Belajar ke Riau Tak Perlu Risau

0
171
Pengurus BKAD bersama pengelola Warung Barokah

Bagian ke-10

Saat istirahat makan siang, aku berdiskusi panjang bersama Pak Seno. Sebagai orang yang dituakan di Forum BKAD se-Prov. Riau, omongan beliau pasti didengarkan oleh kawan-kawannya. Ini kesempatan bagi ku untuk menyampaikan gagasan, ide, dan tentu titipan dari teman-teman UPK.

Permasalahan yang dihadapi teman-teman UPK, hampir ditemui di banyak tempat. Personil kelembagaan BKAD, terutama yang tidak memahami substansi pemberdayaan, selalu menanyakan “jatah”. Mereka seolah tak peduli dengan permasalahan yang dihadapi teman-teman UPK. Tunggakan dan kemacetan yang semakin bertambah, sepertinya menjadi tanggung jawab mereka. Alasannya agak masuk akal juga sih. UPK lah yang menerima honor bulanan.

Semestinya tidak begitu. Kebersamaan dalam memberdayakan masyarakat harus dikedepankan. Pola kerja kelembagaan dengan UPK sendiri sudah berbeda. Mereka bersifat ad hock dan ad cost, sedang UPK sudah diatur waktu nya. Tapi, timbul nya rasa iri itu wajar. Mereka ingin mendapatkan sesuatu karena merasa telah melakuka sesuatu. Akan tetapi tentu tak bisa mengandalkan dari satu sumber pendapatan saja.

Aku katakan ke Pak Seno bahwa posisi BKAD itu strategis. BKAD bisa saja membuka unit usaha lain dengan dana kelembagaannya. Kalau di rasa masih kurang modal, ada baiknya BKAD menginisiasi terbentuknya BUMADes atau BUMDes Bersama. Di situ lah nanti BKAD menyertakan modal nya. Keuntungan dari kegiatan usaha BUMADes dan atau BUMDes Bersama akan menambah pendapatan guna operasional kelembagaan.

Selain itu, kegiatan pemberdayaan ini akan mendekatkan para personil BKAD ke masyarakat. Jika teman-teman BKAD jeli, peluang ini bisa dimanfaatkan. Semisal teman-teman ingin menjadi kepala desa, ini saat yang tepat untuk pengabdian masyarakat. Tidak menutup kemungkinan bagi mereka yang ingin maju dalam Pilkada guna menjadi anggota DPRD. Kedekatan dengan konstituen sangat memungkinkan. Mengapa tidak?

Rupa nya Pak Seno menginginkan agar materi obrolan itu bisa didengar oleh semua peserta pelatihan. Pada sesi tanya jawab itu, beliau pun menanyakan hal yang sama. Yakni bagaimana agar BKAD bisa mendapatkan pemasukan lain, tanpa ngrusuhi UPK nya. Asyik. Aku suka itu.

Maka jawaban itu aku ulangi. Terutama masalah bagi hasil fifti-fifti tadi.

Aku paparkan juga kegiatan kami dalam kerjasama ini. Kami tidak begitu saja melepaskan mitra usaha bekerja sendiri. Sebab kami yakin, usaha rintisan ini rentan. Jika dibiarkan, bisa-bisa hilang secara perlahan. Kami ingin sama-sama berhasil. Maka, sejak awal sudah kami rumuskan apa yang mesti dilakukan dalam memperlakukan mitra usaha. Semua ini kami komunikasikan kepada calon mitra di awal waktu sebelum tanda tangan surat perjanjian.

Ada 2 (dua) kegiatan utama dengan masing-masing mempunyai sub-sub kegiatan, yakni: dukungan manajemen, dan manajemen kontrol. Kegiatan pertama dimaksudkan untuk memperlancar urusan usaha, sedang manajemen kontrol sebagai upaya pengawasan.

Wujud dari dukungan manajemen ada 4 (empat) kegiatan. Bantuan modal, dukungan operasional, bantuan pemasaran, dan antisipasi kerugian, menjadi satu paket kegiatan dukungan manajemen. Sedangkan dalam manajamen kontrol, kami melakukan kegiatan supervisi, stock opname, dan pengawasan dari BP.

Sebelum melakukan kerjasama kemitraan, biasa kami berdiskusi terlebih dulu. Pada tahap ini, kami melakukan penjajakan. Perhitungan estimasi biaya dan prediksi keuntungan, biasanya kami hitung, meski secara kasar. Kemudian kami menanyakan pula, mekanisme kerja yang akan dilakukan selama melakukan kerjasama ini. Semua pihak bisa saling bertukar pengalaman dan menyatukan kesepahaman. Jika memang dirasa memungkinan dan saling menguntungkan, kami akan jalankan. Jika meragukan atau tidak memungkinkan, ya terpaksa dihentikan.

Tahapan ini, meski masih amatiran, kami sebut sebagai studi kelayakan usaha. Tahap ini mirip dengan kegiatan verifikasi pada kelompok dana bergulir. Akan tetapi pada kesempatan ini, ada klausul-klausul yang bisa dimasukkan dalam surat perjanjian kemitraan.

Untuk masalah permodalan, seperti pada bagian ke-9, sudah aku tuliskan. Pilihan model kemitraan tergantung kesepakatan awal. Kami jelaskan juga kepada calon mitra tentang tata cara pembagian laba nya. Tujuannya agar kerjasama ini benar-benar dipahami dan disepakati tanpa merasa ada paksaan. Sama-sama enak. Sama-sama ikhlas. Sama-sama ridho.

Perhitungan permodalan yang diberikan, tidak termasuk biaya peralatan dan atau perlengkapan lain. Dana untuk pembelian etalase, rak, show case, dan buku-buku misalnya, tidak termasuk penyertaan modal yang diberikan. Oleh karena nya, status kepemilikan peralatan tersebut tetap milik BKAD.

Dalam menjalankan usaha mitra, kami ikut membantu dalam operasional nya. Sering saat kami berkunjung ke kios, kami dimintai tolong oleh mitra, Ketika datang sales menawarkan produk, biasa nya kami diskusi singkat. Keputusannya menjadi tanggung jawab bersama. Saat mereka pergi kulakan, salah satu personil kami pun ikut membantu membawakan barang dagangan.

Kunjungan kami ke kios tidak sekedar nya. Apa yang bisa dilakukan bersama mitra, akan kami lakukan. Melayani pembeli, menata barang dagangan, memeriksa tanggal kadaluwarsa, dan lain sebagai nya. Pada kesempatan ini biasa nya para mitra menceritakan kejadian yang dialami. Baik yang menyenangkan atau pun tidak. Jika ada masalah, sebisa mungkin kami membantu.

Ada kesulitan yang dihadapi oleh para mitra yang belum bisa kami penuhi. Mereka mengeluhkan saat kulakan. Mereka butuh armada untuk membawa barang dagangan. Kalau harus sewa mobil, tentu akan menambah biaya. Jika kulakan di grosir yang melayani antar barang, biasa nya harga-harga barang dagangannya relatif tinggi. Mereka kerepotan saat harus membawa barang dagangan tersebut sendiri. Pernah salah satu mitra, pengelola toko Mukti, terpeleset di pintu perlintasan kereta api saat pulang kulakan. Untung saja ada yang menolong dan tak apa-apa.

Harapan mereka, BKAD segera mempunyai armada untuk membantu saat kulakan. Bagi ku mudah saja membeli. Namun demikian, proses pengadaannya mesti disepakati dalam MAD. BKAD hanya penerima mandat. Tidak bisa melakukannya semau nya sendiri.

Selain itu, aku pun akan mencoba menghitung nilai pertambahan keuntungan yang bisa didapat. Pasalnya biaya operasional mobil tidak kecil. Kalau terlalu sering menganggur, bisa-bisa keuntungan usaha hanya habis untuk menutupi biaya operasional saja. Sedang nilai penyusutan mobil belum ter-cover.

Soal pemasaran pun kami ikut membantu. Biasa nya saat verifikasi dan pencairan dana pinjaman, keberadaan kios-kios tersebut kami informasikan kepada para ibu. Kami informasikan bahwa kios itu milik bersama. Keberadaannya diharapkan bisa menambah keuntungan, sehingga dana sosial bisa bertambah. Selain itu kami sampaikan kepada mereka, siapa pun boleh menitipkan barang dagangan di sana.

Pemikiran membuka kios itu pun dimaksudkan untuk membangun jejaring pemasaran. Para anggota pemanfaat dana bergulir yang agak kesulitan menawarkan dagangan, bisa titip di sana. Produk-produk yang dititipkan akan kami evaluasi nantinya. Kalau produk tersebut laku, Alhamdulillah. Jika kurang laku, akan di evaluasi bersama. Apa kekurangannya. Apakah pada kualitas, kemasan, atau harga nya. Setelah masalah itu ditemukan, BKAD bisa melakukan pelatihan yang menunjangnya.

Pada saatnya nanti, kami berharap para anggota kelompok tidak lagi kebingungan menitipkan barang dagangan. Cukup dititipkan di kios-kios tersebut. Para mitra yang berstatus sebagai karyawan freelance tak boleh menolak barang dagangan tersebut. Kami berharap, saat produk laku, mereka akan membelanjakan uang nya di kios mitra. Jadi uang nya hanya berputar di situ saja.

Promosi usaha mitra kami lakukan pula saat berkumpul bersama para stake holder. Kami sebarkan informasi tersebut saat berinteraksi dengan para PNS di lingkungan kecamatan, perangkat desa, dan yang lain. Sedangkan secara pribadi, kami pun mengalihkan sebagian belanja bulanan di kios tersebut.

Setelah adanya kios-kios tersebut, rapat-rapat tim kecil jarang dilakukan di kantor. Tim kecil tersebut dibentuk guna menghadapi kegiatan tertentu, semisal Festival Kartini, pameran, kunjungan belajar, dan lain sebagainya. Rapat kami lakukan di kios-kios tersebut secara bergantian. Tujuannya untuk meramaikan kios. Orang-orang akan tertarik dan bertanya-tanya, ada apa di kios itu?

Timbulnya rasa penasaran bagi konsumen itu penting. Pada saatnya, mereka akan datang ke kios untuk bertanya. Harapannya saat mereka datang, diikuti dengan belanja sesuatu. Trik ini aku dapatkan dari Bang Kastam, Kepala Pasar Wage Desa Kalisalak. Yakni membuat orang penasaran dan menjadikan usaha kita menjadi bahan perbincangan. Asyik.

Bentuk dukungan manajemen lainnya berupa antisipasi kerugian. Potensi kerugian bisa terjadi pada produk-produk yang mendekati kadaluwarsa. Produk yang lama tak laku pun menghambat cash flow. Lama nya perputaran produk sehingga mendekati kadaluwarsa disebabkan karena salah prediksi saat order. Ini terjadi karena masih taraf belajar dan meraba-raba. Produk yang bagaimana laku di pasaran. Item-item produk di coba.

Langkah yang dilakukan oleh kami ialah dengan membeli kembali. Meski produk tersebut tidak dibutuhkan, karena mendekati kadaluwarsa, tetap kami beli. Pernah pula kami mengadakan kegiatan dimana doorprize yang diberikan kepada peserta, berasal dari produk yang lamban jualnya.

Pertemuan rapat-rapat tim kecil yang kami lakukan pun berusaha untuk meminimalisir kerugian. Saat rapat itu, anggaran untuk membeli snack dan minum, kami belikan barang yang ada di sana. Kegiatan sosialisasi Program Usaha Pangan Masyarakat (PUPM) dimana BKAD ikut mendukungnya, pun dilakukan di salah satu kios mitra.

Dengan memberikan peluang usaha bagi mitra, kami berharap mereka bisa tumbuh rasa percaya diri. Mereka tak takut lagi membuka usaha sendiri. Andai pun mereka memutuskan untuk berhenti bermitra, kemudian mandiri, itu yang diharapkan. Belajar mengelola kios dengan praktek langsung tentu lebih mengena daripada sekedar teori.

Tasyakuran pembukaan Toko Mukti Pasar Desa Gambarsari
Tasyakuran pembukaan Toko Mukti Pasar Desa Gambarsari

 

Manajer Usaha Bersama di Warung Barokah Desa Kaliwedi
Manajer Usaha Bersama di Warung Barokah Desa Kaliwedi

 

Pengurus BKAD bersama pengelola Warung Barokah
Pengurus BKAD bersama pengelola Warung Barokah

 

BAGIKAN
Berita sebelumyaBelajar ke Riau Tak Perlu Risau
Berita berikutnyaBelajar ke Riau Tak Perlu Risau
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here