Audit Silang Perkuat Monitoring Berbasis Masyarakat

0
330
Pokoke melu ngukur (Adisana)

(Edisi kunjungan ke lapangan – habis)

Selepas shalat dhuhur, tim di bagi menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama terdiri dari Pak Bangun dan Pak Wardi ke Desa Cindaga, dengan ditemani oleh Om Slamet (OB) sebagai penunjuk jalan. Sedang kelompok kedua menuju Desa Bangsa dan Adisana. Aku bersama Yoga (PL UPK) bertugas mengawal rombongan yang ke Bangsa dan Adisana. Sedang Mba Wulan tetap di kantor menemani Nur. Rosi ijin pulang terlebih dulu karena ibunya mau berangkat ke Jakarta. Jadi harus membantu bersiap-siap terlebih dahulu.

Pak Wardi, Pak Bangun, dan Om Slamet mengendarai mobil ke Cindaga. Arahnya ke barat. Waktu tempuh ke lokasi paling 10 menit. Sedang tim kami menuju ke arah timur, butuh waktu sekitar 25-30 menit sampai ke sana. Sayangnya tak ada helm yang bisa dipinjamkan ke Tim Audit dari Patikraja yang berjumlah 4 orang itu. Rencana melalui jalan utama Buntu-Sampang harus dialihkan. Yah, jaga-jaga saja siapa tahu ada operasi lalu lintas. Padahal jika melalui jalan utama tersebut bisa lebih cepat. Jalan lebih lebar dan cenderung lurus.

Amin mengukur lebar rabat
Amin mengukur lebar rabat (Bangsa)

Jalan yang kami ambil adalah jalan desa. Jalan dari kantor melewati perlintasan kereta api di Gambarsari, kemudian jalan aspal di Kalisalak, hingga perempatan Sawangan masih halus. Kerusakan jalan mulai terasa saat memasuki wilayah Desa Kaliwedi, Randegan, dan sebagian Karangsari. Jalan kembali mulus saat mendekati perbatasan Karangsari hingga Bangsa. Sampai di tugu Desa Bangsa, kami harus belok kanan ke lokasi pembangunan rabat beton dengan volume 880 x 2,5 meter.

Mungkin sudah biasa kalau jalan-jalan di desa selalu identik dengan kerusakan, lubang disana sini, berkelak kelok, sempit, dan banyak garis-garis kejut yang benar-benar membuat terkejut. Saat memasuki jalan rusak, sebenarnya aku sudah sangat berhati-hati. Simpang sana simpang sini demi menghindari lupang yang sering tiba-tiba muncul di depan. Kalau lubang itu kecil, aku terjang saja. Nah kalau lubang agak besar itu lah saatnya menarik tuas rem dengan kuat. Untung saja motor yang aku tumpaki jenis matik, maka tak perlu oper persneleng. Nyatanya tak jua menolong banyak. Beberapa kali aku harus terkejut kala menyadari garis kejut yang berwarna hitam seolah muncul tanpa permisi. Hadeuh….

Ikutan ah
Ikutan ah (Bangsa)

Sesampainya di lokasi kegiatan, kami turun untuk mencocokkan gambar rencana yang dilampirkan dalam Surat Perjanjian Pemberian Bantuan (SPPB). Panasnya matahari yang menyengat membuat kami enggan menanggalkan helm. Aku ikut berjongkok mengukur lebar rabat di salah satu sisi. Mengukur bagian tengah yang nantinya akan diisi sirtu, dan ketebalan beton. Aku lihat pula plastik yang digelar dibawah rabat. Plastik ini digelar agar air semen tak lari kemana-mana saat pengecoran dulu.

Tim dari Patikraja juga mengukur lebar rabat di kedua sisi dan bagian tengahnya. Mungkin karena sudah sesuai kualifikasi, Mas Eko (FT) hanya menanyakan soal sirtu. Mas Agus selaku TPK menjawab bahwa sirtu akan menjadi tanggungan warga dengan model swadaya. Terlihat di beberapa titik di muka sudah ada lapisan rabat yang mengelupas atau rusak. Saat aku konfirmasikan, Mas Agus bilang ini dikarenakan pada saat membongkar bekisting cor terlalu cepat. Adukan cor belum kering benar, sudah keburu dibongkar. Hasilnya jadi tidak rapi.

Melihat kualitas rabat (Bangsa)
Melihat kualitas rabat (Bangsa)

Perjalanan dilanjutkan ke Desa Adisana. Dengan sebelumnya berhenti di titik nol rabat, yang bertempat di ujung timur. Kami mulai mengecek dari titik akhir tadi. Di titik nol ini pengukuran dilakukan juga. Termasuk pengambilan gambar prasasti dan papan proyek. Pembangunan rabat beton di Desa Bangsa ini memang belum selesai. Masih banyak pekerjaan finishing nantinya. Termasuk perbaikan-perbaikan di beberapa titik yang aku sampaikan tadi.

Jalan masuk ke Adisana juga melalui jalan yang belak belok lagi. Ada rabat beton hasil kegiatan PNPM tahun 2011 yang sudah mengelupas banyak di lapisan atasnya. Kurang perawatan.

Mengukur lebar rabat (Adisana)
Mengukur lebar rabat (Adisana)

Terkadang masyarakat menilai bahwa kegiatan-kegiatan ini bernilai proyek. Mereka tak mudah menerima sosialisasi bahwa ini bukan proyek. Jika masyarakat memaknai ini sebuah proyek, maka sudah bisa ditebak hasilnya. Masyarakat enggan terlibat dan merasa tidak memiliki. Mereka berpikir bahwa pengurusnya pasti mendapatkan keuntungan yang besar. Tak ada keharusan bagi masyarakat membantu pengurus, dalam hal ini TPK. Walah, jan. Payah pisan.

Ternyata Pak Salim dan Pak Mistar sudah menunggu kami di depan gerbang balai desa. Kami berbalik lagi menuju lokasi. Kegiatannya sama dengan Desa Bangsa, yakni rabat beton. Volume rabat 821 x 2,5 meter. Tak jauh berbeda dengan volume di Bangsa. Hasil pekerjaan di sini terlihat lebih rapi. Sirtu sudah disebar dan tertata rapi diantara kedua rabat. Kondisi rabat pun masih terlihat bagus. Setelah ukur sana ukur sini, sambil sesekali narsis, kami beristirahat sejenak di mushola dekat titik akhir rabat.

Diskusi Mas Eko dg Pak Suwito (TPK Adisana)
Diskusi Mas Eko dengan Pak Suwito (TPK Adisana)

Obrolan tak lagi bermaterikan seputar kegiatan hari ini. Lebih fokus pada harga sapi yang sudah mulai membumbung menjelang lebaran haji. Pak Mistar mengatakan bahwa harga sapi yang layak untuk dijual guna kurban diatas 20 jutaan. Jika harga di bawah itu jelas tak pantas untuk dijadikan kurban. Dia mengatakan bahwa dia pun memelihara sapi dengan cara penggemukan. Jika dihitung dari pembelian sapi kecil hingga siap dijadikan kurban dia butuh waktu kurang lebih 8 bulan. Dengan asumsi harga jual sapi nantinya 20 juta, dia akan untung 6 juta. Dia bilang bahwa ini hanya sekedar sambilan saja. Asumsi perhitungan kasar seperti itu, jika benar-benar hanya mengandalkan dari sapi, maka akan rugi. Tak sepadan antara kerja keras mencari pakan dengan keuntungan yang didapat.

Pengalamannya, saat damen (batang padi) atau rumput susah dicari dia akan lari ke Purwokerto. Tempat yang dituju adalah kompleks perumahan. Menurutnya justru disana lah banyak rerumputan. Tapi sekarang, damen masih mudah dicari. Sepanjang sawah dari Cindaga sampai Adisana masih banyak. Jika kurang dia bisa lari ke arah selatan yakni ke Kroya atau ke arah timur, daerah Kemranjen.

Pokoke melu ngukur (Adisana)
Pokoke melu ngukur (Adisana)

Andai saja dia tak berkata akan mencari damen setelah acara ini, mungkin kami akan mampir ke rumahnya. Rumahnya dekat dengan lokasi kegiatan. Entah basa basi atau tidak, Pak Mistar sudah menawari kami kelapa muda (degan). Aku bilang terserah rombongan dari Patikraja. Nyatanya mereka lebih memilih untuk pulang.

Mungkin mereka belum terbiasa dengan medan di Kec. Kebasen. Beberapa kali mereka mengatakan kalau wilayah kecamatan Kebasen ternyata luas, dan banyak jalan yang rusak. Itu belum seberapa, aku tunjukkan stasiun relay televisi nasional diatas pegunungan. Di sana biasa kami naik. Aku sampaikan juga beruntung lokasi kegiatan fisik berada di bawah, lha kalau harus naik ke sana?

Paparan singkat dari Pak Bangun
Paparan singkat dari Pak Bangun

Kami pulang menyusuri jalan yang sama saat kami berangkat. Sesampainya di kantor, tim yang memeriksa lokasi fisik Desa Cindaga sudah pulang. Tentu saja, kan dekat.

Sesi ditutup dengan acara ramah tamah. Perwakilan dari Patikraja menunjuk Pak Bangun yang selalu bersemangat itu sebagai juru bicara. Mengawali kalimat dia menyampaikan poin utama ke sini untuk belajar. Tapi dia melihat ada sedikit perbaikan yang mesti dilakukan. Dari sisi administrasi misalnya, penyusunan kuitansi atau bukti-bukti pembayaran lain hendaknya diberi nomor. Pun disusun berdasarkan pencatatan di Buku Kas Umum (BKU) agar mudah jika dilakukan pemeriksaan. Kemudian isi Map 7 pun masih kurang rapi. Saran lain yang disampaikan terkait masalah kualitas bangunan, dia ambil sampel, talud. Talud yang sudah dibangun masih terdapat perbedaan kualitas antara yang satu dengan yang lain. Oleh karenanya, dia memberikan masukan agar ke depan lebih dipertahankan kualitasnya.

Sepakat, Pak Bro.

Masukan-masukan dari Tim Audit aku mintakan untuk dituangkan secara tertulis. Kami akan tindak lanjuti pada saat rakor TPK nanti. Bukan untuk 3 desa saja, tapi untuk semua. Karena waktu dan lain hal, maka rekomendasi dari Tim Audit akan dibahas di Patikraja. Aku siap jika harus mengambil hasil rekomendasi tertulis itu ke kantor UPK Kec. Patikraja.Sembari berseloroh aku katakan bahwa jarak tempuh ke kantor UPK Kec. Kebasen lebih jauh daripada jarak ke kantor UPK Kec. Patikraja. Butuh 10 menit sampai di sini, dan cukup 5 menit sampai di kantor UPK Patikraja… hehe….

Aku tak sampaikan apa-apa kepada mereka. Kecuali berbasa-basi. Mungkin kalimat bijak yang aku kutip: “tatkala kita tak mampu bercermin dengan baik, biarkan cermin itu yang berbicara”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here