Belajar Mendengarkan

0
372
Pasang tampang serius

Kebanyakan kita baru bisa mendengar. Belum sepenuhnya mendengarkan apalagi menyimak. Kemampuan mendengarkan atau bahkan menyimak belum dimiliki oleh kebanyakan orang. Kita baru bisa mendengar, sebagai proses alamiah karena telinga sebagai indera pendengaran berfungsi dengan baik.

Perbedaannya, mendengar adalah proses menerima bunyi atau suara secara sadar atau tidak. Sedang mendengarkan lebih pada proses mendengar dengan sungguh-sungguh. Level tertinggi ada pada menyimak, yakni mendengarkan dengan pemahaman dan memahami apa yang disampaikan oleh orang yang berbicara.

Meski sama-sama duduk di forum pelatihan, seminar, pengajian, dan yang sejenisnya, belum tentu semua mendengarkan atau menyimak. Tak sedikit yang sekedar mendengar. Maka tak heran jika kesimpulan masing-masing, sering berbeda-beda.

Ada saatnya mereka yang mendengarkan, akan menurunkan tingkat kesungguhan hingga cukup mendengar saja. Ada pula yang naik tingkat ketertarikan dari sekedar mendengar kemudian mendengarkan, akhirnya mau menyimak, dan bisa mengambil kesimpulan yang lebih komprehensif.

Bersiap mendengarkan

Perlu persiapan untuk bisa mendengarkan. Berpikir dan bersikap netral terhadap apa yang akan didengarkan menjadi modal awal. Jika pikiran dan sikap kita sudah menunjukkan keberpihakan, sulit rasanya untuk bisa mendengarkan. Sesekali akan bergumam dan atau berbisik pada teman yang isi nya menyatakan ketidaksetujuan.

Ketidakmampuan dalam mendengarkan juga dipengaruhi oleh rasa kesombongan. Menganggap remeh pembicara, akan membuat si pendengar enggan mendengarkan. Kehadirannya pada forum atau sesi pembicaraan hanya wujud fisik. Pikiran dan perasaannya entah kemana.

Bagi yang merasa butuh untuk mendengarkan, melakukan respon balik atas materi yang disampaikan, menjadi perlu. Respon yang dimaksud adalah dengan bertanya atau memperjelas pemahaman, baik pada pembicara atau sesama pendengar. Menjadi tidak tepat saat memunculkan asumsi-asumsi atau padanan pemahaman tanpa melakukan kroscek. Jika itu terjadi, maka bisa muncul kesimpulan-kesimpulan berbeda yang jauh dari maksud si pembicara.

Kesiapan lain dalam hal ini adalah memahami konteks pembicaraan. Jika ada literatur yang perlu dibaca, baiknya dibaca terlebih dulu. Semakin banyak referensi bacaan yang berhubungan dengan materi yang akan dibicarakan, akan menambah pemahaman. Andai sempat bertanya, materi yang ditanyakan akan lebih mengena.

Menjaga konsentrasi

Berbekal bolpoin dan blocknote, menuliskan poin-poin yang dirasa penting, akan mempermudah pemahaman. Biasanya aktifitas menulis selama proses mendengarkan akan lebih bisa menjaga konsentrasi. Konsentrasi yang buyar akan menghasilkan kesimpulan yang tidak tepat pula.

Selain didukung oleh kondisi fisik, memahami terlebih dulu apa yang sedang dibicarakan pun, akan membantu konsentrasi. Cepatnya konsentrasi terpusat karena sudah memahami terlebih dulu topik yang dibicarakan. Ini akan banyak membantu mengambil kesimpulan yang sesuai.

Berpura-pura paham dan menelaah sendiri tanpa bertanya pada sesama pendengar justru berakibat pada kebingungan. Andai si pendengar tersebut diminta menceritakan ulang, bisa dipastikan akan melenceng jauh. Nah, saat dia berkelit kala diingatkan, maka itu lah tanda kebodohan sekaligus kesombongannya.

Pendengar yang baik adalah pembicara yang baik

Coba perhatikan isi materi yang dibicarakan seseorang. Bobot materi tidak cukup dinilai dari kemampuannya memilih diksi. Penguasaan materi dan fokus pada pembahasan akan terlihat. Pembicara yang baik akan menyampaikan paparannya dengan efektif dan efisien. Dia tak akan berlebay-lebay dengan curhatan-curhatan yang tak perlu, kecuali diminta oleh pendengar.

Pembicara yang demikian, bisa dipastikan dia adalah seorang pendengar yang baik. Saat diskusi tatap muka, tak akan ditemui dominasi atau monopoli pembicaraan. Dia mau dan mampu mendengarkan lebih baik dari rata-rata orang. Mereka memiliki kesabaran yang tinggi untuk menunggu saat lawan berbicara, tidak memotong pembicaraan.

Karir seorang pembicara yang baik, pasti dimulai dari pendengar yang baik. Saat masih berposisi sebagai pendengar, dia pasti fokus. Kadang ketidakpuasan mendengarkan paparan tidak saja ditunjukkan dengan bertanya, tapi mencari sumber-sumber literatur pendukung lainnya.

Kelanggengannya menjadi pembicara pun ditentukan pada kemampuannya mendengar. Apakah saat sudah menjadi pembicara, kemampuan mendengarnya akan tetap atau menurun. Jika masih sama atau lebih baik, maka dia akan menjadi pembicara yang langgeng. Pun berlaku sebaliknya.

Oleh karena nya, jika pembicaraan kita ingin didengarkan oleh orang lain, maka jadi lah pendengar yang baik bagi mereka.

Pasang tampang serius
BAGIKAN
Berita sebelumyaAku Mengenalmu di Kolam Renang Tirta Kembar
Berita berikutnyaBerbicara yang Baik atau Diam
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here