Jakarta pun Optimis

0
143

Bagian ke-3

Acara rakornas di hotel Bidakara memang hanya ditujukan bagi para pejabat. Tertera dalam undangan yang aku lihat adalah Gubernur, Bupati, dan Kepala BPMPD baik provinsi maupun kabupaten. Meski tak sedikit yang mewakilkan pada para stafnya. Paling tidak pihak NGO, pegiat pemberdayaan, dan pelaku lain tidak diikutsertakan. Kepentingannya memang bukan buat mereka. Ini urusan birokrasi. Mungkin.

Beruntung aku punya Kang Tarjo. Sebagai salah seorang tenaga ahli di Kemendesa PDT, dia menjadi salah satu panitianya. Karenanya juga aku bisa sedikit tahu informasi hasil rakornas tersebut. Dia mengajakku masuk pada sekitar 15 menit terakhir. Katanya nggak apa-apa. Asyik.

Paparan entah dari pejabat siapa tak begitu aku dengarkan. Aku masih sibuk ber-WA ria dengan beberapa orang. Termasuk menerima telpon dari Pak Purwoko. Dia nggak bisa ketemuan hari Selasa, katanya ada acara sampai Rabu di luar kota.

Sesi pertanyaan yang sempat aku dengar, ada dua hal yang menarik. Pertama, saat salah seorang pejabat dari Kepulauan Riau meminta agar para pendamping desa memanfaatkan tenaga eks fasilitator saja. Sebab pengalaman dari dampingan yang sudah dilakukan oleh pendamping desa hasil rekrutan baru, sering gagap. Nggak dong. Dia juga meminta kebijaksanaan terkait honorarium. Sayangnya, saat jawaban atas pertanyaan itu, aku lagi asyik telpon dengan seseorang. Kalau ada yang penasaran, mohon maaf ya, soalnya yang telpon cewek sih… hihi….

Kedua, soal dana SPP yang dikelola oleh UPK. Pertanyaan ini diajukan oleh perwakilan dari Semarang. Lagi-lagi nggak ngerti nama dan asal dinasnya. Dia mempertanyakan keseriusan pemerintah dalam hal ini. Katanya mau dikeluarkan regulasi, kok sampai sekarang tak kunjung ada. Jangan sampai dana yang besar itu hilang tak berbekas.

Nah, kalau yang ini aku mendengar jawabannya.

Soal regulasi itu memang masih menjadi pembahasan. Muncul banyak wacana. Ada BUMDes Bersama, BKAD, Koperasi, LKM, dan lain-lain. Pengkajian lebih mendalam soal itu memang masih proses. Weh. Untung saja aku ada informasi menarik lain soal ini. Pengin tahu? Sabar ya.

Tak lama kemudian acara memang usai. Aku sempatkan menunggu Kang Tarjo beres-beres dulu. Aku katakan juga kalau Bang Pandong balik ke Dharmasraya sore ini. Neneknya Bupati Dharmasraya meninggal dunia. Akhirnya sang Bupati pulang lebih awal, Bang Pandong pun ikut. Acara ketemuan Bang Pandong dengan Mas Budiman mesti dibatalkan.

Kang Tarjo mencoba aplikasi Go-Jek. Pasalnya jam-jam pulang kerja pasti macet. Go-Jek menjadi pilihan yang pas. Saat aku memboncengnya, jalanan di sekitar Tugu Pancoran macet parah. Tukang ojek yang aku boncengi, te ope be ge te lah. Dia bisa menyelinap diantara sempitnya kendaraan yang nggak mau mengalah. Tapi aku agak ngeri juga. Jangan-jangan lututku menyenggol kendaraan lain. Alhamdulillah, enggak. Selamat sampai tujuan.

Kalau tak ada Kang Tarjo, aku bingung mau menginap di mana. Tak ada anggaran untuk sewa hotel, meski hanya kelas Melati. Untuk makan saja beberapa kali aku dibayari. Padahal aku tahu, siklus gajian bagi konsultan seperti dia, selalu harus sabar menunggu. Untuk awal-awal tahun, mesti kerja bakti dulu. Honor baru keluar setelah kurang lebih 3 bulanan. Entah bagaimana caranya dia mengakalinya.

Sayangnya divisi dimana Kang Tarjo bekerja bukan urusan eks PNPM. Dia bergabung untuk urusan Ketahanan Masyarakat. Oleh karenanya tidak setiap informasi bisa didapatkan. Tapi mending, daripada zonk.

Beberapa teman yang dulu bergabung di Kemendesa, sekarang pun sudah habis masa kontraknya. Semua kembali ke tempat masing-masing. Komunikasi hanya via media sosial, WA, dan SMS. Perkembangannya pun tak begitu jelas. Email terakhir dari Kang Hadian soal draft Perpres Pengelolaan Dana Bergulir saja yang aku dapatkan.

Kondisi ini membuatku berinisiatif menggali banyak informasi. Beberapa orang mesti aku kunjungi. Mumpung di Jakarta jadi sekalian silaturahmi. Ada Mba Grace (Kompak), Pak Ibnu Taufan dan Pak Rofiq (TNP2K), Kang Irman (BP2DK), dan Pak Purwoko (Lakerdin) yang nantinya aku datangi kantornya. Selain itu, aku sempat berdiskusi pula dengan Mas Haris. Termasuk mendengarkan kuliah singkat dengan Pak Jarwo (Fajar Sujarwo) tentang hak asal usul di kantor Lakerdin.

Jadi ingat saat pertama mengikuti pelatihan sebagai UPK. Pelatihan yang diadakan di Baturaden bagi UPK se-kabupaten Banyumas, salah satu narasumber nya adalah Kang Jarwo. Dosen UGM asal Banjarnegara ini nyentrik. Rambut gondrong dengan kacamata bulatnya menjadi identitas yang aku ingat. Bahkan kalimat yang dia ucapkan saat itu pun masih terngiang.

“PTO itu adalah bahasa kita kepada Bank Dunia. Kalau bahasa kita kepada masyarakat, ya terserah. Yang penting masyarakat merasa nyaman. Ora reang”.

Kurang lebih begitu kalimatnya. Intinya harus bisa menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Sayangnya tidak demikian adanya. Dalam perjalanan waktunya muncul kalimat: “kalau nggak ada di PTO berarti dilarang”. Lucu.

Melalui WA, Mba Grace bisa ditemui esok hari. Pilihan waktunya tepat, jam makan siang. Asik. Tahu saja dia.

Malam itu aku dan Kang Tarjo tidur gasik. Selain hujan lebat, kondisi fisik Kang Tarjo juga tidak begitu baik. Beberapa hari disibukkan dengan kegiatan di hotel Bidakara itu. Dia pun harus menunda jadwal pulang ke Rancaekek, dimana istri dan anaknya tinggal. Benar-benar penghayat lagu “Bang Toyib”… hehehe….

Pagi harinya aku ikut Kang Tarjo sarapan di warung nasi di komplek kantornya. Baru aku tahu besoknya lagi, kalau penjual nasi nya itu berasal dari Brebes. Pantas saja dia mesam-mesem, paham bahasa kami. Jebul rika, wonge dhewek.

Sebelum ke sini, aku sudah janjian bertemu dengan Mas Haris. Sebenarnya dia ingin bertemu pagi-pagi saja. Sekalian ngopi di warungnya Pak Dhe Wongso. Tapi, aku undur sorean. Sebab sudah telanjur janjian sama Mba Grace. Sayangnya di Depok, dimana Mas Haris tinggal, sore pun hujan. Batal.

Perjalanan dari Kalibata ke Cikini menggunakan KRL. Kata Mba Grace, kantornya dekat dengan stasiun Cikini. Nanti bisa ketemu di komplek Megaria saja. Sekalian makan siang. Untung saja sudah lebih familier dengan pelbagai moda transportasi di Jakarta.

Pilihanku selalu jatuh pada moda transportasi yang anti macet. Ada KRL, busway, ojek, dan bajaj. Taksi sering aku hindari. Bukan apa-apa. Selain taksi rawan macet, resiko argo yang terus berjalan pun akan berimbas dahsyat. Moda ini hanya aku manfaatkan jika diajak teman. Resikonya hanya satu: dibayari… hahaha….

Perhitungan berhemat menjadi alasan utama. Bekal yang dibawa hanya cukup untuk 2 hari normal. Kategori normal adalah bisa pulang pergi dan makan tanpa dibayari. Untuk penginapan tetap harus nebeng. Indeks yang aku gunakan bukan kelas pejabat, karena memang bukan pejabat. Maka selalu saja kereta yang aku tumpaki berhenti di stasiun Senen, bukan Gambir. Kamu tahu lah.

Aku sampai di Cikini lebih awal. Tujuannya agar tahu ke mana arah kaki melangkah. Aku belum pernah mampir ke sini. Takut salah arah, jadi bisa ada waktu cadangan. Dan memang benar. Aku salah arah. Setelah keluar dari stasiun Cikini, mestinya aku belok kanan. Tapi aku belok kiri. Saat Mba Grace bilang kalau kantornya ada di jalan Diponegoro, aku pun bertanya pada orang.

Ada untungnya salah jalan. Aku jadi tahu kalau sepanjang jalan Surabaya ada kios-kios yang menjual barang-barang antik. Ini hobi nya orang kaya. Mereka senang mengkoleksi barang-barang antik. Harganya pun pasti mahal. Belum masih skala prioritas bagi ku. Cukup menikmati, mendengar, atau membaca kisah di balik barang-barang antik tersebut.

Selain itu, salah jalan membuatku tahu kalau di jalan Diponegoro itu berjajar kantor partai jaman Orde Baru. Ada DPP Golkar, PDI P, dan PPP. Peristiwa 27 Juli itu terjadi di sini rupanya.

Masih terus berjalan dan harus sabar menyeberang, akhirnya aku sampai di kantor Kompak. Seperti yang aku sampaikan ke Mba Grace via WA, aku minta ijin ke toilet paska Satpam mengantarku masuk. Alhamdulillah lega. Mbok anyang-anyangen.

Sembari menunggu Mba Grace yang sedang meeting, aku disuguhi teh. Ah, sayang Citra nggak ada. Dia lagi belajar di negeri orang. Belajar yang rajin, Sista. Nanti kalau sudah pulang, aku ditulari ilmunya ya.

BAGIKAN
Berita sebelumyaJakarta pun Optimis
Berita berikutnyaJakarta pun Optimis
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here