Cukup Bekerja dengan Baik

0
177
Yang penting bekerja. Soal hasil urusan nanti.

Jika pekerjaan yang kita lakukan ternyata tidak bisa diterima oleh orang lain, pasti ada yang salah dalam menilai. Bisa karena mereka tak bisa menilai, atau justru kita yang terlalu tinggi menilai diri sendiri.

Daripada menginginkan orang lain memperbaiki cara penilaiannya, akan lebih baik jika kita yang menurunkan standar penilaian terhadap diri sendiri. Karena semua sama-sama memiliki potensi benar atau salah. Bisa saja mereka yang benar dan kita yang salah, atau sebaliknya.

Terlepas dari itu semua, tugas kita hanya lah bekerja sebaik mungkin. Ada baiknya pula, tidak merasa telah berbuat baik, karena: “Cukuplah seseorang dianggap jahat, jika dia telah menganggap dirinya telah berbuat baik” (Al-Hadits).

Niatkan bekerja untuk ibadah

Tentu beda antara orang yang bisa dengan yang paham. Orang yang sekedar bisa melakukan, itu banyak. Sedang mereka yang paham dengan apa yang dilakukan, tergolong sedikit. Kebanyakan orang lebih memilih bisa daripada paham. Bisa melakukan sesuatu dianggap sebuah kesuksesan, padahal tidak demikian. Yang paling penting kita paham apa yang kita lakukan. Itu lebih bermakna.

Paham bahwa kerja-kerja yang kita lakukan adalah ibadah tentu berbeda. Saat menjiwai sebuah pekerjaan sebagai salah satu bentuk ibadah, maka rasa muroqobatulloh selalu menyertai. Meski tak ada pengawasan dari si Bos, kita tetap berusaha bekerja maksimal. Ada tidaknya si Bos tidak terlalu berpengaruh.

Beda dengan mereka yang sekedar bisa. Rasa malas jika tanpa pengawasan biasanya akan hadir. Kebanyakan dari mereka akan bekerja giat saat ada pengawasan dan berlaku sebaliknya. Mereka bisa melakukan pekerjaan, tapi tak paham apa yang dilakukan. Orientasi pekerjaan murni bertujuan materi.

Totalitas pada pekerjaan

Seorang yang bekerja dengan niat ibadah akan totalitas. Seluruh tenaga, waktu, dan pikiran akan dicurahkan untuk pekerjaannya. Dia mencintai pekerjaan sepenuh hati. Segala daya upaya coba dikerahkan. Andai tak bisa, dia tak sungkan bertanya dan belajar. Setiap ada kesempatan akan digunakan untuk belajar guna meningkatkan kompetensi.

Totalitas dalam bekerja tentu akan menghasilkan output yang optimal. Mereka yang total dalam bekerja akan berpikir mencari solusi saat terjadi masalah. Bersama-sama rekan dan pimpinan akan ikut memikirkan. Rasa memiliki terhadap pekerjaan begitu besar.

Bukan hanya karena soal gaji. Dia merasa bahwa pekerjaan adalah hal sulit dilepaskan dari tanggung jawabnya. Bahkan saat diminta untuk melakukan pekerjaan di luar jam kerjanya, dia akan berusaha memenuhi dengan maksimal.

Siapa saja si Bos yang memiliki karyawan yang demikian, tentu menggembirakan. Pekerjaannya sebagai Bos akan terasa ringan. Dia dibantu oleh tenaga-tenaga profesional yang totalitas.

Jika berpikiran maju, si Bos mestinya tidak sayang menaikkan gaji karyawannya itu. Dia tak ingin si karyawan beralih ke perusahaan pesaing.

Namun, saat si Bos tidak peka, maka bersiaplah merana. Karena si karyawan akan direbut perusahaan pesaing.

Raih mimpi indah dengan bekerja

Manusia yang tak punya mimpi, akan berjalan linier. Hidup akan terasa membosankan. Karena rutinitas yang dilakukan itu-itu saja. Saat risau dan galau melanda, dia beralasan ‘kurang piknik’. Kalimat pembenar yang sedang menjalar.

Bermimpi bagi manusia justru akan memperindah hidup. Mimpi meraih kesuksesan menjadi motivasi. Pemacu dan pemicu semangat bahkan muncul dari mimpi-mimpi tersebut. Seorang Walt Disney pun bermimpi. Meski dia tak sempat melihat mimpinya menjadi kenyataan. Akan tetapi kesuksesan Walt Disney sekarang, sudah dilihatnya dalam mimpi. Demikian dituturkan oleh sang istri.

Bekerja menjadi sarana meraih mimpi. Sebab mimpi tanpa upaya realisasi hanya lah imajinasi dalam halusinasi. Apalagi mimpi-mimpi yang hanya dirangkai dengan kata-kata, mirip bualan seorang penjual obat tanpa ijin.

Seorang pecandu narkoba adalah para pemimpi ulung. Dia menginginkan hidup seperti mimpi-mimpi indahnya. Sayang dia tak berusaha merealisasikan mimpi. Terjebak pada halusinasi.

Orang yang bekerja lebih realistis dalam meraih mimpinya. Meski jenis pekerjaan yang dia tekuni bukan bagian dari mimpi masa lalu, yakinlah, akan indah pada waktunya.

Berserah diri

Manusia menjadi makhluk yang lemah. Keterbatasan kemampuan menjadi pengingat. Kita bukanlah manusia super. Selalu ada kendala dan hambatan yang datang. Meski sudah berupaya sekuat tenaga, apa yang kita inginkan tak jarang berbuah lain.

Berserah diri menjadi resep mujarab. Sebab apa-apa yang kita inginkan belum tentu yang terbaik. Selalu saja ada kebaikan di balik itu. Bisa jadi bahwa hasil berbeda itu hanya sekedar penguji. Seberapa besar keyakinan dan keteguhan kita dalam melakukan kerja-kerja selama ini.

Yang perlu kita yakini, bahwa selalu saja ada pihak lain yang melihat kita. Dia selalu mengawasi apapun yang kita lakukan. Pada saatnya, dia akan memberikan kita pilihan yang menyenangkan.

Oleh karena nya, senantiasa bekerja dengan baik, akan membawa hasil baik. Meski hasil itu bukan dari sesuatu yang kita harapkan.

Nah, saat kecewa karena hasil yang berbeda, ada nasihat kawan yang selalu aku ingat: “gunakan logika tauhid”.

Demikian ujar Kang Fadli.

Salam.

Yang penting bekerja. Soal hasil urusan nanti.
Yang penting bekerja. Soal hasil urusan nanti.
BAGIKAN
Berita sebelumyaPraktik Membatik
Berita berikutnyaKeluarga sebagai Kawah Candradimuka
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here