Berbicara yang Baik atau Diam

2
387
Menjaga lisan itu baik.

Label “muncis” itu disematkan pada mereka yang mudah berbicara akan sesuatu. Terutama hal yang remeh temeh. Hal-hal sekecil apapun, selalu ingin terlibat dan membicarakannya. Padahal komentar dan atau status pada akun media sosial yang ditulis, belum tentu benar adanya. Pun obrolan pada dunia nyata. Kata “muncis” lebih bermakna sarkastik. Mau disebut “muncis?”

Kemudahan dalam berkomunikasi melalui teknologi, bukan berarti membawa kebaikan. Teknologi hanya lah alat. Kemanfaatan atau kemudhorotan tergantung si pemakai. Akankah teknologi ini akan dijadikan alat menebar kebaikan, atau keburukan? Terserah.

Kalau boleh saran, berhati-hati dengan postingan yang akan dibaca banyak orang. Meskipun, kehati-hatian itu pun tetap akan terbawa dari kebiasaan seseorang. Sebarkan kebaikan. Jika tidak bisa, lebih tak perlu update status atau komentar.

Sesuai kepribadian

Pada dasarnya, status dan komentar di akun media sosial menunjukkan jati diri seseorang. Dia akan terlihat baik dan atau buruk, tergantung apa yang disebarkan. Karena reflek dan respon kita terhadap sesuatu di dunia nyata, pasti akan terbawa pada dunia internet. Apa yang disebarkannya, menjadi filter bagi seseorang untuk mensikapinya.

Kecenderungan dan keberpihakan seseorang akan terlihat pada apa yang disebarnya. Semakin sering dia menyebarkan kebaikan, ini indikasi, dia orang baik. Pun berlaku sebaliknya.

Tak jarang kita bingung dengan seseorang. Kadang dia menyebarkan kebaikan, kadang pula dia update status yang seakan mengganjal. Satu masa dia akan terlihat sangat baik; satu waktu dia akan nampak konyol.

Pastikan. Meski sudah dewasa, mungkin dia masih labil.

Memilah dan memilih

Orang bijak tidak akan terlalu campur tangan urusan orang lain. Dia akan memilah mana yang penting, dan mana yang tidak begitu penting. Termasuk dalam berkomentar. Tak perlu berbicara jika tak diperlukan. Tak perlu pula update status atau komentar pada sesuatu yang tak begitu penting. Sikap ini akan membuatnya terjaga.

Berbeda dengan orang yang selalu ingin tampil. Dia akan berbicara dan komentar apa saja. Hal-hal sekecil apapun akan dibicarakan. Menurutnya, dengan ikut terlibat, dia akan terlihat hebat. Padahal tidak demikian. Justru sikap yang demikian hanya akan menunjukkan kebodohannya.

Pada buku: “One Minute Manager”, masalah yang bukan urusan kita, baiknya tak usah diurusi. Karena masalah ibarat monyet. Saat campur tangan terlalu jauh, maka monyet akan menjadi beban kita.

Introspeksi

Ada baiknya kita sering berintrospeksi. Apakah yang sudah kita lakukan, itu benar. Jika dibandingkan, kira-kira dampak negatif atau positif kah yang teman-teman atau kita dapatkan. Perlunya mempertimbangkan baik buruk sesuatu menjadikan kita lebih kredibel. Gunakanlah bahasa yang santun.

Introspeksi terhadap diri sendiri sebelum berucap, penting dilakukan. Seringkali kita mudah mengatakan sesuatu pada orang lain. Jika dia buruk, maka kita akan mengunggulkan diri sendiri. Andai dia lebih baik, biasanya kita menuntut kesempurnaan darinya. Tak bisa mengakui bahwa mereka pun sama-sama manusia yang lepas dari khilaf dan salah. Enggan pula mengakui seseorang yang lebih baik yang semestinya kita belajar darinya.

Keangkuhan diri akan terkurangi saat kita berintrospeksi. Karena kita pun memiliki kekurangan. Tak mudah mengumbar ucapan. Ingat lah pesan: “berbicara lah yang baik atau diam”.

Menjaga lisan dan tulisan

Menjaga lisan dan tulisan sebagai bagian dari sikap berhati-hati (wara’) lebih disukai orang lain. Lisan dan tulisan ibarat pisau tajam. Saat digunakan untuk kebaikan, maka manfaat akan dirasakan oleh banyak pihak. Tapi saat digunakan dan melukai seseorang, maka tatkala luka itu sudah sembuh, bekas luka masih ada dan akan selalu diingat.

Kemampuan berbicara dan menulis banyak dimiliki oleh orang. Tinggal bagaimana dia memanfaatkannya. Kepribadian seseorang akan muncul saat dia berucap dan menuliskan. Tak bisa dibohongi atasnya. Dalih dan pembenaran apapun, saat ucapan dan tulisan sudah telanjur disampaikan, dan berimbas buruk, akan berimbas pada diri sendiri. Stigma orang lain akan terpatri dalam otaknya bahwa kita pantas atau tidak dijadikan kawan.

Sebaik-baik orang adalah dia yang bermanfaat bagi orang lain. Andai kemanfaatan baik yang bisa kita berikan melalui lisan dan tulisan, lakukan.

Introspeksi

2 KOMENTAR

  1. Karena apa yang menurut kita baik dan benar belum tentu serupa dengan orang lain. Jadi, “berbicalah yang baik atau diam” (y)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here