Bidadari yang Putih Hatinya Laksana Mutiara

0
687
Ceria bersama Eri, Istriku, dan Dena

Setelah dia cium punggung tanganku, aku cium kedua pipi dan memeluknya erat. Cukup lama. Kebiasaan ini masih aku lakukan hingga sekarang, jika memungkinkan. Atau aku dipaksakan agar bisa dilakukan. Pelukan erat yang agak lama ini aku yakini bisa menyalurkan energi positif dari dada ku ke dadanya. Pesan dari hati ini akan sampai ke hatinya. Bahwa aku sangat mencintai dan menyayanginya. Sesaat kemudian, dia berjalan dan berlari-lari kecil meninggalkan aku. Tak sekali pun menoleh setelah melambaikan tangan. Di situ lah desir nelangsa menjalariku. Aku merasa dia telah direbut oleh yang lain. Berat hati ini melepasnya.

Ceria bersama Eri, Istriku, dan Dena
Ceria bersama Eri, Istriku, dan Dena

Bundar wajahnya, ikal rambutnya, gerigi putih berbaris rapi terlihat indah saat ia tersenyum dengan lesung pipit membuatku gemas. Tubuhnya ramping, putih, cantik mirip seseorang di sana. Lari-lari kecilnya menandakan dia begitu riang.Riang menyambut dunianya. Dunia baru yang sudah dia impi-impikan. Bahkan tadi dia menolak di antar, maunya berangkat sendiri.

Kalau begini tak jelas laki-laki atau perempuan
Kalau begini tak jelas laki-laki atau perempuan

Ya, aku ingat kejadian Senin pagi tanggal 16 Juli 2012 yang lampau. Hari itu hari pertama masuk sekolah. Ata, kami memanggilnya begitu, anakku yang pertama masuk PAUD. Aku merasa kehilangan. Sikap manja dan rasa butuh perlindungan dari ku seolah hilang. Aku takut. Saat aku ceritakan rasa ketakutan ini ke Uni, kawan SMA ku, dia pun menceritakan rasa yang sama yang pernah suaminya alami dulu. Dia bilang suaminya hampir mewek melihat si sulung pergi sekolah untuk pertama kalinya.

Mincis
Mincis

Masih tersimpan di memori kala aku berjalan kaki sehabis Isya ke rumah Mbah Sumini Tenaga bantu kelahiran, dikenal dengan sebutan Dukun Bayi. Rumahnya agak jauh dari rumah ibu mertua. Malam itu aku tak mau ambil pusing pinjam sepeda ke tetangga. Aku sudah was-was dengan kondisi istriku. Keluarnya air ketuban mulai banyak. Kontraksi sudah berkali-kali. Hingga aku sarankan dia tak banyak bergerak. Meski ternyata saranku ini salah.

Mirip Barbie apa Susan?
Mirip Barbie apa Susan?

Aku berjalan cepat. Sepeda di rumah ibu mertua sudah rusak, sedang sepeda di rumah bibi Risem yang berada di sebelah timur sedang di bawa suaminya. Aku diberi pesan untuk tak berlari. Sebab akan menimbulkan banyak pertanyaan dari orang-orang yang justru akan memperlambat perjalananku. Menerobos jalan di antara pekarangan orang, meniti titian bambu, lalu masuk ke gang yang kemudian tembus di jalan utama Gentawangi ke Gerduren tak aku ambil. Jalan itu gelap. Tak ada penerangan lampu atau bulan. Kala itu pun senter di rumah ibu mertua tak jua diketemukan. Meski sebenarnya akan bisa menghemat waktu.

Selalu Sadar Kamera
Selalu Sadar Kamera

Jalan yang aku ambil tetap jalan desa yang tembus ke jalan utama Gentawangi – Gerduren. Aku berjalan ke arah selatan, kemudian belok kanan menyusuri jalan utama itu hingga di pertigaan dekat lapangan bola. Lalu belok kiri menuju komplek yang disebut Tambangan, karena di ujung selatan sana, di tepi sungai Tajum ada tambatan perahu. Sedang di hulu sungai dekat tambatan perahu, ada tambang pasir warga. Truk-truk pengangkut pasir ini lah biang kerok rusaknya aspal di jalan desa itu. Tapi masyarakat tak bisa berbuat banyak, sebab banyak penduduk yang mengais rejeki menjadi kuli di sana. Berani menutup penambangan itu sama saja memantik konflik horisontal.

Selalu riang
Selalu riang

Di gang ketiga di sebelah kiri jalan desa tersebut aku masuk. Rumah Mbah Sumini tak jauh dari situ. Hari-hari sebelumnya aku di tunjukan jalan masuk ke rumah itu, baik melalui jalan yang aku lewati tadi atau pun menerobos. Tak cukup sekali aku ditunjukkan, utamanya jalan yang menerobos aku sering lupa. Jalan menerobos yang dilalui tak ada tanda-tanda berupa jalan atau gang yang dilalui orang secara umum. Jalan setapak yang ditunjukkan sama persis jalan menuju ke sawah atau pegunungan di desa ku. Termasuk jalan menerobos itu melalui sela-sela rumah-rumah orang.

Cantik dengan lesung pipit
Cantik dengan lesung pipit

Sesampainya disana, aku ditemui Mbah Sumini dia berpamitan sebentar untuk persiapan peralatan dan bahan-bahan tradisional yang dibutuhkan. Dalam kondisi normal mungkin persiapan itu terhitung cepat. Hanya saja rasa was-was membuat aku merasa ini terlalu lama. Rasa gelisah yang mendera tertangkap dalam tatapan mata Mbah Sumini. Terlebih saat dalam perjalanan balik ke rumah ibu mertua, aku hanya mengangguk, mengiyakan singkat, dan senyum yang tertahan. Pengalaman bertahun-tahun dari para orang tua dalam mengarungi kehidupan jelas tak tertandingi oleh luasnya ilmu pengetahuan dalam literatur-literatur yang bermunculan tiap saat. Terlebih ilmu sosial yang lebih dinamis. Tuntunan teori-teori dasar harus dikembangkan dan dirasakan prakteknya secara nyata di masyarakat.

Saat di Pantai Ayah Kebumen
Saat di Pantai Ayah Kebumen

Dia menasehatiku untuk tetap tenang. Resahnya hati akan menyebabkan pikiran kalut. Pikiran kalut pasti akan menghasilkan keputusan yang tidak tepat. Termasuk keputusanku untuk berjalan kaki saat ke rumahnya. Padahal bisa saja aku pinjam sepeda ke rumah tetangga yang lain. Ada Uwa Gun di rumah depan, Uwa Rasiti Di samping sebelah barat, atau ke Nini Walem yang ruamhnya rumah sebelah barat rumah Uwa Gun. Selain itu, aku yang “legeh” tak membawa payung karena aku terburu-buru itu pun dia katakan. Memang hari tidak hujan, tapi mendung gelap di langit perlu di antisipasi.

Sudah pintar narsis kan?
Sudah pintar narsis kan?

Waktu tempuh selama sekitar 10 menit dari rumah ibu mertua yang terasa sangat lama, terasa lebih cepat setelah Mbah Sumini menasihatiku. Padahal kami pun berjalan kaki. Ketenangan menghadapi situasi se-rumit apapun menjadi kuncinya. Ya, dia memang sudah terlatih untuk itu. Bayangkan saja jika dia ikut-ikutan kalut saat menolong orang yang mau melahirkan, pasti akan membuat panik orang yang dia tolong beserta keluarganya.

Sebenarnya waktu itu sudah ada larangan seorang Dukun Bayi menolong persalinan. Kebijaksanaan dari bidan desa saja yang membuatnya tetap melakukan itu. Letak grumbul Tunjung Lor yang terpisahkan oleh Sungai Tajum yang lebar dan harus menggunakan perahu saat mau ke pusat pelayanan masyarakat lah penyebabnya. Aku dan istri berkali-kali naik perahu yang tertambat di ujung selatan sana. Saat kami berangkat ke Mandirancan atau sebaliknya.

Jalan utama Gentawangi menuju Gerduren belum ada angkutan umum. Angkutan pedesaan hanya melintas di pertigaan dekat SMPN 2 Jatilawang di Desa Gentawangi dari arah Purwojati ke Jatilawang. Kami harus mencapai ke sana terlebih dahulu. Tentu kamu tahu bagaimana kecepatan berjalannya sebuah angkutan pedesaan. Lama. Baik menunggu atau saat menumpanginya.

Untuk menuju rumah Bidan Esti, andai waktu itu aku punya motor, aku harus melewati 3 desa lain untuk mencapai ke sana. Aku harus belok kiri di jalan utama Gentawangi – Gerduren itu. Aku akan melewati Desa Gentawangi, Margasana, Adisana, baru masuk ke Tunjung. Waktu tempuh memakai sepeda motor saja hampir 25 menit dengan laju yang agak dipercepat. Sama saja aku menempuh jarak Mandirancan ke Purwokerto.

Oleh karenanya, kebijaksanaan Bidan Esti Untuk memberi ijin Mbah Sumini adalah tepat ku rasa. Terlebih melihat kondisi ekonomi warga yang kebanyakan petani kluthuk (tulen).

Sesampainya di rumah ibu mertua, Mbah Sumini membagi tugas. Dia menyuruh ibu mertua memanaskan air, kemudian menyuruh bibi Risem membantunya menyiapkan peralatan dan membuat ramuan tradisional yang dibutuhkan, sedang aku diminta untuk menjaga istri di kamar. Mbah Sumini pun kemudian masuk ke kamar. Dia memeriksa sudah bukaan ke berapa. Menurutnya masih agak lama. Istri ku di minta untuk bangun dan berjalan-jalan di dalam rumah. Katanya dengan banyak bergerak akan mempercepat proses bukaan dan memperlancar persalinan.

Saat istri ku merasakan melilit yang amat sangat, dia disarankan untuk berbaring. Aku pun masuk menemani. Aku di tata posisiku memeluk istri. Kami menghadap ke arah barat. Sedang Mbah Sumini di samping ranjang tidur sebelah utara. Katanya bukaan sudah saatnya janin keluar. Dia menyuruh istriku untuk tak mengejan sendiri. Mengejan hanya dilakukan saat janin mengajak keluar. Istri ku harus tabah dan mengatur nafas. Tujuannya jelas agar tak kelelahan. Sedang aku diminta untuk ikut mendorong janin melalui perut istri saat diperintahnya. Punggung dan kepala istri berada di dadaku. Sedang tanganku bersiap di perutnya. Kedua tangan istri diletakkan di kasur. Paling tidak agar tak meremasku nanti. Tapi kenyataannya tak demikian, setiap dia mengerang kesakitan. Dia tetap meremas pahaku.

Terhitung 3 kali istriku mengejan dan cukup 15 menit saja proses persalinan itu berlangsung. Tangisan pertama janin berkelamin perempuan memecah kesunyian. Mengundang para tetangga untuk datang. Sebelumnya mereka tak tahu kehadiran Mbah Sumini di rumah itu. Alhamdullahirobbil ‘alamiin….

Sempat kesulitan Mbah Sumini mengeluarkan janin itu. Usus yang mengalung di lehernya harus disingkirkan terlebih dahulu. Kepercayaan yang berkembang berdasarkan ilmu titen menyebutkan bahwa janin yang keluar berkalung kan usus, akan menjadi seseorang yang enak dipandang. Terlepas dia cakep atau tidak, hitam atau putih kulitnya. Pokoknya “good looking”.

Aku ingat, hari itu Sabtu, 9 Februari 2008 pukul 21.25 WIB. Hari kelahiran Ata sesuai Hari Perkiraan Lahir (HPL) yakni tanggal 9 Februari 2008. Pasarannya apa aku tak tahu. Kasih tahu ya kalau kamu mau jadi sukarelawan… hihi….

Keluarnya janin dari rahim istriku membuatnya lega dan bersyukur. Hanya aku yang kemudian meluapkan rasa syukur dengan menangis keras. Cengeng memang. Aku peluk dan cium Khatidjah ku. Tangisan keras ku ini pula yang sempat membuat cemas ibu mertua. Dia mengira yang menangis adalah anak perempuannya. Lantas ia dan bibi undur diri saat tahu yang menangis adalah aku. Mbah Sumini pun menyarankan membiarkan aku menangis. Katanya pula, bahwa seorang suami yang menangis saat istrinya dan anaknya selamat dalam proses persalinan termasuk ciri suami yang penyayang. Aamiin….

Tangisku bukan tak beralasan. Rasa syukur yang amat sangat atas keselamatan dan kesehatan istri dan anakku lah penyebab utamanya. Tak bisa aku bayangkan jika salah satu harus dilarikan ke rumah sakit atau bahkan pergi. Demikian cerita-cerita mengerikan dari kebanyakan orang membuatku benar-benar diliputi rasa takut sebelumnya. Aku tak mau kehilangan. Terlalu sering rasa kehilangan membuatku sedih berkepanjangan.

Aku sampaikan pula kepadamu, Kawan. Pada bulan ke-8 kehamilan istriku, aku sakit. Dokter mengatakan aku terkena infeksi saluran kencing. Terpaksa aku di rawat di RSUD Banyumas selama satu minggu. Kelas III aku pilih demi mendapat keringanan biaya. Proses pemulihan selanjutnya membutuhkan waktu 2 minggu. Waktu itu aku terikat kerja dengan sebuah perusahaan distributor yang baru berdiri. Tawaran itu datang dari seorang kawan yang baik hati, Dede Yohan, karena dia membutuhkan seorang sales. Total 3 bulan aku bekerja di sana, dengan training langsung olehnya. Di perusahaan mie instan yang aku pasarkan, Dede menjadi supervisornya. Maka surat lamaran yang aku buat hanya formalitas saja. Dede sudah tahu kapasitas dan kinerja ku. Kami pernah bersama lebih dari 2 tahun bekerja di supermarket yang sama di Purwokerto. Belum lagi pergaulan kami saat masih di bangku SMA.

Saat aku kembali ke kantor distributor tersebut, dengan halus aku di tolak oleh pimpinan perusahaan. Dede tak bisa membantu. Lamanya aku absen jelas membuat perusahaan mencari pengganti ku. Aku pahami itu. Sejak saat itu hingga istri ku melahirkan, aku menjadi pengangguran. Usaha buka jasa pengetikan di Mandirancan sudah lama aku tutup setelah bekerja di distributor itu. Pelanggan sudah kabur. Aku tak bisa mengandalkan adik laki-lakiku, Kikin. Dia sedang mengejar ketertinggalan skripsinya. Teman-teman se-angkatan kebanyakan sudah wisuda.

Tak ingat sumber dana darimana waktu itu. Yang jelas aku yakin Allah SWT Maha Kaya.

Aku menangis cukup lama. Sampai aku tak tahu kapan ibu mertua menaruh arang panas di bawah ranjang tidur. Hawa panas dibutuhkan istriku untuk menghangatkan badan. Biasanya dingin akan menyergap perempuan yang baru melahirkan. Lagi pula istriku harus istirahat total (bad rest) dalam 6 jam ke depan. Istri ku yang menenangkan aku. Dia bilang tak apa-apa. Dia bilang dia baik-baik saja. Aku ciumi dia berkali-kali tanda syukur dan sayang. Maka dia aku sebut Khatidjah bagiku. Meski usianya 3 tahun lebih muda dariku.

Mbah Sumini pun memanggilku. Aku disuruh mengumandangkan adzan di telinga bayi mungil itu. Agak telat memang. Tangisanku itu yang membuat Mbah Sumini lebih memilih membersihkan janin putriku terlebih dahulu dan membalutnya dengan kain. Termasuk memeriksa semua organ luarnya. Anakku terlahir sempurna. Maka, nikmat yang mana kah lagi yang akan aku dustakan?

Kemudian putri ku dibawa ke pelukan istri. Terpancar kebahagiaan dari sorot mata dan senyum manisnya. Aku pun demikian. Kami pandangi dan kami telusuri setiap senti wajahnya. Kami banding-bandingkan antara kening, alis,mata, hidung, bibir, dan janggutnya, mirip siapa. Bahagia sekali rasanya. Tuntas sudah jawaban atas pertanyaan dari saudara dan teman-teman, kapan punya momongan?

Aku baru tahu berat badan putri ku beserta panjang nya keesokan hari saat Bidan Esti datang. Berat badannya 3 kg dengan panjang 48 cm, terkategori sehat. Lagi-lagi syukur alhamdulillah aku panjatkan.

Hari-hari selanjutnya diwarnai dengan acara mencuci semua kain popok, baju, jarit, di sungai kecil di belakang rumah. Debit airnya yang cukup banyak mempemudah pekerjaan. Kotoran-kotoran dari anak perempuanku, termasuk darah dari persalinan aku hanyutkan di sana. Termasuk membersihkan dengan sabun. Sedang pembilasan dilakukan di dekat sumur rumah. Ini pengalaman berharga. Ibu mertua yang pendiam menyuruhku untuk membersihkan kain-kain itu di sungai. Kasihan dia melihatku berulang kali menarik tali timba. Mau berapa lama jika aku selesaikan di sini.

Setelah itu menjemur di tiang-tiang bambu di depan rumah, kemudian sarapan, serta menemui para tetangga yang menjenguk. Tak ketinggalan menengok istri dan si kecil di kamar. Tak habis-habisnya aku ciumi buah hati ku ini. Ini merupakan jawaban atas kekhawatiranku. Aku takut tak bisa membuahi istri. Tubuh kerempeng waktu itu sering menjadi bahan ejekan orang: “Apa bisa?”  Hih…!

Suasana sejuk di rumah ibu mertua dan sekitarnya membuat aku selalu betah tinggal di sana. Sering aku mampir ke sana sendirian hanya untuk numpang tidur siang. Atau tatkala kejenuhan melanda, akan aku ajak istri dan anakku ke sana. Aku bisa membebaskan pikiran dan tidur lama di sana. Istri ku tak membebani aku untuk momong Ata, karena ada adik iparku, Eri atau Dena, yang akan momong. Urusan masak memasak serahkan saja kepada ibu mertua. Praktis tugas istriku cuma mencuci baju kami. Bagi ibu mertua, kelemahanku dari segi fisik, sehingga tak bisa membantunya bertani bisa ditutupi dengan kasih sayang yang aku berikan kepada anak perempuan dan cucu pertamanya. Perbedaan pendapat antara aku dan istri adalah hal lumrah. Tapi perilaku kasar baik dari tindakan maupun ucapan, alhamdulillah belum pernah aku lakukan. Ini lah alasan mengapa ibu mertua pun membiarkan aku sesukanya di rumah sana.

Namun saat itu, cuaca menjadi dingin. Ata terkena pilek. Ingus nya tak bisa keluar sendiri. Terapi alami untuk menjemurnya tiap pagi tak bisa menolong. Termasuk aku disarankan untuk menyedot perlahan dari hidungnya. Meski berkali-kali sudah aku lakukan, tanpa rasa jijik, Ata tetap saja menangis keras. Sesak nafas. Kami sempat kebingungan. Memanggil tenaga medis atau membawanya ke Puskesmas pun jauh. Seperti yang aku tuliskan diatas, kami harus memutar melewati 3 desa. Membiarkan dia terkena angin jika kami naik perahu pun bukan alternatif yang baik.

Akhirnya kami putuskan membawa Ata ke Mandirancan. Aku telpon ibu ku di sana. Aku ceritakan kondisi Ata. Meski belum genap berusia 40 hari, dia mengiyakan. Pelayanan kesehatan di Mandirancan lebih baik dari sisi jarak. Tadinya aku khawatir akan dilarang. Sebab ibu ku dulu termasuk orang fanatik dengan kepercayaan-kepercayaan orang tua yang kebanyakan hanya mengandalkan ilmu titen itu. Kemudian dengan jasa, tetangga yang memiliki mobil sewaan, kami diantar ke Mandirancan. Hanya berempat saja, aku, istriku, Ata, dan si sopir. Ibu mertua dan tetangga tak bisa menemani kami. Keputusan mendadak membuatnya tak mungkin membatalkan pekerjaan suruhan orang dengan sepihak. Tak apa. Kami maklumi itu. Keadaan di sana dengan kesempatan kerja seperti itu sangat jarang.

Sesampainya di Mandirancan, Bidan Rusmiasih dipanggil ke rumah. Respon cepat demi mengutamakan pelayanan masyarakat menjadi keunggulan bidan desa ini. Aku suka. Hingga kini pun dia masih seperti itu. Tak heran banyak pasien datang juga dari desa sebelah, Papringan. Kami ceritakan kronologis kelahiran Ata di sana, termasuk penanganan yang dilakukan oleh Bidan Esti. Penyampaian riwayat penanganan kesehatan ini penting. Agar petugas kesehatan yang lain, seperti Bidan Rusmiasih ini bisa memutuskan jenis tindakan lanjutannya.

Sebenarnya kabar kelahiran Ata di Jatilawang sudah dia dengar sebelumnya. Karena dia pula yang menolong istriku saat terkena flek. Lemahnya tali ikatan janin di rahim istriku ini lah penyebab flek itu. Sampai akhirnya paska memeriksakan kepada Bidan Rusmiasih, istri ku harus istirahat total selama 10 hari. Dia hanya bangun kala mau ke belakang saja. Urusan shalat dia lakukan sambil berbaring dengan tayamum. Tiap makan aku suapi. Saat pinggang belakang (beyekan) sakit, aku pijat perlahan-lahan. Aku ingin jadi suami siaga, seperti iklan di ruang praktek Bidan Rusmiasih di rumahnya… hehe….

Obat yang diberikan Bidan Rusmiasih kepada anak dan istri serta terapi hangat yang dilakukan di sini bisa menyembuhkan Ata. Lagi pula di sini hawa nya lebih hangat baik siang maupun malam. Tetangga pun lebih berdekatan sehingga tak terlalu khawatir untuk minta tolong. Meski permintaan tolomg itu hanya keluar dari bibirku. Istri ku masih merasa tak enak kepada mereka. Jangankan kepada mereka, kepada ibu ku saja dia masih ewuh. Dia akan memanggilku saat dia butuh bantuan. Biasanya itu dilakukan saat dia merasa sudah tak mampu. Jika masih bisa dia lakukan, pasti dia lakukan sendiri. Mandiri.

Tak salah kan aku sebut dia Khatidjah ku?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here