Belajar Bersama Untuk Merevitalisasi Diri

0
387
Kemacetan di Gentong, Tasikmalaya

Bagian ke-1

Perjalanan kali ini bukan lagunya Shaggy Dog yang berjudul: “Jalan-jalan” atau “Hitam Putih” yang terdengar. Maklum saja, Kang Tarjo termasuk generasi lawas. Beda sama Gondes yang masih angkatan kekinian. Maka koleksi lagu yang ada di mobil Kang Tarjo cuma Koes Plus, Obie Mesakh, Yulius Sitanggang, dan penyanyi-penyanyi seangkatannya. Biarpun aku tak hafal syair-syairnya, paling tidak aku kenal suara-suara mereka. Pernah dengar juga. Tak terlalu pengaruh sih. Yah,cuma ingat sama Gondes saja… hehe….

Semula aku berniat naik bis langsung dari Purwokerto ke Bogor. Tapi saat berkomunikasi sama Kang Tarjo, dia mengajak berangkat bareng saja dari Ciamis. Agar bisa berkoordinasi dulu. Persiapan pelaksanaan kegiatan Rakernas BKAD di Bogor ini memang kurang di koordinasi. Otak-atik materi dan pembicara masih terus sampai H-1. Kehadiran pejabat khususnya dari kementrian pun belum jelas.

Kang Tarjo sendiri berangkat dari Cilacap setelah mengikuti acara Festival Nipah di Desa Ujungmanik Kec. Kampung Laut. Sayangnya aku tak bisa ikut nimbrung. Kondisi kesehatan yang belum memungkinkan. Kami rencana bertemu di Ciamis sekitar jam 12 siang, kemudian lanjut ke Bogor.

Untuk itu, aku segaja melewatkan menonton pertandingan final UCL 2015. Toh hasilnya juga bisa di prediksi. Superioritas El Barca masih sulit di bendung oleh Juve. Apalagi klub yang berjudul “Si Nyonya Tua” ini memang kebanyakan di isi oleh pemain-pemain yang sudah tua. Secara teknik secara keseluruhan pun masih kalah, apalagi stamina. Selamat bagi pendukung El Barca atas treble winner-nya. Utamanya kamu, Gondo… hehe….

Bis Budiman yang aku tumpangi dari Patikraja berjalan agak mengesalkan. Karena tahu bis Aladin mengalami rusak agak parah di terminal Wangon, sopir sengaja memperlambat perjalanan. Waktu dua jam perjalanan baru sampai di Majenang. Padahal beberapa hari lalu, bis yang sama membawaku dari Ciamis sampai ke Patikraja hanya butuh waktu sekitar 2,5 jam saja.

Suasana hati menjadi tak nyaman. Aku ingin segera sampai ke Ciamis. Istirahat sebentar, terus jalan lagi. Sampai-sampai penumpang di sebelah pun aku cueki. Tak aku tanyai apa-apa sampai dia turun di Majenang. Padahal dia cewek. Lho, apa hubungannya?

Untung saja saat memasuki wilayah Jawa Barat, si sopir mulai agak keras menginjak pedal gas. Bis melaju lebih kencang dan tidak sebentar-sebentar berhenti untuk ngetem atau menaikturunkan penumpang. Akhirnya bis memasuki terminal Ciamis dengan keterlambatan cuma 15-20 menit dari perkiraan waktu normal.

Lapar mulai mendera sejak masih di dalam bis. Apalagi waktu memang memasuki jam makan siang. Maka aku bergegas mencari warung nasi. Tak terlalu memperhatikan warung yang aku masuki, yang jelas aku ingin makan nasi putih dengan sayuran hijau sebenarnya. Tapi yang ada hanya ayam dan pecel goreng dengan lalapan. Yah, akhirnya aku pun pesan lele goreng. Lagi tak suka dengan daging ayam. Tak tahu kenapa.

Agak gelisah karena SMS dari Kang Tarjo tidak jua di balas. Rupanya bis yang dia tumpangi dari Cilacap pun terlambat. Dia baru sampai di terminal Ciamis beberapa saat setelah aku selesai makan. Saat itu kebetulan Juniar sudah berjalan menjemputku di sini. Bisa bareng jadinya, tak perlu menunggu Kang Tarjo.

Aku baru sadar dan di sindir sama Juniar dan Kang Tarjo saat kami berjalan ke mobil. Yah, apalagi kalau bukan soal penjaga warung tadi. Rupanya si penunggu warung adalah tante-tante yang… ehem… haha….

Baru sadar saat selesai makan. Sungguh.

Karena masih harus minum obat, aku tak pesan kopi di warung tadi. Padahal sejak pagi belum ngopi. Saat di rumah Juniar, baru aku seduh kopi. Ada tiga pilihan kopi bubuk di sana. Kopi Sukamantri, Lampung, dan Madiun. Aku sengaja pilih kopi Madiun agar bisa unggah di grup WA GDM. Sedikit mengalihkan Kang Yosep dari aktifitasnya menunggui sang istri hendak operasi. Ternyata perpaduan antara kopi Madiun dengan gula Kristal dari Pamarican nikmat juga. Eh, tapi operasi istrinya lancar kan, Kang Yosep? Syukur lah.

Rencana berangkat lebih awal di tunda. Kata Kang Tarjo jika berangkat jam-jam segitu masih macet di jalan. Apalagi di siang hari, lebih melelahkan. Lebih baik menunggu sore sekalian, agar perjalanan malam tidak terlalu macet. Yah, aku manut saja. Tak paham jalan, tinggal menumpang, dan yang penting selamat sampai tujuan. Cukup.

Senggang waktu itu kami manfaatkan untuk beristirahat. Kurang lebih dua jam aku tidur di rumah Juniar. Begitu pula Kang Tarjo. Lumayan lah. Semalam juga tidur agak terlambat. Persiapan fisik untuk kembali berjalan memang diperlukan. Terlebih bagi Kang Tarjo, dia harus mengemudikan mobilnya. Aku tak bisa menggantikan. Bukan karena tak paham arah, ketrampilan pun tak ada. Hanya punya SIM A yang selalu terselip di dompet. Aha.

Perjalanan dari Ciamis ke Bogor diperkirakan agak lama. Selain kondisi mobil, kalau terjebak macet di daerah Nagreg repot urusannya. Tak mengapa juga, keadaan terakhir di Bogor juga belum tahu. Apakah Pak Nanang, selaku ketua panitia sudah di sana atau belum. Pasalnya beberapa kali Kang Tarjo menghubungi, tak bisa. Nantinya baru ketahuan kalau untuk telpon, HP Pak Nanang sedang bermasalah. Pantesan.

Kami terjebak macet justru di daerah Gentong, Tasikmalaya. Jalanan padat merayap. Khawatir mesin kepanasan, kami akhirnya berhenti. Menunggu agak longgar. Kemacetan di Gentong tergolong parah. Beberapa kernet truk terpaksa memberi pengganjal agar truk tak mundur di tanjakan. Berkali-kali mereka melakukan itu. Momen seperti itu dimanfaatkan oleh para pedagang tahu. Mereka berteriak-teriak menawarkan dagangan. Tak kurang dari dua puluh orang, laki-laki dan perempuan. Miris melihatnya.

Pedagang tahu
Memanfaatkan momen

Mereka harus rela berdagang di malam hari, dimana keluarga-keluarga lain sedang bermesraan dengan di rumah. Berapa penghasilan mereka, aku kira pun tak banyak. Belum tentu mereka bisa menghabiskan lima puluh bungkus tahu. Padahal keuntungan per bungkusnya pun entah seberapa. Kemiskinan memang akan selalu ada sampai akhir jaman. Tinggal bagaimana mereka berusaha keluar dari zona kemiskinan dan kepedulian si kaya terhadap si miskin. Bukankah kita tahu dalam sebuah hadits yang menyebutkan bahwa kita menjadi kuat karena orang-orang lemah di sekitar kita. Nah.

Memanfaatkan waktu, aku mencoba mencari sudut yang pas untuk mengambil gambar di sana. Merangkak naik ke tanah yang lebih tinggi, terasa agak sulit. Aku harus melepas sandal agar tak selip. Perlahan saat naik dan turun sambil berpegangan pada seng yang dipasang di sana. Sepertinya sengaja dibuat sekat dengan rerumputan di sekitarnya untuk ditanami sesuatu nantinya. Ndlesek ya?

Kemacetan di Gentong, Tasikmalaya
Kemacetan di Gentong, Tasikmalaya

Tak terasa, kurang lebih satu jam kami menunggu kepadatan terurai. Kami hanya duduk-duduk sembari makan bekal sriping yang aku bawa. Air putih dalam botol mineral pun harus berbagi. Tak kepikiran untuk membeli bekal lain.

Kemacetan di daerah Nagreg malah tak seberapa. Kendaraan berjalan agak sedikit lambat, tapi tetap lancar. Mobil dibelokkan ke sebuah Pom Bensin di sana untuk member air pendingin mesin. Meski perut sudah mulai menuntut haknya, kami tunda dulu. Tak ada menu yang menarik di kantin di Pom itu. Kami sempatkan untuk buang air dan shalat dulu.

Sambil menunggu Kang Tarjo mengisi air, sebentar aku lihat acaranya Mario Teguh. Pembahasannya soal jodoh. Katanya, jodoh adalah cerminan diri, bukan tumpuan harapan. Artinya jika kita ingin mendapatkan jodoh yang baik, maka harus jadi orang baik dulu. Katanya pula, dalam memilih jodoh, ada baiknya meminta pendapat kepada ibu. Biasanya insting seorang ibu lebih tajam. Seorang ibu bisa menilai calon suami atau istri kita termasuk manusia baik-baik atau tidak. Perubahan akhlak kita setelah mengenal seseorang yang dekat dengan kita akan mudah ditengarai. Jika akhlak kita menjadi lebih baik, mungkin dia jodoh kita. Biasanya ibu akan menyetujuai, namun jika sebaliknya, kata Mario Teguh, berarti dia bukan orang yang baik buat kita.

Jangan pernah berharap kepada orang lain yang kita inginkan menjadi pendamping hidup sebagai tumpuan harapan perubahan. Sebab hanya diri kita sendiri lah yang bisa melakukannya. Jika berbicara soal harta pun demikian. Sekaya-kayanya calon suami, dia pasti tak suka kalau calon istrinya doyan menghambur-hamburkannya. Jika ada calon suami yang senang dengan kebiasaan perempuan yang gemar barang-barang mahal, kata Mario Teguh, bisa dipastikan si pria tidak serius. Andai jadi suami, hampir pasti rumah tangga tidak harmonis.

Sepakat, Pak. Bukankah laki-laki yang baik hanya untuk perempuan baik-baik, begitu pula sebaliknya.

Sesampainya di daerah Rancaekek, jalanan agak ramai. Saat itu banyak karyawan pabrik yang keluar. Kendaraan di kanan kiri jalan baik motor maupun angkot sedang menunggu untuk mengantarkan mereka pulang. Hati ini sempat berdesir. Ingat saat ibu melarangku pergi merantau. Padahal saat itu, selepas sekolah aku sangat ingin pergi. Aku ingin merantau ke kota besar entah itu Jakarta atau Bandung. Jadi karyawan pabrik pun tak apa-apa.

Ketertarikanku waktu itu karena kok kelihatan enak ya bisa merantau. Gampang cari uang. Meski cuma karyawan pabrik, bisa beli motor. Baju selalu baru saat lebaran, bisa kasih uang saku bagi para ponakan pula. Iri sekali waktu itu.

Untung saja, meski agak dongkol, aku turuti larangan ibu. Ternyata benar. Beberapa waktu kemudian, satu per satu pabrik-pabrik itu gulung tikar akibat krisis ekonomi yang menghantam negeri ini. Mereka yang tadi aku gambarkan, satu per satu pulang kampung atau beralih profesi. Ada yang masih bertahan di kota besar sih. Cuma kerjanya beralih menjadi kuli bangunan atau yang lain.

Ada dua keinginan yang tidak kesampaian hingga saat ini. Pertama saat ingin sekali kuliah di UGM. Dua kali mengikuti Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) dengan pilihan pertama selalu UGM, gagal. Kecewa sekali. Sampai menangis bahkan. Entah kenapa, saat itu kok seperti kepengin banget masuk UGM. Nah, rasa nggrentes terasa saat aku naik bis kota Yogya dan berputar-putar di seputaran UGM. Nelangsa.

Sesuatu yang baik menurut kita memang belum tentu baik di mata Allah SWT. Yang perlu kita yakini adalah Allah SWT pasti memberikan yang terbaik bagi kita. Apapun bentuknya.

Masih di daerah Rancaekek, kami putuskan makan malam. Kang Tarjo harus bersabar mencarikan tempat makan yang ada nasi putihnya. Aku menolak saat dia menawarkan nasi goreng. Bukan mengapa, aku harus sedikit kompromi dengan perut yang baru sembuh dari maag itu. Nasi goreng kurang baik bagi lambung, begitu kata Lik Kartem.

Sampai akhirnya kami berhenti di warung makan tenda. Aku pesan pecel lele, sedang Kang Tarjo minta soto. Singkat cerita, efek makan malam itu membuatku mengantuk. Maka saat masuk ke tol Cileunyi aku coba pejamkan mata. Bantal yang aku pinjam dari rumah Juniar aku sandarkan pada jok yang dimiringkan ke belakang. Aku kembali terjaga saat mobil keluar dari jalan tol.

Kang Tarjo memilih jalur via Cianjur untuk sampai ke Bogor. Pilihannya tepat. Jalanan tergolong sepi. Hanya satu dua bus yang melintas. Selebihnya hanya mobil-mobil pribadi dan motor. Kendaraan-kendaraan itu tentu lebih memilih jalan tol ketimbang jalur ini. Bisa lebih cepat sampai Jakarta. Bis yang ke Bogor pun demikian.

Di kanan kiri jalan terlihat warung-warung jajanan tutup. Mungkin sebelum ada jalan tol, warung-warung itu buka. Jalur ini mungkin ramai dengan kendaraan yang berhenti untuk istirahat atau sekedar membeli jajanan.

Begitu lah, setiap perubahan pasti akan menyisakan segolongan orang yang harus dikalahkan baik secara langsung atau tidak. Tinggal bagaimana mensikapinya. Tetap melakukan hal-hal biasa atau berinovasi agar mampu bertahan di tengah perubahan-perubahan itu. Hidup adalah pilihan. Pilih lah yang benar dan terbaik menurut kita. Tapi jangan malu untuk memperbaiki jika ternyata apa yang kita pilih ternyata tidak tepat.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here