Jangan Menunggu Sempurna

0
371
Kafe dari kandang kerbau

Tulisan ini terinspirasi dari kunjungan belajar ke DolaNdeso. Wahana permainan ala desa yang ada di Desa Banjarasri Kec. Kalibawang Kab. Kulonprogo-Yogyakarta. Misinya ingin mengajak orang kembali mengenal desa jaman dulu. Tips dan trik yang dia berikan sedikit banyak terekam pada tulisan ini.

“Jangan menunggu sempurna”, begitu nasihat dari Mas Hartono, pengelola DolaNdeso.

Dia tak perlu menunggu DolaNdeso sempurna. Setelah beberapa properti terpasang dia segera jualan. Dia promosikan dan mengajak pengunjung datang. Masukan-masukan dari pengunjung lah yang dia jadikan modal pengembangan. Meski masih dalam konsep besar yang digagasnya.

Kebiasaan menunggu sempurna akan menghilangkan momentum. Padahal kesempurnaan yang ada dalam pikiran kita belum tentu diinginkan oleh konsumen. Kita terjebak pada egoistis bahwa aplikasi konsep seperti yang dibayangkan akan diterima oleh konsumen. Ketidakmampuan dan keengganan memposisikan diri pada orang lain, sering membuat usaha yang kita rintis gagal.

Kita merasa benar, pintar, dan serba tahu kemauan konsumen. Maka dibuatlah gagasan, tahapan aplikasi, dan pembuatan properti usaha sesuai apa yang ada dalam otak kita. Kedangkalan akan pemahaman perilaku konsumen dan konsumen jenis apa yang kita sasar berakibat mandeknya usaha. Tak sedikit yang gulung tikar dan atau layu sebelum berkembang.

Pojok Selfie

Mengalir

Perencanaan dalam berbagai hal itu harus. Tanpa perencanaan, sulit mengukur tingkat kesuksesan sesuatu. Namun saat perencanaan dibuat sedetail mungkin untuk menghindari kesalahan, yakinlah kita akan gagap dalam pelaksanaan. Sebab sedetail apapun perencanaan, akan bertemu dengan kenyataan yang berbeda dari yang kita bayangkan.

Orang bijak mengatakan, sederhanalah dalam merencanakan, toleransi dalam pelaksanaan, tetapi tetaplah fokus pada tujuan. Perencanaan yang sederhana akan mempermudah kreatifitas saat aplikasi. Ketika keadaan yang ditemui berbeda dari yang dibayangkan, kreatifitas akan muncul. Tidak ada alasan menyalahi aturan atau prosedur, sebab ruang kreatifitas terjamin ketika perencanaannya sederhana. Biarkan pengembangan itu mengalir.

Pengembangan yang dilakukan disesuaikan dengan keinginan konsumen. Oleh karenanya, Mas Hartono menyarankan untuk mendengarkan masukan dari konsumen. Temani mereka saat berkunjung, gali fantasi, saran, dan masukan dari mereka. Semakin banyak orang yang menyarankan sesuatu, maka berpotensi itu diterima oleh khalayak. Namun demikian, keputusan ada di tangan kita. Ini berarti tidak boleh menyalahkan konsumen.

Santai

Pemupukan aset

Ketika pengembangan dilakukan secara bertahap pemupukan aset akan lebih tepat. Pemasukan dari pembayaran konsumen menjadi modal tambahan pengembangan. Model pengembangan bertahap sesuai kemauan konsumen akan mengurangi beban modal diawal. Hal ini meminimalkan kesalahan investasi awal yang disesuaikan dengan imajinasi kita.

Berbagai program outbond dan kegiatan di DolaNdeso dilakukan apa musimnya. Ketika musim penghujan, pemanfaatan air akan dimaksimalkan. Namun tatkala musim kemarau datang, kegiatan didasarkan pada apa yang ada. Karena dia berkeyakinan bahwa segala apa yang ada di bumi ada nilainya. Kita harus bisa menjual nilai, bukan semata produk.

Dari modal awal sekitar 250 juta, dia bersama tim mampu mengubah bekas lahan tebu menjadi wahana bermain dengan omset mencapai 600 juta per bulan. Secara bertahap properti yang dibutuhkan untuk memenuhi keinginan konsumen bertambah. Demikian pula imbas langsung ke masyarakat sekitar.

Homestay bekas lumbung padi

Inovasi

Nasihat lain yang dia berikan adalah teruslah berinovasi. Jangan cepat merasa puas. Cepat merasa puas dan berhasil adalah musuh kesuksesan. Stagnasi akan didapati tatkala rasa itu muncul dan melingkupi diri. Kepuasan dan merasa diri sukses biasanya akan mematikan inovasi. Padahal kompetitor sedang bertumbuh, titik jenuh konsumen terus beranjak, dan perilaku konsumen terus berubah-ubah.

Orang-orang hebat semacam Bill Gates dan Steve Jobs adalah orang bertipikal seperti ini. Keduanya beserta orang lain yang sukses, tidak merasa puas begitu saja dengan kesuksesannya. Mereka selalu memposisikan diri dalam kondisi harus berinovasi. Kalau inovasi didapatkan saat kondisi tak nyaman atau kepepet, maka ciptakan kondisi itu, agar inovasi terus bermunculan.

Frasa “nrimo ing pandum” sebenarnya bukan bermakna pasrah. Kita tidak pernah tahu seberapa besar “pandum” yang menjadi jatah kita. Kalau kita beranggapan bahwa “pandum” hanya apa yang sekarang kita dapatkan, bisa jadi keliru. Sebab mungkin saja “pandum” yang tertulis di Lauhul Mahfudz bisa lebih banyak dari itu.

Pemahaman bersyukur atas nikmat yang diberikan, bukan berhenti berkarya. Justru berkarya dengan berbagai inovasi menjadi wujud rasa syukur. Harapannya agar kemanfaatan yang kita lakukan lebih banyak dirasakan oleh orang lain. Karena sebaik-baik orang ialah mereka yang bermanfaat bagi orang lain.

Diskusi Kang Manto, Mas Hartono & Kang Jalu
Kafe dari kandang kerbau

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here