Berbagi itu Menyenangkan

0
187
Jalan Gunung Tugel

Pagi tadi aku bersama istri membawa Syamil ke tukang urut di Karangpucung, Purwokerto. Semalam Syamil susah tidur, batuk disertai pernafasan yang payah, membuat kami sering terjaga. Sesekali terlelap, kemudian terjaga, menangis, terlelap lagi. Begitu seterusnya. Kasihan sekali.

Semalam kami sudah berencana membawanya ke tukang urut di Karangpucung. Beberapa kali dia sakit, kami bawa ke sana, alhamdulillah sembuh.

Kami berangkat sekitar jam lima pagi. Biasanya nenek si tukang urut pergi ke rumah pasien yang mengundangnya, selepas jam 6 pagi. Kami tak mau terlambat. Untung saja, Ata masih tidur.

Setelah Syamil di urut, kami berpamitan. Seperti biasa, Syamil langsung menunjukkan tanda-tanda sembuh setelah di urut di sana. Alhamdulillah.

Ternyata kami harus bersabar. Ban motor kempes. Menurutku ini bocor tapi halus. Agak bingung. Pagi-pagi seperti itu, apalagi di kota, pasti belum ada bengkel tambal ban yang buka. Padahal kami harus segera pulang. Pasti Ata sudah bersiap berangkat ke sekolah. Ibu sedang sibuk membantu persiapan hajatannya Kang Dasim. Memang sih, rumahnya persis di belakang rumah kami.

Aku suruh istriku dan Syamil naik bis saja. Biar aku cari tukang tambal ban. Belum tentu dalam waktu dekat bisa ketemu. Sedang Ata pasti sudah menunggu.

Istri ku ingin naik bis mikro jurusan Cilacap via Kebasen agar tak perlu nyambung lagi. Bus tanggung jurusan Cilacap via Rawalo sih banyak. Cuma ya itu, setelah turun di Patikraja, pilihannya ada tiga: nyambung bis atau koperades, naik becak, atau jalan kaki.

Ternyata bis mikro yang kami tunggu lama. Aku bilang naik bis tanggung saja, nanti nyambung pakai becak. Sesampainya di rumah nanti, istri ku bilang, katanya dia pilih jalan kaki. Tukang becak langganannya tak kelihatan. Emoh kalau naik becak yang penariknya tak dia kenal. Owalah.

Aku sempat mencari-cari tukang tambal ban di perempatan Patriot. Tapi tak ada. Maka aku putuskan untuk mencari ke arah selatan menuju arah pulang. Aku coba naiki saja motor itu. Wah, ternyata kalau di jalan yang mulus, tak terasa kempes banget. Hanya saat jalan bergelombang dan berboncengan tadi, terasa benar. Perlahan aku kemudikan motor sambil mencari-cari tukang tambal ban.

Akhirnya tukang tambal ban itu aku temukan di jalan Gunung Tugel. Jauh.

Tukang tambal ban di sana berjejer. Karena aku dari arah utara, aku belokkan saja motor ke tukang tambal yang ada di sebelah utara. Sayangnya di situ tak ada jajan atau kopi. Aku ngopi di tukang tambal ban di sebelahnya. Si istri membuka warung kecil-kecilan, termasuk menyediakan kopi. Lumayan, sedikit menghangatkan badan. Sambil ngopi ajak ngobrol mereka.

Mereka mengaku bukan asli warga Kedungrandu. Suaminya berasal dari Bandung, sedang si istri dari Banjarnegara. Mereka sudah lima tahun tinggal di sana. Tapi tanah yang mereka tempati bukan hak milik. Mungkin menyewa, meski pengakuan mereka, hanya sekedar menempati. Rumah yang mereka masih jauh dari kata layak. Lantai tanah dengan pembatas tabag (anyaman bambu) yang sudah rusak di sana sini. Atapnya dari seng yang sudah kecoklatan. Morak marik pokoke.

Aku tidak bertanya nama dan cerita awal mula sampai mereka tinggal di sana. Yang jelas, mereka memiliki 3 putra, tapi si sulung sudah meninggal. Katanya saat si sulung meninggal, usianya sudah remaja, sudah SMK. Sesaat mimik keduanya berubah. Sedih.

Tak mau menambahkan kesedihan mereka, aku coba membesarkan hati mereka dengan mendoakan semoga anak mereka menjadi wasilah kebahagiaan mereka di akhirat kelak. Aamiin.

Di sebelah rumah mereka ada dua alat besar dan tanah baru untuk pengurugan. Saat aku tanyakan kepada mereka, katanya mau di bangun pabrik tapioka. Oh, pasti tanah ini hasil pembelian ke warga. Lalu aku bertanya harga pasaran tanah di sana. Per ubin untuk tanah yang relatif rata sekitar 3,5 juta. Sedang tanah miring atau di perlu pengurugan yang dalam, hanya sekitar 1,8 juta.

Spontan aku ucapkan: “Yah, semoga bapak sama ibu bisa membeli tanah di sini. Minimal yang dalam itu”.

“Wah, tanah-tanah di sini hampir semuanya sudah laku, Mas. Kebanyakan pengusaha-pengusaha. Mereka memang sudah mengincar dari dulu”.

Gubrak!

Kalau Mas Budiman bilang bahwa penguasaan terbesar aset-aset bangsa hanya dimiliki oleh pengusaha dengan kepemilikan tanah salah satunya, mungkin memang benar.

“Kok bisa ya, Pak. Masyarakat mudah menjual tanah-tanah mereka. Lama kelamaan kan harga tanah naik”, ujarku.

“Itu lah, Mas. Kebiasaan buruk masyarakat kita memang begitu. Mudah tergiur uang. Tidak melihat masa depan mau bagaimana. Yang penting sekarang dapat uang. Tidak melihat masa depan”.

Nelangsa rasanya.

Salah satu sudut di Gunung Tugel
Salah satu sudut di Gunung Tugel

Memang mengalihkan kepemilikan tanah dengan cara menjual itu hak mereka. Tapi kok rasanya sayang. Jangankan berpindah kepemilikan dari masyarakat kecil ke pengusaha, melihat alih fungsi lahan produktif menjadi bangunan permanen saja, sepertinya aku nggak rela. Kenapa… gitu?

Tinggal di wilayah Gunung Tugel memang susah. Air bersih menjadi barang mahal. Sebenarnya saat pembangunan jalan Gunung Tugel sekitar 4 tahun yang lalu, di sisi jalan sudah di tanam pipa-pipa dari PDAM. Tapi sampai sekarang belum berfungsi.

Upaya mendapatkan air bersih sudah dilakukan oleh Pemdes Kedungrandu. Melalui program PAMSIMAS, pipa-pipa untuk mengalirkan air bersih sudah dibuat jaringan sampai ke Gunung Tugel.

Menurut cerita si tukang tambal ban, sebenarnya fasilitator PAMSIMAS sudah memberikan pengarahan soal mesin pompa. Kekuatannya tidak akan mampu mengalirkan air dari Tayasa hingga Gunung Tugel. Andai dipaksakan, mesin akan cepat rusak. Tapi masyarakat tetap memaksakan diri. Akhirnya, apa yang ditakutkan oleh fasilitator terbukti. Mesin sering rusak dan berkali-kali diperbaiki. Sekarang, aliran air memang dibatasi hanya sampai wilayah Tayasa. Masyarakat di Gunung Tugel masih harus bersabar.

Saat aku tanyakan apakah ada permainan dalam PAMSIMAS yang dilakukan oleh oknum, dia menjawab, sepertinya tidak. Panitia cukup transparan dalam pengelolaan dana. Hanya saja dia menyayangkan penunjukkan pelaksana kegiatan di lapangan, yang seperti hanya asal comot saja. Orang yang tidak memiliki skill di bidang bangunan, eh di suruh menggarap tower penampung air. Akhirnya baru satu minggu tower nya ambrol.

“Kok bisa, Pak?”

“Waktu pemilihan, yang jadi pertimbangan itu kasihan. Kasihan si A masih nganggur, kasihan si B belum kerja”.

“O….”

Prinsip “The Right Man on The Right Place” belum diterapkan rupanya.

Jalan Gunung Tugel
Jalan Gunung Tugel

Saking asyiknya ngobrol, aku sampai lupa melihat apakah ban sudah selesai atau belum. Aku masih ingin tahu banyak. Soal SPP PNPM MP pun aku tanyakan. Apakah dia memanfaatkan dana itu atau tidak. Si istri bilang, tahun ini tidak. Sekarang dia memanfaatkan pinjaman di BRI. Katanya untuk jangka 3 tahun, dia pinjam 15 juta, dengan angsuran sekitar 600 ribuan.

Alasan dia tidak lagi pinjam di SPP, karena tidak bisa memenuhi kebutuhan minimal anggota kelompok. Katanya untuk pinjam di SPP PNPM, anggota kelompok minimal 10 orang, saat itu dia baru mendapatkan 6 orang termasuk dirinya. Bisa saja dia memenuhi kuota 10 orang, tapi dia takut kalau-kalau teman yang dia ajak malah menjadi beban. Banyak yang tak disiplin mengangsur, padahal mampu.

“Kalau pengalaman saya di Kebasen, Bu. Orang yang enggan mengangsur justru orang yang berada. Kalau orang biasa-biasa saja malah rutin. Ada sih satu dua yang macet karena benar-benar miskin”.

Aku katakan juga, tiap kecamatan memang beda kebijakannya. Kalau di Kebasen, lima orang saja bisa.

Sedikit aku sampaikan juga soal akan turunnya dana desa. Meski belum sesuai janji dimana satu desa satu milyar, tapi ke depan desa akan mendapatkan bantuan dari pemerintah. Maka aku sarankan kepada mereka untuk pro aktif mengikuti perkembangan. Ikut memantau pelaksanaan pembangunan di desa agar tepat sasaran.

“Ada nggak pertemuan-pertemuan rutin warga?”

Kata si suami pertemuan rutin RT dan selapanan masih ada. Alhamdulillah.

“Kalau ada hal-hal yang dirasa janggal, jangan sungkan bertanya ke Pemdes, Pak. Masyarakat punya hak untuk mengetahui informasi apapun tentang desa”, demikian pesanku.

Mendengar dan menyampaikan keluhan-keluhan mereka menjadi kebahagiaan tersendiri. Karena baru hal kecil seperti itu yang bisa aku lakukan. Apalagi bisa berbagi informasi, meski sesekali di tinggal oleh salah satu dari mereka karena harus melayani pembeli bensin.

Sosialisasi tidak hanya di mimbar-mimbar pertemuan kan?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here