Berbicara dengan Bahasa yang Sederhana

0
251
Harus mampu menterjemahkan

Apakah kita termasuk orang yang merasa hebat tatkala berbicara dengan bahasa tinggi? Kalau boleh saya saran, ubah kebiasaan itu. Berbicara lah dengan bahasa yang mudah dimengerti. Mereka menghargai kita bukan karena tinggi nya ilmu, melainkan karena kemauan kita menyederhanakan saat penyampaiannya.

Pada mulanya, orang akan takjub dan kagum saat kita sampaikan sesuatu dengan bahasa tinggi. Akan tetapi lama kelamaan, mereka akan jenuh. Kejenuhan itu disebabkan karena dua hal: pertama, mereka tidak memahami apa yang kita sampaikan; kedua, karena kita egois.

Berbicara dengan bahasa sederhana, tak akan mengurangi ilmu yang kita miliki. Berbicara dengan bahasa sederhana justru akan menunjukkan bahwa kita memang mumpuni. Mampu membicarakan suatu bahasan tinggi dengan bahasa yang mudah dimengerti.

Harus mampu menterjemahkan

Ada saatnya

Ada kala nya, berbicara dengan bahasa tinggi memang diperlukan. Tatkala bertemu dengan lawan bicara yang se-level. Atau saat kita diminta mempresentasikan di hadapan pendengar yang level nya lebih tinggi dari kita. Ketinggian bahasa diperlukan untuk menunjukkan bahwa kita piawai di bidang yang sedang kita bicarakan.

Namun, tatkala bertemu dengan orang biasa, maka sederhanakan. Kasihani mereka yang menginginkan suatu pengetahuan baru, namun sulit memahami kata-kata yang kita ucapkan. Berikan mereka kesempatan untuk memahami. Karena masa lalu kita pun tak jauh dari mereka.

Diskusi mencari pemahaman yang sama

Bukti

Bagi kebanyakan orang, bukti pembicaraan itu lebih penting daripada pembicaraan itu sendiri. Mereka akan sangat menghargai tatkala apa yang dibicarakan, sudah dibuktikan terlebih dulu. Meski bukti itu berasal dari praktek yang dilakukan oleh orang lain. Syukur sekali jika kita pun membuktikan sendiri apa yang kita bicarakan.

Mereka akan menjauhi saat tahu, kalau kita hanya jarkoni (bisa mengajar tak bisa menjalankan). Ini tantangan bagi para pemikir. Para pekerja konseptor, meski tak mempraktekkan apa yang mereka sampaikan, harus memiliki mitra strategis untuk pembuktian. Oleh karena nya, kerjasama antara pemikir dan praktisi sangat diperlukan. Praktisi membutuhkan konsep; pemikir memerlukan bukti hasil pemikirannya.

Aja jarkoni

Pengingat

Terkait hal ini, sebagai seorang muslim, ada yang harus kita ingat:

“Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan kadar akal (intelektualitas) mereka” (H.R. Muslim).

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan” (QS. As-Shaff: 2-3).

Berbicara dengan bahasa yang mudah dipahami

 

BAGIKAN
Berita sebelumyaTersihir dan Tersindir di Kampung Wisata Bisnis Tegalwaru
Berita berikutnyaDesa Bukan Sarang Koruptor
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here