Belajar ke Riau Tak Perlu Risau

0
201
Terlalu menghayati... ihir....

Bagian ke-6

Saat aku mempersentasikan materi, Hisam duduk di depan. Aku ajak dia masuk. Aku akan memperkenalkannya nanti. Kesibukannya mengurusi kedai desa online, aku rasa pas dipadukan dengan kegiatan pemberdayaan teman-teman UPK. Suatu waktu aku berharap terjalin kerjasama antara mereka.

Kendala pemasaran, menurutku akan terbantu jika memanfaatkan platform kedai desa. Pemasaran online menjadi salah satu alternatif solusi kala kita kalah bersaing dalam memasarkan produk. Seperti kita tahu, pemasaran model konvensional sulit ditembus oleh produk-produk desa. Akhirnya kalah bersaing dan mati. Perlu inovasi dalam memasarkan produk desa. Hadirnya konsep pemasaran online diharapkan mampu menanggulanginya. Nah, keberadaan Hisam sebagai pegiat desa di bidang TIK akan banyak membantu.

Baik. Mari kita lanjutkan obrolan ini.

Kita akan membahas permasalahan ketiga. Permasalahan yang biasa disebut oleh kebanyakan orang, yakni modal. Modal memang menjadi salah satu kendala dalam berwirausaha. Tapi ternyata modal berupa uang, bukan modal utama. Modal berupa uang ini menjadi kendala setelah persoalan mental dan kemampuan.

Saking sulitnya masalah modal, sampai-sampai ada yang mengeluarkan tips dan trik usaha modal dengkul. Ini ajakan agar orang mau berwirausaha. Ada pula yang mengatakan modal nya cukup PALU GADA. Apa lu mau, gue ada. Nah.

Dari berbagai bacaan dan saran para pengusaha sukses, modal utama dalam berwirausaha adalah modal sendiri. Para pengusaha sukses sangat mewanti-wanti agar menghindari modal dari berhutang ketika kita baru merintisnya. Kita mesti menginvestasikan dana di sini. Salah satu cara mendapatkan modal itu ya model palu gada tadi.

Investasi modal sendiri dilakukan agar kita tidak merasa terbebani. Sebuah usaha yang baru di rintis belum bisa diprediksikan keuntungannya. Bisa sukses atau gagal. Andai gagal, modal yang hilang bisa dianggap sebagai investasi pengetahuan dan pengalaman. Meski kecewa, tak ada konsekuensi lain. Bandingkan dengan modal dari berhutang. Tentu akan sangat pusing jadinya.

Modal selanjutnya saat usaha sudah mulai berjalan adalah penyertaan. Penyertaan ini pun sangat disarankan bukan hasil pinjaman. Andai terpaksa berhutang, cari lah pinjaman dari orang-orang terdekat. Semisal orang tua atau mertua. Minta lah syarat ringan. Misalnya kita hanya diwajibkan mengembalikan saat usaha sudah berhasil. Syukur pinjaman itu tanpa angsuran… hehe….

Ada orang yang berkata, tanpa berhutang tak ada semangat. Orang yang tidak memiliki hutang saat berwirausaha akan lemah semangatnya. Pernah pula ada seminar bisnis dengan tema: “Sukses Bisnis dengan Pinjaman”.

Aku tidak sepakat dengan pandangan itu. Bagi ku, soal semangat tidak mesti disebabkan oleh hutang. Masih banyak pemicu lain yang bisa dijadikan pemacu semangat. Andai benar seminar tadi dan sukses bagi pelakunya, mungkin aku memang nggak gaul. Mesti belajar lagi.

Pengambilan modal pinjaman disarankan saat usaha benar-benar sudah menunjukkan grafik keberhasilannya. Usaha sudah mulai mapan dan modal sendiri maupun penyertaan masih kurang. Sedang peluang mendapatkan hasil lebih, memang terbuka lebar. Saat seperti ini bisa ditolerir memanfaatkan dana pinjaman. Bunga nya pun cari yang termurah.

Sebelum memutuskan mengambil dana pinjaman, perlu kita cermati persyaratan dan model bunga nya. Cari lah pinjaman dengan bunga flat, bukan anuitas. Model bunga flat artinya besaran antara pokok pengembalian dan bunga nya sama. Sedang anuitas mengutamakan pembayaran bunga terlebih dulu pada awal-awal angsuran, baru pokok pinjaman. Maka jangan kaget jika kita ingin melunasi ditengah-tengah waktu, pokok pinjamannya masih besar.

Saat memutuskan mencari pinjaman, ada baiknya kita memperhitungkan potensi keuntungannya. Apakah potensi keuntungannya masih bisa menutup kewajiban angsuran atau tidak. Jangan sampai keuntungan yang didapat lebih kecil dari kewajiban angsuran. Ini akan mengakibatkan tersedotnya aset kita untuk angsuran. Maka keputusan pengambilan dana pinjaman berbunga harus benar-benar cermat dan bijaksana.

Andai bisa diulas lebih mendalam, pinjaman dana berbunga sangat disarankan untuk dihindari. Sudah banyak contoh para pengusaha yang terjerat hutang. Praktek gali lubang tutup lubang sudah sering terjadi. Ujung-ujungnya penyitaan aset oleh pihak Perbankan.

Oleh karena nya pada awal-awal bergabung, bahkan sampai sekarang, aku sering berkerut kening. Mengapa salah satu bentuk pemberdayaan yang dibawa oleh program adalah pinjaman. Pinjaman bernama UEP dan SPP menjadi salah satu syarat dicairkannya BLM. Sampai sekarang, aku tak tahu jawaban pastinya. Tapi memang harus diakui, tanpa adanya pola pinjaman semasa program, mungkin aset warisan ini sangat kecil atau bahkan tak ada.

Menurutku, skema ini perlu di kaji ulang. Tidak harus demikian melakukan pemberdayaan. Masih banyak kreasi dan inovasi lokal yang lebih arif.

Untuk itu, aku usulkan kepada pemerintah untuk memberikan ruang seluas-luasnya kepada masyarakat dalam memanfaatkan aset dana bergulir ini. Yang penting tidak di korupsi dan tetap bermanfaat untuk masyarakat miskin. Apapun bentuk pemanfaatannya.

Permasalahan keempat adalah pemasaran. Pemasaran menjadi masalah yang cukup serius. Jaringan pemasaran konvensional begitu kuat. Apalagi produk-produk pabrikan menyerbu secara sporadis. Jika dibandingkan dengan produk desa, produk-produk pabrikan memang lebih unggul, lebih menarik, dan biasanya lebih murah. Saluran distribusi produk pun sudah tertata rapi. Dukungan promosi melalui media massa begitu gencar. Konsumen baik yang bersifat analitic maupun heuristic lebih condong memilih produk pabrikan.

Tantangan pemasaran produk desa memang besar. Perlu inovasi dan kreatifitas pelaku usaha desa agar mampu bersaing dengan produk pabrikan. Pemerintah harus turun tangan membantu masyarakat. Apalagi era MEA sudah menjelang. Jika tak ada proteksi dan upaya lain, maka masyarakat kita hanya jadi konsumen. Akan terjadi ketergantungan terhadap produk pabrikan dan atau impor.

Salah satu kreatifitas yang sedang dilakukan oleh Hisam adalah kedai desa. Maka pada kesempatan ini, aku perkenalkan dia. Teman-teman UPK bisa bekerjasama dengannya guna memasarkan produk-produk yang dihasilkan ketua dan atau anggota pemanfaat dana bergulir. Mereka bisa menitipjualkan produk masyarakat di kedai desa. Soal teknis, silakan berhubungan langsung dengannya.

Saat istirahat nanti, aku lihat beberapa orang merapat ke Hisam. Mereka tertarik dengan konsep kedai desa. Tentu mereka ingin tahu lebih banyak. Sebab aku memang tak memberikan waktu bagi Hisam untuk berbicara. Durasi paparan teori ku sangat pendek. Kang Kosim menginginkan durasi saat diskusi lah yang lama.

Dalam hal pemasaran, ada yang perlu diketahui secara mendasar. Yakni kebutuhan masyarakat dan tingkat persaingan yang sudah ada. Kedua informasi ini akan diolah dan menjadi rumusan konsep usaha melalui implementasi marketing mix.

Paparan tentang marketing mix, aku menggunakan 5 P (Product, Price, Place, Promotion, and Physical Evidence). Jika kita sudah mengetahui informasi dasar mengenai kebutuhan masyarakat dan tingkat persaingan, maka strategi yang dipilih akan lebih mengena. Sebab sesederhana apapun, yang namanya perencanaan usaha mutlak diperlukan.

Pernah ada yang mengatakan bahwa usaha itu jangan terlalu banyak pertimbangan. Bras bress bae. Kuncinya ada pada eksekusi. Jika terlalu banyak pertimbangan malah bisa-bisa batal.

Sepakat!

Dalam memulai usaha, memang tak perlu banyak pertimbangan. Faktor pembeda nya adalah keberanian mengeksekusi. Namun demikian, yang namanya perencanaan bisnis tetap diperlukan. Terlalu bras bress menurutku, konyol. Itu bunuh diri namanya.

Praktek pemasaran bisa dilakukan melalui 4 (empat) cara. Yakni memasarkan sendiri, berjejaring, berafiliasi, dan berkolaborasi.

Sebagai wirausahawan, kita dituntut bisa memasarkan sendiri produk kita. Jangan pernah bermimpi bisa menjadi seorang pengusaha jika kita enggan memasarkan produk sendiri. Alasan malu, tak bisa, atau bukan bidangnya, buang jauh-jauh. Logika nya, bagaimana kita akan mengajari karyawan kalau kita sendiri tak bisa menjual.

Masih juga sulit menjual? Belajar!

Cara memasarkan produk yang lain, melalui jejaring. Yang perlu kita ingat, bahwa produk yang kita jual membutuhkan banyak konsumen. Jika kita tidak berjejaring, sulit rasanya mencapai omzet minimal agar kita tak mengalami kerugian. Oleh karena nya, perbanyak lah teman agar jejaring kita luas. Semakin banyak teman atau luas jejaring kita, akan semakin besar potensi konsumen yang kita sasar.

Selanjutnya, kita perlu berafiliasi. Afiliasi dilakukan guna menambah pertemanan juga. Berafiliasi juga dimaksudkan untuk memperkuat usaha kita. Salah satu bentuk afiliasi adalah bergabung dalam assosiasi. Contohnya ya, Asosiasi UPK ini.

Saran lain dalam memasarkan ialah dengan berkolaborasi. Teman-teman UPK bisa berkolaborasi guna mengembangkan usaha. Kolaborasi yang dibangun tentu dalam bingkai mutualisme. Minimal sekali tidak dirugikan. Kolaborasi ini penting untuk memperkuat posisi dan pencitraan positif sebagai lembaga yang inklusi.

Guna memasarkan produk kelompok, BKAD Kec. Kebasen telah berkolaborasi dengan Asosiasi Sales Nasional Indonesia (ASNI) region Barlingmascakeb. Rencananya dalam waktu dekat ASNI akan membuka warung makan. Produk-produk kelompok bisa dititipjualkan di sana. Saat bulan Ramadhan kemarin, ASNI membantu memasarkan beras asli dari petani di wilayah kecamatan Kebasen.

Permasalahan kelima atau yang terakhir adalah pengembangan. Ketika mulai berbicara pengembangan usaha, biasa nya mentok. Padahal pengembangan usaha diperlukan untuk mengantisipasi titik jenuh usaha yang sedang digeluti. Pengembangan usaha disarankan untuk dilakukan pada saat bisnis yang sekarang sudah memasuki fase kedewasaan.

Seperti yang aku tulis pada bagian ke-4 tulisan ini, solusi rekonstruksi belum tentu berhasil. Maka kita harus lompat ke kurva yang kedua. Pengembangan usaha ini merupakan penerapan dari kalimat: Lompat ke kurva yang kedua.

Kesulitan terbesar dari pengembangan usaha adalah kemauan untuk belajar. Dalam pengembangan usaha ini kita dituntut belajar lagi. Belajar tentang manajemen usaha lain. Pada saat ini, kita pun harus mau keluar dari zona nyaman. Biasanya permasalahan pengembangan usaha dikarenakan kita kurang membuka wawasan. Kita terlalu asyik dengan usaha yang sudah berjalan.

Sudah pewe.

Pada slide pengembangan usaha, aku sampaikan tiga jenis program. Yakni program jangka pendek, menengah, dan panjang. Ketiga program ini mutlak dilakukan agar usaha dan atau lembaga kita bisa bertahan. Oleh karena nya dalam menjalankan aktifitas kelembagaan, sebaiknya mengarah pada ketiga program tersebut.

Pada dasarnya program-program ini sama dengan ketiga solusi yang aku sampaikan pada bagian ke-4 tulisan ini.

Program jangka pendek yang bersifat kuratif, berwujud rekonstruksi. Program jangka menengah yang dilakukan dengan cara ekspansi, berwujud lompat ke kurva kedua. Sedang program jangka panjang yang bersifat preventif, berwujud mempersiapkan kurva ketiga.

Terlalu menghayati... ihir....
Terlalu menghayati… ihir….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here