Bukan Pekerja Biasa

8
387
Menjadi pekerja istimewa.

Pada posisi apapun, saat masih mengandalkan gaji, sejati nya kita adalah pekerja. Pekerja yang harus mengikuti aturan yang dibuat oleh Tuannya. Hanya bisa melakukan inovasi kerja dalam koridor yang yang sudah ditentukan. Jika aturan itu terlanggar, bersiaplah untuk dikenai sanksi. Sanksi paling berat ialah dikeluarkan dari pekerjaan.

Selalu ada keinginan kemandirian. Mimpi indah menjadi pengusaha terbersit. Namun, keberanian tak jua muncul. Perhitungan resiko, perubahan awal, dan tidak ada kepastian di masa mendatang, menjadi momok. Pilihan terakhir, setia dengan pekerjaan dan tetap menyandang status sebagai pekerja. Salahkah? Tidak.

Setiap kita memiliki tipe kemampuan yang berbeda. Tipe pekerja, tak bisa dipaksakan menjadi pengusaha. Sedang tipe pengusaha, jelas enggan menjadi pekerja. Masing-masing tipikal dibentuk dari keluarga, pengalaman, pergaulan, dan tingkat keberanian dalam mencoba.

Sebagai seorang pekerja, kita dituntut bekerja profesional. Jangankan pekerja di sektor swasta, pekerja dalam lingkungan pemerintah pun demikian. Pekerja di lingkungan pemerintah dituntut bekerja secara profesional, cekatan, dan ramah. Seringkali, ketidakprofesionalan mereka, membuat masyarakat mengadu dan mencuat pada media-media sosial atau yang lain. Kritikan akan terus mengalir.

Tipe Pekerja biasa

Seseorang yang menempatkan diri sebagai pekerja biasa, maka reward pun biasa saja. Tak ada yang perlu diperjuangkan oleh pimpinan. Pekerja tipe ini hanya menjadi pelengkap. Keberadaannya tidak terlalu diperhitungkan. Kontribusi mereka terhadap perusahaan atau lembaga tidak kentara.

Tipe pekerja biasa bisa dikenali dari cara nya bekerja. Mereka hanya melakukan aktifitas linier. Berangkat pagi, pulang sore, bekerja ala kadarnya, menerima gaji tiap waktunya, tanpa ada inovasi apa-apa. Asal aman, nyaman, tidak melanggar aturan, bagi mereka sudah cukup.

Oleh karena nya, honor yang layak bagi mereka ya, standar saja. Mereka tak punya hak atas prestasi kerja. Ada tidak nya mereka, memiliki andil yang tidak terlalu signifikan. Sayangnya, pekerja tipe seperti ini, banyak ditemui.

Menjadi spesialis yang unggul

Dalam kondisi normal, perusahaan biasanya tak terlalu menghiraukan keberadaan mereka. Pekerja biasa tetap bekerja seperti lazimnya. Keberadaan mereka baru dilihat saat perusahaan mulai kolaps. Kebijakan efisiensi anggaran, akan melihat pada keberadaan mereka. Biaya overhead perusahaan terdeteksi karena pekerjaan mereka yang kurang produktif. Biasanya jika diambil keputusan PHK, pekerja tipe ini yang pertama terkena.

Langkah antisipasi yang realistis adalah menjadi spesialis yang unggul. Saat menjadi pekerja biasa, sedekahkan sedikit waktu untuk meningkatkan kemampuan diri. Dengan terus dan terus belajar, akan terlihat perbedaan hasil pekerjaan dari sebelumnya.

Targetkan dalam diri agar bisa menyelesaikan pekerjaan dengan efektif dan efisien. Curi lah perhatian atasan dengan prestasi kerja. Kerjakan lah pekerjaan yang biasa dilakukan dengan lebih cepat, cermat, dan berkualitas. Kalau memungkinkan, alokasi sisa waktu untuk membantu teman menyelesaikan pekerjaannya.

Syaratnya: selesaikan dulu tugas sendiri.

Jika terlihat menonjol dalam hasil kerja, nilai tawar kita sebagai pekerja akan meningkat. Atasan tentu akan berpikir dua kali untuk mem-PHK-kan kita. Pekerja sebagai spesialis yang unggul akan sangat diperhatikan.

Andai terpaksa tetap di PHK, yakin lah, sang atasan akan mereferensikan kita pada kolega mereka. Sang atasan akan merekomendasikan kita mendaftar kerja di tempat lain. Dengan atau tanpa kita minta, dia akan menceritakan keunggulan kita di banding dengan yang lain.

Terus meningkatkan kompetensi

Investasi kan waktu dan sedikit dana untuk meningkatkan kompetensi. Dengan atau tanpa dorongan dari perusahaan, terus lah belajar agar lebih trampil mengerjakan sesuatu. Selain menjadikan kita terlihat berbeda secara profesional, investasi ini akan kita panen di masa yang akan datang.

Kompetensi yang dimaksud ialah hard dan soft skill. Terlalu mengandalkan hard skill tanpa diimbangi soft skill, akan terasa melelahkan. Sering, keunggulan hard skill saja, akan menimbulkan kesombongan. Tidak menghargai sesama rekan kerja bisa merusak lingkungan kerja. Ini lah pentingnya belajar dan menerapkan soft skill, salah satunya kecerdasan emosi.

Meski menekuni satu bidang pekerjaan, ada baiknya, kita pun belajar bidang yang lain. Ada yang mengatakan, alokasikan 20% waktu untuk belajar hal-hal di luar yang kita tekuni. Hal ini akan banyak membantu.

Selain akan meningkatkan empati terhadap jenis pekerjaan lain, belajar di bidang yang lain, akan memperkaya khasanah pengetahuan. Kala berhubungan dengan para pihak di luar lingkungan kerja, bisa cepat beradaptasi saat topik obrolan berubah. Tanamkan kesan bahwa kita menguasai pekerjaan kita, namun tak lemot saat berbicara pekerjaan yang lain.

Bersiap naik kelas

Tak ada pekerjaan baik yang sia-sia. Siapa menanam, pasti akan memanen. Itu yang perlu kita camkan. Setiap hasil kerja yang profesional, akan memberi nilai tambah dalam diri. Selalu saja pihak yang menyoroti pekerjaan yang kita lakukan.

Apresiasi atas kinerja kita, akan kita temui dalam berbagai bentuk. Salah satu nya ialah promosi. Kenaikan posisi merupakan ujian selanjutnya. Akankah kita terlalu berbangga diri atau mensyukuri dengan cara bekerja lebih giat. Saat seperti ini lah, kecerdasan emosi dan beragam soft skill kita di uji.

Semakin tinggi posisi seseorang, akan dilalui dengan kesulitan yang tak kita jumpai. Di balik kesuksesan mereka, terdapat perjuangan yang besar. Namun sekali lagi, itu hanya ujian. Akan semakin baik, atau berbalik buruk.

“Jika kalian bersyukur pasti akan Aku tambah ni’mat-Ku padamu tetapi jika kalian kufur sesungguhnya adzab-Ku amat pedih”. (QS 14:7).

Menjadi pekerja istimewa.
Menjadi pekerja istimewa.
BAGIKAN
Berita sebelumyaMenjenguk Ibu yang sakit
Berita berikutnyaMembiasakan Berbagi Gagasan
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

8 KOMENTAR

  1. Dalam konteks Pemerintah Desa (karena saya kuli di desa) menunjukan dan tampil beda kadang digrendengi teman sekantor.

    Ide dan gagasan untuk memajukan desa kadang tampak aneh bagi yang sudah terbiasa menjadi pekerja biasa.

    Karena itu, menjadi pekerja biasa kadang menjadi pilihan Kang? Pilihan yang pahit bagi saya…

    • Tak ada kebaikan yang sia-sia. Jika diyakini benar dan memberi manfaat bagi yang lain, ada baiknya tetap dilakukan. Nanti nya, mereka akan mengikut juga. Salam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here