Kalau Tulus dikatakan Modus, ya Aku Protes

0
267

(Edisi ke-1)

Perjalanan Purwokerto ke Temanggung yang memakan waktu 7,5 jam ditambah pulang dari Magelang ke Purwokerto selama 7 jam, sepertinya bukan apa-apa jika dibandingkan waktu tempuh Gonus dan Ajat dari Purwokerto ke Cirebon: 19 jam!

Cerita ini aku tulis sekedar untuk berbagi pengalaman buat kamu, kawan-kawanku.

Kelangkaan BBM membuat banyak armada bus yang mogok jalan. Kenyataan itu yang kami temui, para penumpang bus di Terminal Purwokerto pada Sabtu pagi, 30 Januari 2014. Keberangkatan bus Santoso jurusan Purwokerto – Semarang menjadi satu-satunya armada yang berangkat pada pukul 06.00 WIB, untuk tempat yang aku tuju yakni Temanggung. Jalur bus jurusan ke Wonosobo pun sepertinya tak ada. Untuk jalur bus ke Jogjakarta hanya ada bus Efisiensi.

Kata Penawar Jasa (Calo) dan juga sopir bus Santoso ini disebabkan karena pengalihan jalur utara ke selatan untuk truk-truk besar. Konsumsi bahan bakar truk-truk tersebut mengakibatkan stok Solar menjadi langka. Kebanyakan bus-bus yang beroperasi lebih memilih mogok daripada kehabisan bahan bakar di jalan. Ini masih imbas dari perbaikan jembatan di Comal-Pemalang.

Pengalamanku menjadi penjaja koran beberapa tahun yang lalu, membuat instingku bicara, yakni perjalanan akan memakan waktu lama. Sopir bus akan berjalan seenaknya, lambat dan mengangkut semua penumpang yang ada. Entah karena kasihan dengan penumpang, atau demi memanfaatkan situasi guna menambah income. Hmm….

Andai jadi pertemuan pengurus Forum UPK SR Kedu, berjalan sesuai rencana yakni jam 10.00 atau 11.00 WIB, pasti aku akan terlambat. Titik kemacetan pertama yakni di sepanjang jalan Sokaraja dimana toko-toko getuk goreng berjajar, dilalui dengan lancar. Biasanya sejak dari Sangkalputung Sokaraja hingga Klenteng Hok Tek Bio, jalanan macet. Kali ini tidak, hari masih pagi.

Perkiraanku benar, bus sering berhenti demi menaikkan satu atau dua penumpang saat mereka lambaikan tangan. Tak lama bus menjadi penuh sesak. Banyak yang bergelantungan. Untung saja aku bisa duduk manis persis di belakang sopir. Sesampainya di perempatan Buntu Kemranjen, bus masih berhenti dan menaikkan penumpang. Jalur yang mempertemukan kendaraan dari arah Purwokerto dan Cilacap menuju ke Jogjakarta atau Solo ini volume kendaraan menjadi bertambah. Utamanya truk bersumbu dua yang semestinya dilarang beroperasi diatas jam 06.00 hingga 18.00 WIB.

Perjalanan bus semakin melambat saja. Satu persatu penumpang mulai ada yang turun, ada yang naik pula. Bus berhenti di sekitar wilayah Sumpiuh. Informasi yang didapat, ada truk tronton di depan yang mogok. Demi melihat jalanan lengang di sebelah kanan, sopir segera bermanuver maju dan menerabas jalan. Weh, aku suka ini… hehe….

Sopir bus segera ambil posisi ke kiri sembari menjajari mobil kecil agar mau geser, karena di depan terlihat kendaraan dari arah berlawanan sudah mulai bergerak. Kemacetan pasti lama, terlihat sopir maupun penumpang keluar dan berteduh dibawah pohon. Informasi yang didapat dari para sopir yang berlawanan arah, banyak truk tronton yang kepayahan di tanjakan. Baik di bawah jalan kereta api di Tambak, maupun tanjakan sebelum perbatasan Banyumas-Kebumen juga.

Dalam keadaan normal, hanya butuh 1,5 – 2 jam waktu tempuh dari Purwokerto ke Kebumen. Tapi pagi ini, butuh waktu hampir 3 jam. Banyak karyawan baik PNS maupun swasta, khususnya ibu-ibu yang terlambat sampai kantor. Kembali si sopir beraksi menaikturunkan penumpang meski hanya jarak dekat. Bus besar ini terasa mikro saja. Berjalan seperti macan luwe.

Pengap, panas, ditambah suara cempreng pengamen sebagai ciri khas bus ekonomi menambah suasana menjadi repot. Beruntung selama perjalanan aku di hibur dan terhibur dengan sibuk membalas SMS, BBM, dan menanggapi telpon dari kawan-kawan terkait persiapan aksi damai tanggal 3 September nanti. Namun demikian, perut semakin sakit saja. Terasa lega saat bus berhenti ngetem di pertigaan Kedungbener Kebumen. Maka saat ada kawan yang telpon segera aku pamitan, BAK.

Pusing yang mulai terasa agak hilang saat aku ikut-ikutan nongkrong di warung bersama si Sopir. Semilir angin menyegarkan badan. Asupan oksigen bertambah. Tak berebut dengan penumpang di bus. Penumpang sudah mulai berkurang. Serasa ditumpahkan di Gombong dan Kebumen. Tempat duduk sudah aku tandai dengan jaket. Bahkan aku bergeser di sebelah kiri nanti, demi memberi ruang kepada ibu yang memangku anak seusia 3 tahunan tertidur.

Memasuki wilayah Kutoarjo dan Purworejo penumpang semakin bertambah saja. Berdesak-desakan, bergelantungan di tengah. Terlihat ibu yang memangku anaknya yang sedang tertidur semakin kerepotan. Karena bangku kosong itu akhirnya diisi pula oleh penumpang lain. Terlihat didepanku, ada seorang ibu dengan muka masam dan terus menggerutu setiap bus berhenti menaikkan penumpang, padahal bus sudah penuh sesak. Kejengkelannya membuncah tatkala terdengar bunyi: Ces… panjang. Ban bocor.

“Mulane aja serakah, ya. Wong wis penuh di tetel-tetel bae,” ujarnya sembari turun dari bus.

Ealah, ternyata satu rumpun: Ngapak. Hehe….

Dia rencananya ingin pulang pergi Cilacap – Magelang hari itu juga. Ada urusan penting katanya. Tapi kemungkinan kecil. Sebab jam sudah menunjukkan pukul 11.00 WIB saat ban bocor di depan SMP Muhammadiyah Purworejo itu. Sebagian besar penumpang turun. Jalanan memang sepi dari armada bus. Hanya bus mikro, kendaraan pribadi, truk-truk berat saja yang melintas. Padahal ada yang sudah berencana menyambung dengan bus lain, kalau ada.

Perasaan tak enak mulai menjalari. Aku yakin kawan-kawan UPK dan BKAD dari SR Kedu sudah berkumpul. Padahal setahuku dari Purworejo ke Magelang butuh waktu hampir satu jam. Belum lagi dari Magelang ke Secang, dan ke lokasi pertemuan. Wah, jan.

Baterai BB maupun HP sudah sangat limit. Ternyata hiburan tadi membuatnya cepat habis. Strategi lanjutannya adalah on off dan tak menjawab telpon masuk. Pengiritan.

Memasuki perbatasan Purworejo-Magelang, Desa Margoyoso dimana Pak Suroso Singgih, Ketua Forum BKAD Kab. Magelang berdomisili, aku teringat pesan para sesepuh dulu.

“Dadi wong kuwe kudu sing dawa ususe. Ben uripe tentrem”. Artinya kita harus bersabar agar hidup kita tentram.

Pepatah itu benar-benar aku ingat, dan berusaha selalu aku praktekkan. Termasuk saat bus tak kuat di tanjakan. Berkali-kali kendaraan di belakang, termasuk motor melesat cepat. Ini bus hanya bisa berjalan amat sangat lambat. HP dan BB sengaja aku matikan. Agar tak ada yang bisa menghubungi. Selain aku khawatir menambah rasa tak enak, juga demi memperpanjang usia cadangan daya baterai. Rasa lapar yang mendera menjadi hilang karena menahan diri untuk tak jengkel. Toh mau marah sama siapa?

Berganti-ganti armada sejak di terminal Magelang karena bus Santoso hanya sampai di sana, hingga sampai di lokasi, ternyata total butuh waktu 7,5 jam. Termasuk kemacetan karena ada karnaval di kota Magelang. Ah, alhamdulillah. Akhirnya sampai juga.

Menu ikan bakar yang seharusnya menggoda selera, tak bisa aku rasakan nikmatnya. Lidah ini serasa tawar. Makan siang kali ini tak lebih dari sekedar menjaga lambung agar tak mengamuk. Enaknya menu siang itu tak bisa aku nikmati sepenuhnya. Bukan karena apa-apa, kawan. Aku merasa tak enak saja dan kagum dengan kesetiaan menungguku.

Seperti di beberapa tempat lainnya, aku berbicara tentang kegiatan-kegiatan yang sudah dilakukan oleh Assosiasi UPK Nasional, hasil lobi dan audiensi yang belum berhasil sehingga dirasa perlu melakukan aksi damai ke Jakarta. Termasuk pula aku sisipkan materi perubahan paradigma pemberdayaan. Kawan-kawan UPK sudah terlalu lama terkooptasi dengan aturan program yang jauh melenceng dari konsepsi dasar. Salah satu strategi yang perlu dilakukan adalah memperkuat posisi tawar UPK dan BKAD di masing-masing wilayah. Paling tidak agar tak mudah dikerjani oleh pelaku lain.

Diskusi dengan Mba Juwita menjadi panjang meski acara sudah ditutup oleh Bang Iwan. Dia melaporkan FK dan FT yang bermasalah untuk direlokasi kepada Korprov. Keren nih cewek.

Dari ceritanya, aku yakin bahwa dia tak akan semena-mena melakukan itu kalau FK atau FT bekerja sesuai tupoksi. Misalnya saat seorang FT yang hendak dimintai tanda tangan guna pencairan BLM, sang FT mengatakan tak akan balik ke kantor. Segera Mba Juwita menelpon pihak Korprov. Dan tak lama kemudian sang FT balik ke kantor untuk tanda tangan. Pastinya si FT sudah di tegur oleh Korprov. Hehe….

Rencana untuk menginap di acara Festival Dieng aku batalkan. Sebenarnya minggu lalu ketika aku bersama Ury dan Ajat ke sini sudah aku rencanakan. Akan tetapi demi mendengar kalau mantan FK ku sekarang tugas di UPK Kec. Bulu, tempatnya Gondo, aku putuskan untuk menginap di rumahnya. Hanya saja, komunikasi macet gara-gara lowbat tadi. Nah, daripada bengong tak jelas, maka tawaran Ancas aku iya kan saja.

Berkelana ke desa-desa kali ini tak teringat lagi lagu Shaggy Dog-nya Gonus. Karena lirih dan berulang kali aku dengar lagunya Ariel Tatum dan Ari Lasso.Aku mengingat-ingat saja jalan yang aku lalui. Termasuk saat aku ingat jalan dari arah Daeng Jaya dan jalan masuk ke rumah Mbah Jangkah. Tujuan kami adalah kecamatan Windusari, mengantar Mas Hakim. Saat kami mampir mengisi bensin di POM Bandongan dan shalat ashar, SMS masuk dari mbokne Beni, Mba Wening.

Katanya dia sempatkan mampir ke RM. Kampung Sawah sepulang belanja bulanan bersama misua. Hanya saja kami sudah bubar. Sebenarnya saat sesi diskusi aku pun mengharapkan dia datang bersama Beni. Beberapa kali motor parkir dengan wanita berjilbab yang menaiki, aku berharap dia dan Beni. Tapi nggak papa, Mba Wening. Aku ketemu sama Febri di bus saat pulang. Siapa Febri? Nanti aku ceritakan… hehe….

Bersambung….

BAGIKAN
Berita sebelumyaIndah Bidadari ku
Berita berikutnyaKalau Tulus Dikatakan Modus, Ya Aku Protes
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here