Belajar ke Riau Tak Perlu Risau

0
224
Narsis sambil menunggu makan sahur... hihi....

Bagian ke-3

Sejak kepastian hari dan tanggal di Pekanbaru, aku segera hubungi Hisam. Dia tinggal di Pekanbaru. Pegiat Desa yang gondrong ini pernah satu kamar saat kegiatan PUSTIKOMNAS yakni di UIN Syarif Hidayatullah Tangerang. Waktu itu awal kami bertemu pada kegiatan pelatihan Sistem Informasi Desa dan Kawasan (SIDEKA). Saat itu aku bareng Hisam (Riau), Ipan (Tasikmalaya), dan Dahlan (Aceh).

Aku merasa butuh informasi tentang Pekanbaru dan atau Riau. Sebelum berangkat ke sini, aku tak mencari tahu tentangnya. Padahal biasanya, sebelum pergi ke sebuah tempat, aku akan menggali banyak informasi. Berdasar informasi-informasi awal itu, aku bisa menggali lebih dalam lagi. Pengetahuanku akan bertambah luas.

Bukan sedang tidak percaya dengan Kang Kosim dan Dike, pengetahuan Hisam tentang kota Pekanbaru, aku rasa lebih luas. Pasalnya lokasi rumah Hisam hanya butuh waktu sekitar 25 menit naik motor dari Pekanbaru. Sedang Kang Kosim butuh waktu 3,5 jam dari Kuansing. Lagipula, Hisam lebih sering berpetualang. Informasinya aku rasa lebih komplit.

Aku pun sudah merencanakan pergi ke salah satu desa dampingan nya. Rencananya aku akan pulang pada hari Senin. Sayangnya keinginan itu tidak kesampaian. Ada kegiatan yang aku harus hadir pada Senin pagi. Oleh karena nya, aku pulang pada hari Minggu. Keinginan untuk berkunjung ke Istana Siak Sri Indrapura pun terpaksa di tunda. Semoga di lain kesempatan bisa ke sana lagi.

Ketika menunggu Bang Jo datang, sebenarnya aku pun agak menunggu Hisam merapat. Aku kirim pesan via WA. Acara pelatihan UPK se-Prov. Riau bertempat di hotel Dafam. Dari Hisam pula aku tahu kalau tadinya hotel ini milik WNI keturunan yang dibeli oleh pribumi. Makanya berubah nama menjadi Dafam. Dulu bernama hotel apa? Tanya Hisam… hehe….

Rupanya keasyikan mendengar curhatan lanjutan dari peserta membuat kami terlena. Kami baru sadar kalau hari menjelang dini. Saat kami keluar mencari makan, sudah banyak pedagang sayur di pasar. Kata Dike, sayuran itu didatangkan dari Padang. Penduduk Pekanbaru jarang yang menanam sayur mayur. Kalau pun ada, jumlahnya masih terlalu minim. Mereka lebih suka mengolah sawit.

Melihat papan nama jalan Gajah Mada, aku tertarik. Bagaimana pola hubungan kerajaan Sri Indrapura dengan Majapahit. Seperti kita ketahui, kerajaan ini pernah menguasai Nusantara. Tentu kerajaan Sri Indrapura memiliki hubungan dengan kerajaan besar ini. Adakah hubungan harmonis antara mereka. Atau Sri Indrapura menjadi bagian dari Majapahit?

Ternyata tak mudah mencari jawabannya saat mengandalkan google saja. Apalagi nama-nama raja nya saja aku tak paham. Seingatku, pelajaran sejarah saat SMP dan SMA tidak membahas kerajaan ini secara detail. Salah satu nama sultan yang terkenal adalah Sultan Syarif Kasim 2. Karena jasa-jasa beliau penghargaan sebagai Pahlawan Nasional dari pemerintah.
Pewaris tahta Kerajaan Siak Sri Indrapura ke-12, lahir di Siak Sri Indrapura 1 Desember 1893. Beliau diberi nama Tengku Sulung Sayed Kasim atau yang populer dipanggil Syarif Kasim. Ayahnya, yakni Sultan Syarif Hasim adalah seorang raja yang kuat memegang prinsip Islam. Beliau mempunyai pandangan yang luas serta berusaha dalam meningkatkan kemakmuran kerajaan dan kemakmuran rakyat.

Sebagai seorang raja, sang Ayah menginginkan putra nya akan memimpin kerajaan seperti yang dilakukannya. Oleh karena nya, Syarif Kasim di didik dalam aspek fisik, mental spiritual atau kerohanian dan kecerdasan. Pendidikan ini beliau dapatkan di lingkungan istana hingga berusia 12 tahun.

Setelah Syarif Kasim berumur 12 tahun yaitu pada tahun 1904 ia dikirim ke Batavia, pusat pemerintahan Hindia Belanda. Baginda ingin agar Syarif Kasim, sebagai penggantinya, kelak dapat memimpin kerajaan dengan prinsip Islam dan pengetahuan yang luas. Pendidikan menjadi aspek penting. Investasi masa depan ini ditempuh oleh sang Ayah dengan tujuan mulia.

Di Batavia, Syarif Kasim belajar tentang pengetahuan hukum Islam kepada Sayid Husein Al-Habsyi. Beliau adalah ulama besar dan termasuk orang pergerakan yang pada tahun 1908 mulai berkembang di Batavia. Selain belajar mengenai hukum Islam, beliau juga menuntut ilmu hukum dan ketatanegaraan dari Prof Snouck Hurgronye dari Institute Beck en Volten. Pendidikan dari Prof. Snouck Hurgronye, membuka mata hati Syarif Kasim tentang kolonialisme. Kelak beliau pun memimpin rakyat Siak, menentang penjajah Belanda.

Seperti yang kita ketahui, Prof. Snouck Hurgronye lah yang berhasil mengungkap tabir kekuatan rakyat Aceh. Beliau yang menyarankan agar pemerintah Belanda memisahkan antara rakyat Aceh dengan Islam. Prof. Snouck Hurgronye yang pernah menyamar menjadi seorang ulama, menyarankan agar ajaran Islam yang berbau politik dijauhkan. Jika hanya urusan ibadah, silakan saja. Pemikiran beliau ini yang sekarang dianut sebagian orang dengan slogan: “Islam Yes, Politik Islam No”.

Sekembalinya dari Batavia pada tahun 1915, Syarif Kasim dinobatkan menjadi Sultan Kerajaan Siak Sri Indrapura yang ke-12. Saat dinobatkan, beliau baru berusia 23 tahun. Masih sangat muda dan memiliki semangat pergerakan melawan penjajah Belanda.

Penobatan ini membuat Belanda khawatir. Pasalnya Syarif Kasim adalah orang yang berpendidikan dan progresif. Oleh karena nya Sultan Syarif Kasim II kurang disenangi oleh pemerintah Hindia Belanda. Pemerintah Hindia Belanda mulai mencampuri urusan kesultanan untuk melemahkan posisi kesultanan.

Sultan Syarif Kasim 2 mulai menentang Belanda. Beliau memandang perlu membangun kekuatan militer. Para pemuda di latih untuk membangkitkan semangat perlawanan dan mempertahankan diri serta membela nasib rakyat.
Tentu saja pendidikan kemiliteran yang dilaksanakan oleh sultan menimbulkan kebencian Belanda. Terlebih saat sang Sultan jelas-jelas menolak campur tangan Belanda dalam urusan internal kerajaan.

Ketegangan pun terjadi. Pemerintah Hindia Belanda menempatkan satu battalion pasukannya di tangsi yang bersebarangan dengan istana dalam kondisi siap tempur. Sedang istana pun menyiapkan meriam yang siap siaga, mengarah ke tangsi tersebut.

Perlawanan sultan Syarif Kasim 2 berlanjut saat Jepang memasuki Riau. Salah satu nya penolakan beliau untuk mengirimkan tenaga Romusha. Termasuk melakukan perundingan dalam dengan Jepang saat terjadi pemberontakan Si Kodai. Pemberontakan ini dilakukan atas penangkapan raja-raja di Riau, kecuali raja Siak.

Atas jasa yang dilakukan oleh Sultan Syarif Kasim 2 ini, pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Almarhum Sultan Syarif Kasim II (Sultan Siak XII) dengan anugerah tanda jasa Bintang Mahaputra Adipradana. Nama beliau pun diabadikan menjadi nama bandara internasional di Pekanbaru, Riau.

Mempertemukan dan menjalinkan silaturahmi itu penting. Dulu setelah peristiwa hijrah, Rosulullah SAW pun melakukan yang demikian. Kaum Anshor dipersaudarakan dengan kaum Muhajirin. Tentu demi menguatkan ikatan persaudaraan. Ini pula yang coba aku lakukan. Yakni menjembatani pertemanan dan kolaborasi antara Kang Kosim dan Hisam.

Keinginan Kang Kosim untuk ikut mengembangkan semangat Gerakan Desa Membangun (GDM) perlu di dukung. Dia harus bertemu dan berteman dengan Hisam. Menurut Kang Kosim, kegiatan GDM belum terdengar di daerah Kuansing. Hisam mengakui kalau belum menjamah daerah itu. Kalau ke Bengkalis malahan sudah. Alhamdulillah, mereka bisa bertemu dan siap berkolaborasi.

Keadaan Hisam mirip seperti pegiat-pegiat desa yang lain. Kebanyakan dari mereka adalah single fighter. Andai mereka punya tim, biasa nya sedikit. Soal militan, tak diragukan. Sayangnya pula, amunisi berupa sumber dana dan peralatan pun minim. Aku berharap perkenalan Kang Kosim dan Hisam bisa saling melengkapi. Kang Kosim diberi mandat mengelola dana pemberdayaan; Hisam bisa mendukung pada kegiatan-kegiatan yang lebih nyata.

Malam itu kami keluar mencari makan. Setelah berputar-putar akhirnya kami menemukan angkringan di jalan Tuanku Tambusai. Kata Dike, dulunya jalan ini bernama Nangka. Sejak adanya otonomi daerah, Pemerintah berinisiatif mengganti nama jalan-jalan protokol dengan nama pahlawan. Tuanku Tambusai termasuk nama pahlawan daerah Riau.

Setelah migren hilang, rupanya aku bisa bangun awal. Meski makan malam itu selesai sekitar jam 02.30 WIB, aku tak ketinggalan waktu subuh. Tubuh ini pun tak merasa lungkrah. Biasa saja.

Aku diminta bersiap diri mengisi materi lebih awal. Jadwal pengisian yang semestinya dilakukan menjelang dan ba’da Ashar, dimajukan. Perwakilan dari Kemendesa diragukan untuk hadir. Kang Kosim mengaku dilempar ke sana kemari untuk telpon. Hasilnya tetap zonk.

Durasi waktu yang disediakan hanya sekitar dua jam. Kang Kosim minta agar materi nya sedikit saja. Nanti diperbanyak saat sesi tanya jawab. Katanya agar lebih mengena. Bukan hanya teori, tapi sesuai dengan apa yang diaplikasikan di Kebasen. Begitu pesan Kang Kosim sebelum aku berangkat ke sini.

Pagi itu acara pembukaan kegiatan. Keinginan panitia untuk menghadirkan Gubernur Riau tak kesampaian. Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat pun hanya mewakilkan. Perwakilan yang hadir ialah Indra Mughni, SE. Beliau pernah menjabat sebagai PjO Prov. Riau. Kecintaan kepada teman-teman UPK membuatnya sudi hadir. Padahal hari Sabtu termasuk libur.

Saat menyampaikan sambutannya, beliau pun berharap kepada pengurus Asosiasi UPK NKRI untuk terus mendesak pemerintah. Segera keluarkan regulasi yang jelas. Beliau khawatir jika regulasi itu terlalu lama, akan menambah masalah. Selaku aparat pemerintah, beliau mengaku tak bisa berbuat banyak tanpa instruksi dari Jakarta.
Saat Pak Indra hendak berpamitan, peserta menahannya. Mereka ingin curhat kepada pemerintah provinsi. Apa saja yang mereka sampaikan, aku tak mendengar. Saat aku lihat android ku, Hisam katakan kalau dia sudah menungguku di luar. Bergegas aku ke sana.

Yah. Komplit sudah. UPK nya curhat, BKAD nya juga, sekarang pemerintah provinsi nya pun sama. Ini memang kegiatan menampung curhatan kok… hihi….

Penampilan dengan rambut gondrong dan jenggot cukup lebat masih khas. Dulu saat pertama bertemu pun demikian. Apakah itu jenggot syar’i atau sekedar mode, tak aku tanyakan. Nggak terlalu penting juga. Pertemanan lebih penting daripada mengusili urusan demikian. Nafsi-nafsi lah.

Hisam menceritakan aktifitasnya akhir-akhir ini. Itu yang aku tanyakan. Poin menarik tatkala dia katakan sedang mengembangkan platform kedai desa untuk jualan online. Mirip dengan usaha desa di Jogja. Sama-sama ingin mengusung dan mempromosikan produk desa via online. Produk-produk desa bisa dititipjualkan di sana. Maka saat aku presentasi nanti, tentang hal ini aku singgung. Sekalian mengenalkan Hisam pada teman-teman UPK di sana.

Narsis sambil menunggu makan sahur... hihi....
Narsis sambil menunggu makan sahur… hihi….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here