Kalau Tulus Dikatakan Modus, Ya Aku Protes

0
258

Edisi ke-2 (habis)

Ancas bersama anak dan istri berkenan mengantarku ke Alun-alun Magelang. Aku sudah janjian sama mantan FK ku itu bertemu disana. Acara malam mingguan terganggu nih. Maaf ya, Mas Bro.

Sebelumnya aku berniat menginap lagi di rumah Ancas, andai mantan FK ku tak bisa dihubungi. Bahkan ibu dan ayahnya Ancas pun mengira demikian. Bahkan ibu sudah mempersiapkan kamar untukku beristirahat. Aku sempat mandi dan makan malam di sana pula.

Saat perjalanan menuju rumah Ancas kami menghubungi Mba Yenika, Ketua UPK Kec. Kaliangkrik Magelang. Dulu dia termasuk vokal kala menyuarakan kemandirian UPK terkait payung hukumnya. Hanya saja urung teragendakan karena dia sedang berlibur ke Jogja.

Motor Kaze R keluaran tahun 1998 masih setia menemani perjalanan mantan FK ku ini. Mungkin perbedaan mencolok dari motornya adalah lebih kinclong. Katanya pula onderdil dalam mesin sudah diganti semua. Tubuh tinggi tambun dengan bobot lebih dari satu kuintal masih terlihat gaya santainya. Benar kata Gondo, kasihan motornya… hehe…

Sebelum Ancas dan istri beranjak pulang, kami sempat ngobrol. Tentang pekerjaan dan lain-lainnya. Termasuk ceritanya saat masih ditempatkan di Selomerto Wonosobo. Sebelum itu, cukup lama aku dan Ancas menunggu mantan FK ku itu.

Aku minta dibelikan wedang ronde saat dia menawariku makanan atau minuman. Perut masih kenyang dan kopi sudah pasti ada di rumahnya. Ngobrol ngalor ngidul tak jelas menemani kami menikmati wedang ronde. Sesuai janjinya dulu, dia akan mengajak aku keliling kota Magelang. Sampai pagi pun siap. Biar tak di bilang pulang telat, mending pulang gasik… ahihi….

Dia memboncengkan ku menuju arah Magelang utara sambil menunjukkan beberapa tempat. Dia masih asyik dengan ceritanya, sedang aku mulai merasakan kantuk. Mungkin karena aku hanya diam, dia menawarkan untuk pulang. Aku iyakan. Rasa mengantuk ini sulit ditahan. Sampai aku terantuk di punggungnya.

Kami sempatkan mampir membeli mie goreng di depan jalan masuk ke Perumahan Lembah Hijau dimana dia bersama ibunya tinggal. Tepatnya di Desa Banyurejo Kec. Mertoyudan Kab. Magelang, dekat dengan kompleks Akademi Militer (Akmil).

Aku geli sendiri saat mengingat aku dan dia duduk menunggu pesanan mie goreng. Ada 4 orang yang sedang menikmati makan malam di situ. Dari wajahnya, aku pastikan dia bukan orang Jawa. Sangar pula. Tato di tangan dan di kaki menghiasi. Ketiganya laki-laki, sedang yang satu cewek. Putih, cantik, dan hmm….

Dua kali aku melihat ke arah mereka, yakni saat pertama aku masuk ke warung mie goreng dan saat aku pasang foto buat selfi bareng mantan FK ku. Eh, pas pandangan kedua aku lihat tangan kanan si cewek, bertato pula. Tapi bukan itu yang membuat aku berpaling, salah satu cowok memandangku. Aku tak mau bersiborok dengan matanya… hehe… atuut… hihi….
Rumah mantan FK ku tak terlalu besar, tapi asri dan bersih. Tipe 36 kurasa. Menjaga kebersihan memang kebiasaan baik dari pria yang belum beruntung ini. Dulu saat kami masih satu ruangan, dia yang paling sering membereskan kertas-kertas yang berserakan. Sampai-sampai ketika ada berkas penting yang dicari tak ketemu, maka tertuduh pertama adalah dia. Kami akan minta dia carikan berkas itu…hihi….

Aneh, rasa mengantuk itu hilang saat aku memasuki rumahnya. Tak terasa menikmati mie goreng, minum kopi sembari ngobrol jarum jam menunjukkan pukul 02.30 WIB. Aku tidur di kamarnya, sedang dia tidur di lantai depan televisi. Ranjang tidur kecil jelas tak muat.

Pagi hari saat aku bangun, dia, ibu, dan adik perempuannya sudah bangun. Aku mengurung diri dalam kamar sambil menunggu pagi setelah shalat shubuh. Mengecek SMS dan BBM yang masuk serta membaca buku yang aku bawa menjadi aktifitasku. Termasuk membalas BBM dan berkirim SMS ke yang lain.

Beberapa saat dia mengantar adik perempuannya ke gereja. Itu sudah dia sampaikan semalam. Hanya ibu yang dirumah. Aku keluar untuk menghirup segarnya udara di Magelang. Benar-benar segar. Aku merasa tak sungkan di rumah ini. Keakrabanku dengannya dulu membuatku serasa tak asing dengan rumah ini.

Ternyata ibu sudah mempersiapkan kopi untukku. Wah, kok jadi merepotkan.

Kami berbincang-bincang di ruang tengah. Aku ceritakan tentang anak pertamanya itu saat ditempatkan di Kebasen. Ah, ibu yang sudah renta ini tak bisa menyebutkan kata “Kebasen”. Dia selalu berucap “Tebasan”. Biar lah, aku tak mau meralat ucapannya, takut dia tersinggung. Dia sudah berusaha tatkala aku tuntun untuk mengucapkan “Kebasen”. Yang keluar dari bibirnya tetap “Tebasan”.

Mantan FK ku ini memang supel orangnya. Dia bisa segera beradaptasi dan mendapat kawan baik di Polsek, Koramil, dan banyak warung-warung di seputaran kantor kecamatan. Dia pula yang selalu diingat oleh pelaku PNPM di desa, saat dia tak ikut acara kunjungan ke desa. Terlepas dari sisi buruknya, dia pun orang yang pemaaf, meski tak jarang kami marah dan jengkel padanya. Maka maklumi lah kondisinya ya (pesan buat Gondo, dkk).

Senang sekali bisa berbincang-bincang dengan ibu yang “jembar segarane” ini. Kesetiaannya menjaga amanah sang suami, yakni dua orang anaknya, karena terlalu sering ditinggal adalah keperkasaan seorang wanita. Suaminya mantan perwira di TNI AD, dengan pangkat terakhir Letkol. Terakhir sang suami bertugas menjadi anggota DPRD Kab. Kudus selama 2 tahun yakni tahun 1997 sampai 1998 dari utusan tentara, saat itu masih ada Dwi Fungsi ABRI. Sebelumnya sang suami berpindah-pindah tugas baik di Jawa maupun di luar Jawa. Meski keluarga di bawa serta, tak otomatis bisa bertemu setiap hari. Diboyongnya mereka hanya sekedar mendekatkan jarak tempuh saat cuti atau libur.

Dari caranya bertutur dengan sumringah dan memuji-muji suaminya aku tahu, dia sangat mencintai sang suami. Pun termasuk rasa sayang kepada anak laki-lakinya. Wajah dan sikap supel sang suami mirip mantan FK ku itu. Hanya keberuntungan yang belum berpihak. Bahkan sang ibu tahu kalau program ini hampir selesai. Dia was-was akan nasib anaknya ini.

“Sekarang dia harapan saya. Tulang punggung keluarga,” ujarnya. Trenyuh aku dibuatnya.

Aku bayangkan, sebagai keluarga pejabat hidup mereka pasti bahagia. Mendapat penghormatan dari keluarga, tetangga, dan teman. Hidup tak kekurangan materi. Terpancar kebahagiaan saat aku lihat foto mereka berempat. Sang Ayah terlihat gagah dengan senyum mengembang. Ibu masih terlihat cantik. Mantan FK ku pun masih ganteng. Adiknya bersih.

Aku berpamitan sama ibu dan adik mantan FK ku ini. Sopan santun dan unggah ungguh khas masyarakat Jawa dalam menerima tamu, membuatku senang. Tak lupa aku pun menjaga kehormatan tuan rumah sejak aku masuk rumah ini semalam. Termasuk memperbaiki cara duduk saat ibu lewat di depanku. Tak etis menaruh kedua kaki di sofa.

Lokasi pertama yang aku tuju bersama mantan FK ku ini adalah terminal Magelang. Memesan tiket bis untuk pulang. Rencananya aku ingin putar-putar kota Magelang. Termasuk main ke Artos. Eh iya, pengin narsis di Alun-alun yang ada tulisan: Magelang. Kayak pose kerennya Tomi, pegiat Desa Membangun… hehe….

Sengaja motor diputarkan jalur lain. Tak melewati Alun-alun, melewati Artos dan belok kiri menuju terminal Magelang. Mantan FK ku bilang di sepanjang jalan sejak keluar dari Perumahan Lembah Hijau, bahwa di sana kompleks tentara. Kanan kiri jalan terlihat bangunan-bangunan tua yang masih terawat baik. Di sana lah para prajurit tinggal.

Motor diparkir di area terminal. Kami masuk ke tempat pemberhentian bus-bus besar. Bertanya ke sana kemari keberangkatan jadwal bus patas yang akan aku tumpangi. Beberapa orang menggelengkan kepala. Tak ada armada itu katanya. Yang ada kelas ekonomi. Itu pun sebentar lagi jalan. Wah, pengalaman tak menyenangkan kemarin terbayang.

Tak lama berselang armada yang aku maksudkan datang. Maka aku pun segera naik, rencana keliling kota Magelang aku batalkan. Mantan FK ku pun menyarankan demikian. Bus patas ini jurusan Semarang – Tasikmalaya. Meski tak melewati Purwokerto, aku masih bisa menyambung bus lagi setelah turun di perempatan Buntu. Semoga perjalanan nyaman.

Bus yang aku tumpangi terlihat lengang. Penumpang di bus dengan seat 2-2 ini hanya sampai bangku kelima dari depan. Itu pun hanya beberapa yang berisi dua orang. Pertanda suasana tak pengap. Tak tahu nanti di agen-agen bus. Ada penumpang lain apa enggak. Di depanku duduk seorang ibu dengan anak kecilnya yang serba ingin tahu. Sebentar-bentar dia bertanya tentang apa yang dia lihat di pinggir jalan. Mulai dari nama bunga, burung, kendaraan, dan pekerjaan apa yang dilakukan oleh orang-orang di luar sana.

Berkali-kali dia memegangi buku yang sedang aku baca. Mulanya aku cuma tersenyum malas. Malas karena harus menunggu kemacetan yang entah karena apa. Kemacetan di Desa Krasak ini ternyata panjang mengular hingga Desa Margoyoso masih di kecamatan Salaman. Polisi lalu lintas yang mengatur tampak bingung dan sedikit jengkel. Pasalnya banyak kendaraan yang terus menerobos dan mengabaikan himbauannya. Pak Polisi itu memang sendirian, sudah sepuh pula.

Saat aku tanya kelas berapa dia sekolah, dia menjawab sudah kelas 1 SD. Oh, berarti sebaya anakku, Ata. Tapi saat aku suruh dia baca judul bukuku, dia cuma senyum-senyum dan mengeleng. Tentu beda antara laki-laki dan perempuan. Anakku sudah bisa lancar membaca. Termasuk kalimat yang agak panjang. Tapi anak yang bongsor ini belum bisa mengeja. Aku sih maklum-maklum saja. Namanya juga anak laki-laki. Toh insya Allah kelak dia jadi anak pintar (doa ku dalam hati).

Dia terus mencari-cari perhatianku. Meski dia bersembunyi bersama Mamahnya, dia panggil ibunya begitu, dia mengulurkan jari-jari melalui sela-sela jok. Dia duduk bersama Mamahnya persis di depan jok yang aku duduki. Kemudian dia berdiri menghadap ke belakang lagi. Kembali pegang-pegang buku yang aku taruh di atas tas yang aku taruh di sebelah.

Aku tanya namanya siapa. Aku tak ingin dia merasa tak diperhatikan. Dengan senyum-senyum dia malah balik tanya, “Om namanya siapa?”

Aku katakan namaku, baru dia jawab. Namanya Febri.

Aku duduk di barisan jok urutan ke-4 di sebelah kiri sopir. Sedang dia dan mamahnya ada didepanku. Dia bersama mamahnya mau ke Banyumas, katanya mau mudik untuk peringatan 1 tahun meninggalnya sang kakek. Febri tinggal di Rembang bersama ayah yang dinas di tentara. Hari besok (Senin) Febri sudah dimintakan ijin oleh mamahnya.

Sebagai pengusir jenuh karena mata pun agak lelah membaca, aku bincang-bincang dengan Febri. Sekolahnya dimana, sudah bisa membaca apa belum, di sekolah diajari nyanyi apa saja. Aku pun ajak dia ikut ke rumah. Aku bilang kalau di rumah ada teman, yaitu Ata. Anak perempuanku yang juga baru masuk MI. Aku bilang ke Febri juga kalau di rumah ada dedek kecil, cowok, namanya Syamil.

Febri senyum-senyum dan menggeleng-geleng. Sambil terus bertingkah.

Bus terus bergerak maju perlahan. Informasi di dapat bahwa di depan sedang berlangsung karnaval. Dalam rangka apa aku tak tahu. Selain itu juga ada pertunjukan musik di atas saluran irigasi. Ada-ada saja kreatifitas orang desa… hehe….

Kemacetan terurai setelah agak jauh mendekati perbatasan Purworejo. Mata lelah membuatku tertidur. Aku baru bangun saat bus berhenti di pul. Aku turun untuk sekedar melegakan perut. Termasuk makan gorengan dan lontong. Warung di pul bis adanya cuma itu dan beberapa minuman ringan. Aroma kopi yang dipesan oleh sopir tak membuatku ingin. Aku sudah minum kopi pagi tadi.

Sepertinya penumpang lain masih tertidur. Termasuk Febri dan mamahnya. Bahkan saat bus mulai berjalan lagi. Tak ada penambahan penumpang dari pul. Bus masih tetap kosong seperti saat aku naik dari terminal Magelang.

Bus berjalan tak terlalu cepat. Sesampainya di gerbang Selamat Datang di Kabupaten Banyumas, tak membuatku merasa lega. Meski perhitunganku meleset. Karena kemacetan masih menjadi momok di sini. Aku katakan kepada mamahnya Febri dan penumpang di sebelah, bahwa kemacetan di sini bisa sampai 1 jam. Tak kuatnya kendaraan berat di turunan di depan, tak jauh dari POM Bensin Tambak membuat macet.

Dari arah timur dimana bus kami berjalan memang sebuah turunan. Sedang dari arah berlawanan menjadi tanjakan. Sudut elevasi tanjakan lebih dari 30% dan panjang juga. Maka truk-truk besar menjadi kepayahan, tak sedikit yang mogok. Model buka tutup menjadi alternatif. Namun kemacetan ini juga dialami pada titik tanjakan yang menikung di bawah rel kereta api, masih di wilayah Tambak.

Penumpang di sebelah ku sedikit menggerutu. Dia bilang seharusnya jam 4 sore dia sudah sampai di Ciamis kalau tak macet tadi di Salaman dan Tambak ini. Mamahnya Febri pun sudah mulai menghubungi saudara di Banyumas. Perkiraanku, kalau benar sampai 1 jam, maka sampai di Purwokerto bisa jam 5 lebih.

Barisan truk, bus, mobil pribadi, dan kendaraan lain mengantri saat bus yang aku tumpangi melintas. Sopir beberapa kali berhenti untuk memberi informasi tentang penyebab kemacetan. Yakni kepayahan truk dan mogoknya truk di tanjakan mendekati POM Bensin Tambak. Maka, tak ada bedanya antara bus patas dan ekonomi, kecuali AC dan kenyamanan tempat duduk.

Benar saja, bus sampai di perempatan Buntu sekitar pukul 16.30 WIB. Aku bergegas menyeberang jalan. Menunggu bus dari arah Cilacap, baik yang melalui Sampang maupun Kroya. Aku terpisah dengan Febri dan Mamahnya. Pas aku turun Febri minta dibelikan jajan. Aku abaikan mereka, karena mendengar keluarganya akan menjemput. Sedang aku tak mau terlalu sore sampai di rumah. Andai aku tak meninggalkan sepeda motor di terminal, mungkin aku tak akan turun di sini. Aku akan minta diturunkan di Sampang. Biar nanti minta tolong PL ku, Yoga, menjemput. Toh cuma 10 menit dari rumahnya. Persis saat malam hari aku pulang dari Purworejo saat bulan puasa kemarin. Saat mengikuti acara Safari Ramadhan-nya Pak Agung Laksono.

Ternyata bus yang aku tunggu tak jua muncul. Orang-orang yang berdiri di halter, yang aku kira mau ke Jakarta atau ke mana, ternyata sama-sama mau ke Purwokerto. Walah, mesti berebut tempat duduk nih.

Maka tatkala bus dari arah Kroya sudah terlihat berhenti di lampu merah, aku bersiap-siap. Bus berhenti lebih dekat dimana aku berdiri. Aku pegangi pintu bus sampai penumpang turun. Kemudian aku cepat naik dan duduk di jok belakang sopir persis. Di sebelah ada laki-laki yang usianya sepertinya lebih tua dariku. Legam kulitnya menandakan pekerja keras.

Ternyata Febri dan mamahnya tak ada yang menjemput. Di depan, sang mamah melambaikan tangan memberhentikan bus. Saat itu pula aku ulurkan tangan kepada Febri. Aku pangku dia di paha sebelah kiri. Karena tas ransel ku aku taruh di paha sebelah kanan. Sesaknya bus membuat kami tak leluasa bergerak. Aku biarkan saja mamahnya Febri berdiri di depan. Sebenarnya Febri pun agak kesulitan saat aku pangku. Tangan kirinya memegang jok di sebelah kiri, sedang tangan kanannya asik memegang plastik es teh.

Usia bus yang sudah tua sepertinya, membuat bus ini pun kepayahan di tanjakan menuju Desa Pageralang, masih kecamatan Kemranjen. Melewati jalur ini dibutuhkan konsentrasi dan kehati-hatian yang ekstra. Jalan akan menjadi licin saat musim hujan, tikungan, turunan yang curam, dan tanjakan yang panjang menjadi penyebabnya. Lengah sedikit saja bisa membahayakan diri sendiri dan orang lain.

Pegal rasanya pahaku. Tapi menyuruh Febri berdiri atau gantian dia duduk dan aku berdiri, saat itu, bukan pilihan yang baik. Apalagi rasa itu mulai muncul saat bus sudah hampir sampai di pertigaan sub terminal Banyumas. Febri dan mamahnya akan turun di sana. Tadi saat aku bertanya sama mamahnya Febri, dia turun di seputaran ini.
Untukmu, Mba Wening. Kalau dari kulitnya, Beni lebih putih dari Febri. Beni lebih imut dari Febri. Tapi dari posturnya, aku percaya kalau Febri terlihat lebih gagah dari Beni. Entah kalau besar nanti. Semua punya porsi masing-masing. Yang jelas baik Beni maupun Febri menjadi teman bicara perjalanan yang tak menjemukan. Mereka jelas jujur apa adanya. Tulus pula… hehe….

Sekitar pukul 17.30 WIB aku sampai di rumah. Kedua anakku sedang bermain di rumah tetangga. Hanya ada istri ku di rumah. Soal penyambutan tak perlu aku tuliskan. Ini terkategori sensor.

“Kuwe kaose sapa, Pa?”
“Di wei, Mas Tulus. Kaose Bapa kan mung loro. Wis kotor kabeh”.

Makanya, saat Tulus dikatakan Modus, ya aku protes. Kalau kamu panggil “Wawan” lha monggo. Soalnya sang ibu juga panggilnya begitu.

BAGIKAN
Berita sebelumyaKalau Tulus dikatakan Modus, ya Aku Protes
Berita berikutnyaIndah Kebersamaan Kita
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here