Jembatan Serayu Penuh Kenangan dan Misteri

8
5301
Foto dari belakang SMPN 1 Patikraja

Dulu jembatan ini dikenal dengan nama Jembatan Merah. Saat itu warnanya memang merah. Jembatan ini dulunya merupakan jembatan kereta api. Entah sejak kapan jalur kereta api itu dialihkan, maka jembatan ini pun dialihfungsikan. Pengalihfungsian jalur kendaraan dan jembatan membuat perahu di tambangan pun berhenti beroperasi. Sudah aku ceritakan sekilas bahwa tambatan perahu yang diseberangkan dengan menggunakan tali, membuat grumbul dimana aku tinggal diberi nama Tambangan.

Pengalihfungsian jalan kereta api menjadi jalan kendaraan biasa beserta jembatannya, mempermudah akses masyarakat menuju ke Kota Purwokerto. Pada saat itu memang Dokar (Andong) masih menjadi idola. Aktifitas jalan kaki sejauh 10 kilometer adalah hal biasa. Banyak yang sekedar berjualan kayu bakar, daun jati, atau bersekolah. Tapi biasanya mereka yang bersekolah akan naik sepeda. Salah satu ciri orang kaya.

Foto dari belakang SMPN 1 Patikraja
Foto dari belakang SMPN 1 Patikraja

Cerita soal jalan kaki, berjualan kayu bakar dan daun jati, bersekolah dengan sepeda, dan Dokar sebagai kendaraan favorit kala itu aku dapatkan dari para orang tua. Aku tak mengalami sendiri. Tapi aku rasa mereka tak bohong kok. Percaya aja ya… hehe….

Nenekku dulu buka usaha warung makan dekat jembatan. Kalau dari arah Purwokerto, sekarang berada di rumah ketiga sebelah kiri jalan. Eh, katanya sih pindah-pindah sebelumnya. Pernah berjualan di seberang jalan dari tempat terakhir. Kalau dari arah Purwokerto, setelah jembatan ya rumah pertama di kanan jalan. Pindah kemana lagi, aku tak tahu. Yang aku ingat adalah tempat yang sekarang menjadi rumah pamanku. Anak terakhir nenek.

Dari informasi banyak pihak, warung makan nenekku sangat terkenal. Tidak saja menjadi tempat makan bagi penggali pasir di dekat jembatan, tapi juga bagi orang-orang dari Binangun sepulang berjualan hasil pertanian ke pasar Patikraja. Makanan yang dijual berupa lotek, rujak, aneka gorengan, lontong, dan nasi rames. Saat itu merupakan makanan yang mewah. Laris manis pokoknya.

Saat pembuatan jaman Belanda (tahun tak diketahui)
Saat pembuatan jaman Belanda (tahun tak diketahui)

Saat nenekku berkeputusan untuk tak lagi berjualan, aku sering menemaninya di sana. Dia tinggal sendirian. Pamanku sering tak pulang. Pekerjaannya sebagai kernet mesin penggilas jalan (wales) sering membuatnya tak bisa pulang tiap hari. Lokasi proyek yang jauh, ditambah lagi kala itu tak memiliki kendaraan sendiri, membuatnya sering pulang satu minggu sekali. Kala itu dia masih tenaga bakti.

Oh iya, aku kasih tahu dulu ya. Nenekku memiliki 6 orang anak. Hanya pamanku yang ragil yang laki-laki, kelima kakaknya perempuan. Mereka adalah Nartem (Sinar), Dinem, Kinem (ibu ku), Salem, Tasem (Bidis), dan Nasa. Kelima anaknya menempati kompleks yang saling berdempetan di Tambangan. Sedang rumah nenekku masuk di grumbul Sorogan atau tepatnya di RT 06 RW 01. Jaraknya sih nggak terlalu jauh. Jalan kaki saja paling 5 menit.

Sering nenekku bercerita tentang jembatan Merah. Katanya memang angker. Setiap akan terjadi kecelakaan yang membawa korban jiwa, dia bilang pasti terdengar suara tangis dari arah jembatan. Tapi tak akan aku ceritakan ah, aku juga merinding kok. Yang pasti nenekku ini seorang pemberani. Malam hari dia sering jalan kaki berkeliling, saat dia masih mampu berjalan jauh. Untuk apa, aku tak pernah tanya. Mungkin ritual atau karena insomnia.

Dulu jembatan ini memang masih tak berpengaman rapat di kanan kirinya. Sempitnya jalan karena konstruksi awal diperuntukan guna kereta api lah alasannya. Hanya ada satu mobil yang bisa masuk. Itu pun tak bisa berpapasan dengan sepeda atau motor yang membawa keranjang. Kalau jalan kaki pun harus berhati-hati dan menepi sekali.

Sempitnya jembatan sering kali menimbulkan masalah tersendiri bagi pengguna jalan. Banyak mobil yang berpapasan di tengah-tengah enggan mengalah satu sama lain. Ini jelas mengganggu pengguna jalan yang lain. Saling memaki, mengemukakan argumen, dan ngotot tak mau mengalah hal yang biasa. Biasanya yang bisa melerai adalah warga sekitar. Baik dari desa ku, Desa Mandirancan, maupun dari desa sebelah, Desa Patikraja. Kesepakatan yang ada adalah kendaraan mana yang lebih dalam masuk ke jembatan dia lah yang akan dimenangkan. Kendaraan yang masih belum terlampau jauh harus mundur.

Miris tatkala mobil tetap saja nyelonong masuk saat dari arah yang berlawanan sudah masuk pengendara sepeda dengan damen (pakan ternak dari batang padi) yang diboncengkan. Mobil yang menggunakan mesin jelas lebih cepat. Maka sopir biasanya akan beralibi sudah lebih dulu masuk. Kasihan sekali si penunggang sepeda. Dia sudah pasti kerepotan menjaga keseimbangan sepeda. Ditambah harus turun dan mengalah kepada sopir yang egois.

Nah, di sini lah biasanya kami, warga sekitar tampil. Bagi mereka yang mau mengalah dengan cara turun dan memiringkan sepeda, meski susah payah, ya itu keputusan mereka. Tapi saat mereka berkeberatan karena merasa sudah masuk ke dalam jembatan terlebih dulu, maka akan kami bela. Jika proses negosiasi agar mobil mundur gagal, kami suruh agar pemilik sepeda segera merobohkan sepedanya ditengah-tengah jalan. Biarkan pengguna jalan ikut menghakimi sopir mobil. Dan biasanya sopir jelas akan mengalah. Kalau dia marah dan menggerutu, itu urusan dia.

Nah, yang paling aku suka adalah jika si penunggang sepeda yang membawa damen itu berani. Dia akan cabut celurit dan mengancam si sopir agar mundur. Aku yakin itu hanya gertak sambal saja. Karena hingga kini tak pernah ada kejadian pembunuhan atau perusakan mobil oleh mereka. Mengapa kami selalu dukung pengendara sepeda yang membawa damen itu?

Semata-mata membela wong cilik agar berani melawan egoisme orang kaya. Mereka harus diberi pelajaran. Melihat mereka menjaga keseimbangan karena damen di sepeda yang jelas-jelas berat saja kami kasihan. Eh kok enak saja mereka yang duduk manis di belakang setir mau mengalahkan. Huh…!

Intervensi pemerintah dalam hal ini Dishubkominfo pernah dilakukan. Di kedua sisi jembatan baik di sebelah utara maupun selatan dipasangi lampu lalu lintas. Seperti kebanyakan lampu yang lain, ada merah, kuning, dan hijau. Ini dimaksudkan agar pengguna jalan mematuhinya dan mengatasi permasalahan yang aku tuliskan diatas tadi. Awalnya pun berjalan lancar.

Namun demikian, melanggar aturan termasuk lampu lalu lintas sepertinya sudah biasa. Saat lampu berwarna merah dan dari arah berlawanan ada kendaraan serupa, dipastikan mobil akan berhenti. Laju kendaraan di jembatan menjadi tertib. Tak menemui masalah.

Masalahnya, lampu lalu lintas jelas tak bisa mendeteksi adanya kendaraan dari arah berlawanan saat di satu sisi berwarna merah. Bisa saja saat di sisi selatan lampu berwarna merah, kemudian datang dari arah selatan ada mobil, sedang dari arah utara tak ada kendaraan. Maka seharusnya mobil dari arah selatan berhenti, karena warna merah pada lampu lalu lintas itu. Tapi apa ya mungkin, lha wong dari arah utara saja kosong kok. Ya, masuk aja kan?

Tapi kebiasaan buruk menerjang lampu saat lampu sudah berwarna kuning itu lah penyebab masalahnya. Jika dari arah berlawanan ada mobil atau kendaraan besar lainnya.

Sering terjadi saat lampu berwarna kuning, ada mobil yang tetap menerjang. Padahal dari arah berlawanan mobil yang tadinya berhenti karena warna merah sudah mulai bergerak. Kembali lagi mereka berpapasan di jembatan. Mobil yang menerjang merasa dia benar, karena kendaraan sudah masuk dari sisi yang satu dan hampir keluar. Sedang mobil yang baru masuk bersikukuh mengikuti instruksi dari lampu hijau. Masalah lagi… masalah lagi….

Kejadian yang berulang kali ini membuat lampu itu kini hanya berwarna kuning berkerlap kerlip saja, tanda berhati-hati. Dishubkominfo memutuskan itu karena lampu lalu lintas yang sudah telanjur di pasang ini tak jua menyelesaikan masalah. Bahkan menimbulkan masalah baru. Maka kembali ke peraturan awal. Yakni siapa yang merasa masih jaraknya lebih dekat dari masuk ke jembatan, dia harus mengalah tatkala berpapasan dengan kendaraan serupa. Yaitu saat tak memungkinkan saling bersimpangan.

Hampir lupa. Soal kecelakan sebelum ada penghalang yang rapat di sisi kanan dan kiri jembatan itu sering terjadi. Ini disebabkan karena ketidakhati-hatian pengguna kendaraan. Bisa saja bersenggolan saat bersimpangan, atau terlalu cepat padahal ada lubang di jalan aspalnya. Eh, kata nenek dulu kadang tanpa sebab bersenggolan pun sering kecelakaan. Kecelakaan tunggal. Soal penyebabnya masih jadi misteri hingga sekarang.

Pernah ada sepasang pengantin baru yang jatuh dari Dokar, karena tiba-tiba Kuda meringkik. Kaget karena ringkikan kuda, sepasang suami istri baru itu terjatuh dari Dokar dan langsung ke sungai. Sedang kusir masih bisa berpegangan pada tali kendali. Lupa aku, siapa yang selamat. Apakah yang laki-laki atau perempuan. Kasihan sekali.

Kerelaan nenekku menampung sementara siapa saja yang mengalami kecelakaan di jembatan, membuat nenekku sering diingat mereka. Para korban kecelakaan atau pun keluarganya. Maka saat nenekku sudah pensiun dari berjualan, selalu saja ada yang mengirim. Entah makanan atau uang. Terutama sekali saat lebaran tiba. Tak sedikit yang kemudian mengaku sebagai saudara. Bahkan hingga nenekku sudah tak ada, masih ada diantara mereka yang tetap menjalin silaturahmi.

Ada kebiasaan soal kecelakaan yang tak bisa disanggah. Yakni jika kecelakaan yang menyebabkan korbannya jatuh di sebelah utara tiang penyangga jembatan (kami menyebutnya pandemen), bisa dipastikan dia tak akan selamat. Tapi jika korban jatuh di sebelah selatan pandemen, masih ada harapan untuk selamat. Ini terjadi karena arus sungai di sebelah utara pandemen lebih deras dan lebih dalam. Sedang arus di sebelah selatan pandemen sebaliknya.

Saat musim kemarau dulu, yakni sebelum ada Bendung Gerak Serayu di Desa Gambarsari yang diresmikan oleh Presiden Suharto pada tahun 1996, air sungai surut. Tanah berpasir dibawah jembatan yakni di sebelah selatan pandemen sering dijadikan tempat bermain. Main sepakbola biasanya. Tapi jangan kamu bayangkan bahwa bola yang kami pakai itu bentuknya bulat dan berbahan sintetis seperti sekarang. Bola yang kami gunakan untuk bermain tak lebih dari sampah serabut batang pohon pisang yang sudah kering. Kami gulung-gulung kemudian dimasukkan ke plastik. Kami ikat dengan tali dari batang pohon pisang kering juga. Makanya jika ada yang menendang dengan keras, bola akan rusak dan isinya terburai. Reparasi lagi. Rusak, reparasi lagi, dan begitu seterusnya. Gawang yang kami pakai pun hanya potongan bambu atau dahan apa saja yang kami tancapkan sekedarnya. Sebatas tanda untuk menentukan terjadi gol atau tidak.

Jika kami sudah merasa bosan atau capek. Mandi di sungai menjadi permainan selanjutnya. Berenang ke sana kemari, terkadang sambil balapan. Tak heran anak-anak di sini jago renang. Efek positifnya aku rasakan saat aku sekolah SMA di Purwokerto. Aku selalu juara renang di kelas dan mendapat nilai tertinggi. Cihuy….

Permainan lain yang kami sukai adalah Ramonan. Yakni kami akan mengambang di atas batang pohon pisang mengikuti arus air. Kami baru akan menepi jika jarak sudah terlampau jauh. Kemudian kami akan panggul batang pohon pisang itu ke hulu. Mengambang lagi ke hilir. Begiru seterusnya. Sampai orang tua kami memanggil untuk pulang. Jika tidak, maka kupingku akan panas di jewer sama mamake (ibu)… hahaha…

Bahagia sekali waktu itu.

Sungai Serayu itu pun menjadi urat nadi kehidupan kami. Banyak yang mencari nafkah menjadi tukang menjaring ikan disana. MCK pun kami lakukan di sungai Serayu. Kami tak kenal istilah higienis. Sedang urusan mandi biasanya kami bergantian. Untuk perempuan dan anak-anak dimulai sejak sehabis ashar hingga sekitar jam 5 sore. Setelah itu giliran pria dewasa. Nah, apakah saat itu ada yang mengintip perempuan mandi. Kayaknya sih iya. Aku tak tahu pasti. Soalnya saat itu aku masih bocah. Tak tahu urusan detail soal seks… xixixi…

Bendung Gerak Serayu di Desa Gambarsari dibangun sejak tahun 1993 sampai 1996. Oleh karenanya, debit air yang biasanya surut pada musim kemarau dan pasang di musim penghujan menjadi bisa dikendalikan. Imbasnya, kami tak bisa menikmati permainan di bawah jembatan Merah dan MCK di sana lagi. Karena air selalu pasang. Sejak saat itu kami belajar mengenai cara hidup sehat. Diantaranya memiliki sumur, WC, dan tak lagi MCK di sungai.

Jembatan Serayu selalu menjadi idola para tukang mancing. Mereka yang hobi memancing akan selalu memenuhi sepanjang jembatan pada malam hari. Khususnya saat musim kemarau. Kebanyakan mereka bukan berasal dari warga sekitar baik Desa Patikraja maupun Mandirancan. Andai ada pun hanya satu dua saja. Aku sendiri yang sejak kecil akrab dengan sungai Serayu malah tak hobi mancing. Pengalaman masa kecil saat mancing selalu di gigit muring, sejenis nyamuk yang hidup di rumpun-rumpun bambu, yang membuat gatal lah yang membuat aku emoh.

Hingga kini jika aku terpaksa pulang atau bepergian di malam hari, dimana terkadang harus pulang jalan kaki dari Pasar Patikraja hingga rumah yang berjarak sekitar 500 meter tetap aku lakukan. Gelap di sepanjang jembatan akan ditemani oleh para tukang mancing itu. Paling-paling aku akan menyapa:

“Olih akeh, Pak?”
“Lumayan, Mas”.

Saat pagi atau sore hari. Jembatan ini menjadi tempat yang indah untuk melihat pemandangan jika kamu melihat ke arah barat. Di sana akan kamu temui gambar gunung dengan di kaki-kakinya banyak pepohonan. Sedang ditengah-tengahnya mengalir sungai Serayu yang seolah menabrak gunung itu. Pemandangan indah pula saat kamu lihat lukisan alam ini pada saat bulan purnama. Lukisan sang pencipta tiada bandingannya.

Dari sini juga kamu bisa menyaksikan deretan perahu hias dalam rangka Festival Serayu. Biasanya diadakan setahun sekali. Parade perahu yang berjalan dari hulu di Desa Sokawera akan berakhir di seputaran Bendung Gerak Serayu. Perahu-perahu hias itu di sewa oleh dinas dan instansi yang ada di Banyumas, termasuk pihak swasta juga.

Sekarang jembatan itu berubah warna menjadi perak. Orang-orang kini lebih akrab menamai dengan sebutan Jembatan Serayu. Semua besi penghalang di cat serupa. Maka nama jembatan Merah seakan terlupakan. Sebelumnya besi-besi penghalang di kanan kiri jembatan dipenuhi agar lebih rapat. Seingatku ini penambahan besi-besi penghalang ini dilakukan pada sekitat tahun 1999. Pasalnya banyak kecelakaan terjadi yang mengakibatkan korbannya jatuh ke sungai Serayu.

Mungkin kejadian terakhir yang menyebabkan pemerintah melakukan ini adalah kecelakan yang menimpa seorang balita. Anak laki-laki yang berusia 3 tahunan. Dia terjatuh ke sungai Serayu yang menyebabkan kematiannya.

Anak laki-laki tinggal di Desa Patikraja bersama kedua orang tua dan neneknya. Anak itu terlahir dari pasangan suami istri dimana sang suami berasal dari Mandirancan, sedang istrinya orang Patikraja. Dia anak pertama. Anaknya lucu, banyak tingkah, dan baru belajar berbicara. Masih cadel dan kadang susah di cerna kalimatnya.

Meski tinggal di Patikraja, si Kakek yang di Mandirancan selalu membawanya sepulang dari Pasar dan mengantarnya kembali ke Patikraja di sore hari. Si Kakek jelas senang karena dia lah cucu pertamanya. Apalagi cucu nya ini laki-laki, putih, dan montok. Si Kakek akan menggendong cucu nya tiap dibawa atau diantar kembali.

Kecelakaan yang menimpanya bermula dari keinginannya diantar oleh si paman. Bukan paman dari adik kandung bapaknya. Paman ini kebetulan tinggal bersebelahan dengan rumah kakeknya. Padahal dia termasuk anak yang tak mudah di bawa oleh orang lain meski sudah lama kenal. Termasuk pamannya ini. Si paman bekerja di sebuah supermarket di Purwokerto.

Sore itu, saat pamannya pulang dia mengejar dan minta di bopong. Karena si paman masih capek, dia diantar ke rumah kakek. Sedang si paman mau shalat ashar. Kalau tak salah waktu itu sekitar pukul 16.30 WIB. Saat si paman sedang shalat dia menarik-narik tangan Uwa (Bu Dhe) untuk segera minta diantar oleh si Paman. Uwa (Bu Dhe) yang dimaksud adalah Mbakyu dari bapaknya. Waktu itu Uwa (Bu Dhe) masih gadis. Alias bapaknya yang menikah terlebih dulu.

Sepertinya dia tak sabar minta segera di antar pulang. Maka tatkala si Paman selesai shalat, dia segera menghampiri dan hendak mengantarkannya ke Patikraja. Tapi karena pertimbangan pulang kembali ke Mandirancan yang lumayan, apalagi masih kondisi capek, si Paman berkeputusan mengantarkannya dengan sepeda. Termasuk permintaannya agar Uwa (Bu Dhe) ikut.

Sepeda itu berwarna coklat dengan kondisi rem yang tak terlalu mengigit. Termasuk ketika si paman mengerem di perempatan “ngalteh” membuat si anak laki-laki itu kaget beserta Uwa nya. Sepeda kemudian di kayuh lagi.

Sesampai di mulut jembatan, banyak kendaraan bermotor dan mobil. Dengan pertimbangan keamanan, si paman memutuskan untuk berjalan di belakang mereka saja. Tak berniat mendahului, takut ada apa-apa. Mengayuh sepeda di jembatan pun hati-hati dan tak mengebut. Biasa saja.

Saat iring-iringan kendaraan di depan sudah mulai keluar dari jembatan, si Paman tetap santai mengayun sepeda. Apa lacur, mikro bis dari arah berlawanan masuk. Padahal jarak keluar sepeda keluar jembatan kurang lebih tinggal sebentar lagi. Sopir mikro bus mengemudikan kendaraannya agak ke kanan. Jika lurus dia jelas akan menabrak jembatan. Kondisi ini lah yang membuat panik si Paman. Sebab dia mengira mikro bus akan menunggu hingga dia keluar jembatan. Kepanikan itu membuat dia mengerem mendadak yang tidak mengigit itu. Dia kemudian turun dengan cara anjlok. Keputusan ini membuat pembonceng di belakang kaget bukan kepalang. Dia yang terpaksa memegangi si anak kecil yang sejak dari rumah minta berdiri di belakang pun jatuh. Saat jatuh dia sempat mendarat di bahu jembatan. Hanya saja, karena beda tinggi antara jalan dengan bahunya terlalu tinggi, dia terjengkang. Akhirnya dia jatuh ke sungai Serayu bersama sang keponakan.

Dia sempat bisa kembali ke permukaan. Tapi sang keponakan tenggelam. Baru bisa diketemukan ke esok harinya dengan kondisi meninggal. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un….

Cerita ini sengaja aku singkat termasuk kejadian saat mereka jatuh dan setelahnya. Aku merasa sangat berdosa, karena si paman yang dimaksud adalah aku.

Allahumma firlaha warhamha waafihi wafuanha

Ya Allah, ampunilah segala dosa-dosa kami. Jadikan lah kami ahli syurga-Mu ya Allah. Hanya ridho-Mu yang bisa menjadikan kami hamba-hamba yang Engkau kasihi. Maka ridhoi lah kami. Kumpulkan kami dalam kasih sayang-Mu ya Allah. Aamin… ya Robbal ‘alamiin.

BAGIKAN
Berita sebelumyaAngkringan yang Ini Bukan Warung Makan
Berita berikutnyaBidadari yang Putih Hatinya Laksana Mutiara
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

8 KOMENTAR

  1. Endingnya bikin mronding dan trenyuh…. pengalaman yg kan teringat sampai kapanpun….semoga Allah beri ampunan dan rahmatnya kepada mas dan keluarga… amiin….
    walaupun sebenarnya mas tidak bersalah….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here