Belajar ke Riau Tak Perlu Risau

0
131
Biar burem yang penting penuh kesan. Khusus bagi yang tahu saja.

Bagian ke-1

Kemana pun aku pergi, selalu saja ada pelajaran yang bisa dipetik. Oleh karena nya, meski saat ini aku diminta menjadi pembicara, aku lebih suka menuliskan judulnya demikian. Inti nya adalah sama-sama belajar. Salah satunya belajar bersyukur. Kondisi ku sepertinya masih lebih baik daripada teman-teman di Riau.

Adalah Kang Qosyim provokator nya. Dia membuat aku bisa datang ke sana. Semangatnya untuk membuka pola pikir teman-teman dan meyakinkan diri untuk lebih baik, tak perlu diragukan. Itu sudah tergambar sejak kami berteman beberapa tahun yang lalu. Perkenalan dan diskusi-diskusi panjang melalui media sosial. Saat kami sama-sama masih menjalankan program pemerintah.

Kedekatan secara emosional menjadi pengikat kami. Kebetulan Kang Qosyim masih keturunan Jawa. Tepatnya daerah Mandiraja, Banjarnegara. Masih satu rumpun penginyongan. Makanan khasnya pun tak jauh berbeda, yakni mendoan dan boled. Logat dan bahasa Banyumasan tetap keluar saat kami ngobrol. Itu asyiknya. Jadi, Kang Qosyim ini termasuk keluarga Pujakesuma: Putra Jawa Keluyuran Sumatra.

Kami berteman sejak jaman Errata. Merasa senasib sepenanggungan dan secara kultur sama, membuat kami merasa dekat. Padahal baru tiga tahun kemudian, tepatnya Maret tahun 2015 kemarin, kami bersua di Solo. Saking senangnya saat itu, meski capek dan pusing karena migren, aku bersama dia, Uri (Cirebon), Ancas (Magelang), dan Gondo (Temanggung) begadang hingga larut di angkringan. Migren nya hilang sesaat.

Saat itu Kang Qosyim masih menjadi ketua asosiasi UPK di kabupaten Kuansing. Sekarang, dia terpilih menjadi ketua asosiasi tingkat provinsi. Level nya sudah naik. Semangatnya pun pasti bertambah. Salah satu bentuk semangatnya ya ini. Dia bersama panitia, menyelenggarakan rakornis dan pelatihan dengan modal nekat. Bagaimana cerita nya? Nanti ya.

Permintaan ini sudah dia sampaikan sejak sebelum bulan puasa. Sedang hari tanggal nya baru dia konfirmasikan beberapa hari sebelum lebaran. Dia pintar mengatur waktu. Kegiatan ini dia laksanakan di akhir pekan. Aku tak perlu ijin terlalu lama. Kamis malam berangkat; Minggu sore sudah kembali ke Mandirancan.

Aku merasa tak perlu risau saat diminta datang ke Pekanbaru. Kang Qosyim pasti akan mencoba mencukupi kebutuhanku. Termasuk saat aku minta di urut. Masuk angin dan migren saat keberangkatan dari Jakarta, tak bisa ku tahan. Dia segera hubungi pihak hotel untuk mencarikannya. Agak tak enak hati sebenarnya. Sebab harga yang dipatok, empat kali lipat dari harga umum di Mandirancan. Maaf ya, Kang.

Permintaan lain adalah berkunjung ke Istana kerajaan Sri Indrapura di Siak. Sayangnya itu tak kesampaian. Justru karena aku. Aku tak bisa mengikuti agenda yang sudah dia persiapkan.

Kang Qosyim ingin mengajakku dan narasumber yang lain pada hari Minggu paska kegiatan. Tapi karena aku balik segera. Hari Senin besok, ada acara MAD Pembentukan BUMADes di tempatku. Agak sedikit menyesal. Semoga lain waktu bisa kembali ke Pekanbaru dan berkunjung ke sana. Aamiin.

Jadwal keberangkatan ku memang sudah tak kena tuslag. Artinya tarif kendaraan sudah normal paska lebaran. Biasa nya tuslag diberlakukan oleh pemerintah 2 minggu sebelum lebaran dan 2 minggu setelahnya. Tarif ini sengaja dikenakan untuk memberi kesempatan kepada para pengemudi kendaraan umum agar bisa panen. Bahasa Banyumasannya: Prepegan.

Sayangnya bis ekonomi yang aku cari tak ketemu. Bis DAMRI arah ke Kemayoran tinggal kelas eksekutif. Aku bayar saja. Padahal saat aku naik nanti, kelas bis nya tetap ekonomi. Tak mengapa, yang penting sampai.

Perjalanan malam itu, aku duduk dengan perempuan muda. Dia mengaku belum lama menikah. Suaminya bekerja di Jakarta. Keberangkatannya ke Jakarta memang ingin menemui suaminya. Selain itu, dia katakan akan mengikuti tes wawancara di salah satu perusahaan. Tes dari perusahaan akan diadakan pada hari Senin. Dia sengaja berangkat lebih awal.

Obrolan basa-basi itu hanya sebentar. Selepas Cilongok, kami sibuk dengan HP masing-masing. Aku senyum-senyum sendiri membaca komentar teman-teman di grup WA. Lebih-lebih grup SMA yang lama vakum. Syukur bisa bernostalgia lagi. Semoga awet.

Saat kami masih berbincang-bincang, aku tetap terpikirkan masalah desa. Perempuan muda yang mengaku dari salah satu desa di daerah Sumbang ini, merasa perlu bekerja di Jakarta. Lowongan pekerjaan di desa masih susah. Perjalanan UU Desa dan bantuan dana dari pemerintah masih baru. Terlalu prematur jika mengharapkan mimpi besar di balik terbitnya UU Desa segera terealisir.

Mimpi besar untuk mensejahterakan masyarakat desa belum nampak. Pekerjaan-pekerjaan administratif dan birokrasi masih terkesan mengikat. Apalagi kreatifitas dan inovasi masyarakat desa pun belum terdengar geliatnya. Harapan akan munculnya inisiatif-inisiatif lokal masih terkendala. Penyebabnya adalah faktor internal berupa rasa percaya diri dan faktor eksternal berupa tata aturan yang masih tumpang tindih. Belum lagi ketakutan melanggar aturan atau perintah menunggu instruksi, menjadi momok lain.

Tak hanya perempuan muda yang duduk disampingku, masih banyak yang demikian. Saat lebaran kemarin, teman-teman di rantau bertutur banyak. Mereka sudah ingin pulang kampung. Biaya hidup di sana bertambah. Sedang pendapatan tak bisa di dongkrak lagi. Tapi pulang ke kampung pun belum berani. Belum ada persiapan usaha di sini.

Modal kapital hasil kerja tak bisa diandalkan. Sebagian harus berhemat agar bisa bertahan. Padahal menurut mereka, prediksi ke depan akan lebih sulit lagi. Maka obrolan-obrolan tentang wirausaha di desa menjadi topik utama. Mereka ingin kembali ke desa dan membuka usaha sendiri.

Yah. Perjalanan pemberdayaan masyarakat desa melalui kebijakan UU Desa masih panjang. Masih dibutuhkan energi besar untuk mewujudkan masyarakat desa yang gemah ripah loh jinawi. Bismillahirrohmaaniirrohiim.

Aku kena migren.

Sebelum berangkat dari rumah, sedikit aku rasakan. Sayangnya tidak aku antisipasi. Aku hanya sedia obat masuk angin. Perkiraanku sakit kepala itu akan hilang nanti. Asalkan aku tidur.

Selepas Bumiayu, aku memang tertidur. Aku baru terjaga saat bis sudah sampai Jakarta. Kira-kira aku bangun sekitar 20 menit sebelum turun di Kemayoran. Senut-senut itu masih terasa. Sedikit. Badan ini pun terasa tak meriang. Aku rasa aku akan baik-baik saja.

Rupanya pemicu bertambahnya migren dan masuk angin adalah AC. Pendingin di bis dari Kemayoran ke Cengkareng biang keroknya. Semburan dingin dari AC begitu mengigit. Jaket yang aku kenakan tak mempan menahannya. Ah. Iya. Semalam aku juga cuma makan sedikit. Lontong yang dibawakan sama istri hanya aku makan 2 potong. Pantesan.

Aku merasa tak nyaman saat shalat Subuh di bandara. Air wudhu terasa dingin. Menguap tak kunjung berhenti. Kata Lik Kartem, salah satu tanda masuk angin adalah sering menguap hebat. Menguap yang berat sampai air mata pun keluar.

Obat masuk angin yang diminum tak banyak membantu. Semestinya, setelah meminumnya aku harus tidur. Tak bisa aku sembarangan tidur di sana. Bisa-bisa di usir Satpam. Ingat cerita Wa Aboer dulu… hehe….

Saat duduk bersandar, mata ku memang terpejam. Tapi tak tidur. Sekedar mengistirahatkan mata agar air mata tak ikut keluar saat menguap. Sesekali membuka mata. Berharap hari cepat siang. Jadwal take off pesawat yang akan aku tumpangi memang siang hari.

Tiba-tiba aku mendengar percakapan seorang bapak dengan perempuan via HP. Bapak berusia sekitar 50-an yang sedang telpon itu terdengar alay. Wagu. Dia sedang menggombal. Sebenarnya aku tak ingin mendengarkan. Tapi, suara bapak itu keras. Aku yakin, penjaga penitipan barang pun ikut mendengar.

Rupanya dia sedang bernostalgia bersama mantan. Kalimat sayang-sayang meluncur. Mungkin mereka bertemu saat reuni. Momen lebaran seringnya dimanfaatkan untuk itu. Nah, mungkin si bapak ini bertemu mantan nya. Komunikasi pun berlanjut. Lama mereka berbicara.

Godaan manusia hidup selalu ada. Bapak yang tas punggungnya bertuliskan Kementrian Pendidikan ini sedang di uji. Kesuksesannya dalam karir sedang mendapat ujian. Akankah dia bertahan dengan keluarga nya. Atau aku yang terlalu su’udzon. Bisa saja dia memang sudah duda. Sedang perempuan yang di telpon sudah janda pula. Bisa saja ini proses pendekatan. Wallohu ‘alam.

Saat bapak ini pergi, aku masih berjuang menahan migren.

Aku harus jalan kaki agak jauh ke minimarket untuk mendapatkan obat sakit kepala. Keputusan ini aku ambil karena tak kuat lagi. Untung saja aku kuat berjalan. Muntah sedikit di pelataran parkir membuatku lega.

Perjalanan pesawat terasa agak nyaman. Pesawat Garuda yang membawaku ke bandara Sultan Syarif Kasim 2, terbang tepat waktu. Tak heran jika pada tahun 2013 yang lalu BUMN ini menerima penghargaan dari Skytrax untuk kategori kelas ekonomi terbaik di dunia. Kenyamanan terbang bersama Garuda ngangeni. Beruntung saat pulang nanti, aku masih bisa menikmatinya.

Ternyata Kang Kosim sendiri yang datang menjemput. Lama tak bersua membuat kami senang saat berjumpa. Dia sudah menunggu lama. Saling bertanya kabar dan sedikit cerita aktifitas menjadi topik selanjutnya. Aku langsung menodongnya. Tolong cari kan aku tukang pijet. Aku kena migren dan masuk angin. Dia bilang siap.

Rupanya kami memang beruntung. Sesaat sebelum keluar areal bandara, Pak Dwi Purnomo telpon. Dia bilang sudah mendarat juga. Pesawat Citilink yang ditumpanginya sudah tiba. Mobil pun putar haluan.

Ini menyenangkan. Aku pun lama tak berjumpa Pak Dwi. Pertemuan terakhir saat aku berpamitan di Solo. Berpamitan untuk tak lagi bersama-sama di UPK dan Asosiasi nya. Saat itu, aku baru menjadi Ketua BKAD. Strategi berbeda guna melestarikan aset eks PNPM MP, aku tempuh.

Aku agak sedikit protes sama Kang Kosim. Kalau tahu ada pesawat langsung dari Jogja, mending ikut. Perjalanan ke Jogja lebih dekat daripada ke Jakarta. Saat SMS, dia hanya menawari pilihan antara terbang dari Bandung atau Jakarta. Aku pilih Jakarta.

Rupanya dia kira perjalanan ke Jogja lebih jauh. Lagipula kenapa aku nggak tanya juga ya? Ah. Sudah lah.

Setidaknya ada 4 (empat) pelajaran yang aku ambil dalam perjalanan ini. Pertama soal persiapan fisik saat bepergian; kedua tentang pemberdayaan masyarakat yang belum maksimal; ketiga masalah puber si bapak; dan keempat terkait keberhasilan Garuda Indonesia memenangi penghargaan bergengsi tingkat Internasional.

Belajar bisa dimanapun.

Biar burem yang penting penuh kesan. Khusus bagi yang tahu saja.
Biar burem yang penting penuh kesan. Khusus bagi yang tahu saja. Kenangan 26 Maret 2015.
BAGIKAN
Berita sebelumyaSyamil Genap Empat Tahun
Berita berikutnyaBelajar ke Riau Tak Perlu Risau
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here