Jakarta pun Optimis

0
140

Bagian ke-4

Selalu saja ada hal positif yang aku dapatkan saat berinteraksi dengan orang lain. Paling tidak ada yang bisa didapatkan atau aku diberikan.Kadang aku bisa memberi nasihat kepada orang lain; tapi lebih banyak aku yang belajar dari mereka. Manusia memang makhluk yang tidak bisa hidup sendiri. Pasti akan membutuhkan orang lain, meski hanya sekedar “nasihat”.

Saat aku berkeliling melakukan identifikasi masalah kelompok, aku belajar “merasakan”. Tidak mudah menjadi ketua kelompok. Lebih tidak mudah lagi saat terjadi kemacetan atau tunggakan. Selama ini mereka telah berkorban banyak. Tidak sedikit yang harus kehilangan uang untuk nomboki. Mulai dari angka ratusan ribu sampai puluhan juta. Wow. Tapi ini nyata.

Lancarnya angsuran selama ini tertutupi oleh mereka. Demi menjaga nama baik kelompok dan desa dari sanksi lokal, mereka mesti berkorban. Maka, jika sekarang ditempatku muncul banyak kemacetan dan tunggakan, itu bisa di mengerti. Kini para ibu ketua kelompok enggan melakukan lagi. Pasalnya sudah tak ada sanksi lokal. Daya tarik insentif pengembalian pun sudah tak menarik lagi. Dana yang dikeluarkan untuk nomboki lebih besar dari insentif pengembalian. Ngelus dada.

Hal positif yang aku dapatkan saat menyeberang jalan Diponegoro menuju Megaria adalah soal kompetensi. Obrolan singkat dengan Mba Grace itu, aku sikapi demikian. Topik pembicaraan memang bukan itu. Hasil meeting-nya dengan Mas Sutoro Eko tentang Kementrian Desa, aku ambil hikmahnya. Tak perlu aku tulisan di sini. Kurang etis.

Yang penting bagiku adalah bahwa peningkatan kompetensi diri harus terus dilakukan. Kita dituntut untuk meningkatkan kompetensi akibat perkembangan jaman. Perubahan demi perubahan akan lebih mudah dihadapi saat kita memiliki kompetensi lebih.
Ada nasihat baik yang selalu aku ingat: “jika tak bisa menjadi seorang generalis, jadilah spesialis yang handal”.

Jangan pernah merasa puas diri dengan kompetensi yang kita miliki. Perubahan jaman selalu menuntut lebih. Belajar, belajar, dan belajar adalah solusinya. Jangan sampai kita tergerus oleh perubahan jaman hanya karena merasa puas diri. Apalagi terjebak pada kesombongan dan rasa “aman” tak terusik oleh siapapun. Kita harus waspada dan berjaga-jaga.

Dengan menjadi seorang spesialis handal, maka tak ada alasan bagi atasan untuk memecat kita. Meski demikian, keahlian yang terus kita asah ini harus diimbangi dengan soft skill. Mampu menempatkan diri pada posisi diri. Kala menjadi pimpinan harus tetap rendah hati; saat menjadi bawahan pun mesti takdzim.

Aku manfaatkan benar traktiran makan siang ini. Tak malu aku pesan dua gelas minuman sekaligus, teh tawar dan kopi. Ngonggor. Rupanya jalan kaki salah arah dari stasiun Cikini ke kantor Kompak, membuatku kehausan. Teh yang disuguhkan di kantor Kompak tadi pun cepat habis. Lagi pula pagi tadi belum ngopi. Nasi yang aku pilih pun beras merah. Teringat saat makan siang di warung Pecel Sego Sehat Martani (PSSM) di Prambanan. Tapi di sini nggak ngerti organik atau bukan, Mba Rita.

Obrolan awal dengan Mba Grace sembari menikmati makan siang adalah soal pembuatan film pendek. Rencananya Mba Grace akan bertemu Yossy. Garapan film singkat tentang produk-produk desa. Kalau saja Yossy sehat, mungkin dia pun ke Jakarta. Seusai mengisi materi di Banten bersama Kang Dodiet, dia harus pulang.

“Yang bikin pusing memang orang Jakarta ya, Mba”, ujarku. Itu kalimat yang aku ucapkan saat kami masuk pembahasan soal exit strategy dana di UPK. Dia mengamini.

Banyak statemen yang nggak jelas justru membuat pusing teman-teman di daerah. Ini juga yang aku ucapkan dalam FGD di kantor Staf Presiden. Aku sepakat dengan kata-kata Pak Jarwo agar jangan mengganggu aktifitas UPK. Sepakat pula dengan Kang Irman. Sebaiknya jangan ada yang membuat statemen apa-apa sebelum ada keputusan final.

Beredarnya kalimat-kalimat yang bersumber dari Jakarta membuat teman-teman UPK gerah. Statemen tentang dana akan dibagi menjadi modal BUMDes, akan ada tindakan dari OJK kalau tak berbadan hukum, dan yang lain, membuat mereka semakin kuat memproteksi diri. Belum lagi nada miring bahwa katanya UPK ingin menguasai aset. Ini benar-benar bentuk kewaspadaan yang terlalu jauh.

Aku suka dengan gaya Mba Grace yang realistis. Meski kita ingin agar nilai-nilai pemberdayaan yang selama ini menjadi roh tidak tercerabut, keharusan berbadan hukum pun perlu dipertimbangkan. Ketakutan akan hilangnya roh PNPM karena UPK harus berbadan hukum belum terbukti. Justru kedekatan teman-teman UPK dengan kelompok dikarenakan nilai-nilai positif dari PNPM yang selama ini menjadi roh-nya.

Aku tidak mengiyakan atau menolak ucapannya. Misi ku saat ini memang sedang mengumpulkan berbagai pandangan mereka. Aku ingin tahu sejauh mana mereka berpikir dan memikirkan exit stategy sesuai yang mereka pahami. Pemahaman-pemahaman mereka pun coba aku pahami. Aku dan mereka pada posisi yang sama. Sama-sama mencintai pemberdayaan. Hanya wujud cinta nya saja yang berbeda.

Saat Mba Grace mengatakan kalau Pak Ibnu Taufan sedang memfasilitasi beberapa UPK untuk berbadan hukum, aku penasaran. Aku ingin tahu bagaimana mensikapi dan mendudukkan subyek hukum pemilik aset sehingga memutuskan berbadan hukum. Karenanya aku minta difasilitasi bertemu Pak Ibnu. Sekali lagi, aku tidak sedang ingin menghukumi benar atau salah. Hanya ingin tahu alur pemikiran mereka, siapa tahu alur berpikirku yang salah.

Kalau Pak Ibnu bisa ditemui sore ini, sebenarnya aku bisa lanjut sekalian. Apalagi kata Mba Grace, kantor TNP2K dimana Pak Ibnu bekerja, tak jauh dari stasiun Gondangdia. Cukup jalan kaki dari stasiun, katanya. Tapi Pak Ibnu siap ditemui esok hari. Oke.

Rencana pun segera aku ubah. Mumpung sudah jauh ke Cikini, aku mau lanjut ke stasiun Senen. Tujuanku menukar tiket kereta yang telanjur aku beli dan membeli tiket pulang nantinya. Materi diskusi yang menarik membuatku puas. Apalagi makan siang dan dua gelas air minum habis sudah. Matur tengkiu, Mba Grace. Jangan kapok ya, Mba… hehe….

Bingung saat mencari moda transportasi dari Cikini ke stasiun Pasar Senen, aku putuskan mencoba Go-Jek. Setelah unduh dan sedikit klak klik. Telpon pun berdering. Pengendaranya bernama Mujiono. Aku yang memulai perbincangan selama perjalanan dari Cikini ke Pasar Senen. Mulai dari sistem di go-jek, banyaknya putaran per hari, pendapatannya, sampai pengalamannya sebelum jadi pengendara go-jek.
Mujiono katakan kalau aplikasi yang dibuat oleh go-jek sangat membantu. Tak perlu mangkal berlama-lama, konsumen pun datang via aplikasi. Aplikasi yang di unduh via play store mudah dioperasikan. Kecuali yang gaptek dan enggan belajar. Maka tak sedikit para tukang ojek lama yang enggan bergabung. Pasalnya selain gaptek, mereka juga emoh belajar. Padahal sebelum menjadi pengendara go-jek, mereka mendapat training dulu. Baik mengenai penggunaan aplikasinya, safety riding, cara melayani konsumen, dan tata cara serta perhitungan bagi hasil tiap tarikan.

“Per kilometer kita dihargai tiga ribu, Mas. Tapi itu belum di potong 20% untuk PT. Go-Jek,” ujarnya.

Sistemnya bagi hasil dong, timpalku. Dia mengiyakan. Para pengendara go-jek itu bukan karyawan yang harus masuk jam sekian pulang jam sekian. Pendapatannya tergantung kemauan sendiri. Kalau mau dapat banyak, ya berangkat pagi, pulang agak malam. Semua tergantung kita, imbuh Mujiono.

Rupanya PT. Go-Jek belajar dari perusahaan-perusahaan besar lain soal pelayanan. Aku jadi ingat bagaimana Ibu Siti Fatimah, pemilik Blue Bird, mendidik para sopir. Pelayanan kepada konsumen menjadi hal penting. Maka, dia tak segan turun tangan mengajari dan memberi contoh bagaimana melayani konsumen dengan baik. Ini pun dilakukan oleh PT. Go-Jek. Tukang ojek seperti Mujiono menjadi sopan dan enak diajak bicara.

BAGIKAN
Berita sebelumyaJakarta pun Optimis
Berita berikutnyaSatpam Stasiun yang Keren
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here