Belajar ke Riau Tak Perlu Risau

0
187
Pengingat

Bagian ke-7

Karyawan yang memiliki mental wirausaha lebih disukai. Cara mereka bekerja tidak biasa-biasa saja. Bagi nya bekerja bukan sekedar berangkat pagi, pulang sore, mengerjakan apa yang sudah biasa dilakukan, dan menunggu saat gajian. Mereka paham apa yang sedang dan semestinya dilakukan. Karyawan jenis ini merasa ikut memiliki perusahaan dimana dia bekerja. Oleh karena nya, mereka bekerja secara optimal. Sayangnya karyawan jenis ini jumlahnya sedikit.

Kebanyakan mereka bekerja seadanya. Sering bermalas-malasan saat tak ada pengawasan dari pimpinan. Suka menunda-nunda pekerjaan. Mereka bekerja secara linier. Tidak kreatif dan selalu menunggu instruksi. Mereka berpikir, daripada salah lebih baik menunggu perintah. Toh gaji nya sama. Persoalan mental memang menjadi pembeda.

Sering menjadi bahan pertanyaan bagi sebagian karyawan, mengapa ada karyawan yang relatif baru, karir nya begitu cemerlang. Sedang mereka yang sudah lama, tak kunjung naik posisi. Kenaikan honor pun hanya sebatas tunjangan saja. Sering timbul prasangka yang tidak-tidak. Isu yang berkembang bisa macam-macam. Karyawan yang relatif baru tersebut bisa dituduh KKN, menjilat, sok, suka cari perhatian, dan tuduhan negatif lainnya.

Kadang memang demikian. Tapi sebagai seorang pimpinan, terlalu naïf jika menaikkan posisi karyawan didasari faktor-faktor yang dituduhkan tadi. Mereka tak akan begitu saja melakukan itu. Kredibilitas nya bisa hancur. Bagi mereka, karyawan yang dipromosikan biasanya memiliki kelebihan sendiri. Salah satunya ya, mental wirausaha tadi. Istilahnya karyawan intrapreneur.

Bertransformasi menjadi karyawan intrapreneur ini yang mesti dituju oleh teman-teman UPK. Sebab maju mundur nya lembaga ditentukan oleh pengelola sendiri. Mereka bukan PNS atau karyawan sebuah perusahaan yang sudah mapan. Besarnya kemacetan dan idle money serta tingkat pendapatan ditentukan oleh kinerja mereka. Kemandirian yang diinginkan oleh pemerintah adalah kemampuan membiayai operasional lembaga dari hasil usaha nya dan tetap melakukan kegiatan pemberdayaan masyarakat.

Aset dana bergulir harus dikembangkan. Penggunaanya mesti mempertimbangkan faktor efisiensi, kemanfaatan bagi masyarakat, dan bisa mendatangkan keuntungan. Keuntungan ini diinvestasikan kembali untuk menjaga nilai mata uang, keberlanjutan lembaga, pengembangan usaha, dan pemberdayaannya.

Titik kritis yang mesti dibenahi adalah masalah mental. Mental wirausaha mesti dimiliki agar menjadi karyawan intrapreneur. Saat mental wirausaha dimiliki, maka teman-teman UPK akan bisa menularkan kepada karyawan lain atau mitra usaha.

Untuk membangun mental wirausaha, yang pertama harus dibenahi adalah paradigma keliru terhadap pengusaha dan uang. Ada yang menganggap jika pengusaha itu jahat. Mereka hanya menguras tenaga orang lain untuk memperkaya diri. Pengusaha mengeksploitasi manusia dan alam untuk kesenangannya sendiri. Egois. Mereka suka berfoya-foya diatas penderitaan orang lain.

Benar. Memang ada pengusaha yang demikian. Tapi, masih banyak pengusaha yang tidak demikian. Para pengusaha yang sukses itu justru niat awalnya untuk menolong orang lain. Mereka ingin membangun bisnis guna membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain. Kalau mereka sukses dan menjadi orang kaya, itu efek positif nya.

Paradigma keliru tentang uang pun mesti kita perbaiki. Kebanyakan kita menganggap uang adalah segalanya. Dengan uang hidup akan bahagia. Bisa membeli apa saja. Hidup enak dan bisa main suruh. Tidak begitu sebenarnya. Uang hanya lah sarana. Sarana untuk memberikan sesuatu yang lebih kepada orang lain.

Ada juga yang berpendapat bahwa uang adalah sumber malapetaka. Uang akan mengalihkan fokus hidup hanya pada nya. Tugas utama sebagai seorang hamba Tuhan akan kabur. Oleh karena nya, uang sedikit saja. Biar lah di dunia tak berpunya, asal mati masuk surga. Ealah.

Kedua paradigma keliru tentang pengusaha dan uang itu membuat kita sulit menjadi seorang pengusaha. Minimal menjadi intrapreneur. Pasalnya energi negatif yang keluar dari paradigma keliru tersebut, akan berimbas pada pola pikir kita. Otak yang sudah tertanam paradigma itu akan mempengaruhi alam bawah sadar kita. Oleh karena nya, sulit terbangun jiwa wirausaha.

Solusinya? Buang jauh-jauh paradigma tersebut. Perbaiki.

Aku ingat kisah para sahabat Rosulullah SAW. Ada 9 dari 10 para sahabat yang dikenal dengan Assabiqunal Awwalun, yang berprofesi sebagai pengusaha. Hanya Ali RA yang berprofesi sebagai pendidik.

Dikisahkan pula kekayaan Usman bin Affan sungguh banyak. Jika banyak unta di jajar di padang pasir sejauh mata memandang, dan punggungnya ditempatkan harta kekayaan Usman, semua akan penuh. Bahkan sampai tak kelihatan, harta Usman masih banyak. Dia kaya raya.

Akan tetapi kekayaan tidak membuatnya lupa diri. Dia menyediakan berapa pun harta yang dibutuhkan untuk mendakwahkan Islam. Selain itu, Usman bin Affan pun terkenal seorang yang pemalu. Dia tidak suka menganggu privasi orang lain.

Dikisahkan pula saat hendak bertemu dengan Rasulullah SAW, Usman segera balik kanan saat dia tahu Rasulullah SAW sedang di kamar. Meski Aisyah RA, sudah mengijinkan dia masuk saja, Usman menolak. Dia tidak ingin menganggu istirahat sang Rosul. Keinginannya ditunda.

Bergegas Rasulullah SAW bangun dari peraduannya. Dia mengejar Usman dan mengajaknya masuk. Rasulullah SAW paham sifat para sahabatnya. Usman cenderung pemalu. Beda dengan Umar yang gagah perkasa.

Nah, gambaran pengusaha yang kita idamkan seperti Usman bin Affan tadi. Pengusaha yang mau membiayai sebuah aktifitas kebaikan bagi masyarakat. Pemberdayaan masyarakat butuh uang. Mengubah kebiasaan buruk masyarakat berhutang pada rentenir, pun butuh uang. Sedangkan untuk mendapatkannya, selain bekerja, pun harus ada usaha (bisnis).

Dengan menjadi seorang pengusaha, kita bisa berbuat banyak. Kita bisa membantu orang lain dengan memberikan peluang usaha, atau menjadikannya karyawan. Dana yang ada di UPK bisa dimanfaatkan untuk itu. Pembukaan usaha lain dimaksudkan untuk memberdayakan masyarakat. Untuk menambah pendapatan mereka, atau mendapatkan pekerjaan atau usaha bagi yang masih menganggur.

Nah, kemampuan kita dalam mengembangkan usaha, membutuhkan mental sebagai seorang wirausahawan. Namun, tatkala paradigma keliru tentang nya masih bercokol dalam diri kita, sulit untuk dilakukan. Maka perbaiki paradigma itu. Bayangkan kebaikan yang bisa dilakukan dengan menjadi seorang pengusaha.

Mental yang harus dibangun selanjutnya adalah keberanian. Berani bermimpi dan bertindak. Bermimpi mewujudkan kesejahteraan bersama dan bertindak untuk itu. Keberanian menjadi pembeda. Banyak orang yang enggan bermimpi, apalagi bertindak. Mereka takut. Takut gagal. Takut salah.

Sebagus apapun gagasan dan pemikiran, jika tak ada keberanian untuk mengeksekusinya, maka tak ada arti.

Setiap aktifitas pasti menemui sejumlah masalah. Yang mesti kita lakukan adalah mengelola masalah, bukan menghindari atau menerjangnya. Yakin lah bahwa setiap masalah pasti ada solusi nya. Mengelola masalah dengan membuat beberapa alternatif solusi menjadi pilihan yang bijak. Masalah-masalah itu akan membuat kita bertambah dewasa.

Seperti orang bilang: “menjadi tua itu keniscayaan; menjadi dewasa itu pilihan”.

Berani saja tidak cukup. Mental yang mesti dibangun adalah kreatif dan inovatif. Mental kreatif dan inovatif mesti kita tanamkan. Tidak hanya mengandalkan pakem dalam bekerja dan berusaha. Kreatif dan inovatif dibutuhkan untuk memenangkan persaingan. Mental ini pun dibutuhkan saat terjadinya perubahan. Seperti yang dialami sekarang. Perubahan politik yang berimbas pada perubahan kebijakan, membuat nasib pengelolaan dana bergulir, seperti tak terurus.

Sisi kreatifitas dan inovasi yang dibutuhkan bukan saja dengan mendesak dikeluarkannya regulasi. Sebab pada dasarnya, semua sedang menunggu. Kita menunggu regulasi pemerintah; pemerintah sedang menunggu regulasi yang seperti apa yang kita maui. Pemerintah juga tidak akan mengeluarkan regulasi yang memberatkan kita. Oleh karena nya, munculkan lah kreatifitas dan inovasi yang bisa kita lakukan. Ini akan membantu pemerintah dalam menarik sebuah benang lurus yang menjadi pedoman dikeluarkannya regulasi.

Kreatifitas dan inovasi dalam berwirausaha mutlak dilakukan. Sebab selalu saja akan ditemui yang namanya titik jenuh. Saat titik jenuh menjelang, kreatifitas dan inovasi untuk mengembangkan usaha, harus muncul agar bisa tetap bertahan.

Setelah berani mengambil keputusan, hal terberat yang lain adalah konsisten. Tidak hangat-hangat tahi ayam. Konsistensi dalam berusaha bermula dari tekad yang kuat. Paradigma keliru tentang pengusaha dan uang mempengaruhi pula. Apalagi jika keberanian yang muncul, hanya setengah-setengah.

Oleh karena nya, saat closing statement nanti, aku katakan: “angger wani aja wedi-wedi. Angger wedi aja wani-wani”.

Hampir di semua bidang, jika kita tidak konsisten melakukannya, akan bubar. Konsistensi ini berhubungan dengan mental juara. Seseorang yang memiliki mental juara, biasanya lebih konsisten. Mereka yakin apa yang dilakukan itu benar. Maka, mereka tetap konsisten menjalaninya. Tak terlalu terpengaruh dengan pujian atau cacian. The show must go on.

Mental yang harus dibangun selanjutnya adalah menjadi seorang pembelajar. Kita harus tetap mau belajar. Kemauan untuk terus belajar membuat kita kaya akan pengetahuan. Dengan belajar pula, kreatifitas dan inovasi bisa berjalan.

Belajar tidak mesti di bangku sekolah atau kuliah. Dimana pun dan kapan pun kita harus belajar. Belajar dari buku, dari orang lain, dari kegagalan, dari pengalaman, bahkan dari anak kecil.

Steve Job mengingatkan kita dengan kalimat sakti: “Stay Hungry, Stay Foolish”.

Pengingat
Pengingat
BAGIKAN
Berita sebelumyaBelajar ke Riau Tak Perlu Risau
Berita berikutnyaBelajar ke Riau Tak Perlu Risau
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here