Hati-hati dan Waspada Agar Selamat Berkendara

2
220
Pertigaan depan pasar

Sejak aku bisa naik motor, seingatku, aku pernah mengalami 5 kali kecelakaan. Tiga kali di tabrak oleh sesama motor dari belakang, sekali kecelakaan tunggal, terpeleset, dan sekali menyebabkan kecelakaan bagi pengendara lain. Masih beruntung semua kecelakaan yang aku alami dan yang mengakibatkan kecelakaan bagi orang lain, tidak berakibat fatal. Tidak sampai berurusan dengan pihak kepolisian. Hanya luka ringan dan kerusakan-kerusakan kecil pada sepeda motor saja. Dari kejadian-kejadian tadi, seingatku pula, aku hanya kehilangan uang seratus ribu lebih sedikit. Untuk membeli lampu depan motor lama sebanyak 80 ribu, mengganti kerusakan stang motor yang terjatuh demi menghindar menabrak motorku sebanyak 20 ribu, dan membelikan kapas dan obat luka bagi pengendara motor tadi. Tidak lebih dari itu.

Empat kali kecelakaan aku alami dalam rentang waktu tahun 2008 sampai dengan 2011.  Sedangkan kecelakaan yang terakhir, aku alami hari Senin (29/9) kemarin. Aku bisa pastikan rentang waktunya, karena 4 kecelakaan itu aku alami saat masih menggunakan motor lama. Motor tua berkopling. Sekarang aku menggunakan motor matik sejak awal 2012. Dari semua kecelakaan tadi, hanya sekali yang aku alami saat memboncengkan istri dan anak. Kecelakaan yang lain aku alami sendiri.

Kecelakaan pertama terjadi di Patikraja. Tepatnya di depan warung mie ayam Pak Sugeng. Lokasinya tak jauh dari Masjid Baitul Muslimin Patikraja. Sekitar 25 meter ke arah timur. Jalan menuju ke Banyumas. Aku di tabrak oleh seorang karyawan RSU Banyumas. Dia menggunakan motor bebek. Saat itu hari masih pagi. Sekitar jam 7 an. Jalur di sana memang ramai saat jam-jam berangkat dan pulang sekolah atau kerja.

Pertigaan depan masjid Patikraja
Pertigaan depan masjid

Aku gambarkan dulu keadaan di sana di hampir setiap pagi atau sore harinya.

Jika kita berjalan dari arah utara, sebelum Pasar Patikraja, maka akan kita temui pertigaan. Jalan lurus akan menuju ke arah Cilacap, baik lewat Rawalo maupun Kebasen. Sedangkan belok kiri akan membawa kita ke Banyumas lewat Kaliori. Tak jauh dari situ, akan ada jalan bercabang. Belok kanan akan membawa kita ke Rawalo, jalan serong kiri menuju ke Kebasen melewati desa ku, Desa Mandirancan. Sedang di ujung ada pintu depan Pasar Patikraja.

Konstruksi jalan di pertigaan pertama tadi, jalan masih rata. Sehingga mudah bagi pengendara untuk berbelok. Sedangkan di jalan bercabang di depan, jalan yang menuju Rawalo di buat agak miring. Tikungan yang miring ini dimaksudkan agar gaya sentrifugal jalan akan menarik kendaraan sehingga tetap di jalurnya. Kemiringan ini yang sering menimbulkan kesulitan bagi pengguna jalan yang datang dari arah Kebasen dan Rawalo.

Kemacetan di pagi dan sore hari sudah menjadi pemandangan yang biasa. Masih lebih baik di saat pagi. Akan ada polisi yang mengatur lalu lintas. Kehadiran mereka banyak membantu menguraikan kemacetan di sana. Bahkan ketika musim mudik tiba, di depan Pasar Patikraja, atau tepatnya di bawah tugu jam, akan dibuat posko Operasi Ketupat Candi. Kondisi kemacetan di sana saat musim mudik, justru menjadi tontonan sendiri. Iseng orang-orang di seputaran Patikraja, sengaja datang hanya untuk melihat lalu lalang kendaraan. Ikut antri dalam kemacetan menjadi sensasi tersendiri… hehe….

Pertigaan depan pasar
Pertigaan depan pasar

Bagi pengendara yang berasal dari Purwokerto dan hendak menuju arah Banyumas, Rawalo, atau Kebasen, mungkin tak ada masalah. Begitu juga bagi mereka yang berasal dari arah Banyumas. Mereka akan dengan lebih mudah berbelok ke kanan atau ke kiri. Mau ke Purwokerto atau ke arah Rawalo atau ke Kebasen, terserah saja. Agak sulit ketika pengendara dari arah Rawalo hendak belok ke arah Kebasen. Mereka harus melihat kondisi di tikungan depan pasar tadi. Melihat kendaraan dari arah Purwokerto agar bisa menyeberang. Dan melihat kendaraan dari arah Kebasen juga. Paling tidak, dua keadaan harus mereka lihat sebagai pertimbangan waktu yang tepat untuk membelokkan kendaraan.

Pengendara yang berasal dari Kebasen yang menuju ke Purwokerto atau ke Rawalo pun mudah saja membelokkan kendaraan. Kesulitan yang ditemui jika pengendara dari arah Kebasen hendak berbelok ke arah Banyumas. Jika lurus mengikuti marka jalan, pengendara harus berhati-hati, atau berhenti di tengah-tengah jalan di pertigaan depan masjid. Kalau takut berhenti di tengah-tengah jalan, biasanya mereka akan minggir dan berhenti di depan bahu jalan depan masjid. Sedang untuk menyeberang menuju jalan ke Banyumas, mereka akan dihadapkan pada lalu lalang kendaraan yang berasal dari Purwokerto, Kebasen, dan Rawalo, serta dari arah Banyumas sendiri. Di situ lah titik pertemuan keempat jalur tadi. Tidak gampang menyeberang.

Sering semrawut
Sering semrawut

Kebiasaan yang ada, pengendara dari arah Kebasen akan langsung ambil jalur kanan melewati bahu jalan di sebelah timur. Perlahan pengendara akan bergerak hingga pertigaan, yang kemudian menyeberang guna melanjutkan perjalanan ke arah Banyumas. Ini sangat riskan sebenarnya. Pengendara dari arah berlawanan, baik yang dari arah Purwokerto atau dari arah Banyumas yang belok kiri, akan berpapasan. Mau tidak mau harus saling mengalah dengan memperlambat laju kendaraan. Biasanya lebih lambat dari orang berjalan, jika kondisi jalan sangat padat.

Kondisi seperti ini, susah bagi pemerintah mengambil kebijakan memasang lampu lalu lintas. Bagaimana cara pengaturannya, sampai sekarang belum ketemu. Buktinya sejak dulu hingga sekarang, tak ada kebijakan untuk itu. Kecuali menempatkan personil-personil kepolisian dan sekedar lampu kuning berkelap kelip tanda berhati-hati.

Mari kita sedikit berandai-andai, dengan menempatkan posisi kita sebagai pengambil kebijakan terkait pemasangan lampu lalu lintas. Dengan asumsi, keempat jalan tadi di beri lampu. Tentu jika hanya satu atau kurang satu lampu lalu lintas tak di pasang, akan memunculkan banyak protes. Itu pasti. Sebab ada satu atau tiga jalur yang akan dengan bebas berlalu lalang. Jelas akan menimbulkan kecemburuan sosial.

Dari arah Kebasen
Dari arah Kebasen

Coba kita reka-reka pengaturannya.

Asumsi pertama:

Jika lampu dinyalakan merah untuk jalan dari arah Purwokerto dan Kebasen. Kemungkinannya, akan terjadi kecelakan di depan masjid. Pasalnya kendaraan cenderung akan memacu cepat-cepat saat lampu hijau menyala. Kendaraan yang berasal dari Banyumas bisa saja bertabrakan dengan kendaraan lain dari arah Rawalo yang sama-sama menuju Purwokerto.

Asumsi kedua:

Jika lampu dinyalakan merah untuk jalan dari arah Rawalo dan Banyumas. Kemungkinannya, akan terjadi kecelakan di tikungan depan pasar. Kendaraan yang berasal dari Purwokerto bisa bertabrakan dengan kendaraan lain dari arah Kebasen yang ke menuju Purwokerto.

Asumsi ketiga:

Jika lampu dinyalakan merah untuk jalan dari arah Rawalo dan Kebasen. Kemungkinannya, akan terjadi kecelakan di pertigaan depan masjid. Kendaraan yang berasal dari Purwokerto bisa bertabrakan dengan kendaraan lain dari arah Banyumas yang menuju Purwokerto.

Asumsi keempat:

Jika lampu dinyalakan merah untuk jalan dari arah Kebasen dan Banyumas. Kemungkinan tidak akan terjadi kecelakaan. Namun, akan menimbulkan kemacetan parah pada jalan dari arah Kebasen. Selain karena jalannya sempit, di kanan kiri jalan sering terparkir sepeda maupun motor pengunjung pasar. Di depan yang sangat dekat, setelah masuk jalan ke arah Kebasen merupakan tempat mangkal koperades dengan jalur trayek Patikraja – Banyumas, atau Patikraja – Sampang. Padahal sekitar 100 meter ke selatan sana, ada pintu keluar masuk pengunjung pasar Patikraja juga.

Maka, mari lah kita berusaha untuk memahami kondisi tersebut, sehingga kita bisa mensikapinya dengan bijak. Tidak serta merta menyalahkan pemerintah dalam hal ini. Aku yakin mereka sudah melakukan banyak kajian tentang untung ruginya memasang lampu lalu lintas di tempat yang baru aku ceritakan tadi. Jika sampai hari ini tak jua di pasang, berarti banyak ruginya daripada untungnya. Sedang hasil kajiannya, mungkin tak jauh berbeda dari keempat asumsi ku diatas.

Aku mengikuti kebiasaan yang ada. Aku akan ambil kanan melewati bahu jalan, dimana di depan warung KUD dan sekitarnya, akan berbagi dengan parkir motor atau becak yang mangkal di sana. Alhasil, bahu jalan sering penuh. Kendaraan dari arah Kebasen akan sedikit ke tengah, merebut jalan pengendara dari arah utara. Belum lagi jika dengan tiba-tiba akan muncul kendaraan dari arah Banyumas. Berpapasan satu sama lain tak bisa dihindari.

Kejadian waktu itu dimulai saat aku mengambil bahu jalan tadi. Perlahan motor ku jalankan hingga bisa berbelok ke arah Banyumas. Namun motor masih berada di bagian selatan jalan. Agar aku berjalan di lajur kiri, aku harus menyeberang. Seingatku, aku sudah melihat jalanan di depan lengang, dan tengok ke belakang. Tak ada kendaraan lain. Aku segera menyeberang dan memacu kendaraan ke timur. Rumah Ilham yang aku tuju. Tukang servis komputer dan printer yang selama ini membantu ku. Tiba-tiba body motor belakang ku di tabrak. Motor bebek yang menabrakku oleng dan terjatuh. Untung saja tak ada kendaraan lain, sehingga tak terjadi kecelakaan beruntun.

Baik aku maupun dia memarkirkan motor di pinggir. Sepertinya dia hendak marah-marah padaku. Aku segera bertanya tentang kondisinya. Pertanyaan itu yang mungkin dia sedikit reda. Meski masih menyalahkan aku, tak urung dia minta maaf dan kami saling memaafkan. Saat aku tanyakan dia kerja di mana. Dia bilang kerja di RSU Banyumas. Sedang terburu-buru karena sudah siang. Rupanya dia menyadari kesalahannya. Mungkin dia cepat tarik gas setelah belok kiri tadi. Motor ku baik-baik saja. Sedikit peyot pada knalpot. Tak terlalu terlihat, kempot di sana sini sudah biasa. Setelah dia pergi, aku melajukan motorku lagi.

Aku harus ke rumah Ilham pagi-pagi benar. Kesibukannya sebagai tukang servis membuatnya jarang di rumah. Hampir setiap hari ada saja panggilan servis. Dia sudah cukup terkenal di Purwokerto, Cilacap, dan Purbalingga. Jika hari sudah agak siang, biasanya dia sudah pergi. Pulang setelah waktu Isya atau lebih. Waktu itu aku selalu kesulitan pergi setelah Isya. Ata pasti merengek minta ikut. Aku tak ingin dia kena angin malam. Belum lama dia sembuh dari flek paru-paru. Saat menidurkannya, biasanya aku ikut tertidur juga. Hehehe….

Tertabrak selanjutnya terjadi di Desa Kedungwringin Kec. Jatilawang. Saat itu aku bersama Ata dan istri baru kondangan di rumah Lik Mur. Setelah berpamitan, kami pun pulang. Aku sudah berusaha tengok kanan dan kiri sebelum keluar dari tempat parkir. Parkir motor yang berada di sebelah timur tembok keliling rumah Lik Mur membuat pandangan terhalang. Tembok keliling itu menutupi pandangan ke arah barat. Ku rasa tak ada motor yang lewat. Maklum, jalan itu jalan desa biasa. Tidak ramai. Apalagi tarub yang di pasang pun sampai ke jalan. Andai ada motor yang lewat pun akan memperlambat lajunya.

Malang tak dapat di tolak, untung tak dapat di raih. Ternyata saat aku keluar, sembari berpamitan, dari arah barat melaju motor bebek yang dikendarai oleh seorang ibu-ibu. Dia menabrak bagian belakang motorku dan terjatuh. Untung saja Ata dan istri ku baik-baik saja. Ibu yang menabrakku pun mengaku tak apa-apa. Tembok keliling yang tinggi itu menghalangi pandangan mata kami. Si ibu juga menyadari kesalahannya. Saat melintas, dia menoleh ke arah rumah Lik Mur. Ndlenger. Sedang kecepatannya tak dia kurangi. Masih taraf belajar katanya. Alhamdulillah. Tak ada luka.

Kecelakaan terakhir yang aku alami adalah kecelakaan tunggal. Motor yang aku tumpangi tiba-tiba terjatuh terpeleset karena tetesan oli di jalan. Kejadian ini aku alami di bruk (jembatan) menceng sebelah utara. Lokasinya di Desa Tumiyang Kec. Kebasen. Desa yang berbatasan langsung dengan desa ku. Di sana memang sering terjadi kecelakaan. Jalan menikung dan jembatan yang sangat sempit tepat di tikungan pula yang menjadi penyebabnya.

Jalan alternatif yang menghubungkan antara Purwokerto – Sampang lewat Kebasen ini relatif sepi. Ramainya jalan biasanya hanya saat musim pemudik saja. Kemacetan yang terjadi di Rawalo menyebabkan kendaraan akan mengambil jalur ini. Sayangnya jalur ini sangat kurang lampu penerangan sehingga di malam hari terkesan angker. Di sekitar bruk menceng ini pun katanya begitu. Tapi dari dulu hingga sekarang, saat pulang malam, aku tak pernah menemui apa-apa di sana. Tak berharap pula.

Bruk menceng utara
Bruk menceng utara

Di sini ada dua bruk menceng yaitu di sebelah utara dan selatan. Jika di lihat, jembatan ini memang serong. Sejatinya jembatan ini tetap tegak lurus dari parit besar di bawahnya. Konstruksi jembatan sesuai standar memang begitu. Tegak lurusnya jembatan terhadap parit ini lah yang membuatnya di buat serong. Parit ini di buat untuk menampung dan mengalirkan air bah yang tiba-tiba datang dari tebing di sebelah timurnya ke sungai Serayu. Jika dibiarkan, air akan langsung ke jalan dan merusak aspal tentunya.

Kecelakaan yang sering terjadi di sini memang di bruk menceng sebelah utara. Seringnya, pengendara dari arah selatan mengira jalanan sepi. Laju motor tak diperlambat. Tapi begitu akan masuk ke bruk menceng, seolah tiba-tiba muncul kendaraan lain dari arah utara. Jalan yang menikung dan berupa turunan, membuat kendaraan dari sana tak terlihat. Biasanya kendaraan yang tak terkontrol akan terus menerjang pepohonan di pinggir jalan sebelum jembatan. Pohon-pohon yang tak kokoh itu akan menahan agar tak jatuh ke jurang. Jurang di sana cukup dalam, lebih dari 4 meter. Masih agak mending, tanah di bawahnya gembur. Sebab di bawah sana sebenarnya adalah kebun yang biasanya ditanami palawija.

Tapi kecelakan yang aku alami dulu, tak sampai membuatku jatuh ke jurang. Hanya jatuh dan berselancar di aspal mengikuti jalan.

Aku tak tahu kalau di tikungan memasuki bruk menceng ada tetesan oli yang lumayan banyak. Karena kaget aku mengerem mendadak. Padahal ban depan sudah sangat halus. Terkena oli membuat motorku jatuh dengan posisi miring ke kanan. Kaca spion kanan dan lampu depan pecah. Celana panjang sobek tepat pada posisi lutut. Luka gores yang terukir di sana, cukup lama sembuhnya. Masih untung jatuhnya motorku tidak berdebum. Saat jatuh aku merasa seperti melayang, kemudian seolah berselancar.

“Eh… eh… kok jatuh”, begitu batinku.

Masih dengan motor yang sama dan tempat yang sama juga, kecelakaan terjadi di sana. Kali ini bukan aku korbannya. Motor yang berada di belakangku. Katanya, aku menyalip dan tiba-tiba memperlambat laju saat sudah di depannya. Karena kaget dan gugup, dia mengerem mendadak hingga terjatuh. Stang motornya patah. Sedang dua orang penumpangnya hanya lecet-lecet sedikit. Mereka tak mau memperpanjang urusan. Syukur alhamdulillah. Dia bilang yang penting aku mau bantu dia servis stang dan membelikan obat luka.

Kejadian bermula saat aku pulang kerja. Aku lihat di depan ada sederetan motor dan mobil. Saat mobil sudah masuk di bruk menceng utara, aku berinisiatif menyalip motor bebek tua di depan. Aku tak memperhitungkan kalau mobil tadi akan memperlambat laju dengan tiba-tiba. Aku tak mengira kalau dari arah berlawanan ada mobil pula. Itu alasan kenapa si sopir memperlambat laju. Karena mobil mengerem, aku pun mengikuti. Memperlambat laju setelah menyalip dan persis di depan mereka, mereka pun mengerem hingga jatuh.

Waktu itu, tidak jauh dari sana ada bengkel Pak Manto. Lokasinya di komplek pertigaan Wringin. Aku katakan kepada mereka bahwa aku orang Mandirancan. Lambat ku jalankan motor menemani mereka ke bengkel itu. Sayangnya, setelah aku bertanya kepada Pak Manto, selaku montir. Dia menyerah. Tak ada alat untuk memperbaiki stang. Dia sarankan untuk di bawa ke bengkel di Patikraja yang relatif lebih komplit. Aku berbisik padanya, ongkos perbaikannya sampai berapa. Pak Manto bilang paling banyak dua puluh ribuan.

Setelah aku belikan obat luka dan kapas, kedua orang itu aku sarankan ke Patikraja saja. Tak lupa aku minta maaf kepada mereka sambil mengulurkan uang sejumlah itu. Sekali lagi, alhamdulillah mereka mau menerimanya.

Dalam perjalanan dari bruk menceng ke pertigaan Wringin, dia bercerita. Rencananya dia hendak ke Purwokerto. Usaha jasa membuat barang-barang cetakan seperti banner, kartu undangan, nota, dan lain sebagainya belum bisa dia cetak sendiri. Dia masih sebatas menerima jasa setting saja, Untuk urusan percetakan, dia akan lari ke Purwokerto. Percetakan-percetakan di Purwokerto masih lebih murah daripada di Sumpiuh, dimana dia tinggal. Masih ada selisih yang lumayan katanya. Dia pun bertutur, ini baru pertama kali mencoba jalan lewat Kebasen. Kasihan dengan mesin motor tua jika harus melewati tanjakan panjang di Krumput. Padahal biasanya jalan perempatan Buntu ke utara hingga ke Purwokerto dia tempuh. Dia menyadari kalau ini hari naas baginya. Tak ada alasan baginya marah-marah. Apalagi katanya, aku mau bertanggung jawab. Itu sudah cukup.

Senin sore kemarin giliran aku yang naas. Aku di tabrak oleh seorang pemuda yang masih satu desa. Kejadian itu di perempatan kecil dimana aku harus berbelok kanan dari arah Purwokerto. Seperti biasanya, aku nyalakan lampu sign ke kanan. Tak lupa aku lihat spion di kanan dan kiri. Aku perlambat laju motor demi melihat kendaraan dari arah berlawanan. Setelah aku rasa aman, ingin segera belok kanan. Tapi ku lihat ada pengendara motor yang melaju kencang dari belakang di jalur kanan. Aku semakin perlambat motor. Aku ingin lihat dia mau ambil jalur mana. Jika aku segera putuskan belok kanan, takut tertabrak. Andai ke kiri pun salah, di belakangku persis ada motor juga. Salah aku jika lampu sign kanan, aku malah belok kiri. Terlihat dia bingung dan mengerem sekuatnya. Tak ayal dia tetap menabrakku. Stang kirinya menabrak pinggangku. Sedang sandaran kaki kirinya menabrak dan menghancurkan pelindung knalpot motorku. Masing-masing kami berhenti.

Dia berhenti dengan memarkirkan motor di sebelah kanan jalan, aku segera belok ke kanan. Beberapa orang di sana berhamburan mendekati lokasi. Dia yang menabrakku segera menghampiri. Dia bilang lampu sign ku mendadak. Mungkin. Aku tak menyalahkan dia. Bukan karena apa-apa. Pertama, tak ada kerusakan berarti pada motor dan tubuhku. Kedua, dia masih anak Mandirancan juga. Dia minta maaf. Aku hanya salami, tersenyum, dan bilang tak apa-apa.

Aku baru tahu kalau mata kaki kanan sebelah dalam lecet sesampainya di rumah. Perih yang ku rasa membuatku penasaran. Segera aku buka sepatu dan kaos kaki. Perlu obat luka segera nih. Takut kena infeksi.

Mengingat-ingat masa muda hingga kini setelah aku bisa naik motor, hanya dua kali aku pernah tarik gas hingga 100 km per jam. Yakni di jalan menuju Gunung Tugel dan jalan Pesemutan. Itu pun saat aku belum beristri. Setelahnya maksimal hanya 80 km per jam. Sebab terburu-buru dan jarak yang lumayan jauh. Selain itu, paling cepat cuma 60 km per jam. Bahkan tiap hari berangkat kerja ke Kebasen, rata-rata 40 km per jam. Yang selalu aku ingat-ingat, aku sudah berkeluarga. Jika ada apa-apa denganku, bukan aku saja yang repot. Istri, anak, dan ibu serta saudara-saudara yang lain pasti kena imbasnya.

Aku tahu, kebanyakan korban laka lantas adalah pengendara sepeda motor. Maka hati-hati dan waspada serta memakai perlengkapan keamanan saat berkendara menjadi upaya pencegahan yang bisa kita lakukan. Mentaati peraturan dan rambu-rambu lalu lintas sudah pasti.

Andai masih terjadi kecelakaan, karena kesalahan pengendara lain, itu musibah. Sudah di luar kekuasaan kita. Yang penting kita sudah berusaha agar selamat. Semua tinggal diserahkan kepada Allah SWT dengan berdoa sebelum berkendara. Tansah eling lan waspodo.

Sering terngiang pesan Syamil saat aku berpamitan bepergian:

“Bapa alon-alon. Ati-ati”, sembari melambaikan tangan.

“Nggih”.

2 KOMENTAR

  1. Alhamdulillah sampai sekarang dan semoga selamanya jangan pernah terjadi atau mengalami kecelakaan ya fatal. Sebagai anak jalanan eh maksudnya pengguna jalan emang kita harus waspada dengan kecelakaan yg sering menguntit kita jika tak waspada.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here