya masih kentara. Dia suka merajuk, merengek, dan menangis saat Rita mau berangkat kerja. Terpaksa Rita membentak anaknya. Bi Inah hanya menghela nafas dan memeluk Anjali saat dia menangis keras. Rita pun melenggang berangkat kerja.

Raihan sudah kelas 1 SD. Dia sudah merasa tak terlalu membutuhkan kehadiran Sinta. Tapi Sinta masih terbiasa berangkat siang. Lambat laun, kinerja kantor terus menurun. Sinta memang tidak peka dengan kondisi kantor. Teman-teman kerja yang tadinya berangkat pagi, ikut-ikutan berangkat siang. Mereka yang tadinya cepat menyelesaikan pekerjaan, ikut ogah-ogahan seperti Sinta. Hasil evaluasi dari si Bos menunjukkan penurunan kinerja yang cukup memprihatinkan. Si Bos di buat bingung.

Nilai raport Faris tak terlalu menggembirakan. Dia hanya ranking 3. Tapi itu tak membuat Rudi dan Anita marah. Bagi mereka nilai-nilai raport tak terlalu penting. Menurut mereka, yang penting Faris menjadi anak yang disukai teman karena sifatnya yang supel. Faris memang tumbuh menjadi anak yang murah senyum, suka menolong, dan tidak nakal.

“Anak seperti Faris lah yang Papa butuhkan, Ma. Dia tumbuh seperti atas ridho Allah SWT. Ridho itu kita dapatkan karena Mama selalu mendampingi Faris. Papa bangga sama Mama”, kata Rudi sambil memeluk istrinya.

Apakah Anita di rumah hanya mengurusi Faris? Ternyata tidak.
Dia merintis usaha konveksi kecil-kecilan. Alhamdulillah usahanya sudah sedikit berhasil. Dua orang karyawan dari tetangga menjadi bukti bahwa keputusan tidak bekerja justru membuka lapangan pekerjaan. Anita tidak menyesal. Dia tak lagi merasa sayang, ijazah S1 hanya diam di almari.

“Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim)

Persembahan buat Ibu dan istri ku.

“Terima kasih sudah mendidik aku, Bu”.

“Terima kasih sudah menjadi istri dan ibu bagi anak-anak, Mama”.

“Bapa sayang Mama, Ata, kalih Syamil”.

#SelamatHariIbu.

Ibu tetap menyayangiku dan cucu nya
Ibu menyayangiku dan cucu nya
Saat di Alun-alun Purwokerto
Saat di Alun-alun Purwokerto
BAGIKAN
Berita sebelumyaNanggap Kenthongan
Berita berikutnyaJakarta pun Optimis
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here