Audit Silang Perkuat Monitoring Berbasis Masyarakat

0
478
Pemeriksaan Administrasi BLM

(Edisi sebelum makan siang)

Sejak dulu aku selalu terheran-heran jika ada berita soal penyelewangan dana oleh UPK. Terlebih penyelewangan dana itu sudah berlangsung lama. Padahal setahuku program ini sudah disusun sedemikian rupa mengantisipasi kebocoran-kebocoran dananya. Menghadirkan konsultan yang salah satunya bertugas mengawal dana tersebut, yang sumber pembiayaannya dari pemerintah merupakan cara yang dinilai efektif. Selain itu, memunculkan pelaku-pelaku lain untuk menciptakan monitoring berbasis masyarakat pun telah dilakukan. Sebut saja ada PjOK, BKAD, BP-UPK, TV Perguliran, TV Program, Tim Pendanaan, dan PL di tingkat kecamatan, kemudian ada TPK, KPMD, TPU, Tim Monitoring di tingkat desa sejatinya dimaksudkan untuk itu. Agar pelaku program yang bertanggung jawab terhadap pengelolaan dalam hal ini UPK, tak sembrono mengelolanya.

Mekanisme pengawasannya sebenarnya cukup ketat. Ada audit bulanan oleh BP-UPK, audit silang antar kecamatan, supervisi oleh Faskab dan bahkan Korprov, MAD LPJ UPK tiap tahun, hingga menghadirkan auditor dari pemerintah dalam hal ini Bawasda atau BPKP, semestinya sulit bagi UPK menyelewangkan dana. Tentu dengan catatan jika kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan sesuai koridornya. Nah pertanyaannya, apakah semua itu dilakukan dengan benar?

Perkenalan dulu ya, Kang
Perkenalan dulu ya, Kang

Dalam otakku yang tak cukup asupan protein hewani ini aku berpikir, apakah ketatnya pengawasan itu masih bisa jebol juga. Mungkin aku yang bodoh atau mereka yang tak jelas kerjanya. Terlebih kita ketahui bahwa yang namanya korupsi di negara ini tak mungkin dilakukan oleh satu dua pihak saja. Korupsi hanya bisa dilakukan secara bersama-sama, entah banyak atau sedikit bagiannya. Istilah kerennya: Korupsi Berjama’ah. Ahay….

Hari ini, Kamis (10/09/14) pelaku PNPM MP Kec. Kebasen kedatangan tamu dari Tim PNPM MP Kec. Patikraja. Kecamatan yang hanya dipisahkan oleh aliran Sungai Serayu. Tim yang berjumlah 7 orang ini terdiri dari BKAD, FK, FT, TPK, KPMD. Masing-masing dibagi tugas untuk saling mengkoreksi administrasi terlebih dahulu. Perwakilan BKAD memeriksa pembukuan BLM UPK, TPK dan KPMD memeriksa pembukuan TPK di tiga desa, yakni Desa Adisana, Bangsa, dan Cindaga. Sedangkan Tim PNPM MP Kec. Kebasen berkunjung ke kecamatan Ajibarang.

Pemeriksaan Administrasi BLM
Pemeriksaan Administrasi BLM

Pemeriksa pembukuan UPK dilakukan di ruang dalam kantor UPK, sedang pemeriksaan administrasi TPK dilakukan di ruang pertemuan. Wulan Apriastuti (FK) mendampingi pemeriksaan BLM, sedang Mas Eko(FT) memandu pemeriksaan administrasi TPK.

Sedianya rombongan akan datang lebih awal. Namun demikian karena menerima tamu terlebih dahulu, maka acara sedikit mundur. Komitmen untuk menjaga kualitas kerja antar kedua belah pihak diharapkan tak akan terlalu terpengaruh karena mundurnya jam kegiatan. Karena sejatinya audit silang ini dimaksudkan untuk belajar bersama antar pelaku, sehingga antar mereka akan saling bertukar pikiran, pendapat, dan pengalaman dalam menjalankan program ini.

Pemeriksaan Administrasi TPK
Pemeriksaan Administrasi TPK

Diskusi menarik di ruang dalam terjadi tatkala ada selisih sebesar 100 ribu di form pemeriksaan BLM. Selisih ini terjadi karena total transaksi yang ada mengutip nominal total kumulatif bulan berjalan dari buku kas BLM. Padahal di sana ada uang di rekening sebesar 100 ribu tersebut yang berasal dari dana pembukaan rekening. Selain itu, penjumlahan yang keliru pada saat total penerimaan ditambahkan dengan saldo awal yang kemudian dikurangi penerimaan, maka terjadi selisih yang sangat besar. Bukan saja karena tidak melihat rumus yang tercatat dibawah, akan tetapi keterangan di masing-masing baris pun multitafsir.

Misalkan pada baris saldo awal, tidak dijelaskan saldo awal bulan apa. Terus pada kolom Transfer KPPN pun tak dituliskan apakah itu kumulatif atau kah hanya bulan berjalan. Semestinya ada keterangan tambahan. Jika saldo awal bulan ditentukan adalah bulan sebelumnya, maka Transfer KPPN disebutkan hanya pada bulan berjalan. Atau bisa dengan menentukan bahwa saldo awal adalah awal tahun, sedang Transfer KPPN merupakan kumulatif sejak awal tahun hingga bulan berjalan. Mungkin begitu.

Diskusi Mas Eko dengan Tim
Diskusi Mas Eko dengan Tim

Akhirnya berdasarkan diskusi antara pengurus UPK dengan pemeriksa dan fasilitator (Wulan) disepakati bahwa keterangan saldo awal dimaksudkan adalah awal tahun. Maka disana tertulis Rp 0,-

Saat aku mendengarkan diskusi antara Agus Hidayat, TPK Desa Bangsa, dengan Bangun, Tim Pemeriksa TPK, terjadi diskusi yang tak kalah seru. Ini terjadi karena perbedaan strategi pelaksanaan awal kegiatan fisik. Utamanya soal trial. Pak Bangun berpendapat bahwa penggunaan dana untuk trial yang diambil atas dasar swadaya harus direkeningkan. Ini salah satu syarat pencairan dana tahap pertama dari UPK. Sedangkan Agus tidak berpendapat demikian. Memang tidak ada ketentuan itu di Kebasen. Maka Mas Agus Hidayat memandang tidak perlu ada pembukaan rekening untuk menghimpun dana swadaya.

Saling tukar ilmu dan pengalaman
Saling tukar ilmu dan pengalaman

Best practise yang dilakukan di kecamatan Patikraja seperti ini tentu bertujuan bagus. Yakni untuk meyakinkan pihak pengelola dana bahwa dana swadaya benar-benar terhimpun. Kalau aku tafsiri, ini bermula dari pengalaman pahit tidak cairnya dana swadaya dari masyarakat, maka pelaku PNPM di kecamatan Patikraja memandang perlu akan hal ini. Sedangkan di kecamatan Kebasen belum memandang perlu untuk itu. Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Lain Koki lain rasa masakan juga. Begitu kan?

Tak perlu mendebatkan soal ini. Ini ajang bagus untuk saling berbagi best practise dalam mensikapi kondisi masyarakat di masing-masing wilayah. Siapa tahu kondisi di kecamatan Kebasen membutuhkan trik yang sudah dilakukan di kecamatan Patikraja. Atau mungkin pelaku di kecamatan Patikraja yang perlu belajar bagaimana mengkondisikan warga agar tetap berswadaya meski tanpa bukti pembukuan rekening tersebut. Ayo saling berbagi.

Menyamakan persepsi atas multitafsir
Menyamakan persepsi atas multitafsir

Saat aku mendekati dan mendengarkan diskusi antara Pak Suwito, TPK Desa Adisana, dengan Mas Eko yang dibahas tentang swadaya. Bedanya disini Mas Eko menyarankan untuk memunculkan dana swadaya di laporan. Sayang sekali jika swadaya yang sudah bisa dikumpulkan dari warga tidak dimunculkan. Dengan swadaya yang tak tercatat, secara kasat mata tingkat partisipasi masyarakat menjadi rendah. Padahal tidak demikian adanya. Menyadari kekeliruannya, Pak Kasimin yang didampingi oleh Pak Salim selaku bendahara, dan Pak Mistar selaku sekretaris TPK hanya manggut-manggut saja.

Nah, yang justru mengandalkan aliran kebatinan adalah Amin. Apa karena lawan diskusinya itu cewek atau bagaimana, tak jelas. Saat aku tegur dia bilang, grogi… hahaha…

Amin meneng bae deneng?
Amin meneng bae deneng?

Ternyata Amin punya trik sendiri. Dia tak secara langsung menyampaikan pemeriksanaannya. Rapi aku lihat dia mencatat semua yang dia anggap perlu perbaikan. Mungkin emoh menyuarakan secara langsung, karena diskusi di ruang pertemuan itu sudah heboh dengan suara Pak Bangun yang kelihatan berapi-api. Sori Pak Bangun, guyon.

Memasuki jam makan siang, diskusi menjadi lebih santai. Mungkin karena energi sudah habis. Diskusi tentang pemeriksanaan masih tetap berlanjut. Cuma guyonan-guyonan segar mewarnai materi. Sebentar ngobrol soal materi audit, agak lama guyonan. Begitu seterusnya. Suasana menjadi lebih cair. Aku pun demikian, lebih banyak duduk di depan PC untuk menuliskan kegiatan hari ini. Sambil menunggu kiriman makan siang dari warung. Sik asik.

Makan siang masih belum juga datang saat jarum jam sudah menunjukkan pukul 12.25 WIB. Padahal kuli-kuli bangunan yang sedang membangun Puskesmas sudah mulai berdatangan. Mereka bisanya ikut istirahat di teras kantor. Lihat saja di luar sana. Halaman kantor UPK penuh dengan sepeda motor milik para kuli. Bagi kamu yang baru datang kemari, seolah kantor ini ada acara. Karena bisanya motor-motor kami parkir di belakang. Hanya motor milik Rosi dan Nur yang ada di depan.

Hore… Makan siang datang.
Hayuk….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here