Belajar Bersama Untuk Merevitalisasi Diri

1
146
Ketua Umum BKAD Nasional, Nanang Mulyana

Bagian ke-5

 

Menu makanan yang disajikan di wisma Abdi terasa enak. Padahal tak ada menu istimewa menurutku. Yang paling aku sukai, hampir selalu ada sambal. Entah karena kondisi dingin atau bagaimana, aku rasa nikmat-nikmat saja menyantapnya. Biasanya jika mengikuti acara di tempat seperti ini, aku sering keluar mencari menu lain. Lidah ini tak terbiasa dan tak ingin dibiasakan dengan makanan enak ala restoran atau hotel. Takut ketagihan.

Selepas makan malam kami masih asyik duduk-duduk di tempat makan. Layar LCD besar bersiap menayangkan pertandingan antara PSSI U-23 melawan Filipina. Kemenangan besar atas Kamboja kemarin membangkitkan semangat. Jika melihat pertemuan antara Filipina dengan Kamboja, dimana Filipina kalah, seharusnya Indonesia pun bisa mengalahkan mereka. Perolehan poin dengan banyaknya gol dari Filipina diharapkan mampu membuka peluang maju ke babak semifinal. Sebab pertandingan terakhir melawan Singapura, diprediksi akan berlangsung sengit.

Pengumuman dari Pak Sridianto agar peserta kembali berkumpul di ruang pertemuan guna menyelesaikan prosesi pemilihan, seakan diacuhkan. Semua masih asyik menonton televisi. Sempat kami berteriak saat Evan Dimas mampu menyarangkan bola ke gawang Filipina. Permainan Timnas menjanjikan. Aku sendiri berharap dan berlogika, semestinya bisa menang besar.

Aku sendiri agak heran, setahuku kalau sudah dibentuk tim formatur, mestinya langsung disusun kepengurusannya. Tapi keputusan tim formatur mengajukan tiga nama calon ketua umum untuk dipilih semua peserta, kecuali yang berstatus sebagai UPK. Tapi kalau memang keputusannya begitu ya, mau bagaimana lagi.

Setelah beberapa kali diingatkan, akhirnya para peserta beranjak dari tempat duduknya. Ada yang ke ruang pertemuan dan ada pula yang masuk ke kamar, termasuk aku. Penasaran ingin melihat permainan selanjutnya. Tak begitu tertarik dengan pemilihan itu. Dari ketiga nama yang diajukan, rasa-rasanya sudah bisa ditebak siapa yang akan terpilih. Dua nama lain orang yang masih baru, sedang Pak Nanang sudah dikenal.

Aku menonton bersama Kang Tarjo dan Wa Aboer. Sedang Pak Haji Uun entah dimana. Saat itu aku ingin memastikan soal keberangkatan ke Belitung Timur. Memang sih, sebelum aku berangkat ke Bogor, Mas Aris bilang ada jatah tiket buatku. Dia katakan kepastiannya hari Senin. Tapi sampai Selasa sore belum ada jawaban. Ah, rupanya dia sudah bertanya via WA. Hanya saja android ku mati. Untung ada Wa Aboer. Dia yang mengkomunikasikan antara aku dengan Mas Aris. Melalui email aku dikirimi pemberitahuan keberangkatan dan waktu pulang dari sana. Alhamdulillah.

Malam itu aku pun sedikit dilema. Antara langsung ke Jakarta atau pulang dulu ke Banyumas. Tapi aku putuskan pulang saja dulu ke Banyumas. Aku ingin menghijaukan visa. Anak-anak akan aku ajak jalan-jalan dulu, biar ikhlas aku tinggal lagi. Masih ada waktu hari Jum’at dan Sabtu. Melihat jadwal keberangkatan pesawat, bisa saja aku pergi ke Jakarta pada sore hari. Insya Allah.

Pergi ke Belitung Timur sudah aku impikan. Meski aku tak yakin akan pergi ke sana. Saat mengikuti kegiatan FesTIK 2015 di Sabuga Bandung, aku katakan ke Mas Yosep, kalau sudah ikut di FesTIK rasanya tak bisa minta uang kantor buat ke Beltim. Anggarannya sudah terlalu sering aku minta. Bahkan ketika Soep dan Anton bilang saat itu tiket pesawat ke sana kurang dari 400 ribu, aku hanya menggeleng. Padahal sangat ingin.

Tapi aku terus menjaga mimpi itu. Salah satunya dengan mengunjungi dan membawa buku serta brosur tentang Belitung Timur. Brosur-brosur itu akan aku jadikan bahan awal tulisan jika bisa ke sana. Mengenal lebih dulu Belitung Timur lewat brosur. Tak lupa googling juga. Ingat saat berkali-kali melihat film Laskar Pelangi, mata ini selalu berkaca-kaca. Nelangsa.

Tak lama kemudian telpon berdering, Pak Nanang. Dia memintaku hadir di ruang pertemuan. Saat itu, aku kira sudah selesai proses pemilihannya. Ternyata belum apa-apa. Masih mencari kesepakatan model pemilihan langsung itu. Satu per satu peserta di absen. Jadi tahu, kalau beberapa perwakilan sudah pulang. Mungkin mereka sudah tak berminat mengikuti acara sampai besok, biar pun Mas Budiman dijadwalkan hadir.

Satu per satu peserta dipanggil untuk memberikan suara. Kertas suara yang sah jika ada stempel panitia. Jumlah yang disediakan ada 90 buah, yang nanti terpakai cuma 69 saja. Mungkin karena kebanyakan mereka sering berkecimpung dalam Pemilu, maka prosesinya pun hampir mirip. Agak lama, karena selain menunggu sampai ke-69 orang dipanggil semua, penghitungannya pun cukup lama. Sampai akhirnya saat aku balik ke kamar lagi, laga Indonesia versus Filipina tinggal menyisakan injury time. Kemenangan 2-0 pun masih bertahan seperti tadi.

Seperti yang sudah aku tuliskan diatas, prediksinya sudah jelas. Pak Nanang terpilih menjadi ketua umum dengan kemenangan mutlak. Dia memperoleh 59 suara. Kenapa mesti model pemilihan; kenapa tidak musyawarah mufakat saja. Model pemilihan dengan sistem pemungutan suara sekarang memang menjadi idola. Model pengambilan keputusan yang asli Indonesia, yakni musyawarah mufakat seolah tidak seksi lagi. Begitu lah apa begitu deh.

Ketua Umum BKAD Nasional, Nanang Mulyana
Ketua Umum BKAD Nasional, Nanang Mulyana

Pemilihan waktu itu hanya memilih ketua umum saja. Kelengkapan struktur organisasi lainnya diserahkan kepada ketua umum. Bijaksana menurutku, saat Pak Nanang mengajak kesepuluh perwakilan provinsi yang menjadi formatur, untuk duduk bersama menyusunnya. Pak Nanang minta waktu sekitar 30 menit. Sedang peserta yang lain diminta masih duduk di ruang pertemuan untuk membahas draft pakta integritas.

Aku tak ikut dalam penyusunan draft pakta integritas. Aku lebih memilih balik ke kamar. Mulai beres-beres agar besok tak repot dan melanjutkan menulis kegiatan ini. Banyaknya momen-momen bagus, sangat disayangkan kalau terlewatkan. Ini saja, masih banyak yang tak bisa ditulis. Kembali lagi faktor U atau malah B… ahaha….

Sambil mengetik, aku ngobrol dengan Wa Aboer. Pria luar biasa ini memang sering terlihat pada kegiatan-kegiatan pemberdayaan di Jawa Barat. Hampir dimana-mana selalu saja ada Wa Aboer. Dia ringan tangan orangnya. Mau membantu siapa saja yang membutuhkan. Asal bilang: tolong, dia siap membantu kita.

Dia cerita soal FesTIK. Dia sedikit mengeluhkan panitia yang tak mau menyuruhnya. Padahal dia siap membantu. Bagi Wa Aboer, permintaan orang lain agar dia membantunya merupakan cara orang menghormatinya. Menghormati Wa Aboer bukan dengan cara memuji atau mengelu-elukan namanya. Cukup bilang: “Wa, tolong persiapkan ruangan”, itu artinya menghormati dia. Nah, aneh kan?
Berbuat baik lah, maka akan kamu temui orang-orang baik. Macam Wa Aboer ini.

Lagi-lagi Pak Nanang mencariku. Saat aku lewat di depan sekretariat, seorang panitia bilang kalau aku dicari Pak Nanang. Aku jawab, ya nanti saja. Kalau memang penting pasti dia akan mencariku lagi. Tak lama masuk ke kamar, Pak Nanang pun telpon. Dia ingin bertemu sebentar denganku. Aku bilang di kamar. Dia minta aku keluar sebentar. Ah, ini orang seperti tak percaya diri saja. Bolak-balik cari bocah ingusan.

Benar dugaanku. Dia ingin aku membantunya. Aku akan diposisikan sebagai sekretaris mendampingi Mas Andhika sebagai Sekjen. Sedikit aku menawar, tapi akhirnya, terserah Pak Nanang saja. Tapi terlalu penting soal posisi. Sebelum ini pun sudah sering berkomunikasi melakukan pendekatan-pendekatan untuk mendorong regulasi soal ini.

Kalau sekedar untuk mendorong terbitnya regulasi atas penanganan aset eks PNPM, toh sedang dilakukan. Mungkin yang perlu dorongan adalah regulasi di tingkat daerah, dan peningkatan kapasitas teman-teman BKAD. Bagaimana bertransformasi dari BKAD yang tadinya sekedar mengurusi aset program menjadi lembaga yang berperan lebih luas lagi. Meski sudah berpengalaman sekian tahun menjadi BKAD, aku tidak yakin teman-teman ini sudah menyesuaikan diri dengan harapan pemerintah. Dari laporan teman-teman UPK, masih banyak BKAD yang bisanya hanya memimpin rapat bulanan dan MAD saja. Belum banyak yang berbuat lebih dari itu.

Masih ada teman-teman yang beranggapan bahwa BKAD ya mereka. Padahal jika melihat UU Desa dan PP 43, lembaga BKAD itu banyak ragamnya. Misalnya, panitia pembangunan jalan penghubung antara dua desa, meski hanya berumur satu tahun, tetap disebut BKAD tanpa harus ada embel-embel nama BKAD. Nama BKAD yang tersemat dalam paket program perlu sedikit diluruskan.

Menurut paparan dari Kang Hadian, lembaga BKAD yang sekarang masih eksklusif karena dibentuk dari dan oleh pelaku PNPM Mandiri Perdesaan. Padahal BKAD itu luas, bisa bekerjasama dalam bidang-bidang yang lain sesuai kewenangan yang diberikan oleh Kepala Desa kepadanya. Gampangannya, mari kita lihat pada pasal 92 UU Desa.

Lembaga BKAD masih banyak yang berkutat dengan aktifitas kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan saja. Belum bisa atau berani berinovasi mengembangkan kegiatan-kegiatan lain yang dibutuhkan oleh masyarakat. Tak sedikit yang terbatas pada aktifitas perencanaan pembangunan, bukan manajemen pembangunan secara keseluruhan. Artinya BKAD masih sering berhubungan dengan proses pembuatan RPJMDes, RKP, dan RAPBDes saja. Soal implementasinya masih lemah. Yah, Kang Hadian. Mau kuat bagaimana, dulu saja kan belum ada pemahaman begitu.

Soal pendanaan memang masih berasal dari satu sumber, yakni sangat bertumpu pada hasil surplus UPK. BKAD belum bergerak sendiri berdasarkan basis keswadayaan masyarakat. Susah memang. Masyarakat menganggap BKAD memiliki aset besar warisan program, makanya tak perlu didukung dananya. Ibaratnya tak mungkin, “nguyaih segara”.

Pelaksanaan kegiatan masih bersifat parsial, belum didesain sebagai sebuah kegiatan yang dibuat sebagai rencana strategis. Untuk urusan hasil kinerja, baru sebatas memperhatikan output input rasio, bukan memperbandingkan chost benefit rasio atau membandingkan biaya yang dikeluarkan dengan manfaat sebesar-besarnya yang harus diterima.

Ah, jadi butuh cermin nih, Kang Hadian. Aku pun masih begitu.

Malam itu sebenarnya aku ingin bergabung dengan teman-teman BKAD dari Banyumas. Biarpun tadi pagi sempat masuk ke kamar mereka, aku rasa belum cukup. Aku tak mau dikira sombong. Mentang-mentang jadi panitia, tak mau berbaur. Semoga ini hanya perasaanku saja.

Malam itu aku memanfaatkan jaringan wifi yang cukup bersahabat. Aku ingin melihat aktifitas teman-teman lain. Utamanya kegiatan di Lampung. Festival SeruIT yang dia adakan di Desa Hanura Kab. Pesawaran Prov. Lampung. Kasihan Rifky, hanya Om Jo yang bisa ke sana. Padahal beberapa waktu lalu dia berharap teman-teman mau ke sana. Alhamdulillah ikut senang. Acaranya sukses.

Rencana lain yang tertunda adalah soal menyelesaikan urusan web untuk toko online bagi istriku. Registrasi domain yang aku dapatkan saat di FesTIK 2015 kemarin belum sempat diselesaikan. Belum bisa merapat ke kantor Gedhe. Mau minta diajari sama Anton.

Belajar berwirausaha melalu bisnis online dengan menjual produk-produk lokal rencananya akan aku jajaki. Menyelesaikan urusan skripsi pun harus segera. Tak bisa lagi mengandalkan pemasukan yang ada. Kalau Desi saja bisa jadi supervisor, kenapa aku tidak. Aku rasa masih layak jadi tenaga pemasaran lagi.

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi”
(QS. Al Qashshash: 77).

 

1 KOMENTAR

  1. Pemikiran soal optimalisasi peran dan fungsi BKAD diluar konteks keprograman termasuk perlunya BKAD memiliki perencanaan strategis adalah bagian dari angin revitalisasi yang disuarakan di Jakarta khususnya di Divisi Pengembangan NMC, waktu itu lewat Rapimnas PNPM MPd yang dihadiri para korprov adalah awal kita mengajak para pihak melakukan reorientasi pola penguatan kelembagaan salah satunya adalah mendorong penguatan BKAD terhadap 7 aspek yitu : 1) Pembentukan dan Pengembangan Organisasi 2) Aturan Dasar/Statuta 3) Standar Organisasi Kerja 4) Kapasitas Kepengurusan 5) Pendanaan Organisasi 6) Peran dan Fungsi Terhadap Program 7) Peran dan Fungsi Terhadap Pengendalian UPK . nah… dalam implementasinya kawan2 fasilitator di berbagai jenjang kurang memberikan konsen yang cukup terhadap 7 aspek tadi sehingga praktis BKAD hanya ramai-ramai dibentuk tanpa diberikan bekal fisopis maupun ideologis tentang alasan Ber BKAD. Sikap dogmatis seringkai juga membuat kurang kreatif sehingga agenda2 pelatihan BKAD meski dilakukan tiap tahun terjebak pada materi yang sama hanya diberikan paket materi keprograman dan peran dan fungsi BKAD didalam pelaksanaan program semata. Relasi hubungan BKAD, UPK mempengaruhi performa BKAD di Lapangan, jika UPK Kuat BKAD Lemah jadilah BKAD kehilangan perannya, sebaliknya jika BKAD Kuat UPK Lemah, BKAD cenderung mengendalikan UPK secara berlebihan. Ketidak pahaman caat sebagai pembina Kerjasama Antar Desa sebagaimana diatur Permendagri 38 tahun 2007 telah memmperkuat image pemerintah bahwa BKAD adalah lembaga instrumen PNPM Mandiri Perdesaan. Berangkat dari momentum 2012 itulah saya dan kawan-kawan banyak memberikan berbagai pemikiran dalam bentuk hand out, bahan bacaan dan beberapa draft regulasi di tingkat lokal. Kenapa dikeluarkan dalam bentuk bahan bacaan dan hand out persoalannya begitu tinggi gunung es yang harus dicairkan manakala sebuah pemikiran ingin dijadikan sebuah kebijakan nasonal, maka menyebar pemikiran ke lapangan harapannya ada beberapa gelintir yang mengimplementasikan sehingga ketika pemangku kepentingan turun kelapangan dapat meyakini apa yang kita pikirkan dilapangan bisa diterapkan. Menurut supervisi saya di lapangan dari kurun waktu 2012-2014 banyak BKAD yang telah mengembangkan jejaring kerjasama dan mengangkat berbagai isu sebagai cara masuk untk mendapatkan kegiatan/proyek antara lain BKAD Kahayan Tengan dan Jabireun Raya di Kabupaten Pulang Pisau Kalteng mereka berkerjasama dengan Red++ mengelola dana donor untuk pelatihan masyarakat perambah hutan dengan kegiatan Pelatihan Jamur Tiram dan Anyaman Rotan isu yang diangkat adalah pencegahan kerusakan lingkungan akibat ketiadaan lapangan kerja. BKAD Kecamatan Lubuk Tarok Sijunjung SUmbar bekerjasama dengan Balai Benih Ikan dalam pengembangan kawasan perikanan darat melalui budidaya lele dan pengolahan ikan asap, BKAD di Kecamatan SUmedang Utara juga melakukan MOU dengan Dinas Kesehatan untuk isu sanitasi total berbasis masyarakat. Mngapa banyak daearah lain berkutat dengan aktifitas program saja sekali lagi belenggu bahwa segala sesuatu yang dijalankan harus ada instruksi berjenjang membuat kawan-kawan kurang berani melakukan terobosan-terobosan. Upaya kami di 2012-2014 juga termasuk mebuka usulan berbasis antar desa agar fungsi BKAD dalam membangun dan mengkerjasamakan isu2 kawasan muali tersentuh. Kita berharap UU Desa dan PP 43 jadi momentum menata dan memperkuat fungsi badan kerjasama antar desa dalam mensejahterkan masyarakat desa sekaligus membuka mata pemangku kepentingan tentang peran strategis bkad dalam mewujudkan capaian pembangunan daerah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here