Gerakan Beli dari Tetangga

0
416
Bisa kepo sama yang jualan... eh.

Tulisan ini dibuat bukan untuk menggurui. Akan tetapi, sengaja ditulis agar semakin banyak orang yang mengingatkan saya tentang ini.

Gerakan belanja di warung tetangga sudah didengungkan sejak lama. Namun akhir-akhir ini kembali mencuat. Memang sebaiknya begitu lah sebuah gerakan. Terus digemakan meluas dan dilakukan secara massif. Karena masih banyak yang merasa ‘kaya’ saat berbelanja di Supermarket dan atau Mall.

Dengan alasan harga lebih murah dan nyaman, belanja di sana lebih disukai. Padahal barang belanjaan yang mereka bawa pulang, sudah tersedia di warung-warung tetangga. Kebiasaan berhutang pada warung tetangga, dan beli kontan di Supermarket mesti di ubah. Parahnya lagi, mereka merasa berhasil tatkala mampu menawar rendah-rendah saat membeli pada tetangga.

Gerakan beli dari tetangga, dimana warung salah satunya, mesti nya kita dukung. Karena sebaik-baik orang adalah yang berbuat baik pada tetangga nya. Bukan kah tetangga lah yang pertama kali membantu kita saat dibutuhkan. Tetangga pula yang ikut menjaga keamanan rumah saat kita bepergian.

Menjalin silaturahmi

Belajar dari Kulonprogo

Meski ikrar Gerakan Beli dan Bela Kulonprogo sudah didengungkan sejak tahun 2013, praktik baik ini tidak segera menggejala. Kebaikan memang lebih sulit tertularkan daripada keburukan. Siar gerakan ini pun tidak terlalu berseliweran di dunia maya. Khalayak lebih fokus pada berita-berita sampah.

Bersama jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompinda), Bupati Kulonprogo, Hasto Wardoyo, benar-benar merealisasikan itu. Beliau mewajibkan para pegawai negeri sipil (PNS) di sana untuk membeli produk-produk yang dihasilkan oleh masyarakat Kulonprogo. Gerakan yang dicanangkan bukan sekedar seremonial belaka. Beliau dan jajarannya memberikan teladan nyata.

Seragam batik diwajibkan kepada pelajar dan pegawai untuk membeli dari pengrajin di Kulonprogo. Para PNS diwajibkan membeli beras dari petani minimal 10 kg tiap bulannya. Sedang beras untuk rakyat miskin di Bulog, pun di pasok dari petani-petani di sana. Praktik-praktik baik tersebut, terbukti mampu mendongkrak pendapatan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kulonprogo.

Beliau tidak anti dengan investasi asing. Namun gerakan bela dan beli Kulonprogo, merupakan wujud keberpihakan pemimpin pada masyarakatnya.

Beli boneka dari pengrajin skala rumahan

Modal sosial

Gerakan beli dari tetangga bisa menguatkan kembali modal sosial. Lunturnya semangat gotong royong dan kebersamaan sebagai bentuk modal sosial mesti diperbaiki. Sikap dan sifat individualisme yang mulai menggejala harus ditangkal.

Mungkin gerakan ini terlihat sepele. Akan tetapi tatkala benar-benar dilakukan, hasilnya luar biasa. Menurut Bupati Hasto Wardoyo, sejak 3 (tiga) tahun gerakan itu dicanangkan, inflasi di Kulonprogo menurun. Geliat usaha kecil terus meningkat dan imbasnya pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Kepedulian kita pada tetangga dengan cara membeli produk yang mereka hasilkan adalah cara mudah berbuat baik. Terutama bagi mereka yang berkecukupan dibanding para tetangganya. Coba lah sedikit menyingkirkan pertimbangan lebih mahal atau murah nya. Yakin saja, tetangga yang produknya kita beli, pasti akan memberikan bonus. Entah apa bentuknya nanti.

Beli produk masyarakat

Mengubah kebiasaan

Bagaimana menjadi seorang tetangga yang baik? Coba lah kita bercermin. Bayangkan seandainya posisi kita ada pada mereka. Tatkala kita menghasilkan sesuatu, kemudian para tetangga dengan enteng minta atau berhutang. Mungkin tetap akan kita berikan. Namun rasa enek dan mungkin sakit hati akan menyeruak, saat melihat tetangga tanpa rasa malu membeli kontan dari toko modern.

Mengapa mereka tega minta dan berhutang pada kita, namun beli kontan pada yang lain. Padahal saat mereka membutuhkan, kita sebagai tetangga yang akan memberi bantuan terlebih dulu. Kalau permisalan ini dianggap terlalu naïf, silakan saja. Tapi begitu fakta nya.

Mari belajar menjadi konsumen irrasional. Yakni membeli sesuatu bukan karena kualitas dan harga semata, tapi karena sesuatu itu di jual oleh saudara atau tetangga kita. Bukan pula karena ingin terlihat kaya, akan tetapi karena tetangga lah yang mendoakan kita.

Bukan kah Tuhan memberikan kita rizki, justru karena orang-orang lemah ada di sekitar kita. Tuhan ingin menjadikan kita sebagai perantara rizki bagi mereka. Namun, saat kita melupakan itu, bukan tidak mungkin suatu saat nikmat itu akan Dia cabut.

Karena sebaik-baik orang adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Saudara dan tetangga dekat menjadi prioritas pertama yang berhak mendapatkan itu.

Salam.

Bisa kepo sama yang jualan… eh.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here