Demo Cerdas dan Tepat Sasaran

0
277
Tuntutan soal migas

Jakarta (03/09/14) Ternyata demo pun harus cerdas dan tepat sasaran. Cari tempat-tempat yang banyak peliput media hingga gaungnya lebih terasa. Yuk ikuti cerita ini.

Mereka tak lebih dari 100 orang. Kata salah seorang peserta, hanya sekitar 60 an mahasiswa, terdiri dari mahasiswa Universitas Indonesia (UI), Universitas Buya Hamka (UHAMKA), Universitas Kristen Indonesia (UNKRIS), dan Universitas Bung Karno (UBK). Dari banner berukuran 3×1,5 m yang mereka bentangkan, mereka menamakan diri Serikat Mahasiswa Revolusi Mental. Entah berapa lama mereka berjalan kaki dan sebelumnya juga berkumpul dimana, aku tak tahu.

Tepat Sasaran
Tepat Sasaran

Aku bersama Gonus sedang duduk di trotoar depan Rumah Transisi Jokowi. Rumah Transisi Jokowi ini ternyata masuk ke dalam, tidak berada di pinggir jalan raya. Kami bergerak sejak dari Masjid Nurul Badar Pasar Minggu menuju arah Patung Pancoran. Kemudian menjadi arah ke Manggarai, baru menuju Menteng. Berapa kali kami bertanya, tak aku ingat, karena terlalu seringnya. Masih beruntung jalur jalan yang diambil Ajat, sang sopir, tidak salah hingga tak perlu putar-putar lagi. Paling-paling berhenti, tanya orang, berhenti, tanya orang, dan seterusnya.

Pun tidak semua orang yang kami tanyai tahu keberadaan Rumah Transisi Jokowi. Meski sudah di kompleks Taman Menteng, kami harus bertanya setidaknya 4 kali. Pertama kami bertanya kepada sekuriti rumah pejabat, dia bilang: “Oh terus saja, ikuti jalan ini. Rumahnya di belakang rumah itu”. Kata dia menunjuk rumah besar di sebelah kiri dia berjaga. Kami pun berjalan lagi.

Tak harus banyak
Tak harus banyak

Ternyata istilah “di belakang rumah itu” hampir sama dengan pengertian orang desa. Meski di bilang dekat, ternyata jauh juga. Ini pun sama. Di belakangnya entah sebelah mana. Karena kami harus ambil keputusan cepat saat menemui kenyataan di depan ada perempatan dengan lampu lalu lintas. Keputusan kami belok kiri. Mobil pun diperlambat jalannya. Nah, saat ada petugas kebersihan yang sedang menyampu di sebelah kanan jalan, kami berhenti. Aku turun dan menyeberang dengan hati-hati. Mobil dan motor seolah tak memberiku kesempatan. Ternyata dia tak tahu dimana Rumah Transisi Jokowi itu. Dia hanya kira-kira bahwa kami harus jalan lagi, kemudian belok kiri saat temui perempatan. Sepertinya di sebelah kanan jalan setelah kami belok kanan. Dekat jalan raya.

Kami ikuti sarannya termasuk saran dari Aji Saptaji, FK dari Pasaleman. Ah, ternyata tak ada tanda-tanda. Kami pun berhenti dan bertanya lagi kepada pedagang kaki lima yang berjualan rokok di pinggir jalan. Dia bilang, nanti didepan ada jalan masuk ke kiri, ambil saja. Tapi bukan jalan yang ada lampu lalu lintasnya. Ah, ini kayaknya. Tertulis jalan Besuki. Padat jalan karena sempit dan di kanan kiri banyak mobil parkir. Aku turun dan setengah berlari bertanya kepada petugas parkir. Dia bilang: “Oh, terus saja. Nanti di depan ada pertigaan, ambil kanan”.

Tuntutan soal migas
Tuntutan soal migas

Sampai di pertigaan yang dimaksud, kami bertanya lagi. Memastikan. Ternyata benar, dia menunjuk dan berkata: “Itu. Rumah yang ada mobil berparabola”.

Wah, ini benar-benar memanfaatkan GPS, Gunakan Penduduk Setempat. Sampailah kami di Rumah Transisi Jokowi. Rumah dengan arsitektur mirip peninggalan Belanda dengan warna cat putih. Bendera merah putih berkibar di beberapa titik di gerbang. Di sana duduk-duduk para wartawan. Aku kenal karena badge yang menempel di baju-baju mereka.

Aku dan dia diberi mandat untuk mengantarkan surat keberatan terhadap PTO 2014 dari Pak Dwi Purnomo, Ketua Umum Assosiasi UPK Nasional. Hanya saja, Pak Surono Danu yang akan memfasilitasi kami sedang rapat kayaknya. Telpon berkali-kali dari Ketua UPK Kec. Pasaleman Kab. Cirebon yang nyentrik ini tak jua diangkat. SMS yang dia kirimkan pun jawabannya lambat.

Aku coba-coba hubungi Mas Budiman Sudjatmiko. Tapi dia hanya menjawab singkat: “Aku lagi rapat, aku lagi rapat. SMS saja”.Aku pun SMS. Sama seperti Pak Surono Danu, jawabannya pun lambat.

Siap siaran langsung
Media siap siaran langsung

Demi membuang jenuh, aku melihat demo di depan sana. Rumah Transisi sepertinya memang tempat yang tepat untuk demo. Karena disana banyak sekali kuli tinta dan kuli kabel, istilah untuk wartawan koran cetak dan televisi. Eh, enggak ding. Ada juga wartaman koran online. Tak aku lihat ada cewek pakai seragam hitam dengan badge: beritasatudotcom.

Saat memasuki kawasan Taman Menteng, mendekati rumah transisi, memang berjajar banyak mobil dengan tulisan media-media nasional. Bahkan dari Metro TV sudah siap dengan mobil yang bisa menyiarkan secara langsung kegiatan di sana. Ada peralatan berupa parabola dan lainnya.

Banyak media massa
Banyak media massa

Maka tatkala peserta demo mulai berorasi, banyak wartawan mengerumuni mereka. Kemudian ada beberapa peserta yang membagikan kertas press release tentang tuntutan mereka. Pokok permasalahan yang aku tangkap adalah mengenai rencana kenaikan BBM. Dimana mereka menuntut, entah siapa namanya, yang jelas orang yang mengurusi BBM Migas untuk diganti. Mereka sebut dia sebagai mafia BBM Migas yang menyebabkan harus adanya subsidi BBM. Mbuh lah ora mudeng.

Seperti layaknya ABG yang lain. Beberapa cewek pun menyempatkan selfi-selfi dengan latar belakang peserta demo dan Rumah Transisi Jokowi. Halah… hehehe….

Letih, capek, dan perut yang mulai menggugat membuat kami putuskan untuk pergi saja dari situ. Aku dan Uri minta ijin ke Paspampres yang berjaga disana. Kami hanya akan menitipkan surat saja. Tindaklanjut akan dilakukan oleh Pak Surono Danu atau Mas Budiman. Alhamdulillah diijinkan. Aku menandatangani buku tamu dan menyerahkan berkas tuntutan. Sedang dia memberi kami bukti penerimaan.

Dari dalam Rumah Transisi
Dari dalam Rumah Transisi

Sambil berjalan ke mobil aku melihat ke belakang lagi. Membayangkan dan membandingkan demo yang baru saja kami lakukan, yakni di halaman Dirjen PMD di Pasar Minggu Jakarta Selatan. Sepi dari publikasi media massa. Lha ini, cuma beberapa orang saja langsung dikerubuti media.

Mungkin memang harus belajar dari mereka. Demo pun harus cerdas dan tepat sasaran.

Hanya bisa nitip
Hanya bisa nitip
Yang penting sampai
Yang penting sampai
BAGIKAN
Berita sebelumyaIndah Kebersamaan Kita
Berita berikutnyaAku Bangga Jadi Sekretaris RT
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here