Belajar ke Riau Tak Perlu Risau

0
257
Kedekatan emosional di bangun melalui kegiatan Belajar Antar Kelompok

Bagian ke-8

Sesederhana apapun, yang namanya perencanaan mesti dilakukan. Dengan perencanaan ini, kita akan tahu apa-apa saja yang mesti dipersiapkan. Kegiatan apa saja yang akan dilakukan. Berapa estimasi biaya yang dibutuhkan. Apa output dan atau outcame yang dihasilkan. Kira-kira apa yang harus dilakukan jika rencana yang dilakukan tidak sesuai harapan. Semua mesti dipikirkan di awal.

Namun demikian, jangan terlalu detail dan rumit. Sebab akan membuat kita ragu, takut, dan akhirnya batal melakukannya. Perencanaan yang dibuat semacam panduan saja. Pada praktiknya, kita mesti terus belajar, berkreasi, dan cekatan berinovasi. Keyakinan bahwa kebaikan akan selalu di tolong oleh-Nya mesti ditanamkan. Andai apa yang kita rencanakan tidak sesuai, bisa jadi ada rencana lain yang sedang Dia persiapkan untuk kita.

Oleh karena nya, persiapan itu tak boleh diabaikan. Aku ingat nasihat dari Pak Noer Sigit, mantan Camat Kebasen yang sekarang menjadi Kepala Perpusda Kab. Banyumas. Beliau selalu berkata: “naik mimbar tanpa persiapan, turun mimbar tanpa penghormatan”.

Masih banyak orang yang beranggapan bahwa perencanaan itu penting sekali. Oleh karena nya harus rinci dan detail. Semua langkah antisipasi harus dirumuskan secara matang. Termasuk kemungkinan-kemungkinan kecelakaan yang akan terjadi. Bukan kah perencanaan itu 50% dari keberhasilan? Jika kita tidak benar-benar mempersiapkannya, bukan sukses yang diraih. Justru akan terjerumus pada jurang kehancuran.

Pada dasarnya aku sepakat. Perencanaan itu penting. Namun demikian, aku lebih condong dengan pernyataan:

“Jika kita menunggu sebuah kepastian bahwa kita tak akan berbuat salah, maka yakin lah kita tak akan berbuat apa-apa”.

Sebelum melakukan pengembangan usaha, ada beberapa hal yang mesti diperhatikan, antara lain: kualitas, strategi perusahaan, manajemen operasional, dan pemasaran.

Kualitas menjadi hal pertama yang harus diperhatikan. Kualitas pada personal, perusahaan, dan produk yang ditawarkan. Akan tetapi, perhatian terhadap kualitas ini tidak harus menunggu menjadi yang terbaik dulu. Terlalu lama nantinya. Perbaikan kualitas pada ketiga komponen tersebut bisa dilakukan sambil berjalan.

Kualitas personal dimaksud adalah para karyawan dan pimpinannya. Teman-teman UPK harus bisa mengukur seberapa tinggi kualitas diri sendiri. Kemampuan yang dimiliki sudah sejauh mana. Kelemahan dan kelebihan diri masing-masing perlu diinventarisir. Tugas masing-masing personal ialah meningkatkan kapasitas diri untuk mengurangi sisi yang lemah dan mengeksploitasi kelebihan guna memberi nilai tambah bagi perusahaan.

Perusahaan pun mesti diukur kualitasnya. Apakah dalam menjalankan usaha sudah memiliki praktik manajemen yang bisa diandalkan atau tidak. Apa yang kurang menjadi PR untuk dilengkapi. Sistem pelaporan, akuntabilitas, transparansi, dan hubungan antar personal perlu diperhatikan. PR selanjutnya adalah meningkatkan kualitas perusahaan.

Kualitas produk yang akan ditawarkan pun perlu ditakar. Kita harus bisa memetakan jenis produk kita. Apakah produk tersebut termasuk produk utama, substitusi, atau sekedar komplementer. Mengukur kualitas produk akan berpengaruh terhadap strategi perusahaan nanti. Seperti kita ketahui, yang namanya produk tidak mesti berwujud fisik. Produk ada 2 (dua) jenis, yakni: jasa dan barang.

Peningkatan kualitas personal, perusahaan, dan produk menjadi bagian dari kegiatan di masa depan. Saat melakukan usaha, kita harus pun senantiasa belajar. Pokoknya tak ada kata berhenti untuk belajar. Pakem yang dipakai adalah “learning by doing”.

Perhatian selanjutnya dilakukan pada pilihan strategi perusahaan. Ada 4 (empat) pilihan strategi perusahaan yang bisa kita pilih. Masing-masing pilihan sebaiknya disesuaikan dengan kualitas perusahaan. Termasuk didalamnya kemampuan keuangan yang ada. Jangan memaksakan diri.

Strategi pertama berupa kepemimpinan produk. Strategi kepimpinan produk biasanya dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar. Produk-produk kebutuhan kebersihan dan kecantikan, semisal sabun, sampo, pasta gigi, menjadi andalan mereka. Produk yang dihasilkan oleh mereka terbukti unggul secara kualitas, kuantitas, dan promosi. Mereka memimpin dalam pilihan atas pemenuhan kebutuhan konsumen. Sulit rasa nya masuk dan bersaing dengan pilihan strategi ini.

Untuk bisa memimpin produk jualan, paling hanya skala lokal. Misalnya produk layanan jasa UEP dan SPP yang tanpa agunan, akan bisa menyaingi perbankan. Itu pun jika mampu menerapkan bunga ringan. Tapi apa ya mungkin? Sedang biaya operasional dan cadangan resiko, setiap tahun semakin bertambah.

Strategi kedua mengutamakan keunggulan operasional. Biaya operasional yang efisien dengan segala fasilitas yang mempermudah konsumen, akan memenangkan persaingan. Perusahaan jenis ini mampu menekan biaya-biaya tak terlalu penting agar laba bisa maksimal. Perusahaan jenis ini misalnya perbankan dengan jaringan ATM yang tersebar dimana-mana. Ada juga perusahaan minimarket dengan dukungan armada untuk pasokan barang dagangan.

Mereka mengandalkan keunggulan ini meski produk dan harga yang ditawarkan tidak terlalu kompetitif. Memudahkan konsumen dalam mengakses pelayanan menjadi lebih penting. Untuk mempermudahnya, biasanya perusahaan jenis ini menggunakan teknologi dan meminimalkan tenaga manusia. Efisiensi dan efektifitas menjadi kunci keberhasilan perusahaan jenis ini.

Strategi ketiga memanfaatkan kedekatan konsumen. Perusahaan jenis ini memanfaatkan kedekatan secara emosional. Kualitas produk yang ditawarkan kadang bukan produk utama. Mereka memanfaatkan sisi humanis dan menumbuhkan irrasionalitas pelanggan dalam memilih produk. Perusahaan ini sangat memperhatikan kebutuhan konsumen. Baik yang berhubungan langsung dengan produk yang ditawarkan maupun tidak.

Untuk menjaga kedekatan emosional, perusahaan jenis ini sering mengadakan kegiatan bersama konsumen. Sering pula mereka menonjolkan sisi sosial perusahaan dibandingkan promosi produk. Iklan-iklan rokok yang menggambarkan keberanian dengan memacu adrenalin dan atau kebersamaan, menjadi strategi pemasaran perusahaan jenis ini.

Konsumen akan merasa seperti bintang iklan rokok tersebut, saat mereka menghisapnya. Hampir sama sekali tak berhubungan dengan aroma, rasa, dan harga nya. Kedekatan dengan konsumen pun dibangun dengan seringnya perusahaan rokok mensponsori berbagai kegiatan di lapangan. Mereka begitu lotah untuk urusan ini.

Strategi kedekatan konsumen menjadi pilihan di kecamatan Kebasen. Kami berusaha mendekatkan diri dengan para ketua dan anggota kelompok peminjam. Paling tidak dalam satu bulan, kami bertemu dengan para ketua kelompok sebanyak 2 (dua) kali. Yakni: pertemuan rutin bulanan dan kegiatan Belajar Antar Kelompok.

Pada kesempatan ini, kami membangun kedekatan emosional dengan mereka. Produk-produk yang ditawarkan dalam pengembangan usaha pun, memaksimalkan keberadaan mereka. Artinya para pemanfaat dana bergulir selain meminjam dana, juga kami optimalkan sebagai konsumen. Belum ada strategi ekspansi konsumen.

Strategi keempat berwujud product locking. Konsumen secara tak sadar dipaksa memakai produk itu terus. Penjualan dengan paket bundling salah satu bentuknya. Konsumen harus mau memakai produk tersebut agar bisa menikmati layanan bundling nya. Bentuk lain dari jenis strategi ini adalah perusahaan leasing. Pada jangka waktu tertentu, konsumen harus mau menyelesaikan perjanjiannya. Jika tidak, bisa kena pinalti.

Perusahaan yang melakukan strategi ini mencari konsumen yang menginginkan produk yang berkualitas dan mudah mendapatkannya. Konsumen diikat oleh aturan perusahaan. Oleh karena kemudahannya, konsumen rela membayar dan terikat aturan perusahaan penjualnya.

Pada prakteknya, tak ada satu pun perusahaan yang menggunakan satu strategi saja. Kolaborasi antara beberapa strategi diatas, dilakukan. Tinggal pada strategi mana yang dominan yang dilakukan.

Hal berikutnya yang mesti diperhatikan ialah terkait dengan manajemen operasional. Paling tidak ada 3 (tiga) komponen dalam hal ini, yakni: cash flow, kontribusi terhadap perusahaan, dan pertumbuhan usaha. Semua komponen ini akan membuat perusahaan mampu bertahan, bersaing, dan bisa lebih luas memberdayakan masyarakat.

Kita harus bisa memprediksikan berapa kali perputaran uang (cash flow) dalam satu periode akuntasi. Prediksi cash flow bisa diramalkan dengan melihat jenis produk yang ditawarkan. Apakah produk tersebut terkategori fast moving atau tidak. Dengan melihat prediksi ini, kita bisa membandingkan antara keuntungan yang selama ini didapat dan potensi pendapatan jika membuka usaha lain.

Prediksi cash flow juga akan berpengaruh terhadap proyeksi keuntungan. Semakin sering dana yang diinvestasikan berputar, potensi keuntungannya semakin besar. Keuntungan yang didapat akan menambah kontribusi bagi perusahaan. Kontribusi ini dibutuhkan guna menyokong operasional.

Besaran kontribusi yang didapatkan akan membawa kita pada berbagai pilihan investasi. Berapa kontribusi yang didapat dari sektor jasa, berapa dari sektor perdagangan, dan berapa kontribusi di sektor manufaktur. Pengembangan di salah satu sektor, terutama sektor yang kita kuasai, akan berimbas pada keuntungan.

Kalau boleh saran, jangan sekali-kali berinvestasi pada usaha yang kita buta sama sekali, meski potensi keuntungannya besar. Jika melihat peluang tersebut, ada baiknya kita belajar di bidang itu. Belajar lah langsung dari ahli nya. Belajar tentang teknis usaha dan manajemen pengelolaannya.

Keuntungan yang didapat akan membuat perusahaan bertahan, tumbuh, dan berkembang. Besaran bagi hasil dari prosentase keuntungan yang dialokasikan untuk masyarakat miskin pun akan bertambah. Sebaran kemanfaatan terhadap masyarakat, insya Allah pun demikian.

Apalagi saat melakukan usaha itu, mengoptimalkan masyarakat miskin sebagai pelaku nya. Tentu bentuk dari pemberdayaannya akan lebih nyata. Tidak saja memberi ikan, tapi juga jala nya.

Hal terakhir yang perlu perhatian adalah tentang pemasaran. Tentang pemasaran sudah aku sampaikan pada bagian keenam dari tulisan ini. Pemasaran dimaksud bisa dilakukan secara online dan offline.

Apakah tabu sebuah lembaga pemberdayaan mencari keuntungan? Menurutku tidak. Selama proses mencari keuntungan dan hasilnya dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Kedekatan emosional di bangun melalui kegiatan Belajar Antar Kelompok
Kedekatan emosional di bangun melalui kegiatan Belajar Antar Kelompok

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here