Belajar Bersama Untuk Merevitalisasi Diri

0
109
Diskusi persiapan materi

Bagian ke-4

 

Aku sepakat dengan pernyataan dari Kang Hadian soal kegiatan kali ini. Paparan materi lebih bersifat memancing diskusi-diskusi antar peserta nantinya. Sepertinya tidak elok jika paparan materi bersifat “mengajari” para peserta. Mereka adalah tokoh-tokoh masyarakat pilihan di daerah masing-masing dengan segudang pengalaman dan berasal dari berbagai macam latar belakang. Maka memberikan bahan pancingan untuk diskusi, dirasa lebih tepat.

Menurut susunan jadwal kegiatan, Kang Hadian diberi waktu memberikan materi pada sore hari. Tapi nyatanya dia sudah sampai di sini pada malam hari. Perjalanan yang cukup jauh dari desanya, membuat dia lebih memilih menginap di sini. Itu lebih baik agar Kang Hadian bisa memahami kondisi peserta secara umum. Koordinasi tentang penyampaian materi pun diperlukan. Apalagi jika pemateri dari pihak kementrian benar-benar tak hadir, jadwal kegiatan bisa diajukan.

Pagi itu benar-benar aku manfaatkan untuk online. Semalam susah sekali. Jaringan wifi yang ada sering mati. Padahal tulisan pertama perjalanan kali ini sudah siap unggah. Aku rasa terlalu sayang bila tulisan ini ditunda-tunda penggarapannya, pasti ada poin-poin penting yang akan tertinggal nanti. Biasa, faktor U atau B ya… hahaha….

Saat membuka facebook, tak disangka rejeki mendekat sendiri. Biar pun tak pernah pamer akik, ternyata ada teman yang berbaik hati menitipkan akik buatku. Tapi bukan gratis ding. Aku dititipi pula akik buat Gondo dan Tuti di Temanggung. Asyik nih bisa buat alasan main ke sana. Yang penting pengertian ya, Bro… hihihi….

Bersama Pak Atmam, Ketua BKAD Kec. Kuansing - Riau
Bersama Pak Atmam, Ketua BKAD Kec. Kuansing – Riau

Perubahan acara disampaikan oleh Pak Nanang. Upacara pembukaan ditunda setelah makan siang. Karena menurut asisten pribadi Pak Eko, beliau bisa hadir sekitar jam 1 siang. Katanya sedang ada rapat internal di kementrian. Selain itu, pihak BPMPD Prov. Jawa Barat pun demikian. Oleh karenanya, penyampaian materi oleh Kang Hadian diajukan.

Saat aku perkenalkan bahwa Kang Hadian mantan NMC, sepertinya peserta siap mendengarkan. Apalagi Kang Hadian menyampaikan materi tentang potret sekarang tentang BKAD. Dimana kebanyakan BKAD masih memahami bahwa lembaga itu hanya berkutat urusan program dan warisannya. Masih banyak pengurus BKAD yang belum memposisikan diri sebagai lembaga sebagaimana yang diamanahkan oleh UU Desa. Jangankan amanah UU Desa, tugas-tugas BKAD yang dimaui oleh PTO pun masih jauh panggang dari api. Penguatan kapasitas BKAD saat program memang masih sangat kurang.

Saat sesi tanya jawab, keriuhan mulai muncul. Mereka penasaran dengan rencana pemerintah terkait exit strategy program. Menurut mereka regulasi yang ada tidak cukup, dan tidak menjawab kebutuhan mendasar dari aspek legalitas. Ada yang bertanya tentang maksud dari penyelamatan aset. Dulu aku sendiri agak kurang ngeh. Apa yang mesti diamankan. Toh sudah ada di tangan masyarakat dan tak kan lari ke mana-mana. Tapi seiring bertambahnya pengetahuan dari hasil diskusi, ternyata banyak kekhawatiran soal penyelewangan baik oleh pelaku program maupun masyarakat, karena pengalaman praktik-praktik program khususnya di luar Jawa. Saat program saja, banyak oknum yang melarikan dana BLM, padahal masih ada pengawasan. Apalagi sekarang, seolah di lepas begitu saja.

Keriuhan bertambah-tambah saat peserta yang diberi kesempatan bertanya, malah seperti mencurahkan unek-unek mereka. Kata “refleksi” yang aku katakan akan diberikan sesinya nanti, tak dipahami. Sayangnya itu baru aku ketahui nanti. Mereka nggak tahu kata “refleksi”, semestinya aku katakan, “curah pendapat”. Wah. Gubrak.

Ada juga yang tak terima saat aku katakan beri kesempatan kepada yang di luar Jawa dulu. Mereka menyanggah apa bedanya, toh sama-sama bayar. Hadeuh.

Benar-benar sulit mengendalikan suasana waktu itu. Semua peserta ingin menyampaikan apa yang ada dalam pikiran mereka. Mereka ingin menyampaikan semua unek-unek terkait pelaksanaan yang sudah mereka lakukan, termasuk inovasi-inovasi yang coba dilakukan. Hampir semua ingin berbicara dan didengarkan. Tak sabar menunggu giliran, kebanyakan yang duduk di belakang berdiri dan mengacungkan tangan. Bingung membagi gilirannya.

Ketidakpuasan karena ketidakjelasan akan hadir dan tidaknya pihak kementrian membuat mereka begitu. Yah, konfirmasi atas hadir tidaknya pejabat di kementrian membuat peserta galau. Mereka sudah jauh-jauh datang ke Bogor demi membawa misi yang dititipkan oleh masyarakat, pemerintah daerah, dan rekan sejawat, terbayang tak kan tersampaikan.

Isu terkait rencana pembagian aset ke desa paska program pun menyeruak. Kekhawatiran yang tak jua terjawab ini seperti menjadi momok. Bagaimana bisa, ketika selama bertahun-tahun dana itu di kelola di kecamatan, akan dibagikan begitu saja ke desa. Padahal pengalaman dari program-program sebelumnya, jika dana diberikan ke desa, lebih banyak hilangnya daripada lestarinya. Begitu yang aku tangkap. Kekhawatiran ini sama dengan yang dirasakan oleh teman-teman UPK.

Yang mereka inginkan adalah soal kepastian hukum. Regulasi yang ada berupa UU Desa dan PP 43 dinilai belum cukup. Belum lagi di beberapa daerah katanya, OJK sudah mulai bergerak. Jika tidak segera dibadanhukumkan, bisa beresiko. Begitu ya?

Mungkin aku masih terlalu ingusan bagi mereka. Sebab saat berkali-kali Kang Hadian dan aku sampaikan bahwa di Jakarta sedang disusun regulasi, seperti tak dipercaya. Kekhawatiran akan penarikan aset dan keamanan masa kerja sudah diakomodir oleh orang-orang Kementrian Desa untuk diturunkan dalam Permendesa Kerjasama Antar Desa. Berhubung akan dilakukan revisi PP 43 karena demo yang dilakukan oleh para Kepala Desa beberapa waktu lalu, maka Permendesa tersebut belum bisa diterbitkan. Ya, kadang wajah imut-imut menguntungkan, kadang merugikan… xixixi….

Kondisi kegalauan para peserta semakin menjadi. Tatkala saat upacara pembukaan, dipastikan tak ada seorang pejabat atau staf sekali pun dari kementrian yang bisa hadir. Alasannya sedang dilakukan rapat internal. Mungkin sedang menyusun program kerja atau apa, sebab memang baru kurang lebih satu minggu, pelantikan pejabat di sana.

Materi refleksi yang rencananya akan dilakukan paska upacara pembukaan, batal. Padahal aku sudah berkomunikasi dengan Pak Haji Uun untuk bisa mengkondisikan. Aku katakan, Pak Haji tak usah memberi materi apalagi pakai proyektor. Pandu mereka saja untuk mengeluarkan unek-unek. Biarkan peserta mengekplorasi apa yang ada dalam pikiran mereka. Bebas saja.

Diskusi persiapan materi
Diskusi persiapan materi

Ternyata beberapa orang mendekat ke sekretariat panita. Mereka ingin sesi berikutnya dibatalkan. Langsung saja ke pembahasan soal pembentukan organisasi BKAD tingkat nasional. Kata mereka, ini mendesak untuk dilakukan agar ketika pulang bisa membawa hasil. Organisasi ini diharapkan bisa menjadi juru bicara terhadap pihak kementrian. Saat itu Pak Nanang memanggilku, kebetulan aku ada di sana. Dia meminta pertimbanganku. Mau tidak mau, aku iyakan saja. Apa yang aku dan Kang Tarjo bayangkan, terjadi. Pendekatannya kurang smooth. Tapi tak mungkin meninggalkan, sudah telanjur basah. Ini efek pembiaran yang berkepanjangan, kata Kang Tarjo.

Strategi pembentukan organisasi semacam ini yang dilakukan oleh teman-teman UPK lebih elegan. Waktu itu, rangkaian acara bertajuk seminar. Tapi didalamnya diselipkan pembentukan organisasi. Tak urung hadir juga Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, anggota DPD, Ahmad Muqowam, dan Mas Budiman Sudjatmiko. Strategi yang cantik kan?

Bisa dikatakan, hari ini klimaks acaranya. Tadi pagi saat aku memandu diskusi dengan Kang Hadian sebagai narasumber sudah ramai. Ini lebih ramai lagi. Yakni soal mekanisme pemilihan kepengurusan BKAD nasional. Ah, mirip anggota dewan banget. Tak heran, beberapa diantara mereka memang mantan anggota dewan di daerahnya masing-masing. Tak sedikit yang juga pengurus partai. Lengkap sudah.

Aku memilih duduk di barisan paling belakang bersama teman-teman UPK yang ikut hadir. Kami sengaja menonton di sana. Terlihat tontonan itu mirip sekali dengan apa yang ada di layar kaca. Masing-masing berargumen sesuai dengan apa yang mereka yakini benar. Ada yang mengatakan mesti one man one vote, minta dibentuk tim formatur, usul dipilih tiga calon, dan masih banyak usulan lain. Aku lihat, Pak Sridianto selaku pimpinan sidang kesulitan berbicara. Selalu di sela oleh peserta. Wah, untung bukan aku.

Saat acara makan malam nanti, aku tahu kalau tata cara pemilihan pengurus sudah tak dicantumkan semua. Itu pengakuan Pak Sridianto. Dia katakan saat Pak Nanang memintanya untuk membuatkan tata tertib acara termasuk mekanisme pemilihan pengurus, sudah lengkap. Tapi saat dia baca lagi di sini, ada yang tak tercatat. Itu yang membuatnya agak bingung saat membacakannya. Apalagi komunikasinya pun hanya lewat HP dan email. Tak pernah tatap muka. Yah, kata komunikasi dan koordinasi memang mudah, tapi melakukannya bukan perkara gampang.

Pemahaman yang berbeda dari berbagai latar belakang terlihat warnanya. Sepertinya mereka ingin menegakkan eksistensi. Hampir tiap daerah ingin ada wakilnya yang berbicara. Meski sering diselingi canda tawa saling melempar joke, suasana tetap ramai. Masih beruntung usia mereka sudah sepuh-sepuh jadi lebih bisa mengkontrol emosi. Berbeda bukan berarti harus berlawanan. Berbeda itu ibarat pelangi.

Perbedaan pendapat diantara mereka, setahuku semuanya benar. Mekanisme pemilihan pengurus baik versi pilihan langsung, tim formatur, dan yang lain benar semua. Tinggal mau pakai cara yang mana. Sambil bergurau aku katakan pada teman-teman di belakang, ini soal khilafiyah… hehe….

Setelah melalui proses panjang, akhirnya disepakati dibentuk Tim Formatur dari masing-masing provinsi. Mereka yang hadir dianggap mewakili provinsi meski tak mendapatkan mandat untuk itu. Itu kesepakatan awal tadi saat di sekretariat. Dari 16 perwakilan provinsi yang hadir, hanya 10 provinsi yang mengajukan wakil untuk duduk di tim formatur. Mereka diberi waktu untuk berdiskusi terkait penyusunan kepengurusan. Awalnya cuma diberi waktu sekitar 30 menit. Tapi berhubung sudah mendekati maghrib, tim formatur diberi waktu hingga ba’da Isya. Apapun hasil kesepakatan tim formatur, peserta siap untuk menerima hasilnya.

Andai aku belum pernah melihat tontonan seperti ini, mungkin aku bisa shock. Terlalu semangatnya mereka dalam mempertahankan pendapat tak jauh beda dengan debat di DPR. Hanya di sini tak ada kursi melayang. Heran juga sih. Kenapa bisa begitu, padahal ini kan nggak ada duitnya. Apa mereka sedang orgasme atas kekecewaan atau sedang bernostalgia dengan masa lalu, tak jelas.

Ketidakhadiran pihak kementrian memang mengecewakan. Apa yang aku dan Kang Tarjo prediksikan benar. Susah mengharapkan kehadiran beliau-beliau jika tajuknya belum diganti. Hasil editan kami saat berada di markas Dedemit di Ciamis, tak dipakai. Mungkin pantia tak sempat melihat email kami. Atau karena sudah telanjur beredar. Mungkin.

Beberapa waktu lalu memang banyak pihak bertanya-tanya apa agenda dari kegiatan ini. Sampai acara usai pun masih banyak yang ingin tahu hasilnya. Penggalangan massa seperti ini memang ngeri. Para tokoh daerah dikumpulkan dalam satu forum. Ini kekuatan yang cukup besar.

Satu hal yang aku syukuri, bahwa perbedaan pendapat tadi tak berlarut-larut. Setelah acara usai, mereka kembali tertawa-tawa. Mungkin sedang mengejek orang lain, atau kekonyolan diri sendiri. Yang pasti, mereka tak benar-benar marah. Sebab saat kami sedang makan malam mereka yang tadinya berbeda pendapat kemudian mendekatiku dan berkata, “seru ya?”

Aku hanya tersenyum dan geleng-geleng. Jan… jan… ana-ana bae.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here