Kemenangan Karena Keberuntungan

0
147
Gaya bermain saat Final

Mandirancan (20/08/14) Kalau ada pomeo yang mengatakan bahwa orang pintar masih kalah sama orang beruntung, maka itu tidak salah sepertinya. Sebab sepintar-pintarnya seseorang saat ia mengadu kepandaiannya sering kali dikalahkan oleh keberuntungan seseorang yang memiliki kemampuan biasa-biasa saja. Meski pomeo ini tidak bijak kalau dijadikan alasan bahwa kita tidak harus pintar.

Apa pasal aku menuliskan ini. Aku hanya sekedar ingin berbagi kebahagiaan dengan kalian, kawan-kawanku. Cerita ini sama sekali bukan ingin pamer, tak lebih dari sekedar berbagi. Karena malam ini aku benar-benar dinaungi keberuntungan… hehe…

Aku pulang diantar oleh OB (Office Boy) ku di kantor. Karena motor masih diperbaiki. Saat itu sudah maghrib dan menjelang isya. Aku ingat kalau malam ini ada jadwal lomba tenis meja di Balai Desa. Maka aku bergegas ke sana naik sepeda, toh dekat juga.

Di sana sudah banyak penggemar olahraga tenis meja. Namun tak semua mengikuti perlombaan ini. Mungkin minder atau bagaimana aku kurang tahu. Tapi niatan aku ke sini memang untuk ikut memeriahkan lomba saja. Sembari berolahraga malam.

Saat pengundian peserta, aku masuk di grup A. Dari nama-nama di grup ini aku masih buta kemampuan mereka. Tak terlalu aku gubris. Toh aku tak mentargetkan juara. Sedangkan di grup B memang dihuni oleh para pemain tenis meja yang piawai. Pasti seru nih di grup B. Dan ternyata memang benar. Setiap pertandingan di grup B, selalu ramai dilihat oleh penonton.

Pertandingan pertamaku melawan Mas Narkim, Kaur Keuangan Desa Mandirancan. Pertandingan berjalan mudah. Sebab 2 (dua) set yang aku jalani hampir poin yang Narkim peroleh karena kesalahanku. Soal skor tak usah disebutkan, yang jelas dibawah angka 10. Sori ya Mas Bro Narkim… hihihi….

Pertandingan seterusnya sedikit lebih berkonsentrasi. Alhamdulillah menang. Tentu dengan skor yang nyaris berimbang. Meski masih tetap menang 2 (dua) set langsung.

Saat memasuki babak semifinal aku lihat lawanku agak tangguh. Namanya Mas Riswandi, dia Babinsa didesaku. Dengan berseloroh aku berkata kepada pihak sponsor:

“Om, ada juara harapan satu nggak? Biar aku naik ke panggung?”

Sontak penonton yang berada disekitarku yang kebanyakan mereka adalah mantan santri-santri ku di TPQ (Taman Pendidikan Al-Qur’an) menyoraki aku. Aku ikut tergelak bersama mereka.

Pertandingan di babak semifinal antara aku melawan Mas Riswandi berjalan cukup ramai. Perolehan skor selalu berimbang. Mas Riswandi memenangkan set pertama. Teriakan-terikan dari penonton membuat aku ikut tertawa bersama mereka. Biasa saja, tanpa beban.

Mungkin karena melihat kemampuanku, Mas Riswandi mulai meningkatkan intensitas serangan. Namun sayangnya, smash-smash yang dilakukan justru memberikan poin untukku. Set kedua ini dimenangkan oleh aku. Dengan perolehan poin yang aku dapat karena kesalahan-kesalahan Mas Riswandi.

Pada set ketiga atau set penentuan, aku berusaha tetap tenang. Karena pengalaman mengikuti lomba serupa beberapa tahun yang lalu saat aku masih sendiri. Aku kalah karena tidak sabar dan terburu-buru ingin memenangkan pertandingan. Aku layani saja permainan Mas Riswandi dengan prinsip, asal bola bisa melewati net dan jatuh di meja dia.

Rupanya Mas Riswandi masih penasaran dengan cara dia menyerang aku. Maka berkali-kali pula dia melakukan kesalahan. Poin demi poin aku raih. Lagi-lagi karena dia tidak sabar. Lama kelamaan jarak poin antara aku dengan dia semakin jauh. Dan itu membuat dia sepertinya sedikit tidak percaya. Sebab gaya bermainku hanya bertahan dan asal bola kembali ke meja.

Akhirnya pertandingan ini aku menangkan. Hore… masuk final….

Penonton langsung menyoraki aku dan berkata:

“Wah, siap-siap munggah panggung kiye. Hahaha….”. Aku pun ikut tertawa tergelak bersama.

Sambil menunggu musuhku di final, aku minta jatah kopi ke panitia. Beberapa penonton yang mengatakan tak menyangka kalau aku masuk final, aku selalu berujar:

“Wong pinter tetep kalah karo wong beja. Hahaha…”

Semifinalis lain yakni Mas Ratmiko dan Mas Agus bertanding alot. Maklum mereka adalah jago-jago tenis meja. Bahkan semua sepakat, termasuk aku, final ideal adalah pertandingan mereka berdua. Saling kejar poin terjadi. Selisih poin hanya satu dua. Andai menjauh, maka salah satu akan segera mengejar. Terjadi lah tiga set, seperti semifinalku melawan Mas Riswandi.

Akhirnya Mas Ratmiko memenangkan pertandingan. Dan menjadi musuhku di final. Ini ibarat guru yang mengajari murid. Sebelum dimulai, aku minta foto bareng Mas Ratmiko.,, hehe….

Aku sadar betul bahwa aku tak akan menang melawan dia. Maka saat pertandingan berlangsung, terasa sekali dia selalu memberiku umpan-umpan yang bagus untuk aku kembalikan. Saat aku tertinggal jauh, dia akan memberi umpan yang pas untuk aku smash. Lagi-lagi aku beruntung bisa melakukan smash dan masuk. Itu terjadi berulangkali. Padahal saat pemanasan sebelum pertandingan awal dimulai, smash-smash ku selalu keluar.

Aku tetap pada gaya bertahan dan santai. Sesekali smash karena diberi umpan matang oleh Mas Ratmiko. Dalam pertandingan itu, aku pun berseloroh:

“Angger aku ngasi menang kiye tah judule konspirasi. Ahaha….”

Pertandingan set pertama dimenangkan oleh Mas Ratmiko. Kami bertukar tempat. Namun cara bermain Mas Ratmiko yang selalu memberiku umpan bagus tetap dilakukan. Sekali lagi final ini judulnya guru mengajari murid. Karena Mas Ratmiko memang seorang guru SMK.

Smash-smash tajamku menghasilkan poin yang menjadikan jarak poin tak terlalu jauh. Aku yakin kalau Mas Ratmiko bisa saja memenangkan pertandingan ini dengan mudah. Tapi dia tentu tak mau mempermalukan aku dihadapan banyak orang. Apalagi kedekatan kami sudah terjalin sejak dulu. Baik aku maupun istrinya sama-sama mengajar TPQ dulu. Bahkan saat Mas Ratmiko dipilih menjadi Ketua Badan Koordinasi (Badko) TPQ tingkat kecamatan Kebasen, aku menjadi sekretarisnya.

Seperti yang sudah diduga Mas Ratmiko memenangkan pertandingan ini dengan tanpa kerja keras dan keringat bercucuran. Kekalahanku di partai final ini mengukir sejarah, aku tercatat sebagai:

Juara II Lomba Tenis Meja dalam rangka HUT RI ke-69 tingkat Desa Mandirancan.

Aye… aye…

Mari biasakan berbagi, baik itu kesedihan maupun kebahagiaan agar kita saling mendukung.

Narsis sebelum Final
Narsis sebelum Final
Gaya bermain saat Final
Gaya bermain saat Final
BAGIKAN
Berita sebelumyaNice Trip to Majalengka and Ciamis (edisi ke-5 habis)
Berita berikutnyaSi Pembuat Riang: Handarbeni
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here