Kemitraan Pengembangbiakan Sapi

0
146
Paparan dari BUMDesa Bersama Banyumas

Saking perhatiannya para pihak pada desa, sampai-sampai para peternak sapi dibawa ke hotel hanya untuk ngobrol soal sapi. Ini bukan sosialisasi atau pelatihan di akhir tahun guna target capaian serapan anggaran. Murni berbicara soal bisnis sapi. Dana yang digunakan pun bukan dari APBDes atau dana pemerintah lainnya, tapi pihak swasta.

Pertemuan yang diselenggarakan oleh bank Sinarmas Cabang Purwokerto kemarin (06/12/18) bertempat di Java Heritage Hotel Purwokerto. Ini masih serangkaian kegiatan tiga hari lalu saat ke Tegal. Melihat pengelolaan ternak sapi secara kolektif yang dilakukan oleh koperasi peternak di sana akan direplikasikan di sini. Kalau koperasi saja mampu, malu dong BUMDesa dan atau BUMDesa Bersama bilang susah. Meski memang harus rela berbagi antara peternak, manajemen, dan kreditur.

Sebelum melihat pengembangbiakan sapi, diskusi-diskusi kecil guna penjajakan kemitraan sudah dilakukan. Salah satu bank swasta nasional memiliki konsen di bidang itu. Pembiayaan usaha baik di bidang peternakan maupun pertanian di rasa pas untuk ditindaklanjuti. Karena selain plafon yang cukup besar, model bayar panen, dan jaminan yang tidak dibebankan pada peternak, menjadi sayang kalau tak dimanfaatkan.

Suasana ruang sosialisasi

Suplai daging

Menurut konsultan UMKM Bank Indonesia Cabang Purwokerto, Arif Sunowo, sebenarnya beberapa tahun terakhir, harga daging sapi relatif stabil. Namun kestabilan itu pun karena adanya impor. Sedang kemandirian suplai dari para peternak masih kurang. Sayangnya beliau tidak menyebutkan prosentase antara suplai daging lokal dan impor. Sebenarnya ini peluang sekaligus tantangan bagi peternak sapi.

Berdasarkan data yang disajikan, kebutuhan daging sapi nasional sekitar 663.290 Ton per tahun, sedang ketersediaan hanya 403.668 Ton. Untuk kabupaten Banyumas kebutuhan daging sapi di Banyumas sekitar 6.240 kg/hari atau kisaran 26 ekor per hari. Dengan asumsi masa penggemukan adalah 4 bulan, paling tidak dibutuhkan 3.120 ekor sapi dalam masa penggemukan untuk memenuhi kebutuhan tiap bulannya. Ini baru untuk konsumsi di Banyumas saja.

Kebutuhan akan semakin besar tatkala Idhul Adha. Untuk kabupaten Banyumas membutuhkan sekitar 5 ribu ekor, sedang wilayah Jawa Tengah membutuhkan sekitar 35.858 ekor sapi. Berdasarkan data dari Dewan Masjid Indonesia, kebutuhan akan sapi guna korban di Jakarta antara 6-7 ekor di tiap masjid. Padahal di Jakarta ada 3.047 masjid dan 6.000-an mushola. Ini peluang besar.

Nah, ketidakmampuan peternak menyediakan daging yang layak konsumsi, akan mengakibatkan keluarnya kebijakan impor. Andai suplai daging dari peternak cukup, semestinya impor daging sapi bisa dikurangi, atau bahkan dihentikan. Meski tak dapat dipungkiri, selalu saja ada mafia yang bermain dan oknum pejabat yang menyukai adanya impor.

Peserta sosialisasi

Program kemitraan

Program kemitraan yang dilakukan oleh bank swasta nasional tersebut memandang ini perlu. Mereka juga menyadari ketidakmampuan para peternak dalam mengakses dana perbankan. Faktor utama memang soal agunan. Oleh karenanya, pihak bank Sinarmas menawarkan program ini. Mereka menggandeng perusahaan berbadan hukum yang bertindak sebagai offtaker sapi sekaligus sebagai penjamin.

Salah satu tempat yang direkomendasikan untuk studi sudah kami kunjung yakni di Tegal. Koperasi peternak sapi di sana sudah mengakses pinjaman hingga 2 milyar. Dengan plafon pinjaman untuk bibit, pakan, biaya pemeliharaan, dan lain sebagainya sebanyak 25 juta per ekor sapi. Dana tersebut dikelola oleh koperasi sebagai pihak offtaker.

Oleh karena pihak offtaker yang dijadikan sebagai penjamin, maka diperbolehkan adanya perjanjian khusus antara pihak offtaker dengan peternak. Ini dilakukan sebagai langkah antisipasi kecurangan oleh peternak. Pun demikian dengan pengadaan bibit, pakan, perawatan, dan manajemen usahanya. Langkah ini dilakukan setelah berkaca dari program-program bantuan pemerintah yang nyaris tak berbekas. Para peternak, meski sudah ada aturan kelompok, sering menjual sapi atau binatang ternak lainnya tanpa sepengetahuan pengurus kelompok.

Saat ngendorse peternakan sapi

Peran desa

Peternak sapi identik dengan orang desa. Ini pula keunggulan mutlak orang desa terhadap orang kota. Meski tidak semua, namun desa memiliki kemampuan untuk memproduksi daging sapi, karena sumber daya berupa air, pakan alami maupun buatan, pemanfaatan limbah, lebih memungkinkan dilakukan di desa. Pesaing para peternak sapi hanya lah kebijakan impor dan mafia nya.

Akan tetapi kebiasaan orang desa, mereka masih beternak sapi sebagai sambilan saja. Yang meski ada selisih harga saat penjualan, sejatinya mereka tidak untung. Pola pemeliharaan tradisional dan tidak mengarah ke industri ternak sapi mengakibatkan tidak maksimalnya potensi genetik pada pertambahan daging sapi. Padahal jika peternak memiliki cukup ilmu tentang pembibitan, pembuatan pakan, dan pemeliharaan kesehatan akan memaksimalkan potensi genetik pada sapi yang mereka pelihara.

Untuk program penggemukan, misal untuk sapi jenis Bali dari bibit 200 kg bisa mencapai angka 350-400 kg, jenis PO dari 250 kg bisa mencapai 350-400 kg, sapi silangan hasil inseminasi buatan (IB) dari bobot 400 kg bisa mencapai 600-700 kg. Pun untuk jenis sapi impor dari bibitan 450 kg bisa mencapai bobot 550-600 kg asalkan ada tambahan insentif pakan.

Hadirnya BUMDesa Bersama Banyumas sebagai calon offtaker bagi para peternak sapi membawa angin segar. Misi pelayanan bisnis sosial memang menjadi amanah yang harus diembannya. Peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui berbagai sektor usaha rakyat perlu ditopang. Sejauh ini memang masih sulit bagi desa untuk berkiprah ketika skala bisnis sudah mencapai angka milyaran rupiah. Maka yang memungkinkan adalah BUMDesa Bersama.

Salam.

Paparan dari BUMDesa Bersama Banyumas
BAGIKAN
Berita sebelumyaAktifitas Seru Hari Ini
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here