Belajar Bersama Untuk Merevitalisasi Diri

0
270
Lagi nawar, Kang? hihi....

Bagian ke-2

 

Tak jauh dari perbatasan Bandung Barat dengan Cianjur, Kang Tarjo memutuskan untuk berhenti. Dia sudah merasa capek dan mengantuk. Mobil masuk di salah satu Pom Bensin, kami pun tertidur di sana. Dingin yang mulai menyergap aku tangkal dengan jaket. Agak susah membuka tas besar yang aku bawa. Kali ini aku tak membawa tas gendong. Akibat membawa barang-barang berat di punggung kemarin, membuat urat di bawah ketiak sedikit terkilir. Ini saja baru sembuh.

Tak tahu berapa lama aku tertidur. Yang jelas, saat aku terjaga kami sudah sampai di Cisarua. Kang Tarjo bilang kalau dia sudah berhenti untuk tidur sebanyak 3 kali. Memang tadi sempat aku sadar pas berhenti yang kedua kayaknya. Tapi aku tetap memejamkan mata. Kadang ndableg itu baik untuk kesehatan… hehe…

Setelah bertanya tentang lokasi kegiatan pada seseorang di pinggir jalan, terdengar adzan subuh. Kabar perubahan tempat dari wisma DPR RI ke wisma Abdi, sudah aku dengar saat Kang Tarjo menelponku beberapa hari lalu. Informasi yang aku dapat dari Pak Nanang, saat kami bertemu nanti, ada pembatalan mendadak. Padahal saat itu dia sedang dalam perjalanan untuk membayar uang muka.

Sigap Pak Nanang menelepon rekan-rekan yang di undang dari luar Jawa soal tiket pesawat. Andai mereka belum telanjur membeli tiket, dia berencana memindahkan lokasi kegiatan di Bandung. Tapi karena kebanyakan sudah memesan tiket pesawat dengan tujuan Jakarta atau Bogor, dia terpaksa mencari lokasi lain di sini. Setelah beberapa kali memasuki tempat penginapan, wisma Abdi yang akhirnya dia pilih. Lokasinya persis di depan hotel Cimory Baru. Mudah kalau orang mau bertanya lokasinya. Pak Nanang memang begitu, cekatan.

Daripada bingung bertanya-tanya lagi, aku usulkan untuk berhenti dan shalat subuh dulu. Setelah itu ngopi dan makan bubur ayam sambil bertanya lokasinya. Si tukang bubur mengatakan masih agak jauh ke barat lagi. Sekitar satu kilometer, katanya.

Ah, apa yang terjadi aku tak tahu. Aku hanya mendengar suara benturan keras di belakang saat kami menyebarang jalan. Rupanya seorang pengendara motor menabrak mini colt yang hendak belok. Tak tahu apakah mini colt tidak menyalakan lampu sen, atau pengendara motor yang ceroboh. Yang aku lihat sebelum di tolong oleh sopir dan penumpang mini colt, pengendara motor tertelungkup dengan salah satu tangannya tertindih motor. Untung saja mereka cekatan mengangkat si pengendara ke pinggir. Demikian pula warga sekitar yang bergegas meminggirkan motor.

Aku pun agak berlari untuk menolong. Tapi entah apa yang aku pikirkan. Ini bukan wilayahku. Bukannya tak mau repot, takut di tanya macam-macam nantinya. Aku hanya melihat korban masih bernafas dan helm masih terpakai saat dia menabrak mini colt tadi. Semoga tak ada luka parah di kepalanya.

Bisa jadi pengemudi mini colt tidak melihat ada motor melaju di depan. Sebab saat motor dipinggirkan, tak ada cahaya dari lampu motor. Mungkin ini kesalahan pengendara motor, tidak menyalakan lampu padahal hari masih cukup gelap. Atau mungkin memang lampunya mati dan tidak diperbaiki. Tak tahu. Aku hanya berharap tidak ada cacat permanen bagi pengendara motor dan urusannya cukup diselesaikan secara kekeluargaan saja. Aamiin.
Sesampainya di wisma Abdi, ternyata gerbang masih tertutup. Sedang Pak Nanang masih sulit dihubungi. Sedang perut yang melilit membuatku harus berlari mencari toilet umum. Tapi ada mushola di dekat situ. Alhamdulillah.

Tak lama menunggu, akhirnya kami lihat Pak Nanang habis berolahraga. Dia bersama seorang peserta dari Sulawesi. Katanya habis jalan-jalan pagi. Kami ditunjukkan jalan masuk lewat pintu samping.

Seperti yang aku tuliskan diatas, Pak Nanang bingung dengan telpon genggamnya. Dia mengaku selalu tak terhubung saat mencoba menghubungi Kang Tarjo atau aku. Dia pun mendapatkan komplen dari para peserta karena susah dihubungi. Hanya SMS yang bisa masuk. Mungkin speaker-nya perlu diganti.

Obrolan tentang kegiatan ini pun berlangsung. Informasi tentang keengganan pihak kementrian untuk memastikan kehadirannya pada acara ini, sudah didengar Pak Nanang. Pihak kementrian mungkin sedang agak alergi dengan kegiatan yang mirip penghimpunan kekuatan seperti ini. Apalagi label pada surat berupa Rapat Kerja Nasional. Termasuk didalamnya ada agenda pembentukan Forum Badan Kerjasama Antar Desa Indonesia. Mungkin khawatir perkumpulan ini dilakukan untuk menekan pemerintah dalam memutuskan sesuatu.

Memang, hasil obrolan dengan Mas Sani, dan komunikasi antara Kang Tarjo dengan Pak Bito mengarah demikian. Mereka kurang suka jika terlalu sering diganggu. Soal tata kelola internal saja belum selesai. Pelantikan demi pelantikan baru selesai beberapa hari lalu. Masih harus menyusun program kerja dan mensinergikan antar bidang pula.

Kesempatan ini aku dan Kang Tarjo pergunakan untuk menyampaikan konsep yang sudah kami bicarakan. Yakni, pertemuan ini sebatas konsolidasi, saling berbagi, dan memahamkan kepada teman-teman BKAD tentang kerjasama desa dan antar desa itu. Bahwa kerjasama desa dan antar desa bukan hanya kerjasama model yang diwariskan oleh program saja. Kita berharap teman-teman yang hadir di sini paham dan menjadi inisiator munculnya model-model kerjasama lain di wilayahnya.

Soal keamanan aset warisan program, baik dana bergulir, kelembagaan, aturan lokal sudah diakomodir oleh pihak kementrian. Mereka sedang menyusun Permendesa soal kerjasama desa dan antar desa. Dua hal yang selama ini dikhawatirkan oleh teman-teman UPK yakni soal keberlanjutan kerja dan jangan ada pembagian aset sudah disiapkan poin-poin pengamannya. Hanya saja, demo kepala desa beberapa waktu lalu untuk merevisi PP 43 pun berimbas pada Permendesa ini. Belum bisa disahkan karena perubahan itu.

Aku berjanji pada Pak Nanang untuk bisa berkomunikasi asisten Pak Marwan Ja’far. Kebetulan dia warga di salah satu desa di kecamatan Kebasen. Yang ingin aku sampaikan ke dia ialah bahwa apa yang kami lakukan tak ada muatan politik apapun. Kami hanya ingin membantu pemerintah dalam hal penyelesaian program dan merintis pengembangannya. Apa yang harus kami bisa kami bantu dan lakukan nantinya. Semoga pertemuan itu bisa terwujud dan bisa terbangun komunikasi yang baik.

Setelah di rasa selesai, kami minta diberi kamar untuk istirahat. Sayangnya stop kontak hanya ada dua, dan kami lupa bawa sambungan. Mumpung masih pagi, kami berjalan mencari toko yang menjual stop kontak agar mudah berbagi aliran listrik.

Pemandangan menarik justru saat mata kami tertuju pada sungai kecil di pinggir jalan raya. Di bawah sana, berjajar keramba permanen untuk budidaya ikan. Kami bergegas turun untuk melihat dari dekat. Kebetulan ada Pak Wawan yang hendak memberi pakan ikan. Pemanfaatan alam yang berimbas pada ekonomi seperti ini, apalagi dilakukan di kota, itu sesuatu banget.

Keramba-keramba di sungai kecil
Keramba-keramba di sungai kecil

Menurut Pak Wawan awal mula pemanfaatan aliran sungai kecil untuk budidaya ikan ini berawal dari ide warga yang gemar memancing. Sekitar sepuluh tahunan lalu mereka membuat keramba dari kayu. Sayangnya keramba itu gampang rusak, mudah di bobol orang nakal, dan bisa terbawa air saat debit meningkat. Akhirnya atas ijin pemilik rumah atau vila yang berdekatan, dibuat keramba permanen. Selain berfungsi untuk membudidayakan ikan, keramba ini juga mengurangi erosi akibat derasnya air, serta sebagai sarana penyaring sampah.

Sampah-sampah yang dibuang yang tersangkut di keramba bisa di angkat ke permukaan oleh pemilik keramba. Saat itu, memang dia dan kedua temannya sedang membersihkan sampah yang menyangkut di keramba dan memberi pakan ikan.

Kata Pak Wawan, ada sekitar 20 orang yang punya keramba seperti ini. Dia sendiri hanya mengaku memiliki satu keramba dengan ukuran 3×1 meter. Sedang biaya pembuatannya dulu, dia katakan memerlukan dana sekitar satu juta rupiah. Di sana ada warga yang punya dua atau tiga. Soal hasil, lumayan.

Ikan-ikan yang di pelihara jenis ikan emas dan nila. Harga untuk ikan emas yang beratnya kurang dari 2 kilogram, per kilo di jual dengan harga 35 ribu. Untuk ikan dengan berat dibawah 3 kilo, per kilo dihargai 45 ribu. Sedang untuk ikan diatas 5 kilo, per kilo bisa sampai 74 ribu rupiah. Biasanya mereka menjual hasil budidaya ikan ini ke rumah makan, villa, dan pemancingan umum.

Untuk 4 ekor bibit yang beratnya satu kilo gram, bisa panen setahun sekali. Yang paling cepat memang saat bibit ikan per ekor mencapai satu kilogram, bisa panen 3 sampai 4 kali per tahun. Dia menambahkan, untuk keramba ukuran segitu, bisa berisi sekitar 20 ekor ikan besar.

Derasnya aliran air sungai memang sangat membantu pembesaran pada tubuh ikan. Ikan yang sering bergerak seperti itu pun lebih cepat besar daripada ikan yang di budidaya di perairan tenang. Banyak kotoran-kotoran yang terbawa air yang bisa dijadikan pakan bagi ikan. Tapi urusan pakan, mereka masih harus memberi pelet. Tak bisa membiarkan ikan begitu saja.

Keren kan?

Diskusi dengan pemilik keramba
Diskusi dengan pemilik keramba

Sayangnya belum ada perkumpulan diantara mereka. Pak Wawan mengaku memang belum merasa diperlukan. Untuk urusan pakan, sudah ada yang menjual. Soal kesehatan ikan, sudah ada yang ahli. Belum ditemuinya permasalahan serius, maka urusan perkumpulan masih dirasa belum penting. Padahal jika mereka mampu mengorganisir diri, bisa melakukan pengembangan usaha lain. Artinya perkumpulan pemilik keramba bisa membuka usaha lain baik yang dilakukan secara bersama-sama maupun usaha yang dimiliki bersama. Sedikit banyak bisa membantu menambah pendapatan.

Biasanya memang begitu. Perkumpulan hanya akan muncul jika sudah ditemui masalah. Ibarat kata, baru sadar harus bermain cantik saat sudah kebobolan terlebih dulu. Padahal hidup ini ibarat permainan dimana diperlukan sikap waspada dan hanya bisa kuat jika dilakukan bersama-sama. Yah, kebaikan yang tak terorganisir akan mudah dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir.

Pemanfaatan aliran air di sungai Serayu untuk budidaya ikan dengan keramba pernah dilakukan didesaku. Sayangnya tangan-tangan jahil selalu ada. Mereka yang tak ikut bersusah payah ingin menikmati hasil. Tak tanggung-tanggung, si pemilik keramba pun sering tak kebagian. Mereka mencuri ikan di keramba saat lengah. Mungkin malam atau dini hari saat warga sedang tidak mengkontrol ke sungai. Memang jarak perumahan penduduk dengan sungai ditempatku memang agak jauh. Warga yang memiliki keramba biasanya hanya mengkontrol pada pagi atau sore hari saja. Selebihnya mereka beraktifitas seperti biasa.

Ah, soal pencuri ini memang menjengkelkan. Jangankan keramba yang jelas-jelas ada ikannya, sekedar jaring, pancing atau wadong (alat penjebak ikan dari bambu) pun sering dijahili. Pencuri itu biasanya datang lebih dulu sebelum pemasangnya mengkontrol. Mereka tahu kapan biasanya pemasang jaring, pancing, atau wadong datang. Sokle pancen!

Kendala lain soal debit air yang tiba-tiba membesar. Sekuat apapun tali yang dipancangkan ke pohon di pinggir sungai, tetap kalah. Jangankan seutas tali, serumpun bambu pun bisa terbawa arus saat banjir datang.

Perbedaan manusia dengan makhluk lain adalah ada tidaknya otak. Manusia lah satu-satunya makhluk Allah SWT yang diberi otak. Yang dengannya mereka berpikir untuk mampu menyesuaikan diri dengan alam. Otak manusia berfungsi untuk menemukan solusi atas kesulitan-kesulitan yang dia hadapi. Bukan digunakan untuk memperdayai manusia lain, homo homini lupus.

Praktik-praktik seperti ini harus disampaikan kepada orang lain. Aktifitas ini bisa menjadi motivasi dan tumbuhnya inisiatif masyarakat untuk memaksimalkan semua kemampuan akan tantangan yang ada. Tidak mudah berkeluh kesah, selalu berpikiran positif bahwa selalu ada jalan jika mau berusaha.

No mountain too high when there is will.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here