Jakarta pun Optimis

0
231

Bagian ke-1

Lama tak menulis dan update status di medsos, membuat aku sering lupa. Lupa mengambil foto-foto aktifitas yang sebenarnya menarik bagiku. Kata “lama” itu relatif. Kisaran dua sampai tiga bulan hanya tilik dunia maya bagi ku masuk kategori lama. Apakah ini akibat ketergantungan? Mungkin.

Paling tidak, akitifas selama 4 (empat) hari di Jakarta ini begitu akhirnya. Sejak Senin hingga Kamis (22-25 Februari 2016) kemarin aku putar-putar di ibukota, eh ada beberapa momen yang lupa aku foto. Motto: “selalu narsis biar eksis” agak terlupakan.

Untung saja Pak Camat mengijinkan saat aku SMS minta tambahan hari.Ijin kunjungan ke Jakarta yang mestinya cuma 2 hari, jadi 4 hari. Tapi teman-teman nggak usah khawatir, biayanya nggak ikut nambah kok. Masih ada Kang Tarjo yang mengijinkan nebeng tidur dan mentraktir makan. Ada Mba Grace, Mas Sani, dan Pak Ronggo Purwoko yang ikut berkontribusi membelikan makan pula. Ini lah hikmah silaturahmi… hihihi….

Perjalanan ke Jakarta kali ini aku naik kereta. Kereta kelas ekonomi jadi pilihan. Pasalnya ongkos yang aku punya cukup limit. Perjalanan naik kereta bisnis atau eksekutif hanya aku lakukan jika ada yang membelikan tiketnya.Ini jujur teman-teman. Pilihan kelas ekonomi pun ada alasannya. Alasan-alasan ini aku sampaikan ke Mba Grace saat makan siang. Saat itu aku mampir ke kantornya di daerah Cikini.

Kira-kira begini yang aku katakan:

Ada perbedaan yang menarik saat naik kereta di pelbagai kelas. Kalau di kelas eksekutif, saat aku duduk, penumpang di samping kanan, kiri, depan, dan belakang seringnya cuek, bahkan ada yang pura-pura tidur. Paling banter mereka hanya menoleh. Sudah. Capek kali ya?

Saat naik kelas bisnis, biasanya ada yang bertanya: “mau ke mana, mas?”. Lantas setelah aku menjawab, mereka kembali ke aktifitas semula. Sampai aku atau mereka yang turun. Mungkin mereka nggak mau mengganggu atau terganggu privasinya.

Nah, pas di kelas ekonomi, suasana akan lebih hidup. Sesama penumpang bukan hanya bertegur sapa. Tak sedikit yang kemudian terlibat obrolan sepanjang perjalanan, sampai merasa benar-benar capek. Saking seringnya naik kereta kelas ekonomi, tak jarang aku ditawari makanan oleh ibu-ibu yang duduk bersebelahan atau berhadap-hadapan. Karena tidak boleh menolak kebaikan, aku terima saja… hahaha…. (dasar!)

Ini perbedaan suasana yang aku alami. Tapi yang utama sih, soal harga tiket… hehe….

Agak lama aku tak keluar kota sejak November hingga akhir Januari. Padahal biasanya hampir tiap bulan, ada saja kegiatannya. Beberapa kegiatan sengaja aku absen. Kesibukan (ehm) di tempat kerja menyita banyak energi. Antara sibuk atau sok sibuk, beda-beda tipis. Sampai-sampai aktifitas di medsos pun aku kurangi. Kalau pun berkunjung, hanya sekedar ingin tahu saja.

Aku berharap tidak banyak penumpang di kereta. Tapi apa mau di kata, harapanku salah. Kereta cukup penuh. Tempat duduk untuk enam orang penuh. Dua orang didepanku mengatakan akan pergi ke Serang, sedang tiga yang lain adalah ABK (Anak Buah Kapal) milik Pertamina. Obrolan-obrolan ringan meluncur. Hanya saling bertanya sebentar.

Meski kereta penuh, aku bisa terlelap juga. Seingatku, aku mulai terpejam saat kereta melewati stasiun Ciamis sampai di Jatinegara nanti. Berdesak-desakan tak membuatku susah tidur. Toh posisiku dekat jendela. Kepala ini bisa disandarkan ke sana. Nyaman atau Ngebo? Embuh.

Meski kereta tiba saat subuh, aku tak segera beranjak dari sana. Sengaja aku menunggu agak siang. Lagi pula tempat dan waktu janjian ketemu sama Bang Pandong belum jelas. Maka sarapan dan minum kopi menjadi pilihan, saat matahari sudah keluar. Pilihannya jatuh di emperan dekat halte busway Senen.

Penjual kopi yang tak aku tanyakan namanya adalah seorang difabilitas. Jalannya kepayahan karena kakinya tak sempurna. Sepasang kakinya kecil, pendek, dan membentuk huruf X. Matanya agak juling, dan bicaranya pun susah. Aku mesti cermat mendengar ceritanya. Meski nggak jelas intonasi dan kata-kata yang dia ucapkan, dia selalu berdendang. Sepertinya nothing to lose. Bahagia.

Meski seorang difabel, dari cerita pekerjaan yang dia lakukan, dia mengaku tak pernah mengemis atau mengamen. Sebelum menjadi penjual kopi, dia mengaku mengais sampah. Hasil mengais sampah-sampah itu lah yang dia kumpulkan untuk modal berjualan kopi. Ada termos, keranjang, dan aneka minuman sachet. Pas aku tanyakan berapa pendapatannya sehari berjualan, dia katakan sekitar 50 sampai 70 ribu rupiah. Asalkan tidak ada razia dari Satpol PP katanya. Oh.

Tak bisa aku bayangkan bagaimana dia berlari dari kejaran para Satpol PP yang merazia. Untung saja, petugas Satpol PP baik hati. Kalau dia ke tangkap hanya diperingatkan untuk tidak berjualan di situ lagi. Tapi apa boleh buat, mau jualan di mana lagi. Begitu alasannya.

Sempat agak nggak ngeh saat dia menceritakan momen dimana dia mendapat untung besar. Karena kalimat-kalimat yang dia ucapkan memang agak susah didengar. Harus pasang telinga bener-bener.

Waktu itu hujan lebat di sekitar Pasar Senen. Para sopir taksi dan pejalan kaki berteduh di dekat halte busway itu. Demi mengusir dingin, hampir semua sopir taksi dan pejalan kaki memesan kopi. Sampai-sampai dia harus pulang mengambil satu termos air panas lagi. Padahal biasanya cuma satu termos, ini bisa dua termos. Ini sebuah prestasi baginya.

Kebahagiaan yang terpancar saat dia bersemangat bercerita, aku apresiasi dengan senyum lebar dan bertanya-tanya lagi. Dia bertambah semangat bercerita. Senang melihatnya.

Sambil menunggu balasan WA dari Bang Pandong, aku lanjutkan. Aku tanya mengapa dia jualannya di situ. Dia bilang pernah berjualan di beberapa tempat, tapi sepi. Yang paling laris ya di situ. Lalu lalang pejalan kaki yang hendak atau keluar dari stasiun Senen, atau yang mau naik busway pasti lewat jalan itu. Jalan yang ada di bawah fly over.

Tak aku tanyakan jumlah anggota keluarganya. Aku tanya dia asalnya dari mana. Dia bilang asli Jakarta. Sejak kecil sudah di Jakarta. Rumahnya dekat. Tak jauh dari stasiun Senen.

Ngobrol bareng orang-orang semacam dia, biasa aku lakukan. Sifat kepo akan keadaan mereka itu yang membuatnya. Sering berpikir bagaimana mereka bisa bertahan hidup di kota ini. Pendapatan yang termasuk pas-pasan, masih bisa “hidup”. Padahal kita tahu, di sini buang air saja harus bayar. Apalagi cari air.

Salah satu karunia Allah SWT yang patut disyukuri adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan. Manusia yang diberi akal pikiran, pasti akan menggunakannya. Apapun yang terjadi segera di respon. Penyesuaian demi penyesuaian akan keadaan dan perubahan lingkungan mesti dilakukan.

Orang bilang: “segala sesuatu pasti akan berubah. Tidak ada yang kekal di dunia ini, kecuali perubahan itu sendiri”.

Maka, kita dituntut untuk mampu menyesuaikan diri atas perubahan-perubahan yang terjadi. Tak perlu bertahan kuat dengan suatu keyakinan yang masih bisa ditolerir. Kita akan diberi label: kolot, status quo, dan atau istilah lain, saat enggan berubah. Biasanya pun akan berakibat buruk.

Boleh lah kita mempertahankan sebuah keyakinan, jika itu berimbas baik nantinya. Bahkan wajib hukumnya mempertahankan keyakinan yang sifatnya hakiki. Keyakinan tentang kebenaran. Namun perlu juga berintrospeksi, apakah keyakinan kita itu benar.

Yang banyak belum tentu benar; yang sedikit belum tentu salah. Be a wise guy.

Aku beranjak dan masuk ke halte busway saat Bang Pandong bilang, ketemuan di hotel Bidakara.

Ah iya. Tahu kah kamu hidangan apa yang aku nikmati saat sarapan itu? Kopi dan kimpul.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here