Idul Fitri yang Adem

2
360
Pelaksanaan Shalat Idul Fitri 1439 H di Mandirancan

Pada saat shalat Ied dilaksanakan kemarin (Jum’at, 15/06/2018), cuaca tidak panas. Cahaya matahari nampaknya malu-malu menyinari bumi. Sepertinya Idul Fitri tahun 1439 H ini memang benar-benar adem. Tidak terjadinya perbedaan awal dan akhir puasa, sehingga shalat Ied pun bisa dilaksanakan bersama-sama.

Sepanjang ramadhan, materi khutbah tidak lagi membahas keutamaan dari perbedaan diantara pendapat tentang shalat tarawih. Para dai karbitan dari ormas-ormas yang gemar mengunggulkan pendapatnya, tak memiliki alasan untuk itu. Kadang heran, mengapa orang-orang begitu menyukai perbedaan yang berujung perselisihan. Panggung pengajian yang semestinya menyatukan ummat, malah entah sadar atau tidak, sering menjadi sarana agitasi.

Pada pertengahan ramadhan pun terasa sangat adem. Ketika malam menjelang, turun embun. Dinginnya malam membuat batuk pilek sempat menjangkit. Puskesmas ramai dikunjungi pasien dengan keluhan yang hampir sama. Untung saja, aku tak perlu ke sana. Cukup beli obat di apotik. Alhamdulillah sembuh.

Meski demikian, gairah olahraga yang sedang digandrungi di Desa Mandirancan, yakni badminton, tetap ramai. Hangat suasana kebersamaan selepas shalat tarawih dan tadarus mengakrabkan. Obrolan antar mereka pun seolah tak terpengaruh dengan ramai, panas, dan membosankan provokasi politik di media sosial.

Pelaksanaan Shalat Idul Fitri 1439 H di Mandirancan

Tetap adem

Khotib pada pelaksanaan shalat Ied di lapangan Desa Mandirancan pun berwasiat demikian. Masyarakat tidak perlu baper dengan perbedaan pendapat antar elit. Tontonan sengit nan panas pada acara debat, berbeda jauh dengan kondisi setelahnya. Bisa jadi kemudian mereka makan, minum, dan atau bersendau gurau bareng. Maka tak perlu meneruskan emosi debat antar mereka. Cukup sebagai penambah wawasan.

Guyonan politik yang lebay dari para pendukung sepertinya tak begitu ditanggapi. Ketika spanduk-spanduk dan atau meme tentang jalan tol ramai dan membuat panas telinga, cukup menjadi wilayah media sosial. Karena akal waras lebih utama daripada populer tapi cacat logika.

Suasana yang tetap rukun dipertontonkan paska shalat Ied. Setelah bersalam-salaman antar jama’ah, beberapa titik melakukan hal yang sama. Masyarakat di sekitar masjid An-Nur bermaaf-maafan di jalan sebelah selatannya. Warga sekitar mushola Al Fattah, grumbul Ndesa pun demikian. Ini menjadi tradisi baik yang harus dilestarikan. Saling meminta dan memaafkan antar sesama.

Tahun politik memang biasanya membuat gerah. Namun suasana harus tetap adem, akal waras dijaga, dan badan juga mesti sehat. Munculnya para badut politik yang sedang mencari makan dan atau panggung, tinggal dicermati atau bahkan abaikan. Kita doakan semoga rizkinya dihalalkan dan pernyataan-pernyataan mereka tidak dicatat sebagai dosa jariyah.

Jama’ah perempuan

Pembangunan desa

Pada saat memberikan sambutan, penjabat Kepala Desa Mandirancan, Drs. Argo Imam Sasongko, M.Si, menyempatkan memperkenalkan diri. Beliau menjalankan tugas sebagai kepala desa atas SK Bupati Banyumas sampai terpilihnya Kepala Desa definitif. Beliau juga menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk bersama-sama membangun desa. Sekecil apapun sumbangsih warga akan sangat berguna.

Pada kesempatan itu, beliau pun memamerkan mobil ambulans yang diperuntukkan bagi masyarakat Mandirancan yang membutuhkan. Sebagian dari pelayanan publik, mobil yang baru dibeli dari dana APBDes, diharapkan bisa mempercepat pelayanan kesehatan masyarakat. Mobil ambulans tersebut sengaja di parkir di jalan depan para jama’ah.

Sayangnya partisipasi masyarakat terhadap zakat fitrah sedikit berkurang. Sebagai perbandingan pada tahun 2018, panitia mendapat zakat beras dan uang, yang dikonversi menjadi beras, sejumlah 6.956 kilogram. Ini 2 kilogram lebih sedikit dari perolehan tahun 2017, yakni 6.958 kilogram. Sedangkan penerima zakat naik, dari 1.739 menjadi 1.823 jiwa. Ini dimungkinkan terjadi, karena belum semua panen.

Berdasarkan informasi dari Pemdes, hasil infak shalat Idul Fitri 1439 H Desa Mandirancan mencapai Rp 12.107.000,00 (dua belas juta seratus tujuh ribu rupiah). Sedangkan operasional pelaksanaan shalat Id sebesar Rp 953.000,00 (sembilan ratus lima puluh tiga ribu rupiah). Dana operasional diantaranya untuk membiayai honor Linmas, kebersihan, sound system, konsumsi, dan lain sebagainya (rincian sudah diposting di grup WA Musdes Mandirancan).

Sebesar 10% dari infak bersih diambil untuk kas penyelenggaraan hari-hari besar Islam, dan selebihnya untuk pembelian karpet guna pelaksanaan shalat Id di lapangan.

Akhirnya, saya atas nama pribadi dan keluarga mengucapkan: “Taqobbalallahu minna wa minkum” (Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian). Mohon maaf lahir dan batin.

Salam.

BAGIKAN
Berita sebelumyaMerenungi Syair Lagu Deen Assalaam
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here