Cerita Lebaran ku di Mandirancan

0
255
Shalat Ied di lapangan desa

 

Allohu akbar… Allohu akbar… Allohu akbar….
Laa ilaaha ilallohu Allohu akbar
Allohu akbar wa lillahil hamdu

Gema takbir terus berkumandang. Masjid dan mushola ramai. Sejak semalam suasana itu sudah menghangat. Tak terkecuali Ata dan Syamil. Mereka berbaur bersama anak-anak ikut bertakbir di masjid. Sayangnya tak ada takbir keliling. Tapi tak mengapa, toh mereka senang juga.

Mereka tak pulang larut. Sekitar jam 9 malam sudah pergi tidur. Takut mereka bangun kesiangan esoknya. Lebaran kali ini kami mesti ke lapangan desa esok pagi. Shalat Ied dilaksanakan di sana. Alhamdulillah tahun ini lebarannya bareng. Biasanya kalau pas lebarannya bareng, nggak ada hujan, ada takbir keliling. Eman-eman.

Soal lebaran bareng dan tidak, jadi ingat sebuah obrolan dalam novel Ayat-ayat Cinta ke-2. Saat itu ada seorang pemuda yang bersemangat mengatakan bahwa permasalahan umat hanya bisa terwujud melalui khilafah. Kemudian seorang Syaikh menimpali:

“Bagaimana mau tegak Khilafah, menyatukan Idul Fitri saja, nggak bisa”.

Ini bukan kalimat sinis atau pesimis. Ini sebuah PR. Islam akan tegak jika perbedaan-perbedaan bisa di minimalisir. Salah satu nya mempersatukan Idul Fitri. Tidak berbeda-beda. Perbedaan memang fitrah. Tapi urusan akidah dan ibadah, mestinya lebih banyak kesamaan daripada perbedaan. Tuntunannya kan cuma satu. Iya yah.

Pagi itu tak ada lagi makan sahur. Kebiasaan bangun pagi saat ramadhan membuat Ata cepat terjaga. Hanya Syamil yang agak susah dibangunkan. Aku, Ata, istri, dan Ibu ku sampai bergantian merayu nya. Dia tetap enggan membuka mata. Alasannya masih mengantuk. Tawaran minum susu membuatnya rela bangun. Pun masih sulit di suruh mandi.

Sesuai kesepakatan yang sudah-sudah di Mandirancan, kami akan melaksanakan shalat Ied di lapangan desa. Kondisi lapangan yang cukup kering memungkinkan untuk itu. Hanya embun di rerumputan yang membasahi. Beberapa hari terakhir tak ada hujan. Yang paling menentukan ialah berbarengannya lebaran kali ini. Itu faktor utama.

Jika berbeda hari, pelaksanaannya di bagi dua. Yakni di komplek masjid An-Nur dan di lapangan atau komplek masjid Al-Mujahidin. Kesepakatan di bagi dua tempat pun berlaku saat kondisi lapangan tidak memungkinkan karena becek. Biasanya untuk warga RW 01 dan 02 di seputaran pertigaan Mandirancan; sedang yang tinggal di RW 03 dan 04 melaksanakan shalat Ied di komplek masjid Al-Mujahidin.

Sebelum shalat Ied di mulai, panitia zakat fitrah melaporkan perolehan dan distribusi nya. Menurut Sujarwo, selaku ketua panitia, untuk tahun ini didapatkan beras sebanyak 6.732 kg. Beras tersebut telah dibagikan kepada yang berhak dengan tiap jiwa penerima mendapat beras sebanyak 4 kg.

Jika dibandingkan dengan perolehan tahun lalu dan distribusi nya, terjadi peningkatan. Pada tahun 2015 kemarin, rata-rata jiwa penerima hanya mendapatkan 3,5 kg beras. Meski jumlah penerima bertambah, tapi rata-rata beras untuk penerima pun bertambah. Alhamdulillah. Semoga tahun depan jumlah pemberi bertambah dan penerima berkurang.

Tampil selanjutnya, Kepala Desa Mandirancan memberikan sambutan tunggal. Momen ini penting dan mesti dimanfaatkan dengan baik. Pada kesempatan kali ini, Amin Subkhantoro, sebagai Kepala Desa memberikan informasi kegiatan-kegiatan pembangunan yang telah dan akan dilakukan.

Pembangunan kios-kios desa di bekas lapangan voli akan selesai pada tahun ini. Perbaikan saluran air dari pertigaan SMP sampai ke Wringin akan segera direalisasikan. Termasuk pembangunan gedung TK dan PAUD yang gagal tahun kemarin. Informasi akan adanya bantuan dana sebesar 200 juta dari Pemprov Jateng, tiba-tiba dibatalkan. Padahal alokasi ini sudah masuk dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) tahun kemarin. Pembatalan bantuan ini tak hanya membuat masyarakat Desa Mandirancan saja yang kecewa. Sebab karena janji pemberian bantuan itu, beberapa desa di kabupaten Banyumas harus gigit jari.

Anggap saja belum rejeki. Daripada nggrundeng, ikhlaskan saja. Toh dengan adanya kucuran Dana Desa (DD) dan Alokasi Dana Desa (ADD), bisa dimanfaatkan untuk mengobati kekecewaan itu.

Memang sebelum menginformasikan hal ini, Kepala Desa sedikit menyinggung soal aib yang terjadi beberapa waktu lalu. Kasus yang penanganannya sudah dilimpahkan ke Polres Banyumas, masih menimbulkan kasak kusuk. Oleh karena nya Kepala Desa minta agar warga masyarakat bersabar menunggu proses. Sedang bagi yang merasa tidak puas, dipersilakan japri langsung dengan beliau.

Setelah shalat Ied, kami mendengarkan khotbah yang aku rasa kurang berbobot. Sepertinya sang Khatib belum bersiap diri secara maksimal. Mungkin juga karena penunjukannya yang mendadak. Materi yang disampaikan sepertinya hanya asal comot dan pembahasannya kurang mendalam. Ada beberapa poin yang semestinya disampaikan, tapi tertinggal. Mengambang.

Khutbah kali ini membahas permasalahan bom yang meledak beberapa waktu lalu di Solo, Madinah, dan beberapa tempat lain. Topik yang diangkat soal makna jihad. Kemudian dilanjutkan dengan pemanfaatan gajet oleh remaja yang cenderung tidak produktif. Tapi ya itu tadi, pembahasannya masih mengambang. Kesannya garing.

Sang khatib mengartikan kata “jihad” dari segi bahasa yang bermakna sungguh-sungguh. Dia katakan bahwa siapa saja yang bersungguh-sungguh dalam mengerjakan sesuatu, sudah berarti jihad. Tentu saja dalam hal kebaikan. Makna jihad dari segi lain tak dibahasnya. Padahal tentu saja memaknai kata jihad tidak bisa dari segi bahasa saja.

Memang benar, ketika seseorang yang sungguh-sungguh bekerja untuk menafkahi keluarga, terkategori jihad. Seorang pelajar yang menuntut ilmu pun termasuk jihad. Demikian juga seorang ibu rumah tangga yang sibuk mengurusi anak-anak, suami, dan setumpuk pekerjaan pun termasuk jihad. Tentu masih banyak contoh lain yang termasuk kategori jihad.

Aku paham apa pesan yang hendak disampaikan oleh Khatib. Dia ingin mengatakan kepada jama’ah bahwa perilaku bom bunuh diri bukan kategori jihad. Aku sepakat. Membunuh diri sendiri dan orang lain tanpa syarat yang disyari’atkan adalah perbuatan keji. Bom-bom bunuh diri yang dilakukan oleh “calon pengantin”, memang bukan ajaran Islam. Entah doktrin mana yang membuat para pelaku meyakini bahwa melakukan bom bunuh diri termasuk jihad.

Makna jihad yang lain tak di bahas. Padahal kata jihad tergantung kondisi yang dihadapi. Seperti orang-orang Palestina yang berperang melawan penjajah Zionis Israel, termasuk jihad. Mereka berjuang mengusir penjajah yang merebut tanah Palestina. Anak-anak kecil Palestina yang hanya bersenjatakan batu melempari tank-tank, meski musykil, itu pun jihad. Sayangnya, sedikit yang berani mengatakan hal ini.

Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh NU saat perang kemerdekaan pun tepat. Mengusir para penjajah yang ingin menguasai hak-hak kita adalah wajib. Saat itu, senjata bamboo runcing pun di rasa musykil. Atas ridho-Nya lah Indonesia merdeka. Mati mempertahankan hak termasuk kategori syahid. Pun dengan orang-orang Palestina sekarang dan Indonesia dulu. Insya Allah demikian.

Seingatku, sang khatib pun tidak menyinggung hakikat berjihad. Seperti hal nya amalan-amalan lain, tujuan dari berjihad ialah mengharap ridha Allah SWT. Kemenangan, kesuksesan, dan keberhasilan saat berjihad baik kala berperang, mencari nafkah, atau belajar pada dasarnya adalah hadiah. Hadiah dari Allah SWT atas kesungguhan dalam berjihad.

Jika cita-cita dalam berjihad masih belum terkabul, mungkin karena keliru dalam hal niat. Kekeliruan dalam berniat yakni mencari kemenangan, kesuksesan, atau keberhasilan perlu diluruskan. Niat utama ialah keridhaan-Nya.

Pembahasan soal gajet pun sama garing nya. Sebab sang khatib lebih menekankan tentang pengawasan orang tua terhadap anak-anak dalam penggunaannya. Manfaat gajet dalam teknologi informasi tidak disampaikan berimbang. Mungkin pengetahuan sang khatib masih kurang di update. Tapi aku yakin ini soal persiapan saja.

Tentu kami harus berterima kasih pada nya dan panitia. Jika mereka tak sigap, mungkin pengisian khutbah nya malah nggak jelas. Apalagi kalau aku yang disuruh mengisi, enggak banget pokoknya… hehehe….

Biasa nya pada sesi salam-salaman paska shalat Ied aku agak malas. Bukan karena apa, jama’ah sering nya bubar sesaat setelah khutbah. Kali ini enggak lho. Buktinya saat kami bersalam-salaman, lama. Muter nya bisa sampai berapa shaf. Beberapa wajah teman SD yang aku ingin bertemu dengannya, memang tak terlihat. Entah mereka mudik atau pulang duluan paska khutbah.

Prosesi bersalam-salaman dilanjut di kompleks. Masing-masing tempat bersepakat berkumpul di kompleks rumah untuk bersalam-salaman. Ini tradisi baru. Usia nya baru sekitar sepuluh tahunan. Sebelumnya tradisi ini tidak ada.
Tradisi di Mandirancan yang aku tahu waktu bersalam-salaman adalah hari kedua. Hari pertama ini biasanya setelah shalat Ied ya sudah. Tak ada salam-salaman ke tetangga. Acara salam-salaman dan mengunjungi tetangga baru dilakukan pada esok hari, yakni lebaran kedua. Oleh karena nya saat kami masih kecil, baju lebaran harus dua setel. Kalau cuma satu, setelah shalat Ied, baju nya mesti di copot.

Namun demikian setelah bersalam-salaman paska shalat Ied, saling mengunjungi pada hari kedua tetap dijalankan. Tradisi baru tidak lantas mengubah tradisi lama. Rasanya tetap kurang kalau tidak saling anjangsana. Terutama mengunjungi para kesepuhan dan orang yang dianggap sesepuh.

Banyaknya peserta salam-salaman di lapangan ternyata menular di grumbul ku. Warga di grumbul Tambangan yang bersalam-salaman di kompleks masjid An-Nur pun demikian. Hampir semua warga terlihat. Alhamdulillah.

Shalat Ied di lapangan desa
Shalat Ied di lapangan desa. Dok: Sunarto Ono

 

Bersalaman di kompleks masjid An-Nur
Bersalaman di kompleks masjid An-Nur. Dok: Sunarto Ono
BAGIKAN
Berita sebelumyaMudik Selamanya di Desa
Berita berikutnyaSyamil Genap Empat Tahun
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here