Eksekusi yang Berkualitas

0
328
Serahkan pada ahlinya

Orang sering bertanya mengapa pekerjaan di satu tempat bisa berhasil, sedang di tempat lain tidak. Padahal pekerjaan di tempat yang tidak berhasil sudah meniru apa yang dilakukan dari tempat yang berhasil. Semua proses perencanaan, pengorganisasian, penganggaran, dan contoh-contoh kegiatan sudah menerapkan ATP (Amati, Tiru, Plek) atau ATM (Amati, Tiru, dan Modifikasi).

Tidak sedikit pula dalam prosesnya mereka didampingi oleh mentor profesional. Sudah sesuai dengan regulasi, baik regulasi eksternal maupun internal. Nyatanya tidak berhasil. Tak jarang kemudian orang kemudian bersikap pesimis. Mereka berujar: “ah, teori”.

Padahal proses terjadinya teori didasari dari praktik-praktik baik yang dilakukan oleh kebanyakan. Prosesnya deduktif, bukan induktif. Itu lah kenapa teori didefinisikan sebagai “kebenaran yang bersifat umum”. Karena kebenarannya sudah jamak dilakukan oleh banyak pihak.

Kualitas Eksekusi

Jawaban paling tepat adalah kualitas dari eksekusinya. Sebagus apapun proses perencanaan dan pengorganisasian, jika di eksekusi dengan tanpa kualitas, maka hasilnya nihil. Hal ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor kedisiplinan menjadi tolok ukur. Apakah dalam pelaksanaan perencanaan dilakukan sesuai standar, jangka waktu, personal, dan kemampuan adaptif terhadap perubahan.

Eksekusi berkaitan dengan ketersediaan sumber daya (terutama manusia), pilihan strategi, dan operasionalisasi strategi. Bagaimana menterjemahkan pilihan strategi dalam operasionalisasi, dengan mengoptimalkan sumber daya yang ada, hanya bisa dilakukan oleh mereka yang paham akan kualitas eksekusi itu sendiri. Biasanya ini didapatkan oleh mereka yang memiliki jam terbang yang tinggi pada bidangnya.

Jika dalam pelaksanaannya tidak dilakukan dengan disiplin, maka yang kualitasnya tentu jauh dari harapan. Hal ini menyebabkan target tidak tercapai. Realitasnya para karyawan menginginkan pekerjaan yang nyaman tanpa dikenai target. Mental yang demikian perlu di upgrade. Bahkan, tak jarang pada titik tertentu harus di rotasi peran mereka.

Kualitas Eksekutor

Seperti kita tahu, sekelompok Singa hanya bisa mengembik, saat dipimpin oleh seekor kambing. Oleh karenanya, kualitas eksekutor menjadi kunci. Tentunya hal ini dinisbatkan pada pimpinan yang diberi mandat. Jika mental pimpinan lemah, karena hanya ingin bekerja biasa-biasa saja, maka jangan berharap ada perubahan yang kentara. Karena seorang pimpinan harus berpikir, bertindak, dan menangkap perubahan dengan cara ekstra. Disinilah fungsi pengorganisasian berbicara.

Eksekusi yang baik hanya bisa dilakukan oleh eksekutor yang baik. Dia tidak hanya mampu menggerakkan Tim, memastikan perencanaan berjalan baik, sesuai target waktu dan capaian, tapi juga sigap melakukan perubahan. Pengalaman dan keberanian mengambil keputusan menjadi kunci pilihan seorang eksekutor. Tetap berpegang teguh pada visi, misi, tupoksi diri dan bawahan, serta disiplin menegakkannya.

Eksekutor yang baik bukan dilahirkan, tapi dibentuk, terbentuk, dan membentuk. Dibentuk oleh leader dan sistem. Terbentuk oleh kondisi lingkungan yang senantiasa berubah-ubah. Dan membentuk super Tim untuk membantunya menyelesaikan mandat.

Adaptif

Tak jarang pilihan strategi saat perencanaan dibuat, tidak sesuai realita. Maka yang dibutuhkan oleh seorang eksekutor adalah kemampuan berpikir, merumuskan alternatif strategi, dan tindakan adaptif. Perubahan yang terjadi baik dari sisi internal maupun eksternal segera di respon. Komunikasikan dengan baik kepada para pihak yang terlibat. Berikan alternatif strategi berdasar analisisnya, rencana pembagian kerjanya, dan target capaiannya.

Jika eksekusi yang dilakukan tidak adaptif, baik pada perubahan besar atau kecil, maka sulit berkembang. Yang terjadi adalah kekakuan. Prinsip asal aman, tidak melanggar aturan, dan enggan beririsan dengan resiko, hanya berlaku pada seorang karyawan biasa. Sedangkan sikap adaptif mesti dianut oleh seorang eksekutor.

Kemampuan adaptif bisa didapatkan dari seorang eksekutor yang memiliki skill berbeda. Mampu menganalisa lingkungan internal dan eksternal, mengkategorikan perlu tidaknya perubahan strategi, memberikan alternatif strategi jika memang perlu perubahan, dan bersiap menanggung resiko atas pilihannya. Tentunya resiko yang terukur dan tidak merugikan diri sendiri, karyawan, maupun perusahaannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here