Ikut Lomba Kadarkum itu Sesuatu

2
511
Pose bareng Bu Camat (jilbab kuning)

Hari masih pagi. Mungkin baru sekitar jam 07.30 WIB. Tapi aku sudah menempatkan motor di tempat parkir kompleks kantor Bupati. Tempat yang aku tuju adalah Pendopo Sipanji. Aku berjalan mendekat ke pendopo. Ternyata disana masih kosong. Baru ada empat atau lima orang. Meski kursi-kursi sudah tertata rapi, tapi petugas baru menggelar taplak di meja-meja. Kemudian sambil berjalan ke luar kompleks aku SMS Mba Rita, aku sampaikan bahwa aku sudah di lokasi. Terbalas SMS darinya untuk menunggu sambil menghafalkan materi.

Ya, hari Rabu (27/08/14) kemarin aku masuk Tim Lomba Kadarkum utusan dari Kecamatan Kebasen. Lomba ini diadakan dalam serangkaian peringatan Hari Kesatuan Gerak PKK Kabupaten Banyumas. Tim yang terdiri dari 5 (lima) orang ini, aku satu-satunya yang paling ganteng (emang) hehe….

Narsis sebelum bertanding
Narsis sebelum bertanding

Tempat yang aku tuju adalah Masjid Agung Baitul Muslimin, tak jauh dari Pendopo Sipanji. Berjalan melewati Alun-alun Purwokerto yang sedang di rehab. Entah yang ke berapa kali. Sekilas gambar rencana hasil akhir rehab aku lihat. Elok.

Sesampainya di halaman masjid, terlihat Pak Isa, sedang mengepel lantai. Artinya lantai masih basah nih. Aku sempatkan menyalami, bertanya kabar, dan berbasa-basi termasuk keperluanku datang ke masjid. Nebeng belajar sambil menunggu rombongan

Aku kenal Pak Isa sudah lama, sejak masih aku masih sendiri. Beberapa kali saat aku masih berjualan baju, kurma, dan beberapa perlengkapan menjelang lebaran, khusus untuk kurma aku mengambil darinya. Pak Isa bekerja sebagai petugas kebersihan di Masjid Baitul Muslimin sambil berjualan aneka kebutuhan kaum muslimin. Kemudian membantu para orang tua yang membutuhkan jasa privat belajar membaca Al-Qur’an bagi anak-anak. Sedang istrinya buka warung kecil-kecilan di daerah Kalibener, sekitar 10 menit naik motor dari Masjid Agung ke arah tenggara.

Semangat menyanyikan Indonesia Raya
Semangat menyanyikan Indonesia Raya

Masjid masih sepi, kecuali ada beberapa orang yang sedang duduk-duduk entah menunggu apa. Aku buka kisi-kisi materi lomba dan berusaha menghafalkan karena pesan dari Mba Rita bahwa jawabannya harus tepat kata-katanya. Ah, tak muat otakku. Aku hanya belajar dalam waktu 2 dua hari, yakni Senin dan Selasa kemarin. Mata terasa lelah meski baru belajar sebentar. Aku putuskan ambil air wudhu. Shalat dhuha.

Suasana magis dalam masjid yang sudah lama aku tak shalat di sini begitu menyentuh. Sesaat setelah takbir, hati jadi trenyuh. Mengingat kesalahan-kesalahan akhir-akhir ini, baik kepada keluarga, teman, bahkan sadar bahwa sudah lama aku terlalu jauh dari-Nya. Andai saja tak ada telpon dari Mba Rita agar aku segera registrasi, aku akan semakin tergugu di sini. Suasana adem, nyaman, tentram melingkupi sejak aku masuk ke masjid ini. Terlebih tak ada orang, andai aku semakin tergugu pun tak masalah.

Bergegas aku keluar dari masjid menuju pendopo. Tak sadar lebih dari 1,5 jam aku berada di kompleks masjid ini. Tak ku temui lagi Pak Isa. Mungkin sedang membersihkan bagian lain dari masjid ini, atau malah sudah selesai. Aku tak tahu.

Bu Heru (jilbab ungu) dan Bu Rohid (jilbab hijau)
Bu Heru (jilbab ungu) dan Bu Rohid (jilbab hijau)

Memasuki Pendopo Sipanji, suasana sudah ramai. Kursi-kursi hampir penuh, mataku menyisir dari ujung timur ke ujung barat mencari teman-teman dari Kebasen. Ah itu dia, di sebelah barat agak di depan. Eh iya, biar kamu nggak terlalu bingung. Pendopo Sipanji menghadap ke selatan, tapi kursi-kursi ditata menghadap ke utara.

Menyadari kedatangkanku, teman-teman melambaikan tangan. Yang kemudian aku di ajak oleh Bu Heru, selaku pendamping kami, untuk registrasi terlebih dahulu. Setelah itu kami duduk di kursi deretan paling depan sebelah paling barat.

Agak lama persiapan panitia sembari menunggu Ibu Rinawati istri dari dr. Budhi Setiawan, Wakil Bupati Banyumas yang akan membuka acara hari ini. Kami sempat bersendau gurau dan foto bersama. Duduk di depan pun dalam rangka mudah diambil gambarnya oleh pihak panitia. Pokoknya, narsis itu wajib, Sodara… hehe….

Sekitar pukul 09.30 WIB acara pun dimulai. Mulai dari menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars PKK, laporan panitia dan sambutan Ketua Tim Penggerak PKK Kab. Banyumas secara tertulis yang disampaikan oleh Ibu Wabup, kemudian pembagian kelompok-kelompok untuk babak penyisihan. Tim dari kecamatan Kebasen masuk kelompok ke-5 dari enam kelompok penyisihan.

Babak Penyisihan
Babak Penyisihan

Karena pagi tadi lupa sarapan, perut pun protes. Aku minta ijin sama teman-teman dan Bu Heru untuk sarapan terlebih dahulu. Warung nasi yang berjarak sekitar 50 meter dari kompleks Pendopo menjadi tujuan. Alhamdulillah….

Mata tertuju pada sosok yang sedang aku ingin bertemu dengannya, saat aku kembali ke tempat lomba. Dia lah The Young Inspiring Leader versi Berita Satu. Com, Bayu Setyonugroho, Kepala Desa Dermaji Kec. Lumbir. Duduk berdua dengan istrinya, Mba Siti Zulaechah. Aku duduk di sebelah Kang Bayu. Weh, jan seneng rasanya bisa ketemu Tonal (Tokoh Nasional) yang baru dapat penghargaan ini. Eh, malah lupa nggak kasih selamat. Selamat ya, Kang.

Ucapan selamat sih sebenarnya udah aku sampaikan baik via twitter maupun fesbuk. Insya Allah tak mengapa.

Aku bertanya-tanya tentang model pemilihan itu, termasuk pengaruh polling yang mesti diberikan. Katanya, bahwa polling-polling itu berpengaruh terhadap juara favorit saja. Sedang penilaian dilakukan karena kiprah para nominasi selama ini. Salah satu dukungan penilaian adalah website pribadi Kang Bayu.

Ini orang benar-benar menginspirasi, maka aku berjanji pada diri sendiri untuk setidaknya melakukan hal yang sama. Khususnya buat kawan-kawan UPK se-Indonesia. Tambah semangat nih… hehe….

Babak Final
Babak Final

Saat itu juga aku tanyakan alasan mengapa tak bisa mampir ke Kuningan pada acara Musda I Assosiasi UPK Jawa Barat. Padahal aku berharap Kang Yossy, Kang Budi, dan Kang Bayu bisa hadir sana, untuk memberikan motivasi dan pencerahan kepada kawan-kawan tentang makna pemberdayaan. Namun, kesibukan termasuk agenda Yossy ke Bali membuat batalnya rencana itu. Semoga suatu kali nanti bisa.

Dengan bangga pula, Kang Bayu aku perkenalkan kepada Bu Heru. Bahwa beliau baru saja mendapatkan penghargaan tingkat nasional. Termasuk saat aku menjajari Bu Heru, aku katakan: “Dia seorang Kades lho, Bu”.

Bu Heru kaget setengah tidak percaya, ada seorang Kades yang mendapatkan penghargaan tingkat nasional.
Selepas shalat dhuhur, tak lama kemudian kami maju babak penyisihan. Ada 4 tim di babak itu. Oh iya, mungkin perlu aku sampaikan teknis lomba yang sudah disampaikan oleh panitia di awal.

Tim yang berjumlah 27 ini dibagi menjadi 6 (enam) kelompok penyisihan dengan 3 (tiga) kelompok pertama terdiri dari 5 (lima) tim, dan 3 (tiga) kelompok lagi terdiri dari 4 (empat) tim. Kelompok pertama diambil masing-masing 2 (dua) tim dengan nilai tertinggi untuk masuk ke semifinal, sedang kelompok kedua hanya diambil 1 (satu) tim. Alhasil didapatkan ada 9 (sembilan) tim yang masuk babak semifinal.

Tiap babak, baik penyisihan, semifinal, maupun final akan dibagi menjadi 3 sesi. Yakni pertanyaan lemparan, pertanyaan bonus, dan rebutan. Pertanyaan lemparan diberikan oleh Tim A ke Tim B, dan begitu seterusnya. Sedangkan jenis pertanyaan sudah disediakan oleh juri dalam amplop tertutup yang diambil oleh masing-masing tim. Sesi pertanyaan bonus diberikan oleh juri sebanyak 2 pertanyaan, kecuali saat semifinal, dan rebutan sebanyak 5 pertanyaan.

Babak penyisihan ini harus menang. Begitu pesan Pak Camat saat kami latihan, Senin (25/08) kemarin.

“Kalau tahun kemarin yang anggota tim semua perempuan dan gugur di babak penyisihan maka setelah ada laki-laki, maka harus lebih baik lagi. Tapi yang jelas harus berusaha semaksimal mungkin. Saya tak mentargetkan juara”, ujar Totot Subagyo, S.Sos, M.Si, Camat Kebasen sejak Januari 2014 ini.

Kami mampu menjawab pertanyaan lemparan dari Tim C, karena undian menempatkan kami duduk di kursi Tim D. Begitu juga untuk sesi bonus dan rebutan. Akhirnya tim kami menang dan berhak maju ke babak semifinal.

Kelompok terakhir yang juga terdiri dari 4 tim ini, ada tim dari Desa Dermaji yang mewakili Kecamatan Lumbir. Tentu saja aku berpihak pada mereka. Menjadi suporter dengan tepuk tangan paling keras saat mereka menjawab pertanyaan salah satu bentuk dukungannya. Sampai Bu Heru menegurku:

“Serumen le tepuk tangan”.
“Ini solidaritas teman, Bu… hehe…”

Pada sesi pertanyaan lemparan dan bonus, Tim dari Lumbir ini tak meyakinkan, karena hanya dapat poin sedikit. Aku tak yakin mereka masuk ke semifinal. Ternyata pada babak rebutan mereka nge-gas. Keempat pertanyaan mereka sikat habis. Nilai pun bertambah melampaui yang lain. Masuk semifinal.

Diperoleh 9 tim yang masuk semifinal. Peraturan dari panitia menyebutkan bahwa semifinal untuk kelompok pertama yang terdiri dari 5 tim akan diambil 3 tim dengan nilai tertinggi, dan kelompok kedua yang terdiri dari 4 tim akan diambil 2 saja. Setelah dilakukan pengundian, Tim Kebasen masuk ke kelompok ke-2, artinya kami harus bisa mendapat rangking kedua saat semifinal jika ingin masuk final. Itu pula yang disampaikan oleh Bu Heru.

“Harus bisa masuk final. Malu. Sudah ditunggui Bu Camat mosok cuma sampai semifinal”.

Walah, targetnya naik nih. Kata Pak Camat kan sampai semifinal sudah cukup. Tapi, siap kok. Apalagi bayangan kami, saat final nanti akan ada yel-yel. Kami sudah belajar yel-yel dalam versi Rap. Aye… aye…

Hitung-hitungan peluang agar bisa masuk final, kami harus berusaha semaksimal mungkin. Karena kami masuk kelompok kedua dimana ada tim dari kecamatan Rawalo yang notabene-nya juara bertahan dan mendapat juara 2 (katanya) di tingkat Provinsi. Sayangnya, kami juga menjadi lawan dari Tim Lumbir, tim yang diasuh oleh Kang Bayu. Sori Kang Bayu, saya harus profesional nih.

Benar saja, saat semifinal nilai kami selalu dibawah tim dari Rawalo. Saya selalu melirik ke papan skor untuk memastikan posisi aman. Maka, saat tersisa 2 pertanyaan rebutan aku berbisik ke teman-teman untuk tidak memencet bel. Tak perlu daripada nanti nilai dikurangi mending cari aman saja, masuk final. Sebab siapapun yang menjawab 2 pertanyaan itu tak akan mampu melampau nilai tim kami dan tim dari Rawalo.

Maaf, Kang Bayu… hehe….

Babak final yang terdiri dari 5 tim, yakni Rawalo, Patikraja, Purwokerto Utara, Kebasen, dan Purwojati berlangsung seru. Tim Rawalo langsung memimpin perolehan nilai kemudian Kebasen, Purwojati, Patikraja, dan Purwokerto Utara. Nilai masih tak terlampau jauh saat sesi pertama dan kedua. Hanya saja, jawaban dari Mba Esti yang kurang sempurna yang kemudian pada pertanyaan bonus untuk tim dari Purwojati dijawab sempurna, posisi kami turun menjadi urutan ketiga.

Babak rebutan menjadi tak asik lagi. Karena dominasi masih dipegang oleh Tim dari Rawalo dan Patikraja nge-gas pula. Semangat dan daya ingat anak-anak muda dari Rawalo dan Patikraja yang hampir semuanya masih kuliah menjadi salah satu alasannya. Praktis perolehan nilai tim dari Patikraja membuat posisi kami menjadi merosot. Peluang untuk mempertahankan posisi tiga coba kami raih di pertanyaan terakhir. Aku setengah berdiri untuk memencet tombol, karena berkali-kali kalah cepat dengan mereka.

Apa daya, untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak. Lagi-lagi pertanyaan mampu disikat oleh Tim dari Rawalo. Hingga kami harus puas pada posisi keempat atau menjadi Juara Harapan I. Tak mengapa, toh ini sudah menjadi perolehan yang lebih baik dari tahun kemarin. Pun melebihi apa yang ditargetkan oleh Pak Camat.

Suasana heboh dengan gelak tawa terjadi di Bakso Pekih. Sembari menunggu pesanan dan saat makan bakso pula, keempat peserta lain merasa iri dan gemas denganku. Pasalnya sejak babak penyisihan hingga final, tak ada satu pertanyaan pun dari dewan juri yang merupakan bagian kisi-kisi yang aku pelajari. Gemas pula karena tatkala ketegangan meliputi mereka, aku masih tetap santai. Bahkan mengajak mereka berpose, sadar kamera saat panitia membidik posisi kami.

Entah karena keajaiban atau apa, yang ada ini keuntungan bagiku. Bayangkan saja, sebanyak 69 pertanyaan dengan uraian jawaban yang relatif panjang jelas tak mungkin aku kuasai atau dihafalkan dalam kurun waktu 2 hari. Sedangkan kawanku berempat yakni, Rita Damayanti, Sitah Fitriyani, Ani Lestari, dan Esti Yuniasih sudah belajar lebih dari satu bulan.

Awal mula keputusan keikutsertaanku dalam tim ini sebenarnya juga sejak pertengahan Juli yang lalu. Waktu itu aku sedang berkoordinasi tentang kemacetan dengan Mba Karsini, KPMD Desa Sawangan. Saat diskusi sedang berlangsung, datang Bu Ani Lestari sekretaris I TP PKK Kec. Kebasen yang juga KPMD Desa Kalisalak. Bincang-bincang tentang pemberdayaan ala PKK, kemudian Bu Ani minta dicarikan tenaga untuk diikutkan dalam tim lomba Kadarkum. Akhirnya aku nyatakan bergabung.

Meski sudah disepakati untuk berlatih satu minggu dua kali, dengan jadwal Selasa dan Jum’at siang, nyatanya aku selalu mangkir. Kesibukan antara urusan pekerjaan dan Assosiasi UPK Nasional, dan keluarga membuat aku tak sempat membuka kisi-kisi materi yang telah diberikan. Hanya wujud salinan materi yang semakin hari semakin menambah berat tas saja. Tak pernah dibaca.

Dalam perjalanan pulang dari Temanggung, sempat aku baca SMS dari Mba Rita untuk kumpul di rumah Bu Rohid, bendahara TP PKK Kec. Kebasen yang menjadi mentor kami. Baru aku sadar bahwa lomba akan diadakan 2 hari lagi. Astaghfirullah….

Mati listrik di Senin pagi membuatku segera pergi ke Cilongok. Koordinasi dengan Kang Ruswedi, Ketua Forum UPK Kab. Banyumas. Tak adanya kabar kepastian akan keikutsertaan kawan-kawan UPK Kab. Banyumas dalam kegiatan AKSI DAMAI di Jakarta membuatku gundah. Seperti tak ada greget untuk itu.

Setelah mampir ke kantor Gedhe Foundation untuk koordinasi kegiatan di Majalengka, dan minta dibuatkan website pribadi, aku segera ke rumah Bu Rohid. Baru hari itu aku tahu yang namanya Sitah Fitriyani. Gadis manis yang menjadi guru di SMP Muhammadiyah Kebasen.

Latihan pertama itu aku minta untuk tidak di tes sama Bu Rohid. Materi baru aku buka pada kegiatan sore itu. Aku baru di tes dengan sesekali mencontek di rumah Bu Heru esok sorenya. Termasuk memantapkan yel-yel.

Keberhasilan menembus babak final dengan titel: Juara Harapan I, lebih layak disematkan untuk keempat temanku itu. Mereka yang berusaha, aku yang berdoa… hehe….

Selamat ya Mba Rita, Bu Ani, Mba Esti, Mba Sitah. Terima kasih dan mohon maaf buat Pak Camat, Bu Camat, Bu Heru, dan Bu Rohid.

Pose bareng Bu Camat (jilbab kuning)
Pose bareng Bu Camat (jilbab kuning)
BAGIKAN
Berita sebelumyaRencana Aksi Damai Assosiasi UPK Nasional
Berita berikutnyaIndah Bidadari ku
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

2 KOMENTAR

  1. tulisannya panjang mengalir. menggambarkan situasi lomba kadarkum. serasa berada di sana dan mengikuti setiap tahapan lomba. terimakasih sudah berbagi. enak gak bakso PEKIH-nya?

    bagian yg berdoa di mesjid. kayaknya semua tempat ibadah memang karakteristiknya menghanyutkan begitu yah…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here