Bapa Sayang Mama, Ata, sama Syamil

0
365
Alun-alun

Bukan hanya Ata dan Syamil yang bergembira. Istriku pun akan amat sangat senang. Kemarin dia sempat merajuk, saat aku berpamitan untuk pergi ke Magelang hari ini, atau Sabtu depan ke Jember. Mimiknya tak sedap dipandang. Dia ingin aku tinggal di akhir pekan ini atau pekan depan. Sudah lama kami tidak bepergian guna menghijaukan visa. Baginya, tidak ada uang tidak terlalu masalah. Asal bisa bersama-sama pergi entah kemana.

Biasanya pun tak jauh-jauh. Masih di seputaran Banyumas saja. Kalau tidak ke Taman Rekreasi Andhang Pangrenan, ya ke Taman Balai Kemambang atau Alun-alun. Saat Ata atau Syamil ingin lihat kereta, biasanya ikut duduk-duduk di Stasiun Purwokerto. Kadang pula hanya ingin naik turun lift di Moro buat Ata, atau eskalator bagi Syamil. Alhamdulillah keduanya masih bisa ditekan keinginan bermain yang mesti mengeluarkan uang. Jajan pun seringnya bawa dari rumah. Ata cukup puas kala berlari-lari di Andhang Pangrenan atau Alun-alun. Memberi makan ikan-ikan di Taman Balai Kemambang. Senang pula naik turun lift. Paling dia minta dibelikan balon di Alun-alun.

Alun-alun
Alun-alun

Syamil pun masih manut. Meski kadang dia lebih sering minta beli jajan. Baginya, berlari bebas sambil menendang bola di Alun-alun atau Andhang Pangrenan menjadi hiburan tersendiri. Syamil mau duduk di kuda-kudaan yang tak bergerak jika main ke Moro. Tapi dia masih takut naik lift. Lebih suka berdiri sendiri saat eskalator berjalan. Naik turun. Dia bersama Ata bisa betah berlama-lama memandangi kereta, meski gerbong berhenti di stasiun. Rengekan untuk naik kereta hanya aku balas dengan jawaban, insya Allah nanti kalau Bapa uangnya sudah banyak.

Keduanya pun cukup senang meski hanya melihat orang lain bermain air di Depo. Ata yang paling sering merengek. Biasanya aku akan rayu dia. Aku janjikan ke Taman Sari Rasa, atau ke Kedungbunder. Tarif masuk di Taman Sari Rasa jauh lebih murah. Apalagi jika ke Kedungbunder, gratis. Kedungbunder adalah tempat bermain masa kecil. Bagi orang Mandirancan yang sejak kecil tinggal di sini, pasti tahu Kedungbunder. Sayangnya, akses jalan ke sana masih sulit. Konstruksi jalan makadam sejak grumbul Kalibacin dengan batu-batu besar nan lancip membuat kendaraan sulit masuk. Apalagi ada sebagian jalan yang longsor ke sungai. Ada pula yang tertutup longsoran tanah dari tebing. Pemdes Mandirancan tak bisa berbuat banyak. Jalan itu masuk kewenangan Perhutani. Padahal di sana ada curug yang cukup bagus. Ya, meski hanya berair saat musim penghujan saja.

Kedungbunder
Kedungbunder

Sedianya aku akan menyusul mereka ke Jatilawang kemarin. Tapi karena pertimbangan pekerjaan dan batalnya agenda ke Magelang, aku putuskan bermalam di Mandirancan saja. Baru nanti siang, aku ke sana. Jarak tempuh dari Mandirancan ke Jatilawang, tempat ibu mertua, tidak terlalu jauh. Waktu tempuh memang lebih jauh ketimbang dari Mandirancan ke Purwokerto. Bukan halangan berarti bagiku. Ada Khatidjah, bidadari, dan pangeran kecil ku di sana. Sejauh apapun akan aku tempuh untuk bersua mereka.

Pernah suatu sore dulu saat Syamil belum lahir. Aku merasa pusing dan muntah-muntah di rumah. Rasanya seperti masuk angin yang telanjur parah. Badan panas dingin dan tidak enak makan. Aku merasa perlu berobat ke Pak Mantri Hartono. Biasanya dosis obat yang dia berikan selalu pas buatku. Aku sendiri heran. Awalnya tidak terjadi apa-apa. Orang melihatku pun tak tampak sakit. Ternyata aku memang tidak sakit. Aku kangen bertemu Ata.

Setelah tergugu memanggil namanya, berangsur pulih. Bahkan kemudian aku bisa begadang hingga jam 3 pagi. Kemudian hanya tidur selama 2 jam. Bergegas aku ke Jatilawang. Bersepeda. Kala itu aku belum punya motor, masih menganggur pula. Praktis hanya sepeda yang aku punyai untuk sampai ke sana.

Gembira saat aku bisa memeluk dan mencium bidadari kecilku. Aku pun ceritakan itu pada istri. Oleh karenanya, hingga sekarang, aku selalu menghitung malam saat aku tak bersama mereka. Paling lama 2-3 malam saja. Lebih dari itu tak pernah bisa. Pikiran selalu tak fokus demi mengingat mereka. Kebersamaan selama ini membuatku tak bisa jauh dan lama tak berkumpul bersama. Kami saling menyayangi.

Ini malam kedua. Masih dalam batas toleransi. Kebiasaan ini terkadang aku pikir tak menguntungkan. Aktifitasku di luar akan tergantung sekali dengan batasan tolerasi yang aku buat sendiri. Perlahan sedang aku perbaiki. Ata sudah bisa dikondisikan. Dia paham. Demikian juga istri. Hanya Syamil yang masih belum bisa. Padahal dia tak pernah mau tidur bersamaku. Kehadiranku di rumah membuatnya bahagia. Kemandiriannya terkadang hilang. Berubah menjadi manja. Untuk mengambil sepatu yang bisa ia kenakan sendiri, kadang minta bantuanku.

“Bapa wawon”.

Taman Sari Rasa
Taman Sari Rasa

Sering pula dia membantuku. Mencari perhatian dengan memberikan apa saja buatku. Saat Ata tak dia perbolehkan minta roti atau makanan yang dia makan, Syamil justru memberikannya pada ku. Sering pula dia berinisiatif mengambilkan buku. Dia suruh aku membaca. Dia pun tahu buku mana yang sedang aku baca. Bergegas dia akan taruh buku yang selesai aku baca.

Kemarin Ancas telpon. Dia beritahukan kalau acara rakor UPK Kab. Magelang dibatalkan. Banyak yang enggan. Sudah ada yang shalat Ied, atau sedang berpuasa Arafah. Batalnya pertemuan ini sudah ke sekian kali. Dulu, saat aku datang ke Magelang, Mas Hamid selaku Ketua Forum UPK Magelang, dan Ancas mengajak aku untuk hadir pada rakor rutin. Informasi-informasi dan berbagi akan lebih tepat saat teman-teman di Magelang mendengar sendiri. Begitu alasannya. Tak masalah buatku.

Andhang Pangrenan
Andhang Pangrenan

Seminggu yang lalu, saat aku hendak ke Majalengka pun demikian. Melalui inbox dan SMS, Ancas mengundangku ke sana. Terpaksa aku tolak. Sabtu ini pun gagal. Andai di undur Sabtu depan, aku tak bisa. Tiket PP kereta ke Jember sudah di tangan. Agenda di Jember pun sudah mengalami penundaan. Kalau di tunda lagi, kasihan.

Tapi pembatalan ini menggembirakanku. Tak lain karena ingin membesarkan hati anak-anak dan istri. Terlalu sering di tinggal, dan sering tak kebagian waktu karena mengalah pada kedua anakku, aku rasa perlu menyempatkan waktu buat istri. Ngobrol-ngobrol menjalin komunikasi dan kemesraan bersamanya, sering tak kesampaian. Kala anak-anak sudah tertidur, ia pun terpejam. Capek seharian mengurus rumah tangga, dan momong Syamil. Tak tega aku bangunkan dia.

Beberapa hari yang lalu dia sempat ngambek. Tak mempan rayuan demi rayuan yang aku lancarkan. Penyebabnya memang bukan aku, katanya. Dia ingin pulang sebentar ke Jatilawang. Tapi aku tak bisa mengantar. Naik bis sendiri pun susah. Mengendong Syamil, menuntun Ata, dan membawa tas berisi perlengkapan lain akan sangat kerepotan. Terlebih untuk sampai ke rumah ibu mertua, dia harus menyambung dengan koperades yang datangnya lama. Pelan jalan koperades membuat sumuk di perjalanan.

Setelah naik koperades, ia minta di jemput di pertigaan SMPN 2 Jatilawang. Jarak dari pertigaan itu ke rumah ibu mertua hampir 1 kilometer. Tak ada koperades ke sana. Capek kalau jalan kaki. Jangan-jangan malah di kira sedang berantem denganku. Akan banyak pertanyaan dari para tetangga nantinya.

Ada jalan lain untuk sampai ke sana. Yakni turun sebelum perbatasan Tunjung-Tinggarjaya. Di sana ada tempat penyeberangan menggunakan perahu. Jarak dari tempat turun dari bis hingga ke tambatan perahu memang tak jauh. Tapi menuruni tangga yang panjang dan cukup curam dengan segala kerepotannya menjadi pilihan lebih sulit. Setelahnya nanti, akan berjalan menyusuri jalan setapak di kebun-kebun pinggir sungai Tajum. Selepas naik perahu pun masih harus berjalan lagi. Tambah repot pokoknya.

Bersama Selvi dan Dena
Bersama Shelvi dan Dena

Dulu saat kami masih pengantin baru, aku maupun dia lebih suka lewat jalan itu. Menapaki jalan-jalan kecil dan kebun-kebun orang hingga ke tambatan perahu. Kemudian berjalan melewati kebun-kebun di pinggir sungai Tajum, naik tangga, hingga sampai pinggir jalan raya terasa lebih cepat. Pasalnya setelah jalan raya, tinggal menunggu bis dari Wangon. Berjalan kaki di jalan desa hingga sampai ke pertigaan SMPN 2 Jatilawang terasa panas. Rimbunan pohon di pinggir-pinggir tak cukup membantu. Setelah sampai di sana, masih harus menunggu koperades dari Purwojati hingga Margasana. Lama. Sampai di Margasana masih harus menunggu bis dari Wangon.

Menurut istri ku, jalan menyusuri jalan-jalan kecil dan kebun, naik perahu, kemudian naik bis mikro merupakan jalur cepat saat dia masih sekolah SMA di Jatilawang. Masa itu masih beramai-ramai bersama teman yang lain. Yang harus diperhatikan ialah jam pulang. Jangan sampai melebihi jam 6 sore. Sebab, tukang perahu sudah tak mangkal lagi di sana. Akan jadi repot. Oleh karenanya, dia tak pernah suka ikut kegiatan ekstrakurikuler. Jam pulangnya itu yang sering terlalu sore.

Alhamdulillah ngambeknya hilang saat aku bangun tidur. Bahkan dia yang membangunkanku dengan cara yang aku sukai. Dia menjajariku tidur di ranjang sebelah.  Dimana aku memeluk Ata saat dia terjaga. Dia berbisik saat membangunkan aku dan memberikan senyum manis tatkala mataku terbuka. Aku tanya, apa sudah baca SMS ku? Dia bilang sudah. Malam itu aku sengaja SMS panjang hingga tiga kali. Isinya berupa kalimat yang aku susun tentang apa yang aku rasakan selama ini. Tulus dari hati. Dia tahu itu bukan bahasa gombal. Setelah aku SMS, malamnya itu ia enggan membaca. Dia mengaku baca SMS saat aku sudah terlelap. Bahasa kalbu hanya bisa dimengerti saat muncul dari hati yang tulus.

Hari ini, istri berencana menengok bayi di Purwojati. Anak dari saudara sepupu dari nenek. Dulu saat anak pertamanya disunati, dia hanya nitip. Kali ini dia ingin ke sana sendiri. Ingin bersilaturahmi dan bernostalgia. Kebetulan usianya sepantaran dan pernah sekolah bareng saat di SMA dulu. Dia hanya ingin pakai motor ini. Biar lebih cepat berangkat dan pulang nantinya. Menunggu koperades terlalu lama. Belum lagi soal Syamil. Dia berencana membawa Ata saja. Ata sudah bisa jalan sendiri, sedang Syamil mesti harus di gendong.

Keberadaanku di sana nanti akan membuat Syamil merasa tak ditinggal sendiri. Toh bukan aku yang akan momong dia. Kalau tidak mbah-nya, ya Dena. Adik iparku. Paling aku akan tengahi bila Syamil bertengkar dengan Shelvi. Beda satu tahun usia mereka, hingga kadang saling berebut mainan atau Dena. Namanya juga anak kecil. Sebentar lagi juga akur.

Di sana banyak anak kecil yang usianya tak jauh beda dengan Ata maupun Syamil. Mereka biasa main bersama. Aku, ibu mertua, atau Dena hanya berjaga-jaga agar mereka tidak bermain di saluran irigasi. Bahaya. Seringnya mereka berlari-lari, main bola, dan rumah-rumahan di halaman rumah sebelah.

Rencananya besok pagi, kami berempat akan pergi bersama. Refreshing. Entah kemana nanti.

Mama, Ata, Syamil, Bapa sayang kalian.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here