Belajar ke Riau Tak Perlu Risau

2
234
Semoga bisa berkumpul lagi, Kawan.

Bagian ke-12 (akhir)

Saat istirahat siang tadi, Bang Jo pindah kamar. Rupanya kamar yang dia tempati semalam sudah ada yang punya. Akhirnya aku ada teman ngobrol. Dan malam kedua ini, kami tidur satu kamar. Ingat satu kamar. Bukan satu ranjang… hehe….

Sebelumnya Kang Kosim sudah sedikit mengenalkannya. Dia bilang, aplikasi yang akan dipaparkan sudah dipakai di Majalengka. Kedatangan Kang Kosim dan teman-teman ke tempat Izzy guna belajar itu. Menurutnya aplikasi ini lebih mudah daripada yang lain. Ada beberapa keunggulan, terutama soal harga.

Paparan Bang Jo dijadwalkan setelah aku selesai. Perkiraan waktu yang disediakan panitia cukup. Setelah Bang Jo siap, aku pun minggir. Tapi aku tak keluar. Aku sengaja ingin mendengar paparan dari nya. Ini lah mengapa aku memberi judul tulisan ini dengan kata “belajar”. Aku memang ingin belajar pula di sini.

Kebiasaan mendengarkan paparan narasumber lain, sudah lama aku lakukan. Meski aku di undang sebagai narasumber, aku tak ingin melewatkan kesempatan belajar dari yang lain. Yang namanya langit masih ada langit. Tak perlu besar kepala biar sudah pernah jadi narasumber. Apa yang kita alami pada dasarnya adalah ujian. Jika mampu melewati, insya Allah kita akan naik kelas. Ujian itu berupa ghurur.

Aku masih ingat pesan Pak Agus. Guru Sosiologi semasa SMA. Beliau mengatakan bahwa seseorang akan dihormati karena 4 (empat) hal. Yakni karena kekayaan, keturunan, kekuasaan, dan ilmu pengetahuan. Dari keempat hal tersebut, hanya ilmu pengetahuan yang membuat orang kekal dihormati. Tentu saja ilmu yang diamalkan. Belajar pun bisa dilakukan kapan, dimana, dan dengan siapa saja.

Paparan awal dari Bang Jo terkesan garing. Karena masih terlalu umum. Mirip paparan ku di awal-awal. Tapi paparan selanjutnya menarik. Kemudahan memposting data dan perlakuan terhadap sistem aplikasi ini, terlihat mudah. Saat di kamar, aku bilang mudah kalau sekedar memaparkan yang begitu. Entah saat praktek… hehe….

Aplikasi Sistem Informasi Manajemen UPK (SIMUPK) memiliki beberapa kelebihan. Pertama soal harga. Harga yang ditawarkan Bang Jo relatif murah. Basis data berada di komputer masing-masing pemakai. Artinya server diletakkan di masing-masing UPK, tidak ditempatnya. Ini akan lebih aman.

Aplikasi SIMUPK berjalan pada sistem offline. Jika ingin disebarkan lewat internet, tinggal pasang output laporan yang bisa berbentuk PDF atau JPG.

Kadang orang berpikiran bahwa sebuah aplikasi yang bagus itu harus online. Padahal sistem yang online itu rentan dari pembobolan dan pencurian basis data. Selain itu, pilihan Bang Jo untuk memungkinkan berjalan di offline dengan pertimbangan kondisi. Tidak semua wilayah di Indonesia bisa jalan saluran internet nya. Maka sulit jika aplikasi ini harus berbasis online.

Bagaimana rasa aplikasi SIMUPK? Silakan unduh di www.simupk.net

Ada keuntungan lain saat memakai aplikasi ini. Bang Jo sudah memiliki tim di Gorontalo untuk mempostingkan database awal. Asalkan data kelompok peminjam dan pembukuannya komplit, aplikasi ini akan banyak membantu. Aplikasi ini akan diserahgunakan dengan surat perjanjian jual beli saat semua sudah oke. Data-data yang diberikan ke Bang Jo dan tim bisa di kroscek terlebih dulu. Dia juga membuka kesempatan kustomisasi jika menginginkan.

Selama penggunaan aplikasi ini, Bang Jo dan tim siap mendampingi dan menerima masukan. Dia sudah membentuk tim pendamping di beberapa tempat. Tim pendampingan yang sudah mahir ada di Gorontalo dan Majalengka. Rintisan penerapan aplikasi ini akan dimulai dari Riau.

Awalnya Bang Jo tidak berpikiran untuk menyebarkan aplikasi ini ke luar Gorontalo. Namun seiring berjalannya waktu dan kemudahan mengakses informasi, aplikasi ini pun menyeberang lautan. Perbaikan demi perbaikan terus dia lakukan. Pelbagai masukan dari para user sangat bermanfaat bagi nya.

Kesulitan terbesar yang ditemui adalah soal pendampingan. Keterikatannya karena statusnya sebagai salah satu pegawai di Pemda Gorontalo membuatnya tak bebas. Tentu dia tak enak hati saat terlalu sering ijin. Oleh karena nya, di setiap tempat yang memanggilnya, dia akan mengajari secara teknis pada salah satu orang. Orang tersebut akan menjadi tim teknis nya.

Nah, untuk urusan teknis, aku jadi ingat Hisam. Aku yakin komunikasi sesama pegiat TIK akan nyambung. Akhirnya malam itu, kami berkumpul di kamar. Aku, Kang Kosim, Bang Jo, dan Hisam berdiskusi panjang. Materi diskusi terkait pengembangan aplikasi ini. Secara teknis Hisam pasti mudah mengikuti. Sedang Kang Kosim akan mensosialisasikan penggunaan aplikasi ini ke teman-teman.

Melihat potensi besar ini, aku bilang ke Bang Jo untuk dipatenkan. Dia memang sudah berencana untuk itu. Sedang badan hukum untuk memasarkan aplikasi ini, aku usulkan berbentuk PT. Sebab akan lebih meyakinkan. Pengurusan itu tentu mudah bagi nya. Aku katakan pula, soal membangun tim, aku dan Hisam bisa membantu. Jejaring GDM bisa dimanfaatkan.

Usulanku ternyata masuk dalam logika nya. Kebetulan sekali, lokasi kami tersebar. Bang Jo dan tim di Gorontalo bisa memasarkan di Indonesia bagian timur. Jawa dan Bali, bisa mengoptimalkan Izzy dan aku. Sedang wilayah Sumatra ada Kang Kosim dan Hisam. Tinggal wilayah Kalimantan yang mesti di urus.

Pemikiran ini bisa diterima. Kang Kosim dan Hisam siap bergerak. Berbicara bareng Izzy bisa aku lakukan. Tinggal bagaimana Bang Jo mengaturnya. Bahkan tugas utama Bang Jo sebenarnya tinggal menyempurnakan aplikasi. Soal pendampingan teknis bisa dipindahtugaskan ke siapa saja.

Pengembang aplikasi serupa memang ada. Kalau tak salah hitung, total ada 4 pengembang. Akan tetapi aplikasi lain kurang user friendly. Belum lagi soal basis data yang kata nya masih di server milik pengembang. Sedang sistem online dalam posting data, tak bisa dilakukan di wilayah yang memang susah sinyal. Tentu kelemahan lain adalah soal harga jual. Aplikasi milik Bang Jo, tergolong murah.

Nah, Bang Jo. Sudah aku promosikan. Kalau sudah siap, kabari aku. Aku sudah buka rekening… hahaha….

Paparan Bang Jo tidak aku tuliskan di sini. Itu privasi orang yang aku belum minta ijin menyebarluaskan. Tapi soal promosi, itu sudah kesepakatan. Ahihi….

Setelah paparan materi, beberapa peserta merapat. Mereka ingin bertanya lebih lanjut. Padahal, saat dibuka sesi tanya jawab, mereka sudah bertanya. Andai tak dibatasi waktu, mungkin masih lanjut. Bang Jo pun telaten melayani keinginan para peserta. Termasuk mereka yang ingin diajari memakai aplikasi ini versi demo.

Selepas maghrib dan makan malam, kami disibukkan urusan tiket pesawat. Rupanya harga pesawat naik drastis. Tiket termahal tentu ke Gorontalo. Harga nya naik sampai 3 kali lipat. Mungkin karena esok hari Minggu. Meski panitia siap menanggung, kami tetap tak enak hati. Apalagi tiket pesawat yang mesti di beli ada 4 (empat).

Akhirnya perburuan tiket pulang hari Minggu, hanya untuk ku. Narasumber lain terpaksa pulang Senin. Ah, andai bisa pun, aku ingin pulang Senin saja. Selain harga tiket lebih murah, aku bisa berjalan-jalan dulu di sini.

Aku yang sudah pesan agar bisa terbang ke Jogja, tak jadi. Perhitungannya lebih baik turun di Jakarta lalu nyambung dengan kereta. Alhamdulillah, bisa. Jadwal kereta dari stasiun Pasar Senen masih terkejar. Konsekuensi nya, aku harus bangun gasik.

Malam itu, kami kumpul di kamarku. Ini malam terakhir bagi kami. Hisam yang merapat malam itu, aku ajak serta. Obrolan seputar pengembangan aplikasi, GDM, dan kegiatan pemberdayaan lain, kami diskusikan. Tidak terlalu serius. Termasuk cerita kenekadan Kang Kosim menyelenggarakan kegiatan ini.

Dia bilang, kegiatan ini semacam ambisi nya. Paska terpilih menjadi Ketua Assosiasi UPK Prov. Riau, dia ingin segera bergerak. Acara rakor dan workshop harus dilakukan. Padahal saat itu, belum ada dana. Kang Kosim dan teman-teman panitia bekerja keras untuk itu. Dia sempat bingung dan ragu. Pasalnya mendekati hari H pelaksanaan, konfirmasi peserta masih kurang. Tapi dia yakin, pasti ada solusi.

Keyakinan ini lah yang dia tularkan kepada segenap pengurus dan panitia. Hasilnya? Acara ini bisa terlaksana. Impiannya untuk memompa semangat teman-teman UPK, bisa terwujud. Dia paparkan kondisi UPK yang secara mental mulai melemah. Bahkan ada UPK yang ingin menyerahkan aset nya ke Pemkab. Mereka ingin mundur saja.

Kang Kosim tak ingin keadaan ini berlarut-larut. Informasi tentang kejelasan regulasi bisa ditanyakan ke pengurus Asosiasi UPK NKRI. Meski jawabannya masih sama, paling tidak bisa sedikit mengurangi beban moral. Motivasi untuk membuka usaha lain, dia pilih aku sebagai penggugahnya. Sedang urusan kemudahan pelaporan, diserahkan pada Bang Jo.

Luar biasa!

Itu yang bisa aku ucapkan. Semangat Kang Kosim pantas di tiru.

Aku bisa bayangkan bagaimana sulitnya koordinasi ini. Waktu tempuh Kang Kosim dari kecamatan Kuansing sampai ke Pekanbaru sekitar 3,5 jam. Jauh. Belum lagi persoalan kesolidan tim. Mereka harus terus di pompa semangatnya. Padahal Kang Kosim sendiri sempat galau. Apakah kegiatan ini akan berhasil atau tidak. Andai gagal, dia dan teman-teman harus menanggung semua biaya. Bisa-bisa mereka kerja bakti untuk melunasinya… haha….

Tak heran sebenarnya. Sejak pertemanan dulu, meski hanya via inbox, aku rasakan semangatnya. Dia tipikal pejuang tangguh. Saat aku dan Bang Jo katakan ingin menyebarkan aplikasi ini ke seluruh Sumatra, dia sigap menjawab: Siap!

Sayangnya malam itu kami tak bisa keluar. Aku harus istirahat. Takut ketinggalan pesawat esok nya.

Berbagi pengalaman di Riau membuatku bertambah semangat. Ada rasa syukur yang mendalam. Terlebih saat melihat perjalanan pulang teman-teman peserta yang tidak lebih baik. Mereka pulang ke rumah menggunakan perahu kayu. Sedang aku, enak naik pesawat dan kereta.

Para pejuang pemberdayaan seperti mereka harus diapresiasi. Teruskan perjuangan, Kawan!

Salam. Merdesa!

Semoga bisa berkumpul lagi, Kawan.
Semoga bisa berkumpul lagi, Kawan.
BAGIKAN
Berita sebelumyaBelajar ke Riau Tak Perlu Risau
Berita berikutnyaNikmati Pesona Curug Song Desa Kalisalak
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

2 KOMENTAR

  1. Setelah membaca ini dengan seksama, aku jadi senyuk senyum sendiri. Kata demi kata, kalimat demi kalimat aku selami. Aku benar benar merasakan ada kekuatan pikiran dan waktu di dalamnya… ?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here