Dibalik Orang Sukses, Ada Sederet Mantan yang Menyesal

0
239
Gambar pemanis

Aku pernah punya usaha jasa pengetikan. Oleh karenanya sering berhubungan dengan berbagai macam karakter manusia. Unik dan asik. Sembari mengetik, sering diajak ngobrol banyak hal. Dari situlah aku belajar sabar, memposisikan diri, dan berempati.

Ada satu pelanggan yang unik. Beliau seorang guru. Setelah beberapa kali kunjungan, akhirnya beliau memilih datang malam hari, sekitar jam 9 malam. Mau ditolak tidak enak. Pasalnya itu rejeki. Beliau mau membayar lebih mahal dari pelanggan lain. Sering pula membawa jajanan.

Dari kebiasaannya itu, aku jadi tahu. Sebenarnya beliau bukan hanya butuh jasa pengetikan. Tapi butuh teman curhat. Lebih tepatnya teman yang mau mendengarkan cerita-ceritanya. Beliau tidak butuh masukan. Hanya butuh orang yang mau mendengarkan saja. Hampir semua yang beliau alami diceritakannya. Termasuk hal-hal yang sepele.

Suatu saat beliau cerita tentang masa mudanya. Gejolak masa remaja membuatnya jatuh cinta pada seorang gadis. Cantik. Begitu katanya. Perjuangan untuk apel tiap malam minggu sudah dilakukannya. Meski jarak dari rumahnya cukup jauh. Kalau sekarang sekitar 20 menit pakai motor. Tapi kejadian itu sekitar 40 tahun yang lalu. Jadi, jalanan masih sepi dan tidak banyak kendaraan.

Suatu ketika beliau ditemui oleh orang tua gadis pujaannya. Mereka mengatakan bahwa anak gadisnya sedang disuruh fokus kuliah. Jadi tidak boleh berpacaran dulu. Beliau menangkap apa yang dimaksud. Sejak saat itu beliau tidak lagi datang apel malam minggu.

Namun, apa lacur. Berselang sekitar 6 bulan kemudian, beliau mendapat undangan pernikahan. Gadis pujaannya dipinang oleh orang lain. Calon mempelai pria adalah seorang karyawan bank. Tragisnya, yang demikian sudah terjadi berulang kali. Penolakan demi penolakan.

Beliau sadar diri. Apalah arti seorang guru honorer. Masa depan tidak jelas. Masa bakti entah kapan akan berakhir baik.

Saat itu, aku tidak memperhatikan apakah ada air mata yang keluar dari pelupuk matanya. Selain merasa tidak sopan, fokus pada ketikan, dan posisinya yang sedang rebahan membuatku tidak tahu apa yang dirasakan. Sakit? Pasti.

Kala itu beliau meminta aku membantunya mengurus sertifikasi guru. Ini awal-awal program sertifikasi bagi para pendidik. Saat itu beliau sudah berstatus PNS. Alhamdulillah beliau berhasil lolos.

Namun kisah cintanya berakhir bahagia. Beliau menemukan istri sholihah. Cantik. Dosen, PNS pula. Tak jarang beliau memposting kebahagiaan bersama keluarga dan memuji-muji istrinya.

Ada janji beliau padaku yang sempat diucapkan dan belum ditunaikan, “nanti kalau saya sudah dapat sertifikasi, Mas Kikis akan saya traktir sate”. Suatu saat akan saya tagih. Bukan karena aku tidak ikhlas atau tidak mampu beli sate.

Aku hanya akan berujar: “Pak, Sis. Dibalik orang sukses, ada sederet mantan yang menyesal”.

Semoga beliau tidak membaca postingan ini. Kalau telanjur membaca, mohon janjinya ditunaikan, Pak… eh.

BAGIKAN
Berita sebelumyaMenjadi Koresponden Tugas Akhir
Berita berikutnyaMencari Habitat Dimana Kita Dibutuhkan dan Dihargai
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here