Dia yang Sulit Mengatakan Cinta

0
245
Ki-ka: Bu Dhe Eci, Mba Ata, Mba Dita, Istri ku, Syamil

Aku pernah cemburu. Saat itu, dia mau tidur bareng adikku, Kikin. Padahal sejak dia dilahirkan sampai saat itu, tak pernah sekali pun dia mau tidur satu ranjang bareng aku.Tapi saat Kikin mengajak, dia mau.

Pasalnya, saat Kikin masih kerja di Kebumen, hampir setiap 2 (dua) minggu sekali dia pulang dan selalu membawa aneka jajanan, satu tas kresek besar. Tak jarang isinya habis dalam 2 (dua) hari. Tentu porsi terbesar ada padanya.

Saat Kikin pindah kerja di Bali, tak begitu saja dia mau aku ajak tidur bareng. Selalu saja ada alasan. Kebiasaan tangannya memegang perut istriku saat mau tidur, memang sulit dilepaskan. Tawaran untuk memegang perut ku, dia tolak. Dia lah Syamil, jagoanku yang kedua.

Saat di Museum Susilo Sudarman

Paling responsif

Dibandingkan istri ku dan Ata, Syamil sebenarnya paling responsif. Saat aku ucapkan salam waktu pulang kerja, dia segera buka kan pintu. Meski tanpa menjawab dan dengan ekspresi biasa-biasa saja. Sedangkan Ata biasa nya asyik dengan aktifitas sendiri. Ata baru mau menyongsong saat punya keinginan. Entah minta atau ingin memamerkan sesuatu. Atau ikut menyongsong, tapi di belakang Syamil.

Saat aku bepergian luar kota, tak jarang Syamil jatuh sakit. Badannya panas. Kata istri ku, dia baru sembuh benar saat aku pulang. Yang tadi nya hanya tidur-tiduran dan minta di bopong ke mana-mana, saat aku pulang, langsung bisa berjalan dan berlarian. Apalagi jika langsung atau esok harinya aku ajak jalan-jalan.

Respon lain saat aku sakit. Dia mau memijit kepala ku.Meski terasa geli karena jari mungil nya, aku bahagia. Selain istri ku, dia memang sangat perhatian. Dia mau mengambilkan minum dan obat.

Mandi di Curug Krucuk Desa Mandirancan

Agak berubah

Saat istri ku mengatakan kalau dia positif hamil, Syamil masih tetap tak mau tidur bareng. Tapi tatkala perut istri ku membesar, dia baru tersadar. Pegangan tangan saat hendak tidur sudah tak senyaman dulu. Sekarang buncit perut istri ku membuatnya paham, dia harus siap berbagi dengan calon adiknya.

Perubahan mulai ada. Dia sudah mau tidur bareng satu ranjang meski tak setiap malam. Kebiasaan minta dikipasi saat hendak memejamkan mata, harus aku yang melakukan. Sebelum pergi tidur, sudah aku biasakan untuk pipis dulu biar tidak mengompol. Saat malam terbangun untuk pipis, selalu aku bopong.

Sayangnya beberapa waktu lalu, dia minta ditunggui saat bersekolah. Aku tak boleh pulang sebelum istri ku menyusul. Pernah pula, dia mogok sekolah gara-gara aku tak mau menungguinya.

Kini, saat aku tidur-tiduran sepulang kerja, atau sedang bersantai, dia selalu menjajari. Kadang memamerkan kebiasaannya memainkan HP, atau game online. Seringnya merebut HP dan laptop untuk bermain-main.

Bermanja

Cara nya mengungkapkan cinta

Mau melakukan sesuatu untukku, itu caranya mengungkapkan cinta. Dari mulutnya memang belum pernah meluncur kalimat: “Syamil sayang Bapa”, kecuali aku mengawali. Berbeda dengan Ata yang kadang-kadang memeluk dan berujar demikian.

Saat tidak sakit kala aku bepergian, dia selalu minta istri ku menelpon. Dia hanya ingin mendengarkan dan memastikan aku baik-baik saja. Dia sering tak mau berbicara langsung. Selalu menyuruh istri ku atau kakak nya yang berbicara.

Memang Syamil masih sulit menyatakan cinta. Tapi dia tetap mengungkapkan cinta, dengan perbuatannya.

Bapa sayang kalih Syamil, Mama, Ata, kalih dede sing teng padarane Mama”.

Ki-ka: Bu Dhe Eci, Mba Ata, Mba Dita, Istri ku, Syamil
BAGIKAN
Berita sebelumyaBerbagi Semangat Kemandirian di Lombok Barat
Berita berikutnyaPresentasi Ala Kadarnya
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here