Belajar ke Riau Tak Perlu Risau

0
195
Berbagi

Bagian ke-5

Paparan pertama tentang refleksi dan solusi saat berada pada titik jenuh rupanya menarik perhatian para peserta. Apa saja yang aku bicara kan mengena pada kondisi sekarang. Soal kemacetan dan tunggakan, surplus, pemberdayaan, honor, dan kelembagaan yang kadang hanya minta “jatah” saja. Apalagi kemacetan yang semakin bertambah, memperburuk keadaan.

Rupa nya banyak pihak yang menginginkan aset dana bergulir tersebut. Ada pemerintah kabupaten yang hendak cawe-cawe mengurusi terlalu dalam meski sudah ditegaskan bahwa aset ini milik masyarakat. Ada Pemerintah Desa yang ingin agar asetnya dibagi saja. Masyarakat pun ada yang nakal. Mereka beranggapan kalau program sudah selesai. Maka tak perlu lagi mengembalikan pinjaman. Timbul lah kemacetan.

Oknum pengurus kelembagaan pun ada yang berperilaku seperti pagar makan tanaman. Tidak terlalu menggubris permasalahan yang dihadapi UPK. Mereka lebih memikirkan diri sendiri. Bagaimana agar mereka pun diperhatikan.

Rumit.

Ketiga solusi yang dipaparkan, pas dalam pandangan mereka. Antusiasme bertambah. Wajah-wajah penasaran bermunculan untuk mendengarkan paparan selanjutnya. Daya tariknya adalah kata solusi. Kata ini sedang mereka cari. Tawaran tiga kegiatan solusi bisa dipraktekkan.

Sayangnya untuk mempraktekkan ketiga solusi pada titik jenuh tetap menemui kendala. Kendala terbesar memang kemauan untuk berubah. Perubahan itu tidak mudah karena menyangkut kebiasaan. Saat perubahan terjadi, kita harus rela meninggalkan zona nyaman untuk memulai lagi sesuatu yang baru. Sesuatu yang menuntut kita harus mau belajar.

Secara umum ada 5 (lima) kendala utama untuk berwirausaha. Kendala ini akan dihadapi oleh setiap orang. Baik pada kondisi netral maupun harus meninggalkan zona nyaman terlebih dulu. Zona nyaman adalah kenangan. Zona nyaman ibarat mantan.

Jadi, tinggalkan mantan agar bisa jadi manten. Syukur sang mantan bisa duduk bareng jadi manten. Ahay….

Permasalahan pertama soal mental. Masalah mental hampir ditemui di pelbagai bidang. Menata mental menjadi perjuangan terberat. Jika tak kuat mental bisa jadi ‘mental’ (bahasa Jawa). Kadang sampai mengganggu kejiwaan.

Mental dimaksud diantaranya rasa percaya diri, berpikiran positif, mental juara, dan tak berharap instan.

Percaya diri menjadi modal awal membangun mental. Kuatnya tekad dan kemauan untuk sukses berawal dari rasa percaya diri. Percaya pada diri sendiri. Tidak menggantungkan kepada orang lain. Hanya kita yang mampu merubah nasib sendiri (QS. Ar-Ra’d: 79).

Semua orang dilahirkan pada keadaan yang sama. Lemah tak berdaya. Seiring berjalannya waktu, perubahan menuju kekuatan diri semakin bertambah. Rasa percaya diri bisa kita pupuk dengan berkaca pada orang lain. Kalau orang lain bisa, mengapa saya tidak?

Percaya diri pun ada batasannya. Jangan sampai OD (over dosis). Terlalu percaya diri malah jadi ngisin-isini… hihi….

Berpikir positif menjadi sikap dan perilaku hidup yang harus terus dipupuk. Orang yang senantiasa berpikiran positif, hidupnya lebih bahagia. Kesehatan lebih terjaga. Hubungan antar sesama manusia pun menjadi baik. Ujung-ujungnya akan mendatangkan rejeki. Insya Allah.

Sedang orang yang berpikiran negatif, akan mengalami keadaan yang sebaliknya. Biasanya pola pikir ini dipengaruhi oleh lingkungan dan pertemanan. Pilah dan pilih teman menjadi penting. Bukan sedang mendiskreditkan. Tapi, pengaruh dari pertemanan bersama orang yang berpikiran negatif bisa berimbas buruk.

“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap” (HR Bukhari dan Muslim).

Dalam mensikapi hadits diatas pun akan terlihat apakah kita termasuk berpikiran positif atau sebaliknya. Orang yang berpikiran positif akan memahami substansi hadits tersebut. Sedang mereka yang berpikiran negatif, akan mengkritisi profesi yang diambil sebagai permisalan. Kamu pilih yang mana?

Mental juara akan membawa kita pada kesuksesan. Sikap mental juara berarti pantang menyerah. Kita berusaha untuk terus melakukan upaya agar lebih baik lagi. Mensyukuri keberhasilan-keberhasilan kecil agar bisa mensyukuri keberhasilan yang lebih besar. Mereka tak terlalu terpengaruh akan pujian atau caci maki. Pemilik mental juara akan tetap berjalan dalam kebaikan dan kebenaran.

Salah satu cara membangun mental juara adalah dengan cara menghargai orang lain. Setiap orang pasti memiliki keunggulan dan kekurangan. Menjadikan diri sendiri dan orang lain sebagai orang penting, akan membangun hubungan yang baik. Menghargai orang lain akan berimbas pada diri sendiri. Sikap kita kepada orang lain, akan dibalas setimpal. Seorang yang memiliki mental juara, akan berlaku demikian.

Nah, salah satu penyakit wirausahawan adalah keinginan serba instan. Mereka ingin cepat-cepat sukses dan menikmatinya. Bayangan orang sukses bagi mereka seperti tontonan di televisi. Duduk manis di belakang meja dengan pakaian perlente. Semua serba mudah, makan enak, dan bisa jalan-jalan kemana saja.

Ah, kamu kebanyakan nonton sinetron.

Padahal hampir semua pengusaha yang sukses, pasti mengalami jatuh bangun dalam berusaha. Mereka menikmati proses yang demikian. Kegagalan yang dialami menjadi penempa mental dan sarana belajar. Tak sedikit yang merindukan romantisme proses keberhasilan mereka.

Kesuksesan instan dan berproses seperti permisalan ayam broiler dan ayam kampung. Ayam broiler terlihat gemuk dan kaya akan daging. Karena proses pertumbuhannya dipacu. Tapi mereka rentan terhadap penyakit. Mudah stres dan mati. Harga nya pun murah. Sedang ayam kampung kebalikannya.

Permasalahan kedua yang dihadapi para wirausahawan adalah soal kemampuan. Kemampuan dimaksud berada pada dua sisi, yakni hard skill dan soft skill.

Pengertian hard skill secara teori disebutkan berupa kemampuan yang kasat mata. Kemampuan dalam melakukan pekerjaan sesuai dengan bidang yang digeluti. Contoh dari hard skill antara lain: menjahit, memasak, membuat laporan, programmer, dan lain sebagainya. Kemampuan ini bisa dipelajari baik dengan cara sekolah, kuliah, kursus, dan sejenisnya. Kualitas kemampuannya pun bisa di ukur.

Sedangkan soft skill berhubungan dengan kemampuan yang tak kasat mata. Kemampuan dalam mengatur diri sendiri dan berhubungan dengan orang lain. Soft skill berkaitan erat dengan kecerdasan emosi seseorang. Mereka yang memiliki soft skill tinggi, biasanya mampu mengendalikan diri dan bisa diterima oleh banyak orang. Contoh soft skill adalah integritas, inisiatif, motivasi, etika, kerja sama dalam tim, kepemimpinan, kemauan belajar, komitmen, mendengarkan, tangguh, fleksibel, komunikasi lisan, jujur, berargumen logis, dan lainnya.

Oleh karena soft skill lebih bersifat personal dan interpersonal, kualitasnya relatif. Kadang penilaiannya pun subyektif. Seseorang sulit menilai seberapa besar kualitas soft skill nya. Terkadang soft skill seseorang bisa diterima oleh orang lain, tapi kadang tidak bisa diterima bagi orang yang lain lagi.

Bagi sebagian orang, kemampuan hard skill lebih diunggulkan daripada soft skill. Mereka menganggap jika memiliki kemampuan teknis tinggi, otomatis akan menjadikannya sukses. Nyata nya banyak lulusan lembaga pendidikan yang kemudian tidak bersinar seperti saat menempuh ilmu di sana. Ini dikarenakan kemampuan soft skill nya rendah.

Kurikulum pendidikan kita yang lebih menekankan pada kemampuan hard skill pun memiliki andil. Pendidikan lebih menekankan pada kualitas seseorang yang bisa di ukur dengan nilai. Pendidikan karakter kurang diperhatikan. Yang dominan terjadi hanya transfer pengetahuan. Maka tak heran jika kualitas manusia hasil pendidikan di Indonesia tidak memuaskan. Ini disebabkan karena pendidikan hard skill lebih dominan daripada soft skill.

Dalam dunia kerja, kemampuan keduanya sama-sama dibutuhkan. Seseorang mesti bisa memadukan diantara keduanya. Seseorang tidak bisa mengandalkan hard skill atau soft skill saja. Kemampuan teknis (hard skill) jelas dibutuhkan. Tapi tatkala memiliki soft skill yang buruk, suasana dan hasil kerja pasti akan buruk.

Sering kita temui permasalahan non teknis saat terjadi kegagalan usaha. Permasalahan non teknis dimaksud karena rendahnya kualitas soft skill.

Saat semua peralatan dan perlengkapan usaha sudah dipenuhi, keberhasilan tak kunjung diraih. Ini terjadi karena kita salah dalam mengimplementasikan soft skill. Sering kali konsumen lari hanya karena masalah sepele. Padahal secara kasat mata bisa dilihat tempat usaha, produk, promosi, dan harga yang kita tawarkan, lebih kompetitif daripada pesaing.

Pernah aku merasa tidak enak dan enggan datang ke sebuah warung bakso yang terkenal. Bakso yang dijual rasanya enak. Dagingnya lembut, harganya bersaing, dan tempatnya pun nyaman. Tapi karena sesuatu hal, selera makanku berkurang.

Pasalnya saat pesananku tak kunjung datang, aku menanyakan ke pemilik warung bakso. Reaksi yang tak pantas dia lakukan. Dia membentak dan memarahi karyawannya dihadapanku. Ini lah penyebabnya.

Mungkin dia ingin memberikan pelayanan terbaik bagi konsumen. Sayangnya cara nya itu yang membuatku tak nyaman. Aku yakin kalau kamu mengalami hal demikian, pasti perasaannya pun akan sama. Ini salah satu contoh ketidakberimbangnya antara hard skill dan soft skill.

Berbagi
Berbagi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here