Keluarga sebagai Kawah Candradimuka

2
556
Sesibuk apapun, luangkan waktu untuk keluarga.

Aku terkesan dengan kalimat: “jika anak-anakmu tak bergembira saat kamu pulang, coba introspeksi diri. Bagaimana akhlakmu di rumah”.

Sampai hari ini aku masih layak berbangga. Setiap aku pulang, Ata maupun Syamil akan menghambur. Saat mereka sedang bermain di luar, biasanya mereka akan berlari menyongsong. Kala mereka sedang di rumah, Syamil akan bergegas menyambutku di pintu. Ata hanya tersenyum karena sibuk bermain laptop.

Dari ketiga penghuni rumah, memang Syamil yang terlihat lebih sumringah saat aku pulang. Terlebih jika aku bawa pulang jajanan. Meski jajanan itu kadang tak disukai, respon awal membuatku merasa dihargai.

Kalimat menohok diatas, aku ingat-ingat betul. Selama di rumah, aku berusaha dekat dengan mereka. Bercanda, menanyakan aktifitas mereka selama di rumah, dan menemani mereka nonton youtube. Biasanya istri ku mendapat jatah terakhir.

Sarana menghimpun energi

Ibarat baterai, keluarga adalah charger. Kekuatan akan terhimpun kembali di sini. kelelahan dan kepenatan melakukan aktifitas akan luntur saat melihat anak-anak riang. Kelucuan dan kadang kekesalan menjadi dinamika pemanis. Namun semua itu akan sulit ditemui, saat akhlak kita buruk selama di rumah.

Melihat Syamil berlari-lari tanpa alas kaki dan langsung ke tempat tidur serta menginjak-injak apa saja, kadang membuat jengkel. Terutama istri ku yang kebagian mencuci sprei. Maklum saja, sampai hari ini, rumah yang kami tinggali masih berlantai tanah.

Respon kita atas kelakuan mereka menjadi pengingat. Jika respon baik, maka anak-anak akan dekat. Namun sebaliknya, saat kita mudah marah, mereka akan menjauh. Nah, saat istri ku menegur dengan nada tinggi; aku menegur pula dengan nada lebih rendah. Pun begitu sebaliknya.

Kedamaian dan kehangatan dalam rumah tangga membuat kita lupa. Lupa akan kegalauan dan kekesalan di luar sana. Istri akan menjadi teman berbagi yang menyenangkan. Sedang anak-anak akan menghibur kita dengan kelucuannya. Energi yang terkuras, akan kembali terhimpun. Ini menjadi bekal esok menjalani aktifitas lainnya.

Tempat kembali

Keluarga menjadi tempat kembali. Akhlak selama di rumah akan menjadi penentu. Apakah keluarga akan menerima kita apa adanya atau tidak. Saat kita berakhlak baik, keluarga akan menerima apa pun adanya. Kala sukses atau gagal.

Bayangkan saja, saat kita merasa direndahkan di luar sana. Siapa yang akan menerima kita, kalau bukan keluarga. Ada kala nya teman akan menerima kita. Tapi menurutku, totalitas penerimaan yang tulus ada pada keluarga. Terlepas bagaimana sikap penerimaan keluarga. Terkadang memang menyakitkan. Namun kebanyakan, keluarga selalu akan membela saat kita dianiaya.

Pihak luar akan menerima dan menyanjung saat kita berhasil. Mereka yang jauh, mendekat. Yang tak kenal jadi akrab.

Akan tetapi saat kita gagal? Keluarga lah tempat kembali. Mereka akan selalu menerima kita dengan tangan terbuka.

Wahana mendidik anak

Pendidikan dalam keluarga dilakukan dengan memberikan keteladanan. Keteladanan menjadi kunci sukses tanpa tanding. Berbagai teori dan retorika tak akan berhasil, tanpa teladan nyata. Keberhasilan Rasulullah SAW menegakkan Islam hingga kini, karena keteladanan.

Anak-anak pun akan melihatnya demikian. Mereka akan meniru apa saja yang kita lakukan. Jika kita berkata A, sedang berperilaku B. Maka lihatlah, anak-anak akan membantah dengan cara nya sendiri. Dan itu akan terpatri sampai dia dewasa.

Sering kelupaan dari sifat pembawaan akan di tiru anak-anak. Apapun yang kita perintahkan, akan mentah, saat kita tidak disiplin melakukan hal serupa. Anak-anak akan terbiasa pula melakukan hal yang sama. Kata orang Banyumas: jarkoni (bisa ngajar ora bisa nglakoni).

Rusaknya sebuah bangsa, dimulai dari rusaknya tatanan dalam keluarga. Sebab awal pendidikan ada di rumah. Keluarga memegang peran penting soal pendidikan. Terutama pendidikan karakter. Saat tatanan keluarga sudah rusak, akan menjalar ke masyarakat dan menggejala dalam tubuh sebuah bangsa.

Pembentuk peradaban

Peradaban dibentuk melalui keluarga. Masyarakat dan negara yang baik, akan dibentuk melalui keluarga yang baik. Pendidikan dalam keluarga akan menentukan peradaban di masa depan. Internalisasi nilai-nilai terjadi dalam interaksi dalam keluarga. Oleh karena nya, tugas kita adalah melakukan internalisasi nilai-nilai yang baik pada anak-anak, calon penerus bangsa.

Slogan baiti jannati, baiknya benar-benar diterapkan. Menciptakan suasana rumah laksana surga, menjadi tanggung jawab kita. Nyamannya rumah bukan hanya dari sisi fasilitas secara fisik. Tapi hubungan antar individu didalamnya. Anak dengan anak, anak dengan orang tua, suami dengan istri, dan mungkin keluarga dengan pembantu. Semua akan nyaman pula saat hubungan itu berjalan seiring.

Mental, sikap, dan perilaku terpatri sejak di rumah. Interaksi di luar rumah memang berpengaruh. Pengaruhnya akan menjadi besar atau kecil, tergantung kuatnya daya tarik dan penyeimbang di rumah. Jika keluarga menjadi sesuatu yang tak nyaman, maka interaksi luar akan dominan.

Peradaban akan terbentuk baik, kala keluarga mampu memberikan pondasi kuat yang benar. Interaksi di luar justru dalam rangka memberikan pengaruh. Bukan terwarnai, tapi mewarnai.

Mari ciptakan peradaban bangsa, melalui keluarga kita.

Sesibuk apapun, luangkan waktu untuk keluarga.
Sesibuk apapun, luangkan waktu untuk keluarga.
BAGIKAN
Berita sebelumyaCukup Bekerja dengan Baik
Berita berikutnyaKuncinya Berani
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here